Entah dapat bisikan gaib dari mana, tau-tau saya keukeuh banget pingin ke museum nasional, alias museum gajah. Selama ini cuma sering melintas tapi nggak berani masuk. Tapi sekian lama jalan-jalan, kok saya sempetin masuk museum nasional di Bangkok, di KL dan di Singapura, bahkan museum terbesar didunia, Louvre, Paris. Jadi kenapa saya ngga pernah masuk ke museum gajah yang lokasinya sama-sama di Jakarta ? Akhirnya setelah membujuk-bujuk monsieur Ant, terlaksana juga mengunjungi museum tersebut.
Museum Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat 12 ini dibangun tahun 1868. Awalnya hanya berdiri bangunan lama disini sebelum akhirnya diperluas dengan dibangunnya geudung utara disebelahnya. Disebut Museum Gajah karena dihalama depannya terdapat patung gajah dari perunggu yang merupakan hadiah dari Raja Siam saat itu, Chulalongkorn, yang dihadiahkan pada tahun 1871 saat sang raja mengunjungi Batavia saat itu.
Anyway, perjalanan diawali dengan masuk dari gedung lama, dengan harga tiket 5.000 rupiah saja. Begitu masuk kita akan menemukan banyak patung-patung peninggalan masa lalu, dari berbagai abad. Kebanyakan parung Hindu dan Budha. Penempatannya sangat rapat, sehingga kurang nyaman untuk diamati, ditambah dengan label patung yang sudah memudar, sehingga sulit dibaca. Pengaturan di lorong museum juga sama rapatnya, membuat kesannya menjadi sumpek. Disisi kirinya terdapat koleksi keramik yang tidak semua saya lihat karena keterbatasan waktu. Diujung ada tengkorak manusia purba, dan disisi kanan ada koleksi gamelan, dan benda-benda antik dari berbagai suku di Indonesia, seperti Papua, Bali, dan sebagainya. Sementara dibagian atas lantai 2 terdapat koleksi mahkota, hiasan-hiasan dari emas.
Lanjut ke gedung barunya, disini lebih lega, ada eskalator dan lift, pakai AC disemua ruangan, dan penyusunan barang-barang yang dipamerkan juga lebih ‘manusiawi’. Sehingga nyaman untuk diamat-amati. Tapi kalau melihat museum ini rasanya ada yang kurang, yaitu naskah-naskah kuno tidak ada, begitupun lukisan seperti yang bisa kita lihat di Museum Louvre Paris, dimana lukisan sebesar gaban dipajang di dinding-dindingnya. Padahal tidak sedikit pelukis Indonesia yang karyanya okeh-okeh kan ? :-P
Selanjutnya diajak Monsieur Ant ke Museum Prasasti yang letaknya dibelakang Museum Nasional ini. Tadinya Museum Prasasti ini kuburan, tapi kemudian pada sekitar tahun 70-an dibongkar, sebagian dipindah ke tanah kusir, sebagian dibawa sanak keluarga Belandanya, yang tersisa adalah batu-batu nisan berbentuk patung malaikat dan batu-batu nisan yang sebesar gaban. Sayang luasnya terus menyusut sehingga kesannya jadi padat dan ditambah dengan ulah usil tangan-tangan jahil yang mencoret-coret patung disana :-/
Kesimpulannya, mengunjungi museum apapun dinegara manapun selalu mengasyikkan, banyak hal-hal yang membuat takjub dan karya seni yang indah. Next...(Insya Allah) mengunjungi museum Vatikan :-P