Saturday, March 26, 2011

Hidup Itu Pilihan

Belakangan saya jadi sering secara nggak sengaja lihat acara di TV swasta yang menjual kemiskinan. Anak-anak dari kota turun ke desa, mencari keluarga miskin yang cuma makan nasi-garam, trus disorot kehidupan si keluaga miskin itu sehari-hari. Ujung-ujungnya nanti setelah acara mau usai, si keluarga miskin itu dapat surprise, apakah itu sembako, atau rumahnya dibenerin (seadanya) trus dikasih prabotan yang kelihatan bagus padahal murahan.

Saya nggak nyalahin kreativitas dari stasiun-stasiun TV itu untuk membuat acara seperti itu, mungkin secara komersial menjual, mendapat simpati masyarakat dan dapat rating tinggi.. namun saya jadi mikir sendiri, kenapa kemiskinan dijual? Kenapa bangga jadi orang miskin?

Kalau saya lihat orang-orang miskin itu berani kawin, dan punya anak banyak banget (bisa sampai 7 atau lebih) saya jadi geleng-geleng sendiri. Sudah miskin, penghasilan pas-pasan, berani punya anak banyak, tapi nanti ujung-ujungnya cuma jadi beban orang lain. Teriak-teriak di TV betapa malang hidupnya, kadang makan, kadang tidak, sambil pasang tampang memelas.

Kalau ditanya kenapa kawin? alasannya supaya menghindari zina. Tapi setelah kawin, tetap saja berzina. Jadi apa bedanya?
Kalau saya tanya teman saya, kenapa kamu berani kawin? Jawabannya absurd ~ yah karena memang sudah begitu jalannya… WHAT? Jawaban paling bodoh yang pernah saya dengar.
Ada lagi yang bilang kawin karena norma? Wew, apalagi ini? Kawin nggak pakai cinta, emang bisa ya? ujung-ujungnya ya berzina lagi…

Saya nggak pernah menyalahkan orang yang berani kawin, malah salut banget karena mereka berani mengambil keputusan besar dalam hidup seperti itu, Yang saya nggak habis pikir, kenapa setelah kawin kamu jadi beban buat orang lain?
Kamu jadi kekurangan uang, jadi ngutang sana-sini, atau memanfaatkan orang untuk kepentingan pribadi. Kamu tergiur barang-barang bagus yang kepingin kamu beli, tapi kamu tidak punya uang karena sekarang sudah punya tanggungan.
Yah, maaf, tapi itu resiko kamu. Face It!

Banyak orang yang bilang rezeki akan datang dengan sendirinya. Tapi maaf, saya nggak percaya, karena semua itu perlu planning. Mungkin kalian masih punya orang tua, atau mertua, yang masih mau mensuport hidup kalian. Membiayai pernikahan kalian, atau malah memberi DP rumah, cicilan rumah, atau malah memberi tumpangan rumah.
Bagi saya, yang sudah yatim-piatu ini, pikirannya nggak segampang itu. Terlepas dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya tetap beranggapan bahwa sebaiknya kamu tidak menikah kalau tidak yakin dengan kemampuan financial kamu mampu memenuhi kebutuhan rumah tanggamu kelak.

Mungkin kamu bilang nanti, dimasa tua, saya akan sendirian, menjadi kesepian karena tidak punya siapa-siapa yang merawat. Saya cuma bisa bilang, egois banget kalau saya punya istri atau anak cuma buat pikirin siapa yang akan merawat saya kelak. Karena menurut pemikiran saya, toh pada akhirnya kita akan sendiri… meninggal juga sendiri, nggak ada yang nemenin.

Tapi sekali lagi, semua itu pilihan hidup dari masing-masing kita. Saya nggak mau nyusahin orang lain, jadi sementara, sampai saat ini, biarlah saya sendiri dulu...