Wednesday, December 26, 2012

Go Green - Go Green-an

Sudah beberapa kali ini saya mendapat telpon dari Citibank, suara mbak-mbak yang sok akrab seperti biasanya, memberi tahukan kalau Citibank akan mengirimkan tagihan bulanan sekarang via e-mail, bukan lewat surat lagi. Penawaran ini seharusnya bersifat sukarela sih, tapi kadang-kadang disertai suara "ancaman" seperti : "Apakah Bapak tahu mulai bulan depan Citibank tidak akan mengeluarkan statement bulanan dalam bentuk kertas lagi?" Bah! mengancam? saya ancam balik : OK, kalau begitu saya tidak akan bayar tagihannya karena saya tidak menerima tagihan! Eh lalu suaranya menjadi melunak dan ga masalah tuh, tetap aja tagihan dikirim via kurir. Itu sudah setahun yang lalu, tapi ternyata ajakan "go green - go green-an" ini muncul rutin tiap bulan sekali (mungkin mereka dapat komisi kalau saya iya-kan kali ya?)

Kenapa saya bilang go-green boongan? ya karena alasan sebenarnya mereka hanya mau mengalihkan biaya kertas dan kurirnya menjadi beban nasabah, demi efisiensi mereka sendiri. Saya memang punya kebiasaan untuk mengumpulkan tagihan-tagihan dan billing statement kartu kredit semenjak ada kasus transaksi orang masuk ke billing saya. Sejak itu saya memang jadi lebih berhati-hati melihat satu-satu tagihan yang muncul harus sesuai dengan yang saya pakai. Dan waktu saya bilang saya biasa mem-file tagihan-tagihan itu, mbak-mbaknya bilang : kan Bapak bisa print dari E-mail, WHAT? itu sama aja nggak go-green dong? Emangnya saya nge-print didaun pisang? nge-print juga pakai kertas kali... *Toyor*

Coba bayangkan berapa yang dihemat pihak bank ini dari akal-akalan go-green:

1. Biaya kertas
2. Biaya Amplop
3. Biaya Tinta Printer
4. Biaya Kurir (kayaknya ini sih komponen terbesar biaya mereka)

Kelihatan spele, tapi Itu semua dikalikan berapa juta nasabah ya.. Sementara itu mereka mengalihkan biaya-biaya ini ke kita:

1. Biaya koneksi internet, berapa kilobytes buat buka itu format pdf? taruhlah
butuh 300kb untuk mengunduh tagihan dengan biaya 1/kb = 1 X 300 = Rp.300
2. Biaya Listrik karena harus membuka internet
3. Biaya kertas
4. Biaya tinta printer

Jadi, apanya yang go-green kalau begini? Cuma pengalihan biaya doang kan jadinya? Ketimbang ngabis-ngabisin waktu buat membujuk nasabah dan membayar tenaga telemarketing itu, kenapa tidak mencari solusi lain yang benar-benar go green? Misalnya memakai kertas daur ulang. Nggak usah yang bagus-bagus, kertas bekas daur ulang koran bekas juga sudah cukup. Lalu mungkin mereka juga bisa memakai kurir sepeda yang pastinya mengurangi emisi udara juga, ya nggak? Atau para nasabah ini diberi insentif berupa potongan biaya tagihan 2000 rupiah perbulan jika sukarela mengubah tagihan menjadi e-billing, pasti banyak yang mau deh. Kalau ingat ancaman ala operator selular XL dulu yang akan membebankan RP.10.000 / nasabah jika tidak mau mengubah tagihan ke e-billing, rasanya fair dong kalau nasabah juga dikasih kompensasi, ya nggak sih? Intinya silahkan buat gerakan go-green selama itu tidak merugikan orang lain demi keuntungan sendiri. So.. let's go green then..

Wednesday, December 12, 2012

Lost in Istanbul ( again )

Setelah menyusuri Turki Tengah akhirnya kembalilah kita ke Istanbul. Jalan tol di Turki kayaknya lagi gencar-gencarnya dilapisi ulang, beberapa kali terpaksa bus harus keluar jalur. Perjalanannya panjang bangeud, melewati Ankara dan Bolu. Memasuki Istanbul, kemacetannya luar biasa, mungkin 20km sebelum masuk kota udah macet, tapi setelah menyeberangi jembatan selat Bosporus kemacetan udah mereda. Makan malam jam 8, sampai hotel jam 9. Semalam saya dan teman satu kamar udah sibuk buka-buka map Istanbul, cari mall terdekat dengan hotel, dan dapatlah mall historia. Jadi dengan waktu yang sangat mepet kami berempat lari-lari mengejar trem. Untuk naik trem, biayanya 3 Lira, mahal ya, kira-kira 17.000 rupiah. Jauh dekat sama. Beda dari angkutan umum dikota lainnya yang pakai sistem tiket atau karcis, disini kita harus memakai logaman semacam kalau mau main ding-dong. Tremnya nggak menunggu lama seperti nunggu busway yang bikin desperate itu.




Mall Historia sebenarnya nggak besar-besar amat. Tapi lumayanlah isinya ada Mango dan Zara. Masuk mall ini rasanya seperti masuk bandara karena tas bawaan mesti lewat mesin X-Ray segala, oh mai guoottt.. Karena tinggal 15 menit lagi tutup ya saya asal ambil aja, yang penting ambil, nyesel belakangan xixixi… Biarpun katanya Zara ada di Jakarta juga ada, tapi beberapa item memang nggak ada disini. Jadi yaaaa..kapan lagi?

Keesokan harinya kita dilepas di Grand Bazaar yang terkenal itu. Kalau liat James Bond “Skyfall”, ya dia kejar-kejaran naik sepeda motor diatas Grand Bazaar itu. Dibangun pada masa kekaisaran Ottoman tahun 1455, kesan klasik tapi indahnya luar biasa. Dipintu gerbang masih ada tulisan-tulisan turki dengan aksara arabnya. Didalamnya banyak lorong-lorong, hati-hati kesasar. Isinya mungkin mirip dengan Passar Baroe di Jakarta kali ya, berderet toko dikanan – kiri. Yang jelas harus jadi raja tega kalau nawar, karena mungkin harga bisa dipotong sampai 60% atau mungkin lebih! Triknya sama aja seperti disini sih, pura-pura pergi kalau nggak dikasih. Biasanya nanti kita dipanggil lagi. Buat yang suka beli oleh-oleh boleh borong disini. Kalau kehabisan Lira, ada beberapa money changer disini dengan harga sangat bagus.. tapi biasanya pedagang juga menerima mata uang euro atau dollar sih, dan mereka mengkonversinya dengan cukup fair.



Wisata yang terakhir apalagi kalau bukan menaiki Bosporus Cruise. Bosphorus sendiri adalah selat yang memisahkan Eropa dan Asia, memisahkan Istanbul Eropa dan Istanbul Asia pula. Panjangnya sekitar 31 km, menghubungkan laut hitam dan laut marmara.
Udaranya sangat dingin walau cuaca terik. Kita bisa lihat-lihat banyak bangunan bersejaran dikanan-kirinya, seperti Dolmabache Mosque dan Istana Dolmabache. Ada dua jembatan yang melintasi selat ini, dibangun ala-ala Golden Gate di San Fransisco. Yang pertama adalah Boshporus Bridge. Selesai dibangun pada tahun 1973, Jembatan ini menjadi jembatan gantung (suspension bridge) terbesar ke-4 didunia. Jembatan lainnya adalah jembatan Fatih Sultan Mehmet yang pembangunannya selesai tahun 1988. Kalau malam sekarang dipasang lampu warna-warni yang membuat kedua jembatan ini terlihat indah.


Dan berakhir deh perjalanan di Turki ini, sebenarnya belum puas keliling-keliling Istanbul. Udah banyak rencana tapi nggak bisa terlaksana karena waktu terbatas. Kepingin balik kesini suatu hari nanti, semoga saja, Eymennn… 


Lost in Pamukkale, Konya and Kapadokya

Pamukalle secara harfiah berarti benteng kapas, merupakan kolam-kolam buatan alam yang kaya mineral, yang pada jaman romawi kuno dijadikan tempat pemandian air yang populer, sehingga didirikan kota Hierapolis diatasnya. Dipercaya penyakit-penyakit kulit akan hilang kalau berendam disini. Hati-hati kalau melangkah karena lumut disana-sini. Ada patrol yang meniup peluit kencang-kencang kalau ada turis yang turun terlalu jauh. Jadi saya cuma merendam kaki saja sambil melihat sunset, berasa gimanaaa gitu. Romantis..huhu

Perjalanan selanjutnya adalah menuju kota Konya. Kalau mendengar kata Konya, yang terbayang pasti penari-penari pria Turki yang memakai rok trus nari berputar-putar sampai pusing.. Konya merupakan salah satu dari 81 provinsi di Turki. Terletak dibagian Turki selatan dengan suhu yang bisa mencapai 0 derajat dikala musim gugur dan dingin. Brrr..

Objek wisata yang terkenal di Konya ini adalah kuburan, iya, kuburan bekas tokoh sufi ternama, Jalaludin Muhammad Rumi yang lembih dikenal dengan Mevlana atau Rumi. Museum Mevlana ini sebenarnya museolium tempat makam tokoh sufi ini beserta keluarganya. Sementara bekas madrasah yang mengelilinginya sekarang menjadi museum. Didalam Mevlana museum ini terdapat juga helaian janggut Nabi Muhammad dalam boks kaca dan ada bolongan kecil dikaca itu, kalau dicium wangi sih, tapi katanya itu karena kayu yang dipakai kayu yang mengeluarkan bau wangi. Koleksi lainnya adalah puisi-puisi Rumi, bekas baju, Al-Quran kuno yang besar banget, sampai tasbih yang maniknya gede-gede banget. Museum Mevlana ini juga dikenal dengan sebutan Green Mausoleum karna ada dalah satu menaranya berwarna hijau.

Jalaludin Muhammad Rumi sendiri sebenarnya seorang Sufi yang berasal dari Persia. Yang terkenal adalah kumpulan puisinya Al Matsnawi Al Maknawi. Beliau meninggal disini tahun 1273. Makamnya juga besar-besar banget. Banyak peziarah yang memanjatkan doa disini, jadi ingat kira-kira sama dengan makam wali kali ya? Untuk masuk kedalam kompleks makam ini tidak perlu melepaskan alas kaki, tapi sepatu wajib dilapisi dengan plastik.

Masih di Konya, sempat mengunjungi Sultanhani Caravanseray. Caravanseray itu bisa dijelaskan sebagai tempat bermalam bagi para pengelana jaman dahulu. Bangunan ini dibangun tahun 1299 yang dimaksudkan sebagai tempat persinggahan para pedagang dari Persia ke Konya.



Selepas dari Konya, tujuan selanjutnya Cappadocia alias Kapadokya. Disini ada banyak obyek wisata misalnya kota bawah tanah Kaymakli. Konon mereka membangun kota bawah tanah ini pada masa awal penyebaran Kristen. Karena dahulu Turki adalah bagian dari Romawi yang memuja dewa-dewa, maka Kristen dilarang. Untuk amannya mereka membangun kota ini. Jadi didalamnya lengkap ada bekas gereja, ruang wine, dapur, dan sebagainya. Mirip dengan lubang tikus tentara vietkong di Vietnam, jalannya sempit-sempit, bahkan dibanyak tempat kita harus nunduk sambil jalan. Jadi untuk ibu hamil, atau penderita sakit tulang belakang, atau penderita phobia diruang sempit, tidak dianjurkan masuk.

Lainnya ada Museum terbuka Goreme. Itu seperti bukit-bukit yang dibuat jadi rumah-rumah kuno. Bentuk alamnya yang unik dan indah, bagus kalau kalian lihat dari udara, kalau ada uang lebih tentunya, karena untuk naik balon udara ini mesti membayar USD220 per-orang, fiuhhh… Tapi kalau takut ketinggian, mengunjungi Goreme via darat juga sama menariknya. Sayang karena saya datangnya saat musim gugur menjelang musim dingin, daerah ini sangat berkabut, jadi kurang maksimal buat poto-poto huhuhu..

Kota Kapadokya sebenarnya nggak besar-besar amat. Ada mall disitu, tapi kebanyakan menjual brand lokal. Yang terkenal disini LC Waikiki, koleksi pakaian dinginnya keren-keren dengan harga sangat bersahabat. Bahkan sekilas mirip keluaran model ternama dari Eropa ituuu.. Kalau dari hotel saya kemarin, Dedeman Hotel, ongkosnya kira-kira 20 lira kalau pakai taxi. Pulangnya lebih gokil lagi kita sewa taxi nego jadi 15 Lira saja. Taxinya sudah butut, dipaksa masuk 6 orang lagi, dan udah gitu sopirnya geblek pula ngebut pol, nerobos lampu merah, thanks God kita masih selamat.. hadeh.. *baca zikir*

Tuesday, December 11, 2012

Lost in Ephesus

Perjalanan selanjutnya yaitu mengunjungi daerah Ephesus. Ada beberapa tempat peninggalan kuno disini, dan semuanya sudah tingal reruntuhan saja, kecuali rumah Bunda Maria yang sudah direstorasi ulang.

Perhentian pertama ke Ephesus, disini ada bekas kompleks kota tua Ephesus. Ada ukiran dewi Nike, tau dong merk sepatu itu mengambil nama dari dewi kemenangan ini.. lalu ada pilar herkules, bekas toilet khas jaman romawi yang berderet gitu tanpa sekat (heran ya bagaimana mereka bisa saling ngobrol sambil pup) Katanya sih, karena terbuat dari marmer yang dingin, kadang kalau mau pup, para majikan ini menyuruh budak untuk mendudukinya dulu sampai menjadi hangat, barulah mereka pakai. Didepannya ada tempat pemandian umum ala romawi, yang sampai sekarang masih lestari di Turki. Kalau kalian pernah dengar Turkish bath, alias mandi ala Turki, ya begitu deh sama aja dengan pemandian ala Romawi ini, cuma ada bak besar dan mandi rame-rame disitu, sambil badan digosok-gosok sama kain kasar sampai licin.

Ada beberapa kuil pemujaan di Ephesus ini, antara lain Kuil Artemis, yang merupakan salah satu keajaiban jaman kuno. Kemudian air mancur Pollio. Dinamakan demikian karena untuk menghormati Pollio yang sudah berhasil membangun pemipaan air ke kota Ephesus. Dan nggak ketinggalan yang harus ada disetiap kota besar jaman kuno apalagi kalau bukan theater. Disini ada Ephesus Theater yang mampu menampung sampai 44.000 orang penonton.

Objek wisata lainnya disekitar Ephesus ini adalah Basilika St.John atau kalau di Indonesiakan menjadi Santo Yohanes. Beliau adalah salah satu dari keduabelas murid dan rasul Yesus. Bangunan yang tinggal reruntuhan ini dibangun pada masa Kaisar Justinian I pada abad ke 6 masehi. Dipercaya bahwa Yohanes datang dari Yerusalem untuk menyebarkan agama Kristiani sampai wafatnya di kota ini. Ada bekas kuburan dan nisannya disini. Ada cerita bahwa St.John sebenarnya hanya tertidur dikuburnya, dan saat dia bernafas, debu-debu diatas nisannya akan terbang, karena itu dia dianggap suci.

Dan yang ngga boleh dilewatkan adalah Rumah Bunda Maria, Ibunda Yesus. Omaigah, ada di Turki jugak? Tapi masuk akal sih kalau menurut saya, karena penyebaran kristiani dari Jerusalem pastinya melewati Turki sebelum masuk ke Eropa kan? Lokasinya ada di gunung bul-bul (Nightingale). Disebut rumah Maria, karena suatu ketika seorang biarawati katolik roma bernama Catherine Emmerich pernah mendapat mimpi atau penglihatan mengenai rumah ini. Padahal beliau belum pernah ke Turki sebelumnya. Setelah meninggal tahun 1824, jurnalnya diterbitkan sebagai buku. Baru kemudian rumah ini dicari dan kemudian dibangun kembali. Pihak Vatikan sendiri tidak pernah mengakui secara resmi karena kurangnya bukti pendukung, namun juga tidak pernah melarang orang-orang berziarah kesana. Pada tahun 1896, Paus Leo XIII pernah berziarah kesana, dan pada tahun 2004, Si suster Catherine dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II.

Anyway, rumah Maria ini kecil sekali, dan tidak boleh berfoto didalamnya. Begitu keluar, ada tembok tempat kita menggantungkan doa atau permohonan yang diuntai dengan tali. Bagi yang percaya silahkan tulis doa disecarik kertas dan digantung disitu, semoga dikabulkan..

Lost in Troya and Akropolis

Hari ini dimulai perjalanan panjang menuju kota Canakkale. Kota ini terletak dibagian barat Turki wilayah Asia. Untuk menuju kota ini lewat darat, kita menyusuri wilayah Turki Eropa, sampai ke kota Eceabat. Dari sini kita menyeberang ke Asia menggunakan kapal Ferry menyeberangi laut Marmara. Saat itu sudah menjelang malam (karena memasuki musim gugur, jam 5 sore sudah gelap). Menyeberang naik Ferry selama kira-kira 20 menit dengan hembusan angin dingin gilak yang bikin beku. Kalau mau hangat-hangat ya masuk kedalam, ada café didalamnya dengan secangkir kopi ukuran kertas dihargai 5 Lira ( Kira-kira Rp 27.500) Mahal ya..

Sampai di Kota Canakkale sudah malam, dapat hotel “horror” pula. Resort sebenarnya karena memang kota tepi pantai ini banyak dikunjungi turis-turis terutama Rusia. Yang unik adalah resort ini ada 3 lantai tanpa lift, jadi mesti geret-geret koper keatas, mana gelap pula.. soalnya mereka memakai lampu sensor, yang menyala jika ada gerakan dan mati beberapa saat kemudian. Tapi kamarnya luaassss… Ngrokk.

Sebenarnya lokasi wisatanya bukan di kota ini sih, disini cuma numpang tidur saja. Tujuan wisata selanjutnya mengunjungi kota Troya. Tau dong cerita legenda kuda Troya yang terkenal itu. Perjalanan ke bekas kota Troya yang sekarang tinggal reruntuhan ini kira-kira 20 menit. Didalamnya ada replika kuda Troya dan sebelahnya ada museum kecil tempat dipamerkan benda-benda yang ditemukan selama penggalian.

Asal muasal perang Troya ini sendiri banyak versi, sempat diangkat kelayar lebar juga kan, tapi coba saya ceritakan versi aslinya menurut penuturan si Topak, tour leader yang tok-tok asli orang Turki.

Alkisah jaman dahulu kala, Permaisuri Troya bermimpi api keluar dari perutnya. Menurut peramal, dikatakan kelak anaknya membawa bencana bagi kota Troya. Karena itu segera setelah lahir, Raja Troya memerintahkan seorang pengawal untuk membunuhnya. Karena tidak tega, pengawal ini kemudian membuang si bayi ke tengah hutan, dengan harapan bayi tersebut tewas dimakan hewan buas. Ternyata bayi tsb ditemukan seorang gembala dan dipelihara hingga tumbuh menjadi pemuda tampan. Bayi itu kemudian diberi nama Paris… iya Paris, tanpa Hilton, off course 

Suatu ketika, Zeus lagi mengadakan pesta pernikahan Peulus dan Thetis, dimana Eris, dewi perselisihan tidak diundang. Ketika Eris akhirnya datang ke pesta itu tanpa diundang, dia dicegah oleh Hermes atas perintah Zeus. Hermes itu dewa pembawa pesan ya, jadi bukan tas Hermes atau Parfum Terre D’Hermes itu ya. Merasa sakit hati (drama) Eris melempar sebutir apel emas bertuliskan “untuk yang tercantik”. Pada saat itu ada tiga dewi yang melihat dan rebutan itu apel. Mereka adalah Hera, Istri Zeus, Athena dan Aphrodite. Pusing mendengar tiga trio macan ini cakar-cakaran, Zeus menyuruh mereka bertanya kepada Paris, siapa yang paling okehh diantara mereka bertiga. Singkat cerita merekapun mendatangi Paris. Kayak pejabat di Indonesia yang suka disuap, Tiga dewi ini mengiming-iming si Paris biar dipilih sebagai wanita tercantik. Hera menawarkan kekuasaan atas seluruh Asia, Athena menawarkan kebijaksanaan dan kelihaian bertempur, sementara Aphrodite menawarkan Paris wanita tercantik di dunia. Karena tidak ada yang menawarkan deposito dan travel chek, akhirnya Paris memilih Aphrodite. Sesuai janji, Aphrodite memberikan wanita tercantik saat itu, Helene, putri Sparta.

Duh kalau diceritain bisa patah jari saya. Inti ceritanya, Helene diculik dan dibawa ke Troya oleh Paris. Kemudian Pihak Yunani berusaha untuk merebut kembali Helene, dan terjadilah perang Troya yang berlangsung selama 10 tahun. Seperti cerita yang sudah kita ketahui bersama, akhirnya pihak Yunani berpura-pura menghadiahkan patung kuda yang didalamnya terdapat pasukan terhebat mereka yang ketika malam tiba mereka keluar dan meporakporandakan kota Troya.

Mitos ya sekedar mitos. Kota itu memang ada beserta reruntuhannya. Tapi kemungkinan perang itu akibat perang perebutan wilayah saja. Apalagi wilayah Troya ini merupakan daerah yang strategis.

Anyway, selepas dari Troya ini kita menuju ke Akropolis, sebuah reruntuhan kota lainnya. Jaraknya sekitar sejam dari Troya. Biar nggak ketukar dengan Akropolis yang di Yunani, Akropolis di Turki itu memakai embel-embel “Acropolis of Pergamon”. Disini ada reruntuhan perpustakaan yang konon pada waktu itu menjadi perpustakaan terbesar setelah perpustakaan Alexandria Mesir.

Untuk naik ke atas, kita harus menaiki lift menuju ke kereta gantung. Amazing ngga sih membayangkan waktu dulu mereka mengangkut batu-batu besar ke atas bukit ini? Selain perpustakaan juga ada Teater Hellenistic yang bisa menampung 10.000 orang, Kuil Athena dan tempat pemandian ala Romawi.

Dan buat yang suka belanja-belanja, sebelum turun di kebawah naik kereta gantung lagi, ada sederetan toko souvenir yang harganya relatif murah. Jangan lupa untuk menawar. Biasanya mereka menawarkan dalam bentuk Euro, tapi jika membayar dengan Lira mereka memakai kurs yang fair, jadi jangan kuatir.





Monday, December 10, 2012

Lost in Istanbul

Mendarat di Istanbul ditengah musim gugur harus sedia jaket berlapis-lapis. Lebay ya, tapi memang saya nggak tahan dingin mungkin. Mendarat di Bandara Internasional Attaturk, disambut dengan udara dingin kira-kira 16 derajat. Pemegang paspor Indonesia cukup ngantri ke loket Visa On Arrival (VOA) dan membayar USD 25 saja, untuk 30 hari kunjungan. Kalau rombongan bisa digabung aja, jadi misalkan punya uang USD 100, bisa langsung 4 orang maju. VOA nya cuma stiker kecil yang ditempel di paspor kita. Petugasnya cewek, selalu senyum ramah walau tangannya tato-an. Sebenarnya kalau ngga mau repot bisa ngurus visa di kedutaan Turki di Jakarta, tapi kenanya lebih mahal, sekitar 600.000, mending langsung aja datang ke negaranya ya, cuma kena 237.500 kalau pakai kurs 9.500 / 1 USD. Untuk pembayaran VOA ini beda-beda untuk setiap negara, untuk turis Ausralia misalnya VOA nya USD 60, atau warga Amerika kena USD 20. Tapi ngiri nggak sih kalau warga Malaysia dan Singapura bebas masuk ke Turki tanpa visa? Haiyah…

Anyway, Bandara Udara Internasional Attaturk ini merupakan bandara terbesar di seantero Turki, bahkan lebih besar dari bandara Ibukotanya di Ankara. Punya 38 buah garbarata tapi kenapa keliatan minimalis ya..
Bandara ini terletak di Istanbul bagian Eropa. Oh ya bagi yang belum tahu, Istanbul itu satu-satunya kota di dunia yang terletak di dua benua, Eropa dan Asia. Jarak dari bandara ke pusat kota Istanbul ini kira-kira 24km saja, tapi ternyata Istanbul itu juga kota dengan kemacetan yang parah seperti Jakarta, apalagi jalanannya sempit-sempit. Jadi kalau stuck macet ya harap sabar aja ya 

BTW. Istanbul ini sebenarnya nama terakhir dari kota ini. Awalnya kota ini bernama Lygos kemudian berubah menjadi Byzantium lalu menjadi Augusta Antonia kemudian menjadi Alma Roma lalu berubah menjadi kota konstantin alias Constantinopel, kemudian setelah ditaklukan pasukan islam menjadi Islambol dan terakhir sewaktu kesultanan dihapuskan dan berganti menjadi republik, diubah namanya menjadi Istanbul.

Karena udah malam kita cuma bisa jalan-jalan disekitaran hotel aja. Dapatnya Hotel Vicenza, terletak didaerah kota lama. Sebenarnya kalau sampainya bisa lebih awal, kita bisa jalan-jalan lebih jauh, karena walau semua bernuansa Eropa, tapi teuteup took-toko cita rasa Asia, maksudnya, kalau di Eropa beneran kan Mall tutup jam 6 atau 7 malam, nah di Turki itu ikutin jam orang asia, tutup jam 10 malam.

Dan besoknya, city tour.. kunjungan pertama apalagi kalau bukan Blue Mosque (Sebenarnya nama aslinya Sultan Ahmed Mosque) Kenapa di namakan Mesjid Sultan Ahmed? karena mesjid ini dibangun oleh Sultan Ahmed I ( berkuasa 1603 – 1617) dibangun pada tahun 1609 dan selesai tahun 1616, dirancang oleh Sedefkâr Mehmed Ağa. Mesjid ini lebih populer dengan sebutan Blue Mosque karena ornamen didalamnya lebih dominan memakai material keramik berwarna biru. Bangunan mesjid ini menurut cerita dibangun untuk menyaingi bangunan Haga Sofia yang berada persis bersebelahan.
Kunjungan selanjutnya adalah Istana Topkapi. Ini adalah istana peninggalan para Sultan yang berkuasa di Ottoman (Turki sekarang). Letaknya berada di belakang bangunan Hagia Sofia, menghadap ke selat Bosporus. Sehingga dari salah satu berandanya kita bisa melihat selat Borsporus yang terkenal itu plus sisi benua Asia diseberang sana.

Istana ini dipakai sebagai istana selama 400 tahun. Dibangun pada tahun 1459 oleh Sultan Mehmed II, sang penakhluk Constantinopel. Sebagai istana, bangunan ini terbilang sangat sederhana dibandingkan dengan istana-istana Eropa yang “wah”. Dindingnya polos, dan ada sedikit ukiran kaligrafi dilangit-langitnya. Istana ini terakhir ditempati tahun 1853 sebelum sang sultan pindah ke istana lainnya, Dolmabahce Palace yang terletak persis ditepian selat Bosporus (kalau kalian ikutan Bosporus cruise, akan melewati istana itu). Sultan terakhir berkuasa di Turki adalah Sultan Abdulmecid II pada tahun 1924, sebelum akhirnya Mustafa Kemal mengubah Turki menjadi republik. Kenapa Turki bisa menjadi negara Republik yang begitu sekuler? Itu karena waktu Perang Dunia I, sang Sultan beraliansi dengan pihak Jerman. Dan seperti yang kita ketahui, mereka kalah, dan pudarlah pamor sang Sultan sehingga kemudian Turki menjadi terbelah-belah dikuasai pihak yang menang perang, sampai akhirnya diadakan perjanjian Lausanne (ditandatangani di kota Lausanne, Swiss)tanggal 24 Juli 1923, yang menjadikan wilayah Turki seperti sekarang ini. Setelah menjadi negara Republik, Turki berubah menjadi negara sekuler, dimana mereka merubah bendera, melarang jilbab disekolah-sekolah dan lembaga pemerintahan, sampai menghapuskan tulisan aksara arab dan diganti menjadi aksara latin sampai sekarang.

Didalam istana Topkapi ini (yang sekarang menjadi museum) dipamerkan banyak peninggalan sultan, seperti mahkota, pedang, singgasana, alat-alat makan, bintang-bintang kehormatan, dan tentu saja bagian yang paling menarik adalah reliki-reliki islam. Seperti yang kita ketahui bahwa pada era jayanya Ottoman, daerah kekuasaaannya meliputi Mekkah dan Madinah. Setelah mereka kalah dan harus menyerahkan wilayahnya, banyak reliki-reliki yang diboyong ke Istanbul, terlepas dari benar atau tidaknya tapi sebagian muslim percaya saja. Adapun reliki-reliki itu diantaranya tongkat nabi Musa, pedang Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, ada bekas plat tempat hajar aswad, tempat gigi dan helaian janggut nabi Muhammad. Sayang nggak boleh di foto, jadi mau nggak mau kalau penasaran kalian harus melihat sendiri kesana..hehe..

Turut dipamerkan di bagian peninggalan harta adalah berlian terbesar di dunia, yaitu berlian 86 karat. Menurut tour guidenya, berlian ini ditemukan secara tidak sengaja sewaktu istana ini berubah menjadi rumah sakit dikala perang, dan ditukar dengan sendok, sehingga berlian ini mendapat julukan “ the spoon diamond”

Dari Topkapi barulah kita mengunjungi sang legenda, Hagia Sofia. Banyak tulisan untuk Hagia Sofia ini, kadang disebut Ayia Sofia, Sancta Sophia atau seperti orang Turki menyebutnya : Aya Sofya. Kedengerannya seperti nama seorang wanita ya, padahal artinya “holy wisdom / kebijaksanaan suci”

Hagia Sofia selesai dibangun tahun 360, sejak awal pendiriannya hingga tahun 1453 berfungsi sebagai gereja ortodox timur (tapi pada tahun 1204 -1261 sempat menjadi gereja katholik Roma). Ketika Sultan Mehmed II menaklukan Konstantinopel (romawi timur) ditahun 1453, gereja ini segera diubah menjadi mesjid. Kalau kalian masuk kedalamnya, akan terlihat tempat imamnya agak miring ke kanan, tidak pas ditengah-tengah karena mengikuti arah kiblat. Dan BTW, Sultan Mehmed II juga yang mengubah nama kota Konstantinopel menjadi Islambol yang berarti “Islam secara keseluruhan”. Nama ini diubah kemudian oleh Mustafa Kemal menjadi “Istanbul”

Bangunan awalnya Hagia Sofia ini hanya memiliki satu menara. Menara yang asli ini kalau kalian lihat warnanya beda sendiri dibanding 3 menara tambahan lainnya. Menara ke-2 dibangun Mehmed II, dan Sultan Selim II membangun 2 menara lainnya. Pada awalnya walaupun dipakai sebagai mesjid, namun ornament-ornamen kristiani seperti gambar Yesus atau Bunda Maria dibiarkan begitu saja. Baru waktu pemerintahan Sultan Selim II (1566 -1574) ini semua lukisan ditutupi cat (karena dalam islam lukisan gambar orang dilarang) maka jika kamu perhatikan lukisan malaikat di kubah utama, yang satunya wajah malaikatnya sudah dikelupas catnya (direstorasi) sementara malaikat satunya wajahnya dicat menjadi bintang.



Beberapa lukisan orang suci, Yesus dan Maria sudah dibuka lagi dibeberapa tempat, sementara ornament yang bercirikan Islam seperti tulisan “Allah” dan “Muhammad” yang besar-besar itu dibiarkan saja. Walaupun sebenarnya sudah ada Mesjid Biru disebelahnya, Hagia Sofia tetap difungsikan sebagai mesjid sampai tahun 1937, Mustafa Kemal (bapak pendiri republik Turki modern) mengubahnya menjadi museum.

Sebenarnya belum puas menjelajah situs-situs bersejarah ini, tapi karena kepepet waktu ya sudahlah. Mudah-mudahan nanti bias kembali ke kota ini. Dihari terakhir nanti saya dan rombongan akan kembali ke Istanbul, dan sekarang kita bersiap untuk mulai mengeksplor bagian-bagian Turki lainnya.

Wednesday, December 5, 2012

Lost in Dubai

Udah jadi tradisi di kantor kalau mengadakan acara jalan-jalan serba dadakan. Masih ingat dulu pengumuman pemberian jalan-jalan gratis umroh (buat yang muslim) atau jalan-jalan ke Jerussalem (buat yang non muslim), atau jalan-jalan ke Hong Kong diumumin kurang dari sebulan sebelum keberangkatan! Ketar-ketir deh ya yang belum punya paspor atau yang udah kadaluarsa. Tapi amazingnya, semua bisa berjalan sesuai rencana walau divisi umum dan travelnya mesti kerja ekstra, hehe..

Pengumuman jalan-jalan tahun ini juga serba instant, nggak tau kenapa salah satu menantu boss menyebut kata “Turki” dan berangkatlah kita kesana.

Kebetulan saya belum pernah ke negara ini. Cuma sering lihat di film-film aja. Sudah ngga kehitung kali ya, berapa kali Istanbul menjadi lokasi shooting, pasti ada yang istimewa di kota satu ini. Kalau nggak, ngga mungkin “James Bond” bisa shooting sampai 3 kali di kota ini kan, bhahak.

Dimenit-menit terakhir si boss mendadak mengusulkan destinasi ditambah satu lagi, Dubai. Ini karena pesawat Emirates yang kita naiki nanti mempunyai waktu transit yang lama, 9 jam sebelum connecting flight ke Istanbul. Jadi ya sekalian aja diinapkan satu malam di Dubai. Tapi berhubung budget per-satu orang cuma pas-pasan, jadi diminta masing-masing orang untuk membayar visa Dubai masing-masing. Ini juga bukan masalah, karena berbeda dengan jalan-jalan versi asuransi yang hanya menanggung biaya pesawat + akomodasi, jalan-jalan versi kantor ini ditambah dengan uang saku. Jadi buat visa on arrival Dubai yang amit-amit mahalnya itu (USD 90) ya potong aja dari uang sakunya. Kantor hanya subsidi buat tour Dubai dan hotelnya. Siplah kalau begitu..

Pesawat Emirates berangkat dari Jakarta Dini hari, jam 00.30, menempuh jarak 6.542km kira-kira 7,5 jam. Berhubung perbedaan waktunya 3 jam, maka nanti akan sampai di Dubai International Airport (DBX) sekitar jam setengah lima subuh waktu Dubai. Seperti yang sudah-sudah, Emirates memakai pesawat jenis Boeing 777-300 untuk penerbangan ini. Pesawatnya bersih dan selalu kelihatan baru, dengan langit-langit membentuk kemerlap bintang-bintang kalau lampu kabin dimatikan. Sempat turbulence lumayan lama disekitar laut Andaman, membuat tidur jadi nggak begitu nyaman.

Mendarat di Dubai, seperti yang sudah pernah saya cerita dulu, kita akan dihadapkan dengan petugas Imigrasi paling nggak efisien sedunia. Beda dengan petugas-petugas lain yang boleh ambil pekerja migran, petugas imigrasi ini tulen arab. Saya kebagian petugas cewek yang resek. Kali ini, pakai retina mata kayaknya, soalnya kita mesti melihat kesuatu alat dan nggak boleh kedip. Kayaknya mereka kesulitan karena saya pakai lensa kontak, jadi ada kali 15 menit saya disetrap disitu. Tapi namanya juga pakai lensa kontak, kalau kelamaan nggak kedip kering lah yaaa, sampai bergeser kesana-kesini. Tapi begitu saya kedip, disuruh ulang dari awal lagi, cape deee.. tapi mungkin dia juga yang capek kali ya, akhirnya disuruh hadap kamera satunya dan difoto muka. Dari tadi keq! *toyor*

Begitu keluar dari Bandara Dubai, sudah disambut semburan panas udara gurun. Ga sepanas kalau lagi musim panasnya sik, tapi menjelang musim dingin aja suhunya 25 kalau subuh dam 32 derajat kalau siang, begimana waktu hot-hot nya ya dibulan Agustus bisa sampai 44 derajat. Fiuhhh.. *peres keringet*

Karena cuma semalam nginap, jadi begitu keluar bandara kita sudah diajak keliling-keliling kota Dubai untuk city tour. Sadis ya, mana dipesawat kurang tidur.. tapi yam au ke hotel juga belum saatnya check-in. Jadilah kita mengunjungi Burj Al-Arab lagi untuk foto-foto, lalu ke Dubai Creek, itu semacam Sunda Kelapa-nya Jakarta, dimana banyak kapal-kapal tradisional yang lagi bongkar muat barang. Kebanyakan partner dagangnya orang-orang Iran. Selepas dari Dubai Creek, kita diajak mengunjungi Museum Dubai.Museum Dubai ini dulunya merupakan benteng Al Fahidi yang dibangun tahun 1787, dan merupakan bangunan tertua di Dubai. Bentuknya sih ya gitu deh, ngga menarik, beda sama benteng-benteng Eropa yang megah dan kokoh, benteng ini semacam dibangun dari tanah liat aja. Didalamnya sempit, koleksinya sedikit. Paling banyak diorama-diorama kehidupan masyarakat Dubai dimasa lalu, bisa di compare sama Chinese Heritage di Singapore kali ya.. Tapi bikin saya manggut-manggut juga. Bayangkan aja dulu kehidupan mereka begitu terbelakang, mata pencaharian cuma berdagang dan mencari mutiara tapi sekarang menjadi mega city yang diperhitungkan dunia.
Pingin ya punya pemimpin seperti Mohammed bin Rashid
Al Maktoum ini, biar pemerintahannya absolute, tapi uang dari penjualan minyak bener-bener dipakai untuk pembangunan Dubai. Beda sama negara-negara lain yang kekayaan alam melimpah tapi tetap miskin.



Selepas dari museum ini kita dilepas di Dubai Shouk, itu semacam Pasar Baroe di Jakarta. Pusat pasar tradisional yang sebenarnya tidak melulu menjual emas, tapi juga ada pernak pernik lainnya, mulai dari baju, makanan, sampai bumbu-bumbu dapur. Dubai Creek, Museum, dan Shouk ini terletak dipusat kota Dubai lama.

Kemudian baru di drop di Hotel, yang teletak di bagian Dubai lainnya. FYI, kota Dubai terus meluas disepanjang pantainya sampai ke perbatasan dengan negara bagian lainnya, Abu Dhabi. Tapi nggak bisa lama-lama, karena sorenya sudah harus jalan ke gurun pasir untuk mengikuti acara Desert Safari.

Desert Safari, apa itu? Ya mengarungi gurun aja gitu, naik Jeep dengan sopir ala-ala ali topan anak jalanan. Mula-mula kita diajak keluar kota Dubai, Melewati Factory Outlet (yang katanya jual merk2 brand ternama) trus melewati Universal Studio Dubai yang masih dalam tahap pembangunan. Trus sesampainya digurun, mobil keluar dari jalan dan kita dikasih kesempatan foto-foto diantara pasir dulu, sementara para supir itu menggembosi ban-ban mobil mereka. Ternyata untuk bisa menyusuri gurun pasir, ban mobil itu nggak boleh dalam kondisi udara full, mesti dikurangi kira-kira ¼ nya.

Dan dimulailah horror… kalau kamu pernah naik Jet coaster, ya gitulah safari desert ini, didalam jeep kita udah teriak-teriak aja waktu mobil menanjak dan menuruni gundukan pasir yang curam, atau bermanuver berbelok dengan kemiringan 45 derajat. Mampus deh kalau sampai terguling… *pray*

Acara safari ini ditutup dengan makan malam ditengah gurun pasir sambil disuguhi tarian perut…aihhh… tapi berhubung kepala pusing dan kurang tidur dari kemarin, saya udah nggak minat untuk makan, jadi ketiduran aja gitu ditengah gurun. Tapi agendanya belum selesai. Kita-kita yang pengkoleksi kaos Hard Rock udah memutuskan untuk mencari HRC Dubai yang jaraknya 45 km dari gurun ini. Beruntung si supir mau nge-drop kami kesana. HRC ini letaknya di kawasan Dubai Festival, di kota lama yang dekat dari bandara juga. Sampai di HRC sudah jam 10 malam, setelah selesai bingung pulangnya. Waktu di Jakarta kita sudah ancer-ancer lihat dari Google map, tapi sampai disini benar-benar blank. Sebenarnya yang terdekat ada stasiun Metro Emirates, tapi jaraknya lumayan jauh dan udah ngga keburu karena sudah malam juga, kalau sampai stasiun tapi sudah tutup ngga lucu kali ya..

Akhirnya kita memutuskan naik taxi aja. Taxi Dubai ini belegong alias belagu, sama seperti standar Eropa, cuma boleh max. 4 penumpang. Dengan sopir orang India, kita melihat argo dengan harap-harap cemas. Maklum jarak hotel ke kota lama Dubai ini lumayan jauh. Habis 55,5 Dirham jadinya (kira-kira 150 ribu rupiah). Hedeww..

Sampai hotel udah lewat tengah malam, cium bantal dan langsung molor. Besok perjalanan masih panjang ke Istanbul, so… to be continued yah.. :-P

Friday, July 27, 2012

Imigrasi, Immigration, Inmigración, Immigratie, การ เข้าเมือง

Barangkali proses yang nakutin dalam kunjungan ke luar negeri itu apalagi kalau bukan melewati imigrasi. Hampir semua petugas imigrasi mukanya nggak ramah, cenderung jutek. Nggak pernah tuh saya lewatin imigrasi dengan senyum dan ucapan “have a nice holiday” atau “selamat datang dinegara kami” yang ada malah tatapan penuh selidik… aih. Coba saya ingat-ingat dulu ya udah berapa kali lewatin imigrasi (Imigrasi Jakarta nggak ditung, karena baik-baik dan unyu-unyu. Yang harus diwaspadai di Bandara Soetta itu justru petugas Bea-Cukainya! Pisss)

Jeddah
Dibandara Jeddah, petugas imigrasinya lumayan sedikit, jadi nggak heran denger cerita kalau mesti berjam-jam menunggu antrian. Petugas Imigrasi disana paling suka ngobrol, bikin Be-Te kan? Entah ngobrolin apa, tapi bener-bener bikin kita pingin teriak “WOOOII..antrian udah satu kilo, kaleeeee”

Dubai
Imigrasi di Dubai lebih parah dari Jeddah. Selain petugas imigrasinya doyan ngobrol, kadang mereka pergi gitu aja, entah ke toilet atau entah kemana, alhasil kita yang lagi ngantri ini cuma bisa bengong-bengong doang sambil menggerutu. Visa On Arrival juga bisa dipermasalahkan sama mereka. Belagu banget. Udah gitu kayaknya beraaattt banget kasih stempel visa disitu. Satu orang bisa dilayanin sampai 15 menit kali? Dan yang lebih parah, ada petugas yang lalu lalang disekitaran antrian imigrasi dari ujung ke ujung dengan muka sangar, secara acak mereka menarik orang untuk di “wawancara” di ruangan khusus. Mungkin merasa udah PD jadi negara kaya kali ya, jadi semua orang dicurigain sebagai “imigran gelap”. Yang saya liat hampir semua antrian pasti ada aja yang ditanya-tanyain, entah bule, Rusia, China, pokoknya acak. Salah satu rombongan kita sempat kena, cap visanya dicoret / dibatalkan dan di interview, ditanya-tanya tujuannya kemana (padahal jelas-jelas udah ada tiket terusan) jadi ya gitulah. Dubai is always Lebaiiii!!!

Singapura
Pernah melewati Harbour Front dan Changi, petugasnya sama-sama dinginnya. Masuk Singapura ini serasa udah masuk Amerika aja, pemeriksaan super ketat sampai badan sampai digrepe-grepe. Dulu sempat ditanya-tanya ‘untuk keperluan apa anda datang kesini?’ dengan pasang muka angkuh dan mengangkat dagu ya saya jawab “for syoping lah yaaaaa, menurut looooo?”

Hong Kong & Macau
Waktu wabah flu burung masih hot-hotnya, semua yang masuk HK mesti “ditembak” sama thermometer laser dari jarah jauh (ini bukan laser wajah itu ya!) alhasil, saya yang baru sembuh dari flu biasa, kena juga dipanggil. Hebat juga ya alatnya bisa mendeteksi panas tubuh seseorang dari jarak jauh, haiyaaa… setelah dipanggil, suhu badan saya diukur memakai thermometer yang dimasukkan kedalam telinga. Akhirnya beres, dilepas deh..fufufu.. Nasib apes juga dialami seorang teman yang ditanya-tanya karena wajahnya “mencurigakan” katanya. Apalagi kalo udah miara jenggot udah deh abis disangka anggota Al-Qasidah huhuhu.. Sementara pelayanan imigrasi di Macau lebih friendly kali ya, ya iyalaaahh, negara ini kalau nggak baik-baik sama turis dan penjudi yang datang, gimana mau dapat devisa kaleee…


Shenzhen / China
Nggak ada yang bisa mengalahi dinginnya imigrasi China. Dinginya ngalahin kulkas. Mau nunduk salah, ntar dikira ngumpetin narkoba – mau tatap mata salah, dikira nantangin. Hedew.. tapi dilain waktu petugasnya biasa-biasa aja, langsung stempel tanpa banyak cing-cong, jadi ya tergantung dapet petugas yg gimana kali ya…

Bangkok
Kalau di Don Muang atau Swarnabhumi ditiap loket imigrasinya ada alat kamera kecil mirip antenna yang sebenarnya kamera untuk foto wajah kita. Petugasnya cuma bilang : look at the camera pleaseee… cheeeseee (ok, ini lebay). Terakhir kesana, ditiap loketnya sekarang udah pakai alat purifier mini, dikiranya turis-turis asing itu pada bawa virus kali yeeee….

KL
Petugas imigrasinya sebenarnya biasa aja. Tapi mungkin karena banyak imigran gelap yang ngaku-ngaku turis, jadinya kadang suka ditanya-tanya hal yang kadang aneh. Kadang sisuruh menyebutkan “nama kamu siapa?” – padahal udah ada kan di passport. Mereka seperti ngecek gitu, kali-kali kita “lupa” nama yg di paspor, wew… Kalau saya pernah kejadian ditanya apa arti nama “Agam” dan dari bahasa daerah mana? Waktu saya jelaskan itu berasal dari bahasa Bengkulu sana dia cuma mengernyitkan dahi.. Really??? Ya eyalahh, masa dari Bahasa Perancis? D’après Vous??? (Menurut LOOHHH???)

Roma, Paris, Madrid, Brussel
Sebenarnya negara-negara Eropah ini lumayan efektif dan efisien kalau urusan imigrasi. Selama kita udah pegang visa Schengen, dianggap kita sudah melalui tahapan penyelidikan rahasia ala Eropa di kedubes masing-masing dimana kita mengajukan visa, bahwa kita “clean”. Cuma sayangnya di bandara saya kebagian petugas imigrasi seorang wanita paruh baya yang wajahnya syupeerr dyupeerr jueeteeeeeeekkkkkk buangetttt!!! Senyum kagak, cantik juga kagak, serem kayak herder.. hiuhhh.

Pengalaman yang sama juga saya dapatkan waktu melewati imigrasi Paris di bandara Charles De Gaulle. Pas antri, petugasnya sambil ngobrol gitu sama rekannya, tapi cuma stempel aja gitu…di scan kagak, ngeliat wajah kita juga nggak. Paling cuma 2 detik udah lewat. Saya sampai bingung, ini beneran udah selesai prosesnya ya?? Dan petugasnya yang unyu itu dengan entengnya jawab : Oui, because you have schengen visa… Oooo jadi gitu ya, okeeh, D’accord! 

Thursday, July 26, 2012

Past and Present

Bulan Ramadhan datang lagi, bulan yang menurut umat Islam sebagai bulan penuh berkah. Jadi ingat 4 tahun lalu, saat terakhir kali menjalani bulan puasa dengan Ibu. Ibu saya mendapat serangan stroke setelah lebaran, tepatnya setelah pulang dari menjenguk saudaranya dan nyekar di makam kakek di Rembang. Ibu koma dari November 2008 dan akhirnya meninggal bulan Februari ditahun berikutnya. Yang buat sedih, karena waktu itu saya tidak ada sewaktu beliau meninggal dan itu bikin sedih jadi berlipat ganda.Miss u Mom :-(

Menolak untuk “campur” dengan rumah tangga kakak dan ipar, tujuh bulan kemudian saya memutuskan untuk kost, didaerah Pramuka. Walau rumah sebenarnya cukup luas tapi sepertinya sudah saatnya saya hidup mandiri juga kan. Dua tahun kost akhirnya memutuskan untuk pindah ke rusunami. Agak konyol juga karena tahun 2008 sebenarnya saya sudah DP untuk sebuah rusunami di daerah Buaran Jakarta Timur, tapi karena proyek itu mandeg setelah lengsernya Jusuf Kalla dari posisi wapres, jadinya saya mencari-cari rusunami lain. Akhirnya dapat di daerah Jakarta Timur juga, tapi tidak sejauh daerah Buaran, paling nggak dilalui buswaylah walau untuk ke haltenya nggak deket-deket juga.

Pindah ke rusunami segera setelah lebaran tahun 2011, waktu itu bahkan interiornya belum jadi. Sempat ngomel-ngomel sama design interior yang muluk-muluk janji 2 bulan selesai, ngga taunya sampai 4 bulan baru jadi (kurang sabar & baik apa cobak gue). Bosen bertahun-tahun pakai warna biru, akhirnya beralih ke warna hijau. Jadilah tembok saya cat hijau. Bukan hijau tua sih, tapi hijau-hijau muda gitu, karena menurut psikolog, warna hijau muda yang cerah mengandung banyak kuning akan berkesan ringan, segar dan menyenangkan. Kalau sumpek dari tempat kerja atau habis berjibaku dengan kemacetan lalu-lintas, kayaknya perlu ketenangan waktu sampai di rumah. Dan warna hijau ini kayaknya cukup tepat untuk mewakili kesan “tenang” itu :-)

Dan disinilah saya, sekarang. Banyak yang bilang kenapa rusunami? Well, karena kalau punya uang pasti sudah beli apartemen beneran. Kenapa apartemen? Karena menurut saya penghuni apartemen itu lebih cuek, dan karena bangunannya relatif masih didalam kota, sehingga mobilitas tiap hari juga nggak se-riweh teman-teman yang stay di Bekasi-Depok-Bogor-Tangerang. Kenapa pilih yang agak jauh dari pusat kota? Well, pertama, untuk menekan cost, rusunami jarang dibangun dipusat kota. Jadi nggak heran posisinya nyempil-nyempil. Kemudian karena disini ga begitu jauh dari terminal bus, jadi semua rute kendaraan umum pasti ada. Lalu nggak jauh juga dari rumah kakak + ipar tercinta, cukup sekali naik subway (ngayal), ngga jauh juga kalau mau nyekar ke makam ibu-bapak. Mau ke mall juga nggak jauh, cuma sekali naik Metro sampai ke Kelapa Gading Mall, Mall of Indonesia, Mall Artha Gading atau kalau urusan komputer rusak juga dekat dengan Cempaka Mas. Sudah cukup lengkap menurut saya. J’aime ma maison ( ` 3 `)

Thursday, July 19, 2012

Kisah Tragis si Narsis

Alkisah, dahulu kala di Yunani ada seorang dewa sungai bernama Cephissus dan peri Liriope yang menikah dan dikaruniai seorang anak pria tampan yang diberi nama Narcissus (Narkissos dalam bahasa Yunani). Suatu ketika si ibu membawa anaknya ini ke seorang peramal di kota Thebes yang sangat terkenal yang bernama Tiresias, yang konon ramalannya selalu jitu dan terbukti kebenarannya. Si Ibu bertanya : apakah anak saya dapat berumur panjang? Dan si peramal menjawab : Bisa, dengan syarat dia tidak pernah melihat dirinya sendiri. Selepas itu, Ibu Narsissus membuang semua cermin dan logam2 yang memungkinkan Narssisus untuk bisa berkaca.

Dan tahun berganti tahun, musim berganti musim, Mode berganti Mode... si Narssisus tumbuh menjadi pemuda yang tampan lagi gagah, diincar para wanita, disukai para janda, (Iya kali) Begitu gantengnya sampai ada seorang peri yang jatuh cintrong berat sama si Narssisus. Peri ini bernama Echo. Echo ini sangat suka berbicara, sangking gengges-nya sehingga mendapat kutukan dari Dewi Juno (istri Dewa Jupiter) supaya si Echo ini gak bisa ngomong, kecuali cuma bisa meniru ucapan terakhir dari apa yang didengarnya.


Karena selalu dibilang ganteng, Narssisus jadi sombong. Tidak ada yang dibalas cintanya oleh Narssisus ini termasuk cinta si Echo (belum liat kali ya si Echo ini kalo jari kelingking Narssisus ini ngetril.. Yuk Mari). Padahal si Echo ini udah menjadi stalker sejati, kemana Narssisus pergi dikuntit. Suatu ketika Echo mengikuti Narssisus melewati hutan. Waktu si Narsissus bertanya “siapa?” si Echo cuma bisa menjawab “siapa?” Waktu Narssisus bilang “kemarilah” si Echo cuma bisa menjawab “kemarilah”

Dan sewaktu Echo mendekat, Narsissus marah dan menyuruhnya pergi. Echo Patah hati, merana dan akhirnya meninggal (drama banget sik). Kemudian tubuhnya berubah menjadi batu gunung tapi suaranya tetap masih menjadi gema. Jadi tau dong ya asalnya Echo(gema) itu dari mana…

Sangking marahnya, sebelum Echo tewas, dia mengeluarkan kutukan…. JEDERRR.. dan halilintar menyambar-nyambar (okeh, ini lebay) Kutukannya, engkau milikku atau tidak sama sekali..(zoom in – zoom out), mengutuknya agar ia merasakan perasaan cinta yang dalam namun tidak mendapatkan balasan. Dan dewa pun mengabulkannya, menciptakan sesuatu yang akan dicintainya. Sesuatu yang tidak nyata dan tidak akan pernah membalas rasa cintanya.

Dan suatu ketika si Narssisus melewati hutan entah kenapa matanya tertuju ke aliran sungai Styx. Disitu kagetlah dia melihat seorang rupawan banget dan sekejap jatuh cintalah dia pada pandangan pertama (background lagu RAN) begitulah tiap hari kerjanya cuma melihat bayangannya sendiri disungai itu sampai akhirnya karena arus sungai menjadi deras, bayangan wajahnyapun hilang.. Narsissus pun menjadi merana karena merasa cintanya ditolak oleh bayangannya itu. Akhirnya dia meninggal ditepi sungai dan dewa-dewa yang kasihan mengubah mayatnya menjadi bunga Narcissus.

Nah begitulah sekelumit cerita asal muasal seorang Narsis. Dijaman modern ini narsis lebih ditujukan buat orang yang suka memuji diri sendiri secara berlebihan, baik secara fisik, harta atau intelektual. Merasa paling pinter or paling gateng sejagat. Padahal bukan kitalah yang menilai dirikita sendiri melainkan orang lain, bener gak sik? Ambil contoh, kalau kita merasa ganteng, tapi orang lain bilang kamu jelek, ya berarti ada yang salah dengan retina mata kamu kan ya? Menurut saya narsis sudah menjadi semacam candu memabukkan yang membuat orang menjadi suka merendahkan orang lain karena merasa dirinya lebih diatas yang lain. Tapi percaya deh, penampilan, kekayaan dan kepintaran itu sih penting, tapi kalau kamu sedikit lebih down-to-earth, walaupun muka pas-pasan, bakalan lebih menarik, bener gak sik? (` 3 `)