Sudah hampir dua bulan ini kursus bahasa Perancis. Iseng doang sih… apalagi tujuan semula kurusus bahasa Italia nggak unjung dibuka karena pengajarnya masih di Italia!. Nggak seperti kursus bahasa Perancis di CCF yang pengajarnya orang kita juga, pengajar bahasa Italianya orang itali asli, jadi ya…suka-suka mereka saja :-/
Mengenal bahasa Perancis dan bahasa Eropa lainnya, kayaknya kita patut bersyukur karena kita dianugerahi bertutur kata bahasa Indonesia yang simple, nggak ribet, dan nggak ada past-present-future tense-an. Kecuali bahasa Inggris, setahu saya bahasa negara Eropa lainnya mesti dipisahin kata feminin dan maskulin, bahkan dalam bahasa Jerman selain feminin dan maskulin ada yang netal… jadi kita harus hapal satu-satu kata itu feminin atau maskulin. Kalau feminin pakai partikel La, kalau Maskulin pakai partikel Le. Yang lucu, nggak ada patokan suatu kata itu jenis feminin atau maskulin, suka-suka yang buat... gimana cobak Le Bruit "suara" masuk ke kata maskulin dan La liberte "Kebebasan" masuk kata jenis feminin? Selain itu, tiap-kata beda bentuknya untuk setiap subjek. Udah gitu bentuknya beda juga untuk past, present, atau future. Bayangin aja kita mesti apal 12.000 kata kerja paling nggak, fiuhhh…
Contoh aja kata : Manger (makan)
Present
Je mange (saya makan)
Tu manges (kamu makan)
Il/Elle mange (dia laki /pr makan)
Nous mangeons (kita/kami makan)
Vous mangez (mereka makan)
Ils/ Elles mangent (kalian laki /pr makan)
Itu baru present tense, lho, dalam bahasa perancis ada 8 macam tense kalau ndak salah…ppftttt..
Nggak tau siapa pencipta bahasa indah tapi ribet ini. Zaman dahulu kala, wilayah perancis sekarang ini didiami bangsa Celtik, dan berada dibawah kekaisaran Romawi, sampai tahun 400 Klan “Frank” menyerbu daerah ini dan sampai sekarang asal nama France ya dari klan Frank itu…
Tapi memang bahasa perancis itu seksi kok, jadi ndak rugi jugak ikut-ikut kursus beginian. Menambah wawasan juga, dan tentu saja (siapa tau) bisa jalan-jalan ke Perancis lagi dengan anggun tanpa tour guide...xoxoxo
Tuesday, September 20, 2011
Thursday, July 7, 2011
Obsess by Dress
Nggak terasa setiap kali jalan-jalan, paling nggak kebeli satu baju. Entah itu baju kerja, celana kerja, Jeans atau T-shirt, atau bahkan cuma underwear.
Kadang kalau lagi bersih-bersih lemari baru sadar kalau kebiasaan beli baju nggak distop, mungkin saya nggak bisa lagi nutup lemari. Ada baju yang baru sekali pakai, bahkan ada yang sama sekali belum pernah dipakai, hehe...
Entah sejak kapan kebiasaan belanja baju ini jadi hobby rutin, karena seingat saya, dulu saya orang yang sama sekali masa bodo dengan urusan baju dan penampilan. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin karena masa lalu saya yang hidup dengan uang jajan pas-pasan (karena saya juga berasal dari keluarga pas-pasan) membuat saya sekarang seperti "balas dendam". Udah punya kerjaan udah punya gaji (walau pas-pasan juga) punya kemampuan belanja-belanja baju (walau belinya juga pas diskonan aja) hehehe...
Kalau diingat-ingat, dulu baju saya banyak dibeliin nyokap, jadi saya nggak milih warna apa yang saya suka atau bentuknya gimana, yang penting bisa dipakai. Dulu celana panjang saya juga cuma satu - celana panjang seragam SMA warna abu-abu.. Malu banget waktu diledekin teman-teman : celana kamu cuma satu ya?
Well, teori "balas dendam" itu cuma pendapat saya aja. Mungkin benar, atau mungkin juga hanya karena udah hobby. Tentu saja dengan gaji yang pas-pasan saya nggak bisa beli T-shirt CK atau Jeans Armani. T-shirt biasanya Bossini atau Giordano, baju dan celana kerja dari The Executive, kemeja main kadang-kadang beli Pierox dan M2. sekali-sekali beli Top Man atau Zara kalau mereka lagi kasih diskon gede. That's why i love Sale...xoxoxo
Tapi kalau ada pendapat yang bilang pakaian sebagai investasi, mungkin ada benarnya juga. Pakaian bisa merubah penampilan. Saya masih heran hari gini masih ada orang yang pakai celana kerja model baggy, berkibar-kibar kalau ditiup angin. Please, it's so 80! sekarang masanya pria-pria memakai baju dan celana yang lebih ngepas. Kalau menurut katalog The Executive, tahun ini modelnya yang slim fit (tapi masalah juga buat saya yang punya perut gendut) huhuhuhu...
Tapi dengan semakin banyaknya kebutuhan, sepertinya sudah harus mengurangi belanja-belanja baju. Apalagi mengingat saya bukan type orang yang suka kongkow-kongkow atau dugem, seharusnya baju saya nggak sebanyak itu. So, from now on, Stop belanja bajuuuu....Ok? (sambil buka-buka koran nyari iklan Sale Pull and the Bear)
Kadang kalau lagi bersih-bersih lemari baru sadar kalau kebiasaan beli baju nggak distop, mungkin saya nggak bisa lagi nutup lemari. Ada baju yang baru sekali pakai, bahkan ada yang sama sekali belum pernah dipakai, hehe...
Entah sejak kapan kebiasaan belanja baju ini jadi hobby rutin, karena seingat saya, dulu saya orang yang sama sekali masa bodo dengan urusan baju dan penampilan. Tapi kalau dipikir-pikir mungkin karena masa lalu saya yang hidup dengan uang jajan pas-pasan (karena saya juga berasal dari keluarga pas-pasan) membuat saya sekarang seperti "balas dendam". Udah punya kerjaan udah punya gaji (walau pas-pasan juga) punya kemampuan belanja-belanja baju (walau belinya juga pas diskonan aja) hehehe...
Kalau diingat-ingat, dulu baju saya banyak dibeliin nyokap, jadi saya nggak milih warna apa yang saya suka atau bentuknya gimana, yang penting bisa dipakai. Dulu celana panjang saya juga cuma satu - celana panjang seragam SMA warna abu-abu.. Malu banget waktu diledekin teman-teman : celana kamu cuma satu ya?
Well, teori "balas dendam" itu cuma pendapat saya aja. Mungkin benar, atau mungkin juga hanya karena udah hobby. Tentu saja dengan gaji yang pas-pasan saya nggak bisa beli T-shirt CK atau Jeans Armani. T-shirt biasanya Bossini atau Giordano, baju dan celana kerja dari The Executive, kemeja main kadang-kadang beli Pierox dan M2. sekali-sekali beli Top Man atau Zara kalau mereka lagi kasih diskon gede. That's why i love Sale...xoxoxo
Tapi kalau ada pendapat yang bilang pakaian sebagai investasi, mungkin ada benarnya juga. Pakaian bisa merubah penampilan. Saya masih heran hari gini masih ada orang yang pakai celana kerja model baggy, berkibar-kibar kalau ditiup angin. Please, it's so 80! sekarang masanya pria-pria memakai baju dan celana yang lebih ngepas. Kalau menurut katalog The Executive, tahun ini modelnya yang slim fit (tapi masalah juga buat saya yang punya perut gendut) huhuhuhu...
Tapi dengan semakin banyaknya kebutuhan, sepertinya sudah harus mengurangi belanja-belanja baju. Apalagi mengingat saya bukan type orang yang suka kongkow-kongkow atau dugem, seharusnya baju saya nggak sebanyak itu. So, from now on, Stop belanja bajuuuu....Ok? (sambil buka-buka koran nyari iklan Sale Pull and the Bear)
Monday, July 4, 2011
When Lovers Become Enemies
Minggu lalu teman lama saya Dee, declare kalau dia lagi dalam deadline dalam hubungannya dengan pacarnya. Dan seperti yang sudah saya duga, hasilnya : PUTUS.
Itulah cinta. Kemarin sayang hari ini benci. Nggak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi esok lusa. Masih kebayang melow-melow lebay teman saya ini menulis distatus twitternya, betapa cintanya dia pada beliau..huhuhu..*pingin nabok*
But anyway, nggak tau apakah itu karma atau memang sudah hukum alam, hal yang sama terjadi dengan pacarnya yang terdahulu. Bedanya memang dia yang ingin putus. Sekarang, dia yang diputusin.
Dulu dia nggak tau kenapa mantan pacarnya yang dulu, jadi sangat membencinya setelah mereka putus. Tapi sekarang ketika semuanya berbalik, justru saya lihat dia yang sangat membenci mantan pacarnya ini. Tabungan dan asuransi yang dibuka dengan mantannya ini langsung ditutup, diremove dari FB, dan ditagih hutang piutangnya. Wew…untung masih sebatas pacaran, gimana kalau kawin, pasti panjang urusan harta gono-gininya..huehehehe
Dimana-mana, pihak yang memutuskan biasanya pasti ingin tetap berteman, bersilaturahmi. Tapi pihak yang diputusin rata-rata nggak bisa nerima, bisa kalap, bahkan bisa sampai meneror. Itu sudah biasa. Biasanya kejadiannya karena ada pihak ketiga. Diputusin, dicampakkan atau what ever bahasanya, membuat diri kita seperti nggak berharga, diacuhkan, dibuang.
Tapi yang menakjubkan, dia dengan cepat mencari-cari penggantinya, seolah-olah ingin “membalas”, suatu tundakan yang menurut saya agak kekanak-kanakan. Harusnya kegagalan cinta membuat kita lebih berhati-hati mencari pengganti, ya nggak. Apalagi kalau mencari hubungan LTR, lebih baik menunggu agak lama untuk berkomitmen daripada hari ini jadi dan besok sudah putus. Hufftt….
Itulah cinta. Kemarin sayang hari ini benci. Nggak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi esok lusa. Masih kebayang melow-melow lebay teman saya ini menulis distatus twitternya, betapa cintanya dia pada beliau..huhuhu..*pingin nabok*
But anyway, nggak tau apakah itu karma atau memang sudah hukum alam, hal yang sama terjadi dengan pacarnya yang terdahulu. Bedanya memang dia yang ingin putus. Sekarang, dia yang diputusin.
Dulu dia nggak tau kenapa mantan pacarnya yang dulu, jadi sangat membencinya setelah mereka putus. Tapi sekarang ketika semuanya berbalik, justru saya lihat dia yang sangat membenci mantan pacarnya ini. Tabungan dan asuransi yang dibuka dengan mantannya ini langsung ditutup, diremove dari FB, dan ditagih hutang piutangnya. Wew…untung masih sebatas pacaran, gimana kalau kawin, pasti panjang urusan harta gono-gininya..huehehehe
Dimana-mana, pihak yang memutuskan biasanya pasti ingin tetap berteman, bersilaturahmi. Tapi pihak yang diputusin rata-rata nggak bisa nerima, bisa kalap, bahkan bisa sampai meneror. Itu sudah biasa. Biasanya kejadiannya karena ada pihak ketiga. Diputusin, dicampakkan atau what ever bahasanya, membuat diri kita seperti nggak berharga, diacuhkan, dibuang.
Tapi yang menakjubkan, dia dengan cepat mencari-cari penggantinya, seolah-olah ingin “membalas”, suatu tundakan yang menurut saya agak kekanak-kanakan. Harusnya kegagalan cinta membuat kita lebih berhati-hati mencari pengganti, ya nggak. Apalagi kalau mencari hubungan LTR, lebih baik menunggu agak lama untuk berkomitmen daripada hari ini jadi dan besok sudah putus. Hufftt….
Monday, June 20, 2011
Malaikat vs Setan
Udah kebiasaan saya dari dulu kalau mau beli sesuatu pasti selalu ragu-ragu. Kemarin nyesel-nyesel nggak beli jeans yang ditaksir. Udah sempet liat-liat, pegang-pegang, sampai coba di kamar ganti, tapi entah kenapa nggak jadi beli. Setelah kepikiran semalaman dan kembali kesana keesokan hari, barang yang dimaksud sudah dibeli orang.. damn!
Kadang jika kita nggak niat beli suatu barang tertentu, tapi pas jalan-jalan kita ketemu barang yang menarik, dalam hati pasti ada bisikan-bisikan malaikat dan setan yang saling beradu arguman : beli – jangan, beli – jangan…
Setan - Beli : kapan lagi ada barang bagus gini, pas ukurannya, diskon lagi.. pakainya nanti-nanti aja, toh belom tentu besok diskon..
Malaikat - Jangan : inget…ingettt… tagihan kartu kreditmu bulan ini udah berapaa, gajimu bulan ini buat bayar kost, bayar pulsa, bayar internet.. belom lagi belanjaan yang kemaren belom dibayar… lagian, lemari kamu udah penuh!
Kadang kalau lagi ragu, saya pending belinya untuk mikir-mikir, dan like always, besok atau lusanya pasti balik ketempat yang sama dan beli…
Kemarin waktu “Times” diskon 20% untuk buku-bukunya dengan memakai salah satu kartu kredit terbitan bank tertentu, buku yang saya incar masih ada, walau sebenarnya rugi waktu juga karena harus bolak-balik ketempat yang sama dua kali. Tapi giliran Jeans, udah habis terjuall…
Berbanding terbalik dengan membeli barang, kalau masalah cinta posisinya jadi terbalik. Justru setan yang menyarankan kita untuk menunda-nunda kita menemukan cinta, sementara malaikat justru menyuruh kita untuk cepat-cepat mengeksekusi.
Setan : aahhh… jangan terima cintanya, nanti kamu nyeseeelll… dia itu terlalu gendut, gaji pas-pasan, belum mapan, lagian jelek… tunggu aja dulu, nanti pasti ada cowok ganteng atau cewek cantik yang lebih pantas buat kamu..
Malaikat : wow, biar muka dan gaji pas-pasan tapi dia baik dan bertanggung jawab, nggak pernah dugem, narkoba, kapan lagi kamu menemukan orang sebaik dia..
And like always, Setan Won, and again, you keep searching for love, and when you realize, you already old..wkwkwkwk..
Kadang jika kita nggak niat beli suatu barang tertentu, tapi pas jalan-jalan kita ketemu barang yang menarik, dalam hati pasti ada bisikan-bisikan malaikat dan setan yang saling beradu arguman : beli – jangan, beli – jangan…
Setan - Beli : kapan lagi ada barang bagus gini, pas ukurannya, diskon lagi.. pakainya nanti-nanti aja, toh belom tentu besok diskon..
Malaikat - Jangan : inget…ingettt… tagihan kartu kreditmu bulan ini udah berapaa, gajimu bulan ini buat bayar kost, bayar pulsa, bayar internet.. belom lagi belanjaan yang kemaren belom dibayar… lagian, lemari kamu udah penuh!
Kadang kalau lagi ragu, saya pending belinya untuk mikir-mikir, dan like always, besok atau lusanya pasti balik ketempat yang sama dan beli…
Kemarin waktu “Times” diskon 20% untuk buku-bukunya dengan memakai salah satu kartu kredit terbitan bank tertentu, buku yang saya incar masih ada, walau sebenarnya rugi waktu juga karena harus bolak-balik ketempat yang sama dua kali. Tapi giliran Jeans, udah habis terjuall…
Berbanding terbalik dengan membeli barang, kalau masalah cinta posisinya jadi terbalik. Justru setan yang menyarankan kita untuk menunda-nunda kita menemukan cinta, sementara malaikat justru menyuruh kita untuk cepat-cepat mengeksekusi.
Setan : aahhh… jangan terima cintanya, nanti kamu nyeseeelll… dia itu terlalu gendut, gaji pas-pasan, belum mapan, lagian jelek… tunggu aja dulu, nanti pasti ada cowok ganteng atau cewek cantik yang lebih pantas buat kamu..
Malaikat : wow, biar muka dan gaji pas-pasan tapi dia baik dan bertanggung jawab, nggak pernah dugem, narkoba, kapan lagi kamu menemukan orang sebaik dia..
And like always, Setan Won, and again, you keep searching for love, and when you realize, you already old..wkwkwkwk..
Saturday, June 11, 2011
Studi Banding
Kemarin Anc ngajakin ikut kursus bahasa Italia. Hah... apah??
Ini bukan pertama kali dia ngajakin ikut kursus bahasa asing. Tahun lalu dia ngajakin kursus bahasa Perancis yang saya tolak karena nggak PD. Lagian alasannya dulu biar semangat ngejar target ke Perancis, maka harus ikut atau membeli sesuatu yang berbau-bau Perancis. Alasan yang mengada-ada... tapi siapa yang nyangka ternyata saya bisa bener-bener dapat poin gratis ikut ke Perancis... jadi nyesel gak ikut ajakannya..
Jalan-jalan ke luar negeri memang buat ketagihan. Suka dengan suasananya... Saya menyarankan seandainya mampu kenapa nggak setiap penduduk Indonesia disuruh jalan-jalan ke luar negeri atau home stay disana selama 3 bulan... buat belajar disiplin!
Yak, kadang-kadang kalau melihat sarana transportasi di LN atau cara berdisiplin mereka, jadi miris sendiri melihat cara kita berprilaku. Singapura, Hongkong bahkan Bangkok sudah punya subway... kita? buat tender aja makan waktu bertahun-tahun. Bahkan kalo nggak molor, MRT bawah tanah baru bisa kita nikmati tahun 2016, itupun baru secuil dari Lebak Bulus - Dukuh Atas. Bandara kita juga kuno, kalah sama Bangkok apalagi Hongkong atau Dubai. Kereta bandara nggak jadi-jadi, dari dulu masih tenderrr aja, kapan jalannya??
Kadang suka sebel liat kelakuan pengendara sepeda motor yang seenaknya suka nyalip sana nyalip sini, melawan arah dan jumlahnya nggak ketulungan. Tapi disatu sisi selama pemerintah belum bisa menyediakan pelayanan transport publik yang nyaman, mereka juga nggak bisa disalahin kalau lebih memilih naik motor. Busway konsepnya oke, walau konsepnya bus cepat, tapi saya tidak, tidak dan sekali lagi TIDAK menyarankan naik busway kalau hendak mengejar waktu atau lagi terburu-buru mencapai tujuan. Kenapa? selain armadanya sedikit dan harus bersaing dengan kemacetan, kadang kalau lagi penuh bener, antriannya bisa panjang sampai ke jembatan penyeberangan. Udah gitu giliran busnya datang, yang boleh naik cuma segelintir orang demi alasan kenyamanan. Alhasil kita disuruh menunggu bus berikutnya yang datangnya suka-suka aja, nggak ada pengumuman berapa menit lagi akan datang seperti kalau kita naik MRT.
Katanya sering studi banding, harusnya tau dong kalau layanan publik itu harusnya dipegang pemda, bukannya swasta. contohnya Singapura. Nggak ada sopir bus yang ugal-ugalan saling kejar buat ngejar setoran atau ngetem seenak udel buat nyari penumpang. Semuanya serba teratur. Tapi sekali lagi studi banding tetep aja jadi sampah, cuma buat buang-buang uang negara aja, beuh!
Kenyamanan publik - coba makan di kaki lima Singapur atau KL, mana ada pengamen yang tiap lima menit datang gangguin? Disini terlalu banyak cing-cong. Pemdanya nggak tegas. Giliran tegas, datang LSM pembela HAM, cuap-cuap kalo menertibkan pengamen-pengasong itu melanggar HAM, OMG...kapan selesainya itu urusan!
Pemda DKI sepertinya lebih memilih membagun fly over atau terowongan ketimbang memburu proyek angkutan umum, maka terjadilah fly over yang bentuknya "aneh bin ajaib" seperti misalnya fly over grogol atau fly over dijalan daan mogot, jembatan diatas jembatan, saling numpuk gak jelas, semrawut dan nggak enak dipandang mata, atau terowongan jalan angkasa yang serba nanggung, karena tetap terjadi titik kemacetan!
Anyway, saran saya supaya seluruh masyarakat Indonesia melakukan studi banding tingkah laku berlalu-lintas di LN kedengerannya lebay yak, tapi kalau kita nggak mau dinilai sebagai negara miskin dan terbelakang sama negara-negara tetangga, kenapa kita nggak mau berubah kearah yang positif?
Ini bukan pertama kali dia ngajakin ikut kursus bahasa asing. Tahun lalu dia ngajakin kursus bahasa Perancis yang saya tolak karena nggak PD. Lagian alasannya dulu biar semangat ngejar target ke Perancis, maka harus ikut atau membeli sesuatu yang berbau-bau Perancis. Alasan yang mengada-ada... tapi siapa yang nyangka ternyata saya bisa bener-bener dapat poin gratis ikut ke Perancis... jadi nyesel gak ikut ajakannya..
Jalan-jalan ke luar negeri memang buat ketagihan. Suka dengan suasananya... Saya menyarankan seandainya mampu kenapa nggak setiap penduduk Indonesia disuruh jalan-jalan ke luar negeri atau home stay disana selama 3 bulan... buat belajar disiplin!
Yak, kadang-kadang kalau melihat sarana transportasi di LN atau cara berdisiplin mereka, jadi miris sendiri melihat cara kita berprilaku. Singapura, Hongkong bahkan Bangkok sudah punya subway... kita? buat tender aja makan waktu bertahun-tahun. Bahkan kalo nggak molor, MRT bawah tanah baru bisa kita nikmati tahun 2016, itupun baru secuil dari Lebak Bulus - Dukuh Atas. Bandara kita juga kuno, kalah sama Bangkok apalagi Hongkong atau Dubai. Kereta bandara nggak jadi-jadi, dari dulu masih tenderrr aja, kapan jalannya??
Kadang suka sebel liat kelakuan pengendara sepeda motor yang seenaknya suka nyalip sana nyalip sini, melawan arah dan jumlahnya nggak ketulungan. Tapi disatu sisi selama pemerintah belum bisa menyediakan pelayanan transport publik yang nyaman, mereka juga nggak bisa disalahin kalau lebih memilih naik motor. Busway konsepnya oke, walau konsepnya bus cepat, tapi saya tidak, tidak dan sekali lagi TIDAK menyarankan naik busway kalau hendak mengejar waktu atau lagi terburu-buru mencapai tujuan. Kenapa? selain armadanya sedikit dan harus bersaing dengan kemacetan, kadang kalau lagi penuh bener, antriannya bisa panjang sampai ke jembatan penyeberangan. Udah gitu giliran busnya datang, yang boleh naik cuma segelintir orang demi alasan kenyamanan. Alhasil kita disuruh menunggu bus berikutnya yang datangnya suka-suka aja, nggak ada pengumuman berapa menit lagi akan datang seperti kalau kita naik MRT.
Katanya sering studi banding, harusnya tau dong kalau layanan publik itu harusnya dipegang pemda, bukannya swasta. contohnya Singapura. Nggak ada sopir bus yang ugal-ugalan saling kejar buat ngejar setoran atau ngetem seenak udel buat nyari penumpang. Semuanya serba teratur. Tapi sekali lagi studi banding tetep aja jadi sampah, cuma buat buang-buang uang negara aja, beuh!
Kenyamanan publik - coba makan di kaki lima Singapur atau KL, mana ada pengamen yang tiap lima menit datang gangguin? Disini terlalu banyak cing-cong. Pemdanya nggak tegas. Giliran tegas, datang LSM pembela HAM, cuap-cuap kalo menertibkan pengamen-pengasong itu melanggar HAM, OMG...kapan selesainya itu urusan!
Pemda DKI sepertinya lebih memilih membagun fly over atau terowongan ketimbang memburu proyek angkutan umum, maka terjadilah fly over yang bentuknya "aneh bin ajaib" seperti misalnya fly over grogol atau fly over dijalan daan mogot, jembatan diatas jembatan, saling numpuk gak jelas, semrawut dan nggak enak dipandang mata, atau terowongan jalan angkasa yang serba nanggung, karena tetap terjadi titik kemacetan!
Anyway, saran saya supaya seluruh masyarakat Indonesia melakukan studi banding tingkah laku berlalu-lintas di LN kedengerannya lebay yak, tapi kalau kita nggak mau dinilai sebagai negara miskin dan terbelakang sama negara-negara tetangga, kenapa kita nggak mau berubah kearah yang positif?
Tuesday, May 31, 2011
Dimana-mana Ada Cina
Jangan bernegatif thinking dulu, maksud judul diatas bukan diskriminesyong kok, cuma menggambarkan bagaimana keturunan Cina itu hebat, bisa tersebar dinegara manapun… Ceritanya, waktu jalan-jalan ke Dubai, liat restoran Cina. Di Paris, makan di restoran Cina. Di Nice, Canes, Marseille makan di restoran Cina. Di Barcelona sama Madrid, makan di restoran Cina, Bahkan dikota kecil seperti Zaragoza juga makan di restoran Cina…wew.. hebat euy… Cuma kadang secara etika, kita bisa berkerut-kerut dahi sendiri melihat cara mereka menyajikan makanan, Serba klentang-klenteng, gubrak-gubrak, jauh dari kesan anggun seperti kalau kita masuk restoran Italia. Waktu makan direstoran Cina di Nice, bahkan yang punya restoran menyajikan makanan sambil dibanting… mungkin memang begitu cara mereka dinegara asalnya sono, serba cepat.. cepat menyajikan, cepat suruh kita pergi haha… Tapi restoran Chinese yang ini memang unik. Waktu ada peserta Tour yang bilang makanannya kurang ada rasa, dengan enteng mereka menjawab : kalau nggak suka, nggak usah dimakan! Oh Mai Got! sopan sekali… Trus yang punya (suami-istri) saling ribut teriak-teriak pakai bahasa cas-cis-cus. Lebih baik kita makan cepat sebelum ada piring terbang..wakakakakak… Tapi tentunya nggak semua restoran Cina begitu, ya nggak..(sambil melirik Ant, sipemuja mata cipit..hihihi)
Jadi berfikir gimana caranya bangsa Cina dari berbagai suku bisa tersebar keseluruh penjuru dunia… Kalau dari literatur sih katanya jaman dulu orang-orang bule mencari pekerja-pekerja tambang dari Cina buat proyek-proyek mereka. Lebih kesono lagi, jaman dahulu kala banyak pelaut-pelaut Cina yang berseliweran kepenjuru dunia untuk berdagang. Kalau dikita sih yang terkenal seperti Sam-Po-Kong, yang sampai sekarang masih ada klentengnya di Semarang.
Sekarang selain masakan Cina, yang terkenal itu masakan Thai dan Jepang. Kalo bule, ya masakan Italia. Kapan ya masakan Indonesia bisa tersebar dipenjuru dunia. Paling nggak turis-turis Indonesia nggak melulu dikasih makanan Chinese, sebelum kita-kita nanti tiba-tiba jadi fasih berbahasa mandarin, haiyaaaa….
Jadi berfikir gimana caranya bangsa Cina dari berbagai suku bisa tersebar keseluruh penjuru dunia… Kalau dari literatur sih katanya jaman dulu orang-orang bule mencari pekerja-pekerja tambang dari Cina buat proyek-proyek mereka. Lebih kesono lagi, jaman dahulu kala banyak pelaut-pelaut Cina yang berseliweran kepenjuru dunia untuk berdagang. Kalau dikita sih yang terkenal seperti Sam-Po-Kong, yang sampai sekarang masih ada klentengnya di Semarang.
Sekarang selain masakan Cina, yang terkenal itu masakan Thai dan Jepang. Kalo bule, ya masakan Italia. Kapan ya masakan Indonesia bisa tersebar dipenjuru dunia. Paling nggak turis-turis Indonesia nggak melulu dikasih makanan Chinese, sebelum kita-kita nanti tiba-tiba jadi fasih berbahasa mandarin, haiyaaaa….
Friday, May 27, 2011
Susahnya menjadi Janda Chubby di Ibukota
Yap, sama seperti jendi yg kadang-kadang di cap miring, chubby like me juga kadang menghadapi hal yang sama. Memang bentuk tubuh gue membesar di perut, buncit, sama tembem dipipi, bukan bentuk tubuh yang ideal. Biar katanya banyak chubby chaser, tapi gue nggak mengalami tuh..huhu.. Lebih banyak yang bilang : itu tas pinggang nggapain dibawa kemana-mana..haha..
Temen seperti Ant bahkan mengira ukuran baju saya XL, huh enaks aza, gini-gini M masih muat tauuuk… untuk produk pakaian tertentu kadang S juga masuk. Soal ukuran ini memang nggak bisa jadi patokan karena kadang satu merk pakaian dengan pakaian lainnya standar ukuran “S” atau “M” nya nggak jelas, jadi takut kalo titip-titipan baju, soalnya nggak bisa di pass di fitting room. Kalau salah beli, mesti ngecilin lagi ditukang jahit, nambah ongkos lagi dah…
Celana syukur alhamdulillah masih bertahan di 32 untuk celana kerja dan 31 untuk celana jeans. Itu masih masuk golongan “M” buat ukuran celana.
Tapi emang untuk urusan perut gue cuma geleng-geleng aja, desperate gimana caranya kecilin perut. Diet kemarin cuma nyusutin separo aja, tetap masih njembling gak jelas gini, huhuhu..
Kembali ke laptop, kayaknya sekarang cara pandang penduduk (muda) Jakarta udah berubah. Mereka begitu terobsesi memiliki tubuh yang ideal, minimal nggak gendut. Pingin dapet pacar cewek yang ramping, pingin dapat pacar cowok yang muscle.. tinggallah yang chubby-chubby like me ini yang tersisa, berjuang untuk mendapatkan cinta di ibukota…huhuhu..
Temen seperti Ant bahkan mengira ukuran baju saya XL, huh enaks aza, gini-gini M masih muat tauuuk… untuk produk pakaian tertentu kadang S juga masuk. Soal ukuran ini memang nggak bisa jadi patokan karena kadang satu merk pakaian dengan pakaian lainnya standar ukuran “S” atau “M” nya nggak jelas, jadi takut kalo titip-titipan baju, soalnya nggak bisa di pass di fitting room. Kalau salah beli, mesti ngecilin lagi ditukang jahit, nambah ongkos lagi dah…
Celana syukur alhamdulillah masih bertahan di 32 untuk celana kerja dan 31 untuk celana jeans. Itu masih masuk golongan “M” buat ukuran celana.
Tapi emang untuk urusan perut gue cuma geleng-geleng aja, desperate gimana caranya kecilin perut. Diet kemarin cuma nyusutin separo aja, tetap masih njembling gak jelas gini, huhuhu..
Kembali ke laptop, kayaknya sekarang cara pandang penduduk (muda) Jakarta udah berubah. Mereka begitu terobsesi memiliki tubuh yang ideal, minimal nggak gendut. Pingin dapet pacar cewek yang ramping, pingin dapat pacar cowok yang muscle.. tinggallah yang chubby-chubby like me ini yang tersisa, berjuang untuk mendapatkan cinta di ibukota…huhuhu..
Tuesday, May 24, 2011
Madrid is Splendid
Masuk kota Madrid sudah disambut dengan kemacetan (mungkin juga karena jam pulang kantor). Bangunannya klasik, tapi buat bangunan yang baru kesannya modern dan a-simetris. Boleh juga buat ditiru di Jakarta :-P
Malam pertama sudah harus kejar-kejaran Metro buat nonton Flamingo, tarian khas Spanyol, yang menurut saya lebih mirip “tap dance” cuma bedanya diiringi gitar sama nyanyian-nyanyian khas Spanyol. Heran aja penarinya bisa tahan 30 menit menghentak-hentakkan kaki dipanggung, apa nggak varises itu kaki? Wew… Ngomong-ngomong Metro, kereta bawah tanah di Madrid dan Barcelona jauh lebih bagus dan manusiawi daripada yang di Paris. Tiketnya sekali jalan buat selamanya (sekali jalan,jauh-dekat) kalau mau hemat bisa juga beli tiket multipel. Belinya juga gampang, pakai mesin tiket yang sangat informatif. Sekali belajar pasti bisa.
Objek Wisatanya yang wajib kunjung yaitu Istana Royal Palace of Madrid. Isinya banyak benda-benda antik, patung dan lukisan dari masa lalu. Saat ini Raja dan keluarganya tidak tinggal disini, mereka lembih memlilih tinggal di Istana De La Zarzuela yang lebih sederhana. Sekarang selain jadi museum buat para turis, Royal Palace juga dijadikan tempat untuk acara-acara seremonial kerajaan saja. Sayangnya nggak boleh foto-foto didalam, petugasnya dengan wajah cemberut bentar-bentar ngawasi kita ditiap ruangan.
Raja kembali berkuasa di Spanyol setelah mangkatnya Jendral Franco tahun 1975. Jendral Franco berkuasa dari 1939 – 1975, setelah membuang kepengasingan Raja Alfonso XIII yang saat itu bertahta. Saat ini makam Franco menjadi salah satu tujuan kunjungan turis. Raja yang sekarang, Juan Carlos I, adalah cucu dari raja Alfonso XIII.
Yang paling ditunggu apalagi kalo bukan syoping, walau cuma jadi penggembira aja. Pajak di Spanyol lebih rendah dari Perancis, jadi harga untuk item tertentu lebih murah disini. Tapi kalau LV lebih baik beli di Perancis, lebih murah walau beda tipis. Tapi bagi kaum papa seperti diriku (lebay), yang tak mampu borong LV, paling tujuannya hanya ke butik Zara sajah.. dibading harga yang di Jakarta, beli Zara di negara asalnya ini jauh lebih murah, bisa selisih 200-300 ribu, plus dapat tax free 8%. Yippie…
Sekian liputan gak jelas dari rangkaian jalan-jalan kali ini. Sebelum dibacok mbak Trinity dengan "naked traveler"-nya karena merebut lahan beliau, sebaiknya saya sudahi sampai disini. Sampai ketemu diperjalanan selanjutnya...
Barcelona is Fantastica
Barcelona kota pantai yang cuacanya hangat, tapi masih dingin juga buat ukuran orang Indonesia seperti saya. Kota dosa juga karena hiburan yang serem-serem juga dimasukkan dalam brosur wisatanya, huhuhu…
Barcelona pernah menjadi tuan rumah olympiade tahun 1992. Sampai sekarang kompleks bekas laga olympiade dijadikan objek wisata. Sayang gara-gara ibu-ibu peserta tour yang telat naik bus, kita gak turun disini, cuma ngider-ngider pakai bus, liat dari luar.
Objek wisata lainnya, Spanish village, semacam taman mini disini, didalamnya ada berbagai bentuk bangunan daerah-daerah di spanyol, yang bagi saya orang awam keliatan hampir sama semua bentuknya, hehe.. kalau nggak salah spanyol terdiri dari berbagai daerah otonomi, seperti Andalusia, Catalonia, Aragon, Valencia, Galicia, de-el-el.
Kunjungan yang wajib bagi penggila FC Barcelona ya ke stadionnya, Masuknya kena 17 euro, bisa foto-foto di lapangan rumputnya, mau foto sama piala Champion, bayar lagi. Souvenirnya mahal buat ukuran kantong saya, satu kaos FC Barcelona dihargai 70 Euro atau hampir 1 juta, jadi yah mending jalan-jalan ke Zara aja, wkwkwkwk…
Marseille is A’uzubillee..
Karena sampai disini hari Minggu, toko-toko pada tutup, kecuali restoran, bete bo’ kaga ada yang bisa diliat.
Yang paling berkesan di Marseille ini, selain kaki masih bengkak sejak dari Monaco, juga hampir ketrabrak jambret bermotor yang lagi kejar-kejaran dengan polisi, mirip seperti kisah film Taxi yang juga mengambil lokasi di Marsaile. Mungkin karena penuh dengan imigran maka angka kriminalitas di kota ini lumayan tinggi.
Bocen ahhh.. next town : Barcelona..
Avignon is for Nun
Nun ~ maksudnya biarawati hehe (maksa.com), Kota ini memang kental nuansa Katoliknya, karena kota kecil Avignon ini pernah menjadi kediaman 9 orang Paus. Berawal dari terpilihanya Paus Clement V yang orang Perancis ditahun 1305, dia menolak pindah ke Vatikan, dan memilih tinggal di Avignon. Ada 9 Paus yang bertahta disini, lucunya, 2 Paus terakhir tidak diakui Vatikan.
Ini dia 7 paus yang bertahta di Avignon :
•Paus Clement V: 1305–1314
•Paus John XXII: 1316–1334
•Paus Benedict XII: 1334–1342
•Paus Clement VI: 1342–1352
•Paus Innocent VI: 1352–1362
•Paus Urban V: 1362–1370
•Paus Gregory XI: 1370–1378
Dua Paus yang tidak diakui Vatikan (Anti Paus) yaitu :
•Clement VII: 1378–1394
•Benedict XIII: 1394–1423 (di usir dari Avignon tahun 1403)
Kalau kamu liat daftar nama Paus, tidak ada Clement VII, karena menurut versi Vatikan, Paus yang berkuasa setelah Gregorius XI adalah Paus Urbanus VI.
Enough..enough sejarahnya, dah kayak dosen sejarah nggak jelas. Tapi memang obyek wisata andalannya ya cuma kastil tempat Paus pernah tinggal. Bangunannya bagus tapi seram. Ada jembatan Pont De Avignon, jembatan yang dibangun tahun 1171 ini nggak pernah selesai karena selalu tergerus arus sungai, sampai sekarang jembatan ini masih buntung.
Cannes is Nyes-Nyes
Entah kenapa Perancis memilih Cannes sebagai tempat festival film paling terkenal setelah oscar itu. Mungkin karena suasananya yang santai dan hangat kali ya. Lokasi Festival Cannes ada dibibir pantai berupa tenda-tenda dan sebuah gendung dengan kasino didepannya. Sederhana sekali. Didepannya ada cap telapak tangan artis-artis mirip walk of fame di Holywood atau di Kowloon Hong Kong.
Kota Cannes sendiri nggak gede-gede amat. Seperti Nice, banyak toko-toko branded didepan pantai. Kalau memang keuangan memungkinkan silakan belanja, ditunggu sampai jam 8 malam saja… (niat jualan gak seehh..)
Disini juga ada pulau St.Marguerite, tempat pengasingan seseorang yang diyakini kembaran raja Louis XIV selama 11 tahun. Legenda ini sempat difilmkan dengan judul "The Man in the iron mask" yang dibintangi Leonardo di Caprio. Selain itu film Mr.Bean Holiday juga mengambil lokasi di Cannes.
Banyak hotel-hotel besar disekitar pantai, mungkin untuk menampung tamu-tamu selama festival berlangsung (setiap bulan mei). Namun secara keseluruhan Nice dan Cannes kesannya hampir sama, cocok buat jemuran dipinggir pantai sambil ngulet-ngulet. jangan lupa bawa sunglass biar mata nggak nyes-nyes kesilauan.
Disini juga ada pulau St.Marguerite, tempat pengasingan seseorang yang diyakini kembaran raja Louis XIV selama 11 tahun. Legenda ini sempat difilmkan dengan judul "The Man in the iron mask" yang dibintangi Leonardo di Caprio. Selain itu film Mr.Bean Holiday juga mengambil lokasi di Cannes.
Banyak hotel-hotel besar disekitar pantai, mungkin untuk menampung tamu-tamu selama festival berlangsung (setiap bulan mei). Namun secara keseluruhan Nice dan Cannes kesannya hampir sama, cocok buat jemuran dipinggir pantai sambil ngulet-ngulet. jangan lupa bawa sunglass biar mata nggak nyes-nyes kesilauan.
Monaco is Fantastico
Jauh sebelum ada pengumuman tour tahun ini menyinggahi negara kota Monaco, saya sudah sering buka-buka profil negara mini ini diinternet. Monaco adalah negara kedua terkecil didunia setelah Vatikan. Luas awalnya cuma 1,8km persegi, setelah direklamasi sekarang luasnya sekitar 2,02km persegi.
Monaco memang unik, berawal dari penaklukan rock of Monaco oleh Francois Grimaldi, dimana dia menyamar sebagai biarawan sewaktu merebut kota itu dari penguasa Monaco saat itu, Genoa. Peristiwa ini diabadikan sebagai lambang negara Monaco, dimana dua biarawan mengapit bendera Monaco. Dinasti ini berkuasa dari tahun 1297 hingga saat ini (tua banget ya bo'). Karena ukurannya yang mini, Negara Monaco sangat bergantung dengan Perancis, dimana untuk masalah pertahanan diserahkan kepada Perancis. Sesuai perjanjian tahun 1918 dengan Perancis, Monako akan dikembalikan ke Perancis bila Rainier tidak memiliki keturunan laki-laki. Berhubung keturunannya ada anak laki-lakinya, sampai sekarang Monaco masih survive (CMIIW).
Sangking kecilnya, jalannya sempit-sempit, masing-masing cuma satu lajur. Parkir juga mahal, untuk bus tour kena 150 Euro sekali bayar untuk satu hari, parker paling mahal yak, 1,5juta lebih.
Monaco sebenarnya berbentuk principality, artinya raja disana bergelar “pangeran” sampai akhir hayat. Merupakan satu dari empat principality yang tersisa di dunia selain Andorra, Wales dan Liechtenstein.
Next : Let's go to Cannes! ^_^
Nice is Nice
Nice Cote d’Azure, kota dipantai mediterania, keliatan banget arsitekturnya khas mediterania. Kalau di Paris designnya rumit bergaya abad pertengahan, kalau mediterania designnya simple, menyesuaikan dengan udaranya yang lebih hangat. Pemandangannya terasa damai, dikanan kiri perjalanan banyak rumput ilalang dengan bunga warna-warni, buat kamu pingin loncat dari bus trus lari-lari guling-gulingan disana kayak film India...
Nice pantainya bagus banget, pasir putih dengan deretan toko-toko branded disepanjang pantai, membuat liburan jadi sempurna. Sayang gue cuma bisa ngiler-ngiler aja liat etalase, huhuhu… Jadi sementara para ibu-ibu belanja, saya cukup duduk-duduk ditaman, menikmati udara pantai yang sejuk sambil liatin sepasang kekasih saling pagut bibir dibangku seberang :-P
Monday, May 23, 2011
Paris is Romantis
Sutralah, biarpun bandaranya kuno tapi imigrasinya cepat dan efisien. Diluar sudah malam dan suhunya 8-10 derajat celcius, bikin semriwing.. padahal ini sudah musim semi menjelang musim panas.. ngga kebayang gimana rasanya kalau jalan-jalan dimusim dingin, bisa hipotermia kaleee..
Paris memang romantis dan sexy. Lihat dari ujung ke ujung, penduduk disana selalu keliatan modis, tas Louis Vuitton dibawa kemana-mana, serasi dengan tubuh mereka yang langsing-langsing. Hampir nggak pernah liat penduduk sana yang gemuk, kecuali yang imigran kali ye.. Namun ada yang kurang sreg karena toko-toko disana buka cuma sampai jam 6 atau jam 8 malam. Kalau acara tour-nya sampai jam makan malam, kapan belanjanyaaa...kan kalo ngga belanja = mati gayaa (lebay.com), mana hari minggu toko-toko juga tutup. Hufftt..
Menara ini terbuat dari besi-besi yang disambung dengan paku-paku besi. Mulai dibangun tahun 1887, selesai 1889 dirancang oleh Gustav Eiffel, semula menara ini mau dibangun di Barcelona, tapi ditolak pemerintah setempat dan akhirnya dibangun di Paris sebagai pintu gerbang untuk pameran internasional yang akan diselenggarakan disana. Seharusnya, ijin menara ini hanya untuk 20 tahun, atau sudah harus dibongkar ditahun 1909, tapi untungnya tidak jadi, dan menara itu menjadi daya tarik bagi 80 juta turis yang berkunjung ke Paris tiap tahunnya.
Puas dari menara Eiffel, naik kapan pesiar menyusuri sungai Rhein selama sejam. Sungai Rhein ini membelah kota Paris, ditengah sungai ini ada pulau kecil, dimana ada gereja Katedral Notre Dame de Paris yang sangat terkenal itu
Tempat lain yang wajib dikunjungi adalah kediaman si Monalisa, alias Museum Louvre. Museum ini merupakan museum terbesar di dunia dengan koleksi-koleksi patung dan lukisan yang fantastik! Kalau nonton film Da Vinci Code, ceritanya dibawah piramid kaca yang terletak dihalaman museum ini tempat bersemayam si Maria Magdalena (yang ini fiksi ya, bukan beneran!)Selain yang sejarah-sejarah berdarah, ada juga hiburan-hiburan yang modern, seperti Paris Disney. Ini adalah Disney yang pertama dibuka diluar Amerika yang modalnya dari pihak Amerika ~ ceritanya, Jepang membuka Tokyo Disney duluan dengan sistem franchise tahun 1983, dan untung besar... merasa tergiur, kemudian Amerika membuka Disney Paris dengan modal sendiri tahun 1992 hasilnya : Rugi besar..
Selain wisata, Paris juga surga belanja. Pertokoan disepanjang jalan Champs-Élysées menawarkan barang-barang branded yang pastinya lebih murah dibanding kalau kita beli di Jakarta. Walau pajak Perancis tergolong besar – 19,6%, tapi buat turis bisa dapat taxfree jika belanja minimal 175 Euro (kira-kira Rp.2.500.000) tapi yang dikembalikan cuma 12% saja ya..
Transportasi di Paris lumayan oke, kamu bisa naik kereta bawah tanah (MRT) seperti di Singapur atau Hong Kong. Satu tarif seperti naik busway, jauh-dekat, beda dengan MRT singapur-hongkong yang tariff dihitung berdasarkan jarak. Tapi jangan bayangin secanggih MRT di Singapur ya, karena Metro di Paris kuno, baik stasiun maupun keretanya. Kuno dan jorok. Kita mesti benar-benar perhatiin tiap stasiun yang dilewati, soalnya nggak ada pengumuman mengenai pemberhentian stasiun seperti kalau naik MRT Singapur. Kalau lengah ya terlewatlah.. Dan yang unik, pintunya mesti dibuka manual, nggak otomatis…O Mei Got..
Well, nggak berenti-berenti kalau ngomongin Paris. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Nice, Perancis selatan. So, let’s go to the next trip!
Dubai is Lebai...
Siapa yang nggak tau Palm Al-Jumeirah, pulau buatan berbentuk pohon palm itu dibangun selesai dibangun tahun 2001, disusul kemudian dengan pulau The World dan Palm Jebel Ali, Terakhir Palm Deira (yang menjadi pulau buatan terbesar di dunia). Selain pulau-pulau buatan, Dubai juga pesat dengan pembangunan gedung-gedung, sampai yang terakhir Burj Al-Khalifa, bangunan tertinggi di dunia setinggi 828 meter. Gedung ini harusnya bernama Burj Al-Dubai, tapi pada tahun 2008 pembangunannya terancam mandeg karena krisis ekonomi global, dan Dubai meminta bantuan si saudara tua, Abu Dhabi untuk menalangi krisis-nya, sehingga sebagai penghormatan nama Burj Al-Dubai dirubah menjadi Burj Al-Khalifa.Ada juga “sungai” buatan, sebenarnya cuma tanah dikeruk, trus air laut dibiarin masuk, kesannya seperti sungai, lengkap dengan kapal-kapal dagangnya. Menurut tour guide, orang-orang sini nggak suka di foto, bisa dituntut! Jadi jangan asal jeprat-jepret orang aja :-P
Yang lebih unik, Dubai penduduk aslinya cuma 15% saja dari total 2,2 juta penduduk. Lainnya pendatang, pekerja seperti TKI. Menurut tour guide, pendatang-pendatang ini, walaupun sudah berpuluh tahun kerja di Dubai tidak akan bisa menjadi warga negara sana. Tapi paling nggak banyaknya tenaga kerja asing menjadi berkah tersendiri bagi maskapai penerbangan mereka, Emirates, yang pesawatnya selalu full..kayaknya nggak pernah ada “rute kering” bagi maskapai penerbangan ini…hohoho

Bandaranya juga bagus, baru dan modern. Nantinya bandara ini khusus buat pesawat-pesawat Emirates aja, karena mereka tengah membangun bandara baru khusus pesawat-pesawat asing yang diberi nama Bandar Udara Internasional World Central Dubai (kode:JBX). Sementara Bandara International Dubai ini (DBX) terus diperluas, karena padat banget… pas balik, kita mesti berputar-putar sebelum diijinkan mendarat, dan pas mendarat juga nggak kebagian garbarata, mesti berhenti jauh ditengah dan dijemput bus…wew.
Tapi paling nggak, kita bisa belanja bebas pajak disini, jadi nggak perlu repot antri minta pengembalian tax-free dibandara. Pingin jalan-jalan lagi disini, karena belum puas, tapi yang pasti bukan bulan April-Oktober karena cuaca masih panas-panasnya…
Next... lanjut ke Paris!
Sunday, May 22, 2011
Liburan Tanpa Oleh-Oleh
Seingat gue, tiap kali gue cuti liburan, baik dalam dan luar negeri, pasti orang-orang yang tahu tentang kepergian gue nyeletuk : oleh-olenya ya...
Entah berasal dari tradisi mana, sepertinya oleh-oleh udah menjadi suatu keharusan bagi kamu yang jalan-jalan, pulang kampung, tugas kantor, cuti ke Bali, ke Singapur, ke Hong Kong, de-el-el, walau mungkin seperti gue ini, jalan-jalan tujuannya melepas kejenuhan, bukan berarti gue jalan-jalan karena terlalu kebanyakan duit. Jalan-jalan sekarang sudah bisa ditekan biayanya. Kamu bisa search tiket murah air asia, minta hotel yang murah, atau sewa apartemen seperti di Singapura, sampai jalan-jalan sendiri, nggak usah ikut tour-touran. Liburan bisa makin hemat.
Oleh-oleh yang paling murah mungkin makanan, buat dimakan rame-rame satu kantor, sampai yang lebih personal, tiap orang dapet, paling murah sih gantungan kunci. Tapi kadang-kadang oleh-oleh seperti itu dipandang sebelah mata. Murahan (mungkin), tapi masa bodo amatlah, mau syukur nggak ya gak apa, yang penting udah ngasih!
Disadari atau tidak, oleh-oleh itu sebenarnya suatu beban, bener gak sih? kira-kira sama dengan orang yang "nitip" dibeliin ini dicariin itu. Walau nantinya diganti, tetap aja kita harus meluangkan waktu untuk mencari "barang titipan" itu. Jadi beban pikiran juga, takut salah beli ntar diomelin, nggak cocok nanti mukanya cemberut, apalagi karena keterbatasan waktu, barang titipan itu nggak sempat kebeli. Pokoknya nggak enakin deh.
Jadi...waktu dapet liburan ke eropa ini, gue berusaha untuk tidak ambil pusing masalah oleh-oleh ini. Jadi sengaja nggak dibudgetin, dan nggak mau dititipin juga. Walau teman kantor bilang bawain ini yaaa.. bawain itu yaa.. gue anggap becandaan aja, membuang jauh-jauh perasaan nggak enak dalam diri gue. Toh tujuan jalan-jalan buat lepasin stress, bukan buat nambah stress..hehe
Entah berasal dari tradisi mana, sepertinya oleh-oleh udah menjadi suatu keharusan bagi kamu yang jalan-jalan, pulang kampung, tugas kantor, cuti ke Bali, ke Singapur, ke Hong Kong, de-el-el, walau mungkin seperti gue ini, jalan-jalan tujuannya melepas kejenuhan, bukan berarti gue jalan-jalan karena terlalu kebanyakan duit. Jalan-jalan sekarang sudah bisa ditekan biayanya. Kamu bisa search tiket murah air asia, minta hotel yang murah, atau sewa apartemen seperti di Singapura, sampai jalan-jalan sendiri, nggak usah ikut tour-touran. Liburan bisa makin hemat.
Oleh-oleh yang paling murah mungkin makanan, buat dimakan rame-rame satu kantor, sampai yang lebih personal, tiap orang dapet, paling murah sih gantungan kunci. Tapi kadang-kadang oleh-oleh seperti itu dipandang sebelah mata. Murahan (mungkin), tapi masa bodo amatlah, mau syukur nggak ya gak apa, yang penting udah ngasih!
Disadari atau tidak, oleh-oleh itu sebenarnya suatu beban, bener gak sih? kira-kira sama dengan orang yang "nitip" dibeliin ini dicariin itu. Walau nantinya diganti, tetap aja kita harus meluangkan waktu untuk mencari "barang titipan" itu. Jadi beban pikiran juga, takut salah beli ntar diomelin, nggak cocok nanti mukanya cemberut, apalagi karena keterbatasan waktu, barang titipan itu nggak sempat kebeli. Pokoknya nggak enakin deh.
Jadi...waktu dapet liburan ke eropa ini, gue berusaha untuk tidak ambil pusing masalah oleh-oleh ini. Jadi sengaja nggak dibudgetin, dan nggak mau dititipin juga. Walau teman kantor bilang bawain ini yaaa.. bawain itu yaa.. gue anggap becandaan aja, membuang jauh-jauh perasaan nggak enak dalam diri gue. Toh tujuan jalan-jalan buat lepasin stress, bukan buat nambah stress..hehe
Saturday, April 30, 2011
Diet Ala Fear Factor
Hari ini selesai ikut diet super disiplin ala Anc. Pantang makan garam, pantang bumbu, jadi sayuran hanya direbus, dan daging digoreng dengan minyak bunga matahari atau dikukus. Saya menyebutnya diet ala fear factor, dimana pesertanya ditantang untuk makan telur busuk atau binatang hidup, atau bagian-bagian tubuh hewan yang menjijikkan. Kebayang nggak sih bayam atau kangkung cuma direbus tanpa bumbu apa-apa? berbanding terbalik dengan kangkung yang selama ini saya pesan direstoran, enak banget, bisa nambah berkali-kali.. tapi kalau cuma kangkung rebus, rasanya mau muntah...
Wortel terasa enak waktu menjadi salad di hokben, tapi menjadi bencana waktu saya harus makan wortel kukus.... dan yang lebih parah, jika harus makan ayam kukus tanpa bumbu..kebayang nggak sih amisnya daging ayam? kalau yang ini saya bener-bener muntah beneran...
Kata Ant, saya cuma menyiksa diri..kenapa mau menyiksa diri untuk diet yang super duper menyiksa ini? well, karena berat badan saya turun naik. Dulu waktu masih kerja di tempat yang lama, berat saya 68kg...dulu banget tahun 2001 60 kg, dan menurut dokter waktu chek-up kesehatan akhir tahun lalu, berat badan ideal saya 67kg. Berat saya pernah mencapai 80kg..busyet..setelah pakai obat pelangsing, beratnyapernah susut jadi 69 (rekor tahun lalu) lalu kembali naik turun antara 78 - 74. Terakhir, berat nggak mau beranjak dari 74-75kg, setelah putus asa, akhirnya saya putuskan ikut diet ala fear factor ini, dah...whala, berat setelah ikut diet ini paling mentok di rekor 66kg. Namun katanya, berat bakal naik sekitar 2 kilo lagi setelah diet selesai, dan stabil sampai setahun...dan hari ini berat saya naik jadi 68 kilo..huhu
Tapi harus diakui bener-bener susah untuk kecilin perut. Walau sudah menyusut 7 kilo, tapi perut saya cuma mengecil sedikit. Heran kenapa perut Anc yang gendutnya gak ketulungan itu bisa bener-bener ramping setelah ikut diet ini.. Kayaknya udah waktunya mengatur pola makan supaya bisa menjaga ini badan diposisi berat yang ideal...huhuhu..
Wortel terasa enak waktu menjadi salad di hokben, tapi menjadi bencana waktu saya harus makan wortel kukus.... dan yang lebih parah, jika harus makan ayam kukus tanpa bumbu..kebayang nggak sih amisnya daging ayam? kalau yang ini saya bener-bener muntah beneran...
Kata Ant, saya cuma menyiksa diri..kenapa mau menyiksa diri untuk diet yang super duper menyiksa ini? well, karena berat badan saya turun naik. Dulu waktu masih kerja di tempat yang lama, berat saya 68kg...dulu banget tahun 2001 60 kg, dan menurut dokter waktu chek-up kesehatan akhir tahun lalu, berat badan ideal saya 67kg. Berat saya pernah mencapai 80kg..busyet..setelah pakai obat pelangsing, beratnyapernah susut jadi 69 (rekor tahun lalu) lalu kembali naik turun antara 78 - 74. Terakhir, berat nggak mau beranjak dari 74-75kg, setelah putus asa, akhirnya saya putuskan ikut diet ala fear factor ini, dah...whala, berat setelah ikut diet ini paling mentok di rekor 66kg. Namun katanya, berat bakal naik sekitar 2 kilo lagi setelah diet selesai, dan stabil sampai setahun...dan hari ini berat saya naik jadi 68 kilo..huhu
Tapi harus diakui bener-bener susah untuk kecilin perut. Walau sudah menyusut 7 kilo, tapi perut saya cuma mengecil sedikit. Heran kenapa perut Anc yang gendutnya gak ketulungan itu bisa bener-bener ramping setelah ikut diet ini.. Kayaknya udah waktunya mengatur pola makan supaya bisa menjaga ini badan diposisi berat yang ideal...huhuhu..
Sunday, April 17, 2011
My Lapie
Hari ini pakai Lapie baru, sebenarnya mau di launching dari kemarin-kemarin sih, namun kayaknya belum afdol kalau windowsnya belum diganti ke versi original. Akhirnya pilihan jatuh ke Win 7 Home Basic. Paling nggak udah lumayanlah fungsi-fungsinya ketimbang Win 7 Starter, yang bahkan buat ganti wallpaper aja gak bisa.
Walaupun nggak sekeren apple punya, tapi paling nggak harga Lapie Toshi ini masih make sense, walau saya beli murah, tapi jatuhnya sama aja karena Win nya harus beli juga :(
pingin lebih aktif buat nge-blog, kalo bisa satu hari satu postingan (berat, bo'), tapi paling nggak ada tempat buat numpahin uneg-uneg kalau lagi insomnia seperti malam ini. Menurut saya blog, twitter, facebook, atau apapun itu dimana kamu berinteraksi sama orang, sebenarnya merasa nggak sih kalau kita membuka kehidupan pribadi kita keorang lain. Sebenarnya gak ada salahnya, tapi kalau kita terlalu jujur bisa menyinggung orang lain, membuka aib, whateverlah. Orang bisa tau kita lagi marah, lagi jatuh cinta, lagi belanja ~ busyet~ kalau buat FB atau twitter tanpa teman juga nggak asyik. Apalag kalo lagi acara ledek-ledekan, masa mau ledek diri sendiri?
well, anyway, semoga saja dengan lapie ini bisa membuat saya lebih produktif lagi dari kemaren-kemaren. I hope so...
Walaupun nggak sekeren apple punya, tapi paling nggak harga Lapie Toshi ini masih make sense, walau saya beli murah, tapi jatuhnya sama aja karena Win nya harus beli juga :(
pingin lebih aktif buat nge-blog, kalo bisa satu hari satu postingan (berat, bo'), tapi paling nggak ada tempat buat numpahin uneg-uneg kalau lagi insomnia seperti malam ini. Menurut saya blog, twitter, facebook, atau apapun itu dimana kamu berinteraksi sama orang, sebenarnya merasa nggak sih kalau kita membuka kehidupan pribadi kita keorang lain. Sebenarnya gak ada salahnya, tapi kalau kita terlalu jujur bisa menyinggung orang lain, membuka aib, whateverlah. Orang bisa tau kita lagi marah, lagi jatuh cinta, lagi belanja ~ busyet~ kalau buat FB atau twitter tanpa teman juga nggak asyik. Apalag kalo lagi acara ledek-ledekan, masa mau ledek diri sendiri?
well, anyway, semoga saja dengan lapie ini bisa membuat saya lebih produktif lagi dari kemaren-kemaren. I hope so...
Monday, April 11, 2011
Tanda Tanya
Hari minggu kemarin diajak nonton film berjudul “tanda tanya” sama si Anc. Satu lagi film yang disutradarai Hanung Bramantyo. Terakhir nonton film dia “sang pencerah” berharap filmnya yang ini sebagus yang sebelumnya.Film ini bercerita tentang kerukunan umat beragama yang menurut saya sedikit “lebay” tapi menarik. Sedikit terganggu dengan adegan pembuka dimana sehabis Pastor ditusuk trus ada merpati yang hinggap di atas patung seorang Santo, keliatan banget patung Santo-nya palsu, soalnya pas dihinggapi si merpati, patungnya bergerak-gerak, seperti dibuat dari Styrofoam terkesan murahan…huhu..
Ceritanya menarik, tentang seorang janda yang pindah agama Katholik karena panggilan hati, sementara anaknya dibiarkan tetap memeluk agama Islam. Trus ada seorang muslim yang bimbang ketika harus memerankan tokoh Yesus, yang akhirnya dijalaninya karena butuh uang dan dia dibayar untuk memerankan tokoh itu. Adalagi seorang anak pemilik restoran yang berlatar belakang keluarga Kong Fu Chu yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam.
Saya sendiri nggak begitu mempermasalahkan jalan ceritanya, karena saya merasa cukup bertoleransi dalam masalah beragama . Saya punya teman yang Kristen dan Buddha, semuanya nggak ada masalah. Cuma saya bertanya-tanya kalau yang nonton mereka-mereka didaerah yang masih kurang pemahamannya mengenai pluralisme, apa nggak mencak-mencak melihat film ini? Karena sepertinya film ini lebih cocok untuk mereka yang tinggal diperkotaan.
Saya punya tetangga kost yang lumayan islam banget, yang heran di kamar kost saya ada patung Buddha. Mungkin dia bakalan shock lagi kalau tahu dikamar saya di rumah, masih banyak lagi patung-patung Buddha dalam berbagai posisi tapa brata hehe.. Dalam pengertian dia, dalam Islam, patung dilarang. Menurut guru agama saya dulu, Islam melarang patung karena khawatir akan disembah, Lha, selama kita tidak menyembah itu patung nggak apa-apa dong? Lagian saya suka patung Buddha karena atristik dan eksotik banget, nggak ada maksud lain.
Kalau dipikir-pikir mengenai kerukunan umat beragama, menurut saya di Indonesia sudah lebih baik dibanding negara-nagara lain. Bandingkan ini : di Thailand tidak ada libur nasional untuk agama Kristen dan Islam, walau di selatan Thailand, mayoritas penduduknya pemeluk Islam. Tidak ada libur Imlek juga disana. Di Perancis, jilbab dilarang, di Italia membangun mesjid dilarang, di Swiss yang apa-apa pakai referendum, mayoritas masyarakat sana tidak memperbolehkan pendirian menara mesjid, di Amerika, Al-Quran dibakar. Jadi kenapa kita ribut-ribut soal SKB 3 mentri yang sebenarnya bukan saja mengatur pendirian gereja di wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim, tapi juga mengatur pendirian mesjid diwilayah yang mayoritas Kristen? Benturan pasti ada dimana-mana antara mayoritas dan minoritas, tapi bukan berarti harus ribut-ribut tanpa solusi kan?
Sunday, April 10, 2011
Karma
Do you believe in Karma?
I do…
Meskipun dulu guru agama saya bilang dalam Islam tidak ada yang namanya karma, karena itu merupakan kepercayaan Hindu dan Buddha, tapi percaya atau tidak, itu saya rasakan terjadi dikehidupan saya sehari-hari..
Kalau dalam agama Kristen namanya hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur, itu yang kamu dapat. Mungkin dalam ilmu alam namanya hukum sebab-akibat ya?
Saya tidak tahu apakah karma merupakan recycle dimana nantinya manusia dilahirkan kembali sebagai manusia juga atau sebagai hewan atau sebagai tumbuhan. Ketika beberapa waktu yang lalu saya dan An menyaksikan pameran tentang agama Buddha disuatu mall, saya bisa tahu dalam agama Buddha, segala sesuatu hal itu ada penjelasannya. Ini juga yang membuat seorang teman saya memutuskan pindah agama dari Katholik menjadi Buddha, karena dia pernah bertanya kepada Pastur : kenapa begini atau kenapa begitu? Dan jawaban sang Pastur adalah : karena itu sudah kehendak dan jalan dari Tuhan. Sedangkan dalam Buddha, sesuatu itu ada penjelasannya, misalnya : kenapa seseorang berumur pendek? Jawabannya karena dimasa lalu dia seorang tukang jagal hewan. Lalu ada lagi : kenapa seorang istri bisa ditinggal mati suaminya begitu cepat? Jawabannya karena dikehidupan yang lampau wanita ini suka menyiksa suaminya…. Dan seterusnya, kamu tanya apa saja, pasti ada jawabannya.
Well, mungkin saya percaya karma dari sudut pandang yang lain. Coba renungin ini : kalau kamu marahin orang, tiba-tiba kamu dimarahin orang. Kamu gosipin orang tiba-tiba kamu digosipin, Kamu putusin orang, tiba-tiba kamu diputusin orang, Kamu ngecewain orang, maka kamu akan dikecewakan orang... dan seterusnya.
Seorang teman cerita kalau dia ikut pengajian dan ceramah agama tiap jum'at malam, katanya sebagai penyeimbang atas dosa-dosa yang dia lakukan selama sabtu - kamis. Saya rasa itu ide yang bagus juga, right? Karena kita sebagai manusia, susah banget menjadi selalu menjadi manusia yang lurus.
Bagi saya, hukuman balasan didunia itu lebih baik daripada hukuman balasan di neraka. Saya percaya musibah itu sebagai penyeimbang dan pengurang dosa-dosa kita. Karma didunia menjadi semacam pengingat supaya kita bisa introspeksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang selamanya kita tidak bisa selalu menjadi orang baik, tapi paling tidak kita sudah berusaha, ya ndak? :-P
I do…
Meskipun dulu guru agama saya bilang dalam Islam tidak ada yang namanya karma, karena itu merupakan kepercayaan Hindu dan Buddha, tapi percaya atau tidak, itu saya rasakan terjadi dikehidupan saya sehari-hari..
Kalau dalam agama Kristen namanya hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur, itu yang kamu dapat. Mungkin dalam ilmu alam namanya hukum sebab-akibat ya?
Saya tidak tahu apakah karma merupakan recycle dimana nantinya manusia dilahirkan kembali sebagai manusia juga atau sebagai hewan atau sebagai tumbuhan. Ketika beberapa waktu yang lalu saya dan An menyaksikan pameran tentang agama Buddha disuatu mall, saya bisa tahu dalam agama Buddha, segala sesuatu hal itu ada penjelasannya. Ini juga yang membuat seorang teman saya memutuskan pindah agama dari Katholik menjadi Buddha, karena dia pernah bertanya kepada Pastur : kenapa begini atau kenapa begitu? Dan jawaban sang Pastur adalah : karena itu sudah kehendak dan jalan dari Tuhan. Sedangkan dalam Buddha, sesuatu itu ada penjelasannya, misalnya : kenapa seseorang berumur pendek? Jawabannya karena dimasa lalu dia seorang tukang jagal hewan. Lalu ada lagi : kenapa seorang istri bisa ditinggal mati suaminya begitu cepat? Jawabannya karena dikehidupan yang lampau wanita ini suka menyiksa suaminya…. Dan seterusnya, kamu tanya apa saja, pasti ada jawabannya.
Well, mungkin saya percaya karma dari sudut pandang yang lain. Coba renungin ini : kalau kamu marahin orang, tiba-tiba kamu dimarahin orang. Kamu gosipin orang tiba-tiba kamu digosipin, Kamu putusin orang, tiba-tiba kamu diputusin orang, Kamu ngecewain orang, maka kamu akan dikecewakan orang... dan seterusnya.
Seorang teman cerita kalau dia ikut pengajian dan ceramah agama tiap jum'at malam, katanya sebagai penyeimbang atas dosa-dosa yang dia lakukan selama sabtu - kamis. Saya rasa itu ide yang bagus juga, right? Karena kita sebagai manusia, susah banget menjadi selalu menjadi manusia yang lurus.
Bagi saya, hukuman balasan didunia itu lebih baik daripada hukuman balasan di neraka. Saya percaya musibah itu sebagai penyeimbang dan pengurang dosa-dosa kita. Karma didunia menjadi semacam pengingat supaya kita bisa introspeksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang selamanya kita tidak bisa selalu menjadi orang baik, tapi paling tidak kita sudah berusaha, ya ndak? :-P
Saturday, April 9, 2011
Bersosialisasi atau bersosialita?
Beberapa waktu yang lalu saya ketemu seseorang yang kenal dengan teman saya dimasa lalu. Saya bilang dimasa lalu, karena memang karena suatu dan lain hal saya sudah tidak intens lagi kontak dengan dia.
Yang saya tahu, teman saya itu orang yang biasa-biasa saja secara financial. Seperti halnya saya, bekerja, mendapat gaji, dan dihabiskan dalam sebulan, begitu seterusnya, seperti siklus air, dari laut, menguap keudara, menjadi uap air dan turun sebagai hujan, terus seperti itu dan berulang.
Singkat kata, teman saya ini punya suatu lingkungan ~ sebut saja group nongkrong ~ dimana mereka sering ngumpul untuk bersosialisasi, seringnya disuatu mall. Yang saya tahu ada beberapa diantara mereka yang punya karir bagus dengan salary yang lumayan, dan sebagian lagi tidak. Dan seperti yang kita tahu, bagian yang kurang mampu “terinspirasi” dengan cerita-cerita bagian yang mampu. Kemudian mulai melek brand. Nggak usah bicara Louis Vuitton atau Dolce & Gabanna, tapi brand menengah seperti Zara atau dibawahnya seperti Giordano. Yang jelas, masih termasuk mahal untuk kaum pekerja dengan gaji 2-3 juta sebulan.
Yang jelas, ngumpul seperti itu juga sudah suatu cost. Walaupun ibaratnya kamu cuma pesan es teh di mall, harganya berlipat kali lipat dibanding kamu beli es teh di warung pinggiran. Belum makannya. Dan untuk ngobrol ngalur ngidul yang nggak jelas, mungkin menghabiskan lebih dari satu gelas minuman. Belum lagi kalau ngobrol-ngobrolnya di starbuck, dimana segelas kopi sama biayanya sama dengan ongkos transport kita ke kantor beberapa hari. Alhasil dari ngobrol-ngobrol itu teman saya yang pas-pasan ini tertarik dengan cerita temannya yang baru beli ini-itu, bergabung dengan fitness yang mahal, pokoknya ikut bergaya hidup kaum metroseksual.
Saya masih ingat dulu sekali dia pernah cerita, pernah terlilit masalah kartu kredit, sampai akhirnya orang tuanya tahu dan akhirnya orang tuanya juga yang melunasi. Sejak saat itu dia memutuskan tidak ingin punya kartu kredit. Great, bagus. Tapi itu tidak menghentikan egonya untuk terlihat mapan dimata keluarganya. Maksud saya, ketika kakaknya ada masalah harus masuk rumah sakit, atau adiknya mau menikah, dia yang kelimpungan mencari uang untuk menyumbang, sampai rela berhutang. Saya cuma bisa bilang, Oh my God. Membantu nggak ada salahnya selama kamu punya uang, tapi bukan berarti kamu harus berhutang supaya terlihat hebat dimata keluargamu.
Kalau sudah begitu, mulai melirik teman yang kelihatannya punya uang banyak, trus mulai mencoba minjam dan berhutang. Padahal kita tidak bisa menilai orang banyak uang dari penampilan. Mungkin teman kamu memakai baju bagus dan mahal, bukan berarti dia punya uang banyak kan? Mungkin dia mencicil – bisa jadi. Mungkin dia besar mulut cerita pergi kesana atau kesini, tapi itu mungkin cuma cerita biar terlihat hebat, belum tentu juga dia punya uang. Kalau sudah begitu, karena masalah uang, hubungan bisa jadi rusak. Nggak dikasih pinjaman jadi marahan, musuhan. Tapi adakalanya kalau dipercaya dipinjami, lupa bayar, akhirnya lupa kalau punya hutang! Nggak lucu banget pertemanan rusak gara-gara uang...
Saya tidak menyalahkan kalau kita pingin punya teman dari kaum “the have” tapi bukan berarti kita harus ikut gaya hidup mereka. Salah pergaulan berbahaya. Apalagi kalau masalah uang. Bisa-bisa kamu korupsi hanya untuk bisa hidup dengan standar tinggi. Sosialisasi memang perlu, tapi nggak perlu sampai minder juga kalau kita datang dan nggak mesan apa-apa. Kalau kamu dianggap aneh karena nggak bisa ikut standar mereka, paling juga kamu dijauhi, tapi justru itu kamu bisa tahu, siapa yang benar-benar teman sejati, right? :-)
Yang saya tahu, teman saya itu orang yang biasa-biasa saja secara financial. Seperti halnya saya, bekerja, mendapat gaji, dan dihabiskan dalam sebulan, begitu seterusnya, seperti siklus air, dari laut, menguap keudara, menjadi uap air dan turun sebagai hujan, terus seperti itu dan berulang.
Singkat kata, teman saya ini punya suatu lingkungan ~ sebut saja group nongkrong ~ dimana mereka sering ngumpul untuk bersosialisasi, seringnya disuatu mall. Yang saya tahu ada beberapa diantara mereka yang punya karir bagus dengan salary yang lumayan, dan sebagian lagi tidak. Dan seperti yang kita tahu, bagian yang kurang mampu “terinspirasi” dengan cerita-cerita bagian yang mampu. Kemudian mulai melek brand. Nggak usah bicara Louis Vuitton atau Dolce & Gabanna, tapi brand menengah seperti Zara atau dibawahnya seperti Giordano. Yang jelas, masih termasuk mahal untuk kaum pekerja dengan gaji 2-3 juta sebulan.
Yang jelas, ngumpul seperti itu juga sudah suatu cost. Walaupun ibaratnya kamu cuma pesan es teh di mall, harganya berlipat kali lipat dibanding kamu beli es teh di warung pinggiran. Belum makannya. Dan untuk ngobrol ngalur ngidul yang nggak jelas, mungkin menghabiskan lebih dari satu gelas minuman. Belum lagi kalau ngobrol-ngobrolnya di starbuck, dimana segelas kopi sama biayanya sama dengan ongkos transport kita ke kantor beberapa hari. Alhasil dari ngobrol-ngobrol itu teman saya yang pas-pasan ini tertarik dengan cerita temannya yang baru beli ini-itu, bergabung dengan fitness yang mahal, pokoknya ikut bergaya hidup kaum metroseksual.
Saya masih ingat dulu sekali dia pernah cerita, pernah terlilit masalah kartu kredit, sampai akhirnya orang tuanya tahu dan akhirnya orang tuanya juga yang melunasi. Sejak saat itu dia memutuskan tidak ingin punya kartu kredit. Great, bagus. Tapi itu tidak menghentikan egonya untuk terlihat mapan dimata keluarganya. Maksud saya, ketika kakaknya ada masalah harus masuk rumah sakit, atau adiknya mau menikah, dia yang kelimpungan mencari uang untuk menyumbang, sampai rela berhutang. Saya cuma bisa bilang, Oh my God. Membantu nggak ada salahnya selama kamu punya uang, tapi bukan berarti kamu harus berhutang supaya terlihat hebat dimata keluargamu.
Kalau sudah begitu, mulai melirik teman yang kelihatannya punya uang banyak, trus mulai mencoba minjam dan berhutang. Padahal kita tidak bisa menilai orang banyak uang dari penampilan. Mungkin teman kamu memakai baju bagus dan mahal, bukan berarti dia punya uang banyak kan? Mungkin dia mencicil – bisa jadi. Mungkin dia besar mulut cerita pergi kesana atau kesini, tapi itu mungkin cuma cerita biar terlihat hebat, belum tentu juga dia punya uang. Kalau sudah begitu, karena masalah uang, hubungan bisa jadi rusak. Nggak dikasih pinjaman jadi marahan, musuhan. Tapi adakalanya kalau dipercaya dipinjami, lupa bayar, akhirnya lupa kalau punya hutang! Nggak lucu banget pertemanan rusak gara-gara uang...
Saya tidak menyalahkan kalau kita pingin punya teman dari kaum “the have” tapi bukan berarti kita harus ikut gaya hidup mereka. Salah pergaulan berbahaya. Apalagi kalau masalah uang. Bisa-bisa kamu korupsi hanya untuk bisa hidup dengan standar tinggi. Sosialisasi memang perlu, tapi nggak perlu sampai minder juga kalau kita datang dan nggak mesan apa-apa. Kalau kamu dianggap aneh karena nggak bisa ikut standar mereka, paling juga kamu dijauhi, tapi justru itu kamu bisa tahu, siapa yang benar-benar teman sejati, right? :-)
Sabtu ini...
Sabtu ini..
Masih di kost seperti minggu lalu, menikmati kesendirian setelah seminggu kerja, telinga penuh dengan hiruk pikuk terutama dari dua ibu-ibu monster yang duduk dibelakang gue, yang selalu rebut dengan obrolan-obrolan yang nggak penting, membuat hari-hari gue bete tiada tara *lebayy*
Since I don’t have many friends, maksudnya jarang ketemu juga ~ lebih sering BBM-an aja ~ jadi sabtu lebih sering di kost aja. Satu persatu teman kost pada kelayapan, dan gue tetap disini. Sabtu lalu sibuk bongkar lemari dan box, mencari sesuatu benda yang ternyata setelah bongkar sana-sini tetap nggak ketemu. Tapi paling nggak, kamar gue lebih tertata rapi setelah membuang 4 plastik besar sampah, Yes… gue emang suka simpan sampah..
Buat gue, suatu benda itu punya history-nya masing-masing. Jadilah gue simpan plastik bag, paper bag, brosur-brosur belanja, katalog-katalog yang sudah kadaluasa, dan lain-lain. Masih simpan tiket bioskop 21, struk belanja, brosur pameran komputer, brosur travel dan nggak ketinggalan katalog Carrefour dan department store yang semuanya sudah kadaluarsa, great!
Masing-masing benda punya sejarah, right? Tiket pertama kali kamu nonton sama dia, struk makan waktu kamu berdua sama si dia, dan lain-lainnya. Seburuk apapun hubungan kamu dengan seseorang, pasti ada saat-saat manis yang kalian jalani. Jadi jika kalian berantem, jangan lihat kejelekannya semata, tapi juga liat saat-saat manisnya. Tapi kadang kala, apabila suatu hubungan itu sudah stag dan tidak bisa dilanjutkan, ada baiknya semua kamu kubur dalam-dalam, buang dalam 4 kantong plastik besar..wew..
Masih di kost seperti minggu lalu, menikmati kesendirian setelah seminggu kerja, telinga penuh dengan hiruk pikuk terutama dari dua ibu-ibu monster yang duduk dibelakang gue, yang selalu rebut dengan obrolan-obrolan yang nggak penting, membuat hari-hari gue bete tiada tara *lebayy*
Since I don’t have many friends, maksudnya jarang ketemu juga ~ lebih sering BBM-an aja ~ jadi sabtu lebih sering di kost aja. Satu persatu teman kost pada kelayapan, dan gue tetap disini. Sabtu lalu sibuk bongkar lemari dan box, mencari sesuatu benda yang ternyata setelah bongkar sana-sini tetap nggak ketemu. Tapi paling nggak, kamar gue lebih tertata rapi setelah membuang 4 plastik besar sampah, Yes… gue emang suka simpan sampah..
Buat gue, suatu benda itu punya history-nya masing-masing. Jadilah gue simpan plastik bag, paper bag, brosur-brosur belanja, katalog-katalog yang sudah kadaluasa, dan lain-lain. Masih simpan tiket bioskop 21, struk belanja, brosur pameran komputer, brosur travel dan nggak ketinggalan katalog Carrefour dan department store yang semuanya sudah kadaluarsa, great!
Masing-masing benda punya sejarah, right? Tiket pertama kali kamu nonton sama dia, struk makan waktu kamu berdua sama si dia, dan lain-lainnya. Seburuk apapun hubungan kamu dengan seseorang, pasti ada saat-saat manis yang kalian jalani. Jadi jika kalian berantem, jangan lihat kejelekannya semata, tapi juga liat saat-saat manisnya. Tapi kadang kala, apabila suatu hubungan itu sudah stag dan tidak bisa dilanjutkan, ada baiknya semua kamu kubur dalam-dalam, buang dalam 4 kantong plastik besar..wew..
Friday, April 8, 2011
My rules
Kemarin, seorang teman dari teman men-unfollow saya di twitter. Saya nggak begitu kenal orang ini, dia temannya seorang teman, sekali waktu kita pernah ketemu sekali. Sebenarnya saya tadinya nggak begitu aktif di twitter, sampai ketika ada masalah sama seorang teman kantor yang rada gila ~ yang sebenarnya dia bermasalah dengan teman kantor yang lain ~ tapi nggak tau kenapa saya yang kena getahnya ~ akhirnya saya lebih suka bercuap-cuap di twitter.
Buat saya, jejaring sosial adalah milik pribadi, dimana siempunya bisa berekspresi, bebas mengutarakan uneg-uneg dan dikomentari sama teman-temannya. Namun kayaknya sekarang sudah banyak tata kramanya, nggak boleh ngomong sembarangan, apalagi kalau kita lagi kesel sama seseorang dan menulisnya di status facebook, wew, bisa geger dunia. Tapi sebenarnya saya sendiri suka eneg dengan beberapa status yang menurut saya lebay, dan biasanya segera saya delete orang itu (semoga orang-orang juga nggak menganggap status saya kelewat lebay yak.. :-P )
Twitter sebenarnya sama aja. Udah bukan jadi milik pribadi, tapi milik umum. Tapi berhubung saya bukan artis, jadi ya sedikit yang memfollow, dan lebih bisa fun disana, karena mungkin yang maniak twitter tidak sebanyak yang maniak dengan facebook.
But anyway, kembali tentang temennya temen tadi, kalau liat status-statusnya memang berbau-bau “politis”. Mungkin karena dia bekerja disebuah LSM yang kerjanya memang tukang buat kritik ke pemerintah, berbanding terbalik dengan saya yang cuma buat status kejadian sehari-hari… saat saya senang, saat saya marah atau jengkel, dan mungkin juga saling berbalas ngeledek teman… Tapi menurut saya memang itu tujuannya kan? Orang pingin mengenal siapa kamu, lagi apa, apa yang terjadi pada dirimu, sesekali komentar politik its OK, tapi nggak setiap saat berkomentar hal-hal yang berat. Mungkin agar kelihatan intelek? berpendidikan? atau hebat? Well, I don’t know. Yang jelas, enggak banget!
Well, saya punya rules dimana jika seseorang men-unfollow saya, maka saya wajib untuk melakukan tindakan balasan, men-unfollow dia. And its done.
Buat saya, jejaring sosial adalah milik pribadi, dimana siempunya bisa berekspresi, bebas mengutarakan uneg-uneg dan dikomentari sama teman-temannya. Namun kayaknya sekarang sudah banyak tata kramanya, nggak boleh ngomong sembarangan, apalagi kalau kita lagi kesel sama seseorang dan menulisnya di status facebook, wew, bisa geger dunia. Tapi sebenarnya saya sendiri suka eneg dengan beberapa status yang menurut saya lebay, dan biasanya segera saya delete orang itu (semoga orang-orang juga nggak menganggap status saya kelewat lebay yak.. :-P )
Twitter sebenarnya sama aja. Udah bukan jadi milik pribadi, tapi milik umum. Tapi berhubung saya bukan artis, jadi ya sedikit yang memfollow, dan lebih bisa fun disana, karena mungkin yang maniak twitter tidak sebanyak yang maniak dengan facebook.
But anyway, kembali tentang temennya temen tadi, kalau liat status-statusnya memang berbau-bau “politis”. Mungkin karena dia bekerja disebuah LSM yang kerjanya memang tukang buat kritik ke pemerintah, berbanding terbalik dengan saya yang cuma buat status kejadian sehari-hari… saat saya senang, saat saya marah atau jengkel, dan mungkin juga saling berbalas ngeledek teman… Tapi menurut saya memang itu tujuannya kan? Orang pingin mengenal siapa kamu, lagi apa, apa yang terjadi pada dirimu, sesekali komentar politik its OK, tapi nggak setiap saat berkomentar hal-hal yang berat. Mungkin agar kelihatan intelek? berpendidikan? atau hebat? Well, I don’t know. Yang jelas, enggak banget!
Well, saya punya rules dimana jika seseorang men-unfollow saya, maka saya wajib untuk melakukan tindakan balasan, men-unfollow dia. And its done.
Thursday, April 7, 2011
Mau kemana?
Kalau ditanya, kalau disuruh pergi dua kali, mau kenegara mana? Hmmm… Sejauh ini sih, baru pergi ke Hong Kong, Macau, Secuil Cina daratan (Shen Zhen), Bangkok-Pattaya, Kuala Lumpur, Singapura, sama Saudi Arabia (Jeddah-Mekkah-Madinah)~ itupun dapet jatah umroh dari kantor, hehe.. well, bingung milihnya, karena masing-masing negara punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.
Singapura dan Hong Kong mirip. Transportasinya oke, terutama kereta bawah tanahnya, walau pendatang, kita bisa menggunakan sarana transport ini dengan relatif mudah. Orang-orangnya cuek, kalau jalan-jalan pasti nggak ada yang ganggu. Lalu lintasnya juga teratur. Tapi biaya hidup disini mahal. Nggak cocok buat kantong karyawan pas-pasan seperti saya untuk tinggal lama-lama di dua negara ini. Maklum lah, semua serba impor karena keterbatasan lahan. Kalau Macau lebih nggak cocok lagi, Daerah SAR China ini standar hidupnya mungkin lebih tinggi dari Hong Kong. Tapi walaupun Macau karena sangking kecilnya wilayah ini, tidak punya subway, namun sebagian besar mall yang ada kasinonya itu menyediakan bus-bus gratisan. Kita tinggal datang ke shuttle busnya dan duduk manis diantar sampai tempat tujuan. Kalau wilayah China Shen Zhen yang dibangun buat nyaingin HK, gedung-gedungnya bagus, tapi nuansanya “beda” dengan HK, nggak tau kenapa, ngga betah aja diwilayah ini… tapi disini surga belanja barang-barang branded palsu. Kalau pingin barang yang mirip asli tapi palsu, silahkan puas-puasin belanja disini. Tipsnya, nawarnya mesti tega. Tawar aja 70% dari harga yang dibuka sipenjual.
Sebenarnya saya lebih suka ke Bangkok, diluar urusan “wisata syahwat” nya, Bangkok punya ciri khas sendiri dibandingkan tiga wilayah diatas. Wisatanya bagus, banyak objek wisata yang menarik. Cuma dua kali kesana, nggak pernah mencoba naik sky train atau subway-nya, masih takut… Masalahnya di Bangkok ini banyak sekali penipu jalanan yang berkeliaran mengincar para turis. Triknya macam-macam, mulai dari kasih makanan burung, sampai yang paling sering, bekerja sama dengan sopir tuk-tuk untuk dibawa ketempat-tempat tertentu yang penuh dengan “pesan sponsor”. Kadang mereka bilang : anda beruntung, hari ini hari Raja, sehingga naik tuk-tuk gratis… mungkin kita bakalan tertarik dengan tawaran ini tapi justru sebenarnya masuk jebakan komplotan ini. Sangking seringnya penipuan ala beginian, sampai ditulis di depan Grand Palace supaya tidak tergoda dengan rayuan sopir tuk-tuk ini.Tapi diluar urusan tipu-menipu itu, Thailand sebenarnya menarik. Makanan murah, yah nggak jauh-jauh beda dengan di Indonesia. Lalu lintasnya semerawut tapi kayaknya parahan Jakarta deh.
Kuala Lumpur kotanya oke, makanannya enak dan lumayan terjangkau, cuma kok kesannya begitu-begitu saja ya. Objek wisatanya paling diajak ke Genting. Tapi kalau buat belanja-belanja bolehlah…Kalau Arab, wew… untuk yang kantong pas-pasan nggak cocok kesini. Kalau mau belanja, semuanya made in China, sama aja boong. Udaranya kalau musim panas ya panas banget. Mau ke Mall, mesti liat jadwal sholat… soalnya tiap adzan toko-toko dan mall pasti tutup. Jadi mesti gesit juga belanjanya, jangan nawar-nawar atau ngepas baju kelamaan, dan harga susah ditawar…
So, kalau ditanya mau kemana kalau disuruh milih, pingin ke Bangkok lagi kali ya... :-P
Wednesday, April 6, 2011
Flashback Trip in Thailand

Miss Langsing, salah satu teman lama di kantor, mau trip ke Thailand akhir bulan ini. Si Ant, akhir Mei juga mau kesana, sendirian, setelah tergoda tiket murah Air Asia yang dibeli tahun lalu. Jadi iri, jadi pingin kesana lagi.
Jadi inget waktu kesana tahun 2006 dan 2008. dua kali mengunjungi Negara yang sama, dan tempat yang hampir sama, kecuali yang kedua nyempil sendiri ke Ayutthaya, kota tua tempat ibukota Thailand yang lama, sebelum dipindahkan ke Bangkok, setelah kota itu di bumi hanguskan oleh kerajaan Burma.
Pingin ingat-ingat kembali, hari itu tanggal 6 Mei, akhirnya jadi juga jalan2 ke Thailand. Sebenarnya ini surprise dari dia dalam rangka ultah gue.
Penerbangan hampir 4 jam direct Jakarta – Bangkok bikin pegal juga. Mendarat di Swarnabhumi airport Bangkok jam 8.15 malam.
Karena sudah malam jadi gak bisa begitu nikmati bandara baru kota Bangkok ini, tapi dari apa yang diliat interiornya cukup mewah sih, dibanding Soekarno-Hatta yang lebih berkesan tradisional dan agak kumel, Swarnabhumi lebih modern dan bersih. WC toiletnya mirip toilet di mal. Beda jauh juga sama Bandara lamanya, Don Muang yang bau pesing (Ini kali kedua ke Thailand, sebelumnya masih mendarat di Don Muang) Tapi namanya juga baru ya, lama2 juga jadi kumel hehehe..
Akhirnya ketemu juga sama penjemput dari pihak travel. Namanya Mr.Yong, 42 Thn, blm merried. Ditransfer langsung ke hotel Prince Palace. Bintang 4 sih, Cuma lingkungannya kacau balau kalau pagi. Soalnya bagian bawahnya udah seperti ITC mangga dua aja. But so far, hotel bintang 4 ini oke banget.
Buat makan malam, belanja di seven eleven, disana jual nasi beku yang tinggal di microwave aja, langsung makan. Rasanya aneh2.. mungkin karena orang Thai seneng yang asem2 kayak Tom Yam, jadi semua masakan terasa asem. Yang lumayan Cuma nasi goreng, yang setelah diteliti ternyata mengandung B2.. (tapi sadarnya setelah di makan huhuhu...)

Suwarnabhumi Airport
Day – 1 (Rabu,7 Mei 2008)
Hari ini jalan2 hari pertama, langsung check out, karena setelah city tour nanti langsung ke pattaya. Kita digabung sama rombongan lain, sepasang suami-istri yang lagi bulan madu, plus 2 cewek. Berenam dibawa ke sungai chao praya. Rutenya sama persis sama tour pertama dulu, Persinggahan pertama, Wat Arun.
Candi Wat Arun ini sebenarnya Cuma ditempel2 pecahan keramik, kebanyakan pecahan piring keramik cina gitu deh. Tangganya juga terjal2. Disekelilingnya ada kuil Budha.
Selesai foto2, terus belanja souvenir di sebelahnya. Tips buat yang mau ke Bangkok, Kalau mau beli souvenir belilah disini, soalnya harganya paling murah, terutama kaos2nya. Mungkin bawanya yang agak repot ya.. hehe, tapi kalau mau save uang, ya harus repot sedikit.
Next, Kita dibawa ke Pattaya, jaraknya kira2 Jakarta – Bandung. Ini juga kali kedua ke Pattaya, dibawa ke hotel yang sama seperti 2 tahun lalu.
Pattaya memang kota mesum, jam 4 sore aja cewe-cewe prositusi udah pada mejeng di bar-bar yang tersebar hampir disepanjang jalanan Pattaya.
Objek wisatanya, nonton cabaret waria di Alcazar. Panggungnya mewah, warianya cantik, melebihi cewek beneran, cuma boring aja nontonnya, liat orang lip-sync lagu-lagu.
Setelah pertunjukan selesai, waria-waria itu keluar, siapa yang mau foto bareng boleh, bayar 40 Bhat ( Rp.12ribu). Anc antusias baget deh kalo acara foto-foto gitu. Gue sih males..
Nggak seperti pertama kali ke Pattaya, kali ini gak liat show esek-esek. Udah malam dan capek. Besok masih harus jalan dari pagi. Tengah malam dapat ucapan selamat ulang tahun to me.... Happy B’dayyy!!!

Wat Arun - Bangkok
Day-2 ( Kamis, 8 Mei 2008 )
Objek wisatanya udah pernah dikunjungi, jadi males nulisnya. Liat Gajah, Tiger Show, Toko Buah buat oleh-oleh, pabrik permata…
Mungkin dikira turis Indo itu banyak duit kali ya, diajak ke pabrik permata sampai dua kali?
Day-3 ( Jumat, 9 Mei 2008 )
Rombongan yang 4 orang hari ini udah gak ikut lagi, balik ke Jakarta, Jadi tinggal gue sama Ance yang city Tour.
Mengunjungi 4 face Budha, katanya permohonan bisa terkabul kalau berdoa disini. Selanjutnya ya acara shoping-shoping sampai malam. Nyari Hardrock Café Bangkok yang lokasinya nyempil (si Anc kolektor pin Hard Rock), Lanjut ke Siam Paragon, Mall mewah yang dibawahnya ada Sea World.
Malamnya, Mister Yong, Tourguide kami, ngajak ke Pat-Pong, Daerah mesum yang dilegalkan di Bangkok. Disepanjang lorong udah disuguhi menu-menu sex show. Kita sih Cuma lewat aja, sekedar tahu doang.
Day-4 (Sabtu,10 Mei 2008)
Tour ke Ayutthaya gak termasuk dalam paket wisata, jadi harus keluar duit lagi, ikut tour lokal. Habis 1.700 bhat untuk 1 orang. Perjalanan Pakai Bus, dicampur dengan turis-turis lain. Kira2 makan waktu hamper 2 jam.
Persinggahan pertama, istana musim panas Bang-Pa-In. Istananya bagus, tamannya luas. Disini kira-kira 1 jam, kemudian ke reruntuhan candi Wat Po. Candi ini dibakar waktu diserbu pasukan Burma ber-abad yang lalu, sekarang tinggal puing-puingnya saja. Satu patung Budha yang terbuat dari emas terselamatkan dan di bangunkan sebuah kuil yang baru. Disini juga ada kepala Budha yang kejepit akar pohon yang terkenal itu. Kalau mau foto harus jongkok ya, kalu nggak ditegur sama penjaganya. Dari situ kemudian mengunjungi Budha Tidur, atau recycle Budha, Cuma sebentar kemudian dibawa ke chao Praya, naik kapal berlayar kembali ke Bangkok. Kalau lewat sungai, 3 jam baru sampai Bangkok. Makan siang di kapal, prasmanan. Sadisnya orang Thai, kita dikasih kopi/teh panas buat minum, kalau mau yang dingin2 harus beli, termasuk air putih dingin.. hiks..
Sampai Hotel sudah malam, jadi langsung tidurr…

Istana Bang Pha In, Ayyuthaya
Day-5 (Minggu, 11 Mei 2008)
Hari ini bebas, jadi gue sama Anc mau jalan-jalan sendiri aja. Berbekal map wisata, kami mau menuju Grand Palace. Bener-bener mirip turis back pack, modal nekat. Secara kebetulan ketemu Museum Praja Deprok (Gue sebutnya Raja Depok, hihihi) . Raja Depok.. eh, Praja Deprok ini nama bekennya Rama VII. Musium ini hibah dari Istrinya setelah mangkat, isinya ya memorabilia aja. Kalau anda kesini, isi buku tamunya ya, ada nama gue disitu.. hehe…
Selanjutnya jalan lagi… Hampir ditipu lagi sama orang2 Thai yang bejat. Why? Dulu pas Pertama kali ke Thai, kita juga jadi korban penipuan orang2 yang ngincar turis. Boleh pakai tuk-tuk gratis, atau bayar sangat murah, tapi kita dibawa ke tempat-tempat penjualan permata dan panti pijat. Kita kira orang2 ini baik benerrr… ujung-ujungnya si Anc kena juga beli cincin seharga 7 juta-an, padahal harga aslinya jauh dibawah itu. Jadi sekarang tidak terjebak untuk kedua kali. Jangan pernah mau ditawari apa-apa kalau ketemu orang di Jalan. Orang Thai itu susah berbahasa Inggris, jadi kalau ketemu orang dijalan yang Bahasa Inggrisnya fasih benar, harus hati-hati ya.
Sebelum ke Istana, Mapir ke Museum Nasional Bangkok. Wah jangan bayangin museumnya nyaman kayak di Singapura. Selain kesannya kumuh, penataan sembarangan, nggak ada AC pula. AC cuma ada di bagian koin/uang.. lumayan deh buat ngadem.
Museum nasional ini letaknya gak jauh dari Grand Palace, tapi ternyata sudah kesorean, Udah tutup. Jadi jalan balik lagi ke Hotel. Oya, hati-hati juga kalau ada yang nawarin anda makanan burung (disekitar situ banyak burung merpati), mereka maksa banget, sesudahnya kita dimintain duit yang gak kira-kira untuk secuil makanan burung. Jadi sebelum itu terjadi, buru-buru kabur aja ya..


Grand Palace, Bangkok
Day-6 (Senin, 12 Mei 2008)
Nanti malam sudah harus balik ke Indo, Jadi pagi-pagi kita udah buru-buru ke Grand Palace, karena kemarin udah keburu tutup. Sempat hujan sih, tapi untungnya gak lama.
Dalam kompleks Grand palace ini ada kuil tempat bersemayamnya emerald Budha. Patungnya kecil sih, Cuma perlakuannya istimewa, Patung ini punya 3 macam pakaian terbuat dari emas, mengikuti 3 musim di Thailand : musim panas, musim hujan dan musim dingin. Jadi tiap 4 bulan sekali bajunya diganti.
Puas dari Grand Palace, kita jalan-jalan ke mall, makan, sebelum dijemput jam 5 sore, balik ke Bandara Swarnahumi. Kali ini baru deh kita bisa liat kemegahan bandara ini. Check in nya luas banget. Sempat kesel juga karena tas bawaan harus digeledah, kesannya gue teroris banget ya?
Setelah hampir 4 jam akhirnya tiba juga di Jakarta jam 12 malam. Badan udah capek banget, dan besok udah harus masuk kerja. Gak enak kan cuti kelamaan?
Kapan ya bisa ke Thailand lagi…
Sunday, April 3, 2011
Baik hati dan setia
"carikan pacar yang baik hati dan setia dong, please.." itu status seorang teman di BBM nya. Hmmm...baik hati dan setia? yakin cuma itu?
Pengalaman menjodohkan saya tidak pernah berhasil dengan sukses. Malah sempet ribut dulu sama Henk waktu saya menjodohkannya dengan seseorang. Waktu itu memang saya salah juga terlalu nge-push, tapi sebagai pihak mak comblang, tentunya kita pingin tau segala sesuatunya, right? apa alasannya perjodohan itu gagal, i need to know.
But anyway, sebenarnya kalau yang dicari cuma baik hati dan setia, mungkin ada banyak. Tapi biasanya fisik yang utama. Kalau nggak ganteng atau nggak cantik, nggak mau. Tapi nggak bisa disalahin juga. Kita manusia, pingin liat yang indah-indah. Siapa yang nggak mau dapat pasangan yang ganteng atau cantik, plus kalau bisa punya badan berotot perut sixpack untuk pria atau wanita dengan bentuk badan ramping dengan rambut tergerai indah. Apalagi kalau plus kaya, setia, baik hati dan tidak sombong, sempurna...
Tapi sosok yang ideal itu nggak ada. Makin cakep pasangan kita, makin besar biaya maintenance-nya. Misalnya, supaya tidak berpindah kelain hati, kita bisa royal memanjakan dia dengan materi, selain itu makin cakep pasangan kita, makin besar kesempatan dia untuk selingkuh, bener nggak?
Kembali keatas, saya pribadi lebih suka mencari jodoh sendiri ketimbang dicarikan atau minta dikenal-kenalkan. Memangnya mau buat kartu kredit, perlu referesi dari atasan? Dikenalkan kesannya kita sudah nggak laku, dan tidak independen. Saya lebih suka cinta padangan pertama, saling lihat dan saling lihat dan jatuh cinta, Kenalan lewat chatting atau jejaring sosial juga OK, tapi beda dengan pandangan pertama itu. Pertama, kita sudah tau fisiknya. Beda kalau kamu kenalan lewat facebook, misalnya, cuma ada foto disitu, terlalu banyak prosedur yang harus dijalani. Kirim pesan, nunggu dia baca dulu, tunggu tanggapannya, apakah dia tertarik atau tidak. Kalau jawabannya cuma "hi" atau "hi juga" forget it. Kalaupun jadi, mesti ketemu dulu, saling menilai fisik, bla-bla-bla. Kalau lewat pandangan pertama, lebih ada gregetnya. Semua serba spontan, dan nyali benar-benar diuji.
But anyway, Katanya jodoh ada ditangan Tuhan. Saya merasa Tuhan sudah memberikan jodoh kepada kita, cuma kitanya yang ngeyel - banyak maunya, sehingga jodoh nggak datang-datang. Saya masih ingat sama Yet, teman kantor saya dulu, yang terobsesi banget kawin sama bule. Modalnya cuma pergi ke warnet tiap pulang kerja, kenalan-kenalan dengan bule di Friendster, chatting di Yahoo Messenger, dan whala, dia dapat! seorang pria Belanda, datang ke Jakarta, dan akhirnya mereka menikah. Namun karena suatu alasan yang spele, Long Distance, akhirnya dia cerai. Great! Inilah yang saya bilang, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita jodoh, namun karena pikiran pendek kita sendiri, terlalu banyak pertimbangan, kita menyia-nyiakannya, dan kemudian tiap malam kita ribut berdoa kepada-Nya "mana jodoh saya Tuhan?"
Jika sekarang tiap malam Yet, atau Henk curhat sama saya betapa kesepian dan desperatenya mereka mencari pasangan, saya jadi bosan, dan sekarang saya blok mereka di YM sehingga mereka nggak bisa cerita lagi. Saya bosan mendengar keluh kesah mereka tentang jodoh yang nggak dateng-dateng. Kalau saya aja bosen dan menjauh, apalagi Tuhan kali ya? :-P
Pengalaman menjodohkan saya tidak pernah berhasil dengan sukses. Malah sempet ribut dulu sama Henk waktu saya menjodohkannya dengan seseorang. Waktu itu memang saya salah juga terlalu nge-push, tapi sebagai pihak mak comblang, tentunya kita pingin tau segala sesuatunya, right? apa alasannya perjodohan itu gagal, i need to know.
But anyway, sebenarnya kalau yang dicari cuma baik hati dan setia, mungkin ada banyak. Tapi biasanya fisik yang utama. Kalau nggak ganteng atau nggak cantik, nggak mau. Tapi nggak bisa disalahin juga. Kita manusia, pingin liat yang indah-indah. Siapa yang nggak mau dapat pasangan yang ganteng atau cantik, plus kalau bisa punya badan berotot perut sixpack untuk pria atau wanita dengan bentuk badan ramping dengan rambut tergerai indah. Apalagi kalau plus kaya, setia, baik hati dan tidak sombong, sempurna...
Tapi sosok yang ideal itu nggak ada. Makin cakep pasangan kita, makin besar biaya maintenance-nya. Misalnya, supaya tidak berpindah kelain hati, kita bisa royal memanjakan dia dengan materi, selain itu makin cakep pasangan kita, makin besar kesempatan dia untuk selingkuh, bener nggak?
Kembali keatas, saya pribadi lebih suka mencari jodoh sendiri ketimbang dicarikan atau minta dikenal-kenalkan. Memangnya mau buat kartu kredit, perlu referesi dari atasan? Dikenalkan kesannya kita sudah nggak laku, dan tidak independen. Saya lebih suka cinta padangan pertama, saling lihat dan saling lihat dan jatuh cinta, Kenalan lewat chatting atau jejaring sosial juga OK, tapi beda dengan pandangan pertama itu. Pertama, kita sudah tau fisiknya. Beda kalau kamu kenalan lewat facebook, misalnya, cuma ada foto disitu, terlalu banyak prosedur yang harus dijalani. Kirim pesan, nunggu dia baca dulu, tunggu tanggapannya, apakah dia tertarik atau tidak. Kalau jawabannya cuma "hi" atau "hi juga" forget it. Kalaupun jadi, mesti ketemu dulu, saling menilai fisik, bla-bla-bla. Kalau lewat pandangan pertama, lebih ada gregetnya. Semua serba spontan, dan nyali benar-benar diuji.
But anyway, Katanya jodoh ada ditangan Tuhan. Saya merasa Tuhan sudah memberikan jodoh kepada kita, cuma kitanya yang ngeyel - banyak maunya, sehingga jodoh nggak datang-datang. Saya masih ingat sama Yet, teman kantor saya dulu, yang terobsesi banget kawin sama bule. Modalnya cuma pergi ke warnet tiap pulang kerja, kenalan-kenalan dengan bule di Friendster, chatting di Yahoo Messenger, dan whala, dia dapat! seorang pria Belanda, datang ke Jakarta, dan akhirnya mereka menikah. Namun karena suatu alasan yang spele, Long Distance, akhirnya dia cerai. Great! Inilah yang saya bilang, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita jodoh, namun karena pikiran pendek kita sendiri, terlalu banyak pertimbangan, kita menyia-nyiakannya, dan kemudian tiap malam kita ribut berdoa kepada-Nya "mana jodoh saya Tuhan?"
Jika sekarang tiap malam Yet, atau Henk curhat sama saya betapa kesepian dan desperatenya mereka mencari pasangan, saya jadi bosan, dan sekarang saya blok mereka di YM sehingga mereka nggak bisa cerita lagi. Saya bosan mendengar keluh kesah mereka tentang jodoh yang nggak dateng-dateng. Kalau saya aja bosen dan menjauh, apalagi Tuhan kali ya? :-P
Saturday, March 26, 2011
Hidup Itu Pilihan
Belakangan saya jadi sering secara nggak sengaja lihat acara di TV swasta yang menjual kemiskinan. Anak-anak dari kota turun ke desa, mencari keluarga miskin yang cuma makan nasi-garam, trus disorot kehidupan si keluaga miskin itu sehari-hari. Ujung-ujungnya nanti setelah acara mau usai, si keluarga miskin itu dapat surprise, apakah itu sembako, atau rumahnya dibenerin (seadanya) trus dikasih prabotan yang kelihatan bagus padahal murahan.
Saya nggak nyalahin kreativitas dari stasiun-stasiun TV itu untuk membuat acara seperti itu, mungkin secara komersial menjual, mendapat simpati masyarakat dan dapat rating tinggi.. namun saya jadi mikir sendiri, kenapa kemiskinan dijual? Kenapa bangga jadi orang miskin?
Kalau saya lihat orang-orang miskin itu berani kawin, dan punya anak banyak banget (bisa sampai 7 atau lebih) saya jadi geleng-geleng sendiri. Sudah miskin, penghasilan pas-pasan, berani punya anak banyak, tapi nanti ujung-ujungnya cuma jadi beban orang lain. Teriak-teriak di TV betapa malang hidupnya, kadang makan, kadang tidak, sambil pasang tampang memelas.
Kalau ditanya kenapa kawin? alasannya supaya menghindari zina. Tapi setelah kawin, tetap saja berzina. Jadi apa bedanya?
Kalau saya tanya teman saya, kenapa kamu berani kawin? Jawabannya absurd ~ yah karena memang sudah begitu jalannya… WHAT? Jawaban paling bodoh yang pernah saya dengar.
Ada lagi yang bilang kawin karena norma? Wew, apalagi ini? Kawin nggak pakai cinta, emang bisa ya? ujung-ujungnya ya berzina lagi…
Saya nggak pernah menyalahkan orang yang berani kawin, malah salut banget karena mereka berani mengambil keputusan besar dalam hidup seperti itu, Yang saya nggak habis pikir, kenapa setelah kawin kamu jadi beban buat orang lain?
Kamu jadi kekurangan uang, jadi ngutang sana-sini, atau memanfaatkan orang untuk kepentingan pribadi. Kamu tergiur barang-barang bagus yang kepingin kamu beli, tapi kamu tidak punya uang karena sekarang sudah punya tanggungan.
Yah, maaf, tapi itu resiko kamu. Face It!
Banyak orang yang bilang rezeki akan datang dengan sendirinya. Tapi maaf, saya nggak percaya, karena semua itu perlu planning. Mungkin kalian masih punya orang tua, atau mertua, yang masih mau mensuport hidup kalian. Membiayai pernikahan kalian, atau malah memberi DP rumah, cicilan rumah, atau malah memberi tumpangan rumah.
Bagi saya, yang sudah yatim-piatu ini, pikirannya nggak segampang itu. Terlepas dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya tetap beranggapan bahwa sebaiknya kamu tidak menikah kalau tidak yakin dengan kemampuan financial kamu mampu memenuhi kebutuhan rumah tanggamu kelak.
Mungkin kamu bilang nanti, dimasa tua, saya akan sendirian, menjadi kesepian karena tidak punya siapa-siapa yang merawat. Saya cuma bisa bilang, egois banget kalau saya punya istri atau anak cuma buat pikirin siapa yang akan merawat saya kelak. Karena menurut pemikiran saya, toh pada akhirnya kita akan sendiri… meninggal juga sendiri, nggak ada yang nemenin.
Tapi sekali lagi, semua itu pilihan hidup dari masing-masing kita. Saya nggak mau nyusahin orang lain, jadi sementara, sampai saat ini, biarlah saya sendiri dulu...
Saya nggak nyalahin kreativitas dari stasiun-stasiun TV itu untuk membuat acara seperti itu, mungkin secara komersial menjual, mendapat simpati masyarakat dan dapat rating tinggi.. namun saya jadi mikir sendiri, kenapa kemiskinan dijual? Kenapa bangga jadi orang miskin?
Kalau saya lihat orang-orang miskin itu berani kawin, dan punya anak banyak banget (bisa sampai 7 atau lebih) saya jadi geleng-geleng sendiri. Sudah miskin, penghasilan pas-pasan, berani punya anak banyak, tapi nanti ujung-ujungnya cuma jadi beban orang lain. Teriak-teriak di TV betapa malang hidupnya, kadang makan, kadang tidak, sambil pasang tampang memelas.
Kalau ditanya kenapa kawin? alasannya supaya menghindari zina. Tapi setelah kawin, tetap saja berzina. Jadi apa bedanya?
Kalau saya tanya teman saya, kenapa kamu berani kawin? Jawabannya absurd ~ yah karena memang sudah begitu jalannya… WHAT? Jawaban paling bodoh yang pernah saya dengar.
Ada lagi yang bilang kawin karena norma? Wew, apalagi ini? Kawin nggak pakai cinta, emang bisa ya? ujung-ujungnya ya berzina lagi…
Saya nggak pernah menyalahkan orang yang berani kawin, malah salut banget karena mereka berani mengambil keputusan besar dalam hidup seperti itu, Yang saya nggak habis pikir, kenapa setelah kawin kamu jadi beban buat orang lain?
Kamu jadi kekurangan uang, jadi ngutang sana-sini, atau memanfaatkan orang untuk kepentingan pribadi. Kamu tergiur barang-barang bagus yang kepingin kamu beli, tapi kamu tidak punya uang karena sekarang sudah punya tanggungan.
Yah, maaf, tapi itu resiko kamu. Face It!
Banyak orang yang bilang rezeki akan datang dengan sendirinya. Tapi maaf, saya nggak percaya, karena semua itu perlu planning. Mungkin kalian masih punya orang tua, atau mertua, yang masih mau mensuport hidup kalian. Membiayai pernikahan kalian, atau malah memberi DP rumah, cicilan rumah, atau malah memberi tumpangan rumah.
Bagi saya, yang sudah yatim-piatu ini, pikirannya nggak segampang itu. Terlepas dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya tetap beranggapan bahwa sebaiknya kamu tidak menikah kalau tidak yakin dengan kemampuan financial kamu mampu memenuhi kebutuhan rumah tanggamu kelak.
Mungkin kamu bilang nanti, dimasa tua, saya akan sendirian, menjadi kesepian karena tidak punya siapa-siapa yang merawat. Saya cuma bisa bilang, egois banget kalau saya punya istri atau anak cuma buat pikirin siapa yang akan merawat saya kelak. Karena menurut pemikiran saya, toh pada akhirnya kita akan sendiri… meninggal juga sendiri, nggak ada yang nemenin.
Tapi sekali lagi, semua itu pilihan hidup dari masing-masing kita. Saya nggak mau nyusahin orang lain, jadi sementara, sampai saat ini, biarlah saya sendiri dulu...
Monday, February 28, 2011
Bakar Kalori
Sudah 3 kali gue pulang dengan berjalan kaki dari kantor ke kost, secara sebenarnya gak jauh-jauh amat dari kost, kira-kira tiga kilo (mungkin) atau malah hanya 2 kilo. Yang jelas kalau jalan dari bioskop megaria makan waktu sekitar 40 menit. kalau lewat jalan Talang, belakang kantor bisa 30 atau 35 menit, sesuai dengan imbauan latihan treadmil yang disarankan minimal 30 menit.
Beda dengan tetangga kost yang mampu buat ikut klub fitnes ternama di ibu kota ini, gue kok sayang mengeluarkan uang sebanyak itu hanya buat fitnes ditempat yang jauh dari kantor. Dulu pernah ikut sih, tapi cuma di hotel atau klub fitness yang kecil-kecil yang alatnya nggak lengkap juga. Murah meriah...tapi ya itu... lama-lama jadi males dan akhirnya nggak dateng sama sekali.
Semuanya berawal ketika tiba-tiba merasa celana yang dipakai sudah nggak muat! ukuran 31 udah kekecilan, padahal beberapa bulan yang lalu celana ini masih bisa dikaitkan, dan sekarang tidak. Mengenai ukuran celana, dulu gue pakai ukuran 32, kemudian turun jadi 31, dan sekarang sepertinya akan kembali ke ukuran 32. Wew... jadi ingat jaman dulu kala, waktu itu awal mulai kerja awal tahun 2000-an, masih muat dengan celana ukuran 29.
Karena itu seminggu yang lalu gue merasa perlu melakukan tindakan untuk membakar lemak-lemak diperut ini. Untuk ikutan fitnes udah males, selain dana cekak juga, akhirnya diusahakan berjalan kaki aja dari kantor ke kost-an. Dipilih waktu pulang kerja aja, mengingat kalau berangkat kerja pasti kesiangan, dan sayang juga kalau keringetan bajunya bau keringat, haha.. Selain itu bisa sambil liat-liat juga pemandangan di jalanan beda dengan treadmil yang monoton (pembelaan diri orang kere yang nggak mampu ikut fitnes)
So, doain aja dalam waktu dekat kembali ke berat semula (70kg) dari saat ini 78kg... syukur-syukur bisa mendapatkan berat ideal seperti saran dokter waktu chek-up kesehatan bulan Desember tahun lalu yaitu 67kg. Ayo, Semangat!!!
Beda dengan tetangga kost yang mampu buat ikut klub fitnes ternama di ibu kota ini, gue kok sayang mengeluarkan uang sebanyak itu hanya buat fitnes ditempat yang jauh dari kantor. Dulu pernah ikut sih, tapi cuma di hotel atau klub fitness yang kecil-kecil yang alatnya nggak lengkap juga. Murah meriah...tapi ya itu... lama-lama jadi males dan akhirnya nggak dateng sama sekali.
Semuanya berawal ketika tiba-tiba merasa celana yang dipakai sudah nggak muat! ukuran 31 udah kekecilan, padahal beberapa bulan yang lalu celana ini masih bisa dikaitkan, dan sekarang tidak. Mengenai ukuran celana, dulu gue pakai ukuran 32, kemudian turun jadi 31, dan sekarang sepertinya akan kembali ke ukuran 32. Wew... jadi ingat jaman dulu kala, waktu itu awal mulai kerja awal tahun 2000-an, masih muat dengan celana ukuran 29.
Karena itu seminggu yang lalu gue merasa perlu melakukan tindakan untuk membakar lemak-lemak diperut ini. Untuk ikutan fitnes udah males, selain dana cekak juga, akhirnya diusahakan berjalan kaki aja dari kantor ke kost-an. Dipilih waktu pulang kerja aja, mengingat kalau berangkat kerja pasti kesiangan, dan sayang juga kalau keringetan bajunya bau keringat, haha.. Selain itu bisa sambil liat-liat juga pemandangan di jalanan beda dengan treadmil yang monoton (pembelaan diri orang kere yang nggak mampu ikut fitnes)
So, doain aja dalam waktu dekat kembali ke berat semula (70kg) dari saat ini 78kg... syukur-syukur bisa mendapatkan berat ideal seperti saran dokter waktu chek-up kesehatan bulan Desember tahun lalu yaitu 67kg. Ayo, Semangat!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)