Monday, December 13, 2010

Things to Buy

Kalau ditanya, gaji saya habis buat apa?
Jawabnya pasti pertama kali bayar kost dan makan.
Tapi kalau ditanya benda konsumtif apa yang paling sering kamu beli dengan gajimu?


Nomor 1, Pakaian

Well, siapa yang nggak butuh pakaian, selain makan, pakaian juga kebutuhan primer, right? (kecuali kamu kaum nudis). Tapi tanpa sadar, lama-lama lemari pakaian jadi penuh dan semrawut. Apalagi kalau pakaian yang ingin dipakai ada dibagian bawah, sekali tarik berantakanlah semuanya.
Tapi keinginan membeli pakaian tetap jalan, walau yang dibeli barang diskon. Pakaian bisa memperbaiki penampilan, betul nggak? Biar yang liatnya juga nggak bosen.

Tapi jujur deh, kamu juga pasti suka kalau lihat orang, walaupun wajah dan tubuh pas-pasan, bisa ketolong kalau tepat memilih baju. Walau saya bukan “mister matching” ~ karena kadang-kadang suka salah kostum juga ~ apalagi dikaruniai perut yang gendut ~ tapi sebisa mungkin memadu-madankan pakaian supaya enak diliat. Mungkin bagi sebagian orang merasa memakai baju adalah hal yang privasi, terserah gue, asal nyaman. Tapi jangan lupa kamu juga diliatin orang, jangan sampai orang jatuh kasian liat kamu, gara-gara salah pakai baju! :-P

Nomor 2, Buku

Walau nggak maniak-maniak banget, tapi saya suka koleksi buku. Apalagi kalau ada diskon 30% dari salah satu toko buku terbesar di Indonesia, bisa kalap. Ada beberapa dus buku dirumah, nunggu lemari pajang yang bagus buat disusun seperti perpustakaan mini. Setiap membeli buku baru, pasti saya cap nama saya sebagai pemilik, sebuah cap nama yang ditulis dalam huruf Cina (iseng-iseng buat waktu jalan-jalan di pecinaan di Singapura) dan stempel tanggal pembelian buku, biar ada “kenang-kenangan”nya 

Waktu main ke rumah Cips ~ beberapa bulan yang lalu ~ liat koleksi buku-buku mahalnya, jadi iri. Bukunya buku ilustrasi terbitan luar yang harganya bisa setengah juta lebih satu bukunya. Tiap buku diberi sampul plastik, kelihatan rapi. Sampai hati-hati banget bacanya, takut rusak. Dulu saya rajin sampulin buku, tapi sekarang jadi males, karena terlalu banyak yang belum diberi sampul. Kemarin sudah beli sampul plastik, siap dikerjakan kembali. 

Urusan buku ini juga membuat saya menjadi lebay. Kadang sedikit noda di buku membuat saya marah dan frustrasi. Kadang ada buku yang tidak dicetak ulang, karena nggak begitu laku, lebih membuat saya frustrasi. Mau beli dimana lagi?
Padahal kalau dipikir-pikir, buku itu lama-lama juga akan rusak, warnanya akan pudar, halaman-halamannya akan menguning secara alami, karena cuaca dan karena rayap. Kalau kelembapannya tinggi, akan muncul bercak-bercak kecoklatan di kertasnya, seperti juga manusia yang akan keriput sejalan dengan usia, dan kita nggak bisa menghentikannya karena itu sudah kodrat alam.