Akhir Oktober kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Hong Kong setelah 3 tahun. Ini kali ke-3 ke wilayah bekas koloni Inggris ini. Bukan hanya Hong Kong sik, sekalian saktu paket ke Shen Zhen dan Macau.
Kalau yang pertama kesana setelah hunting tiket murah air asia, yang kedua naik Cathay, kali ini naik China Airlines. Jangan ketuker sama Air China ya, bedanya China Airlines ini punya Taiwan, sementara Air China punya RRC. Buka-buka internet “katanya” China Airlines (CI) ini udah bintang 4 versi Skytrax. Jadi penasaran kan, gimana dalemannya? Hehe
Berangkatnya tengah malam (pfft) untung lounge masih ada yang buka. Setelah berlari-lari karena jadi penumpang terakhir yang belum naik, akhirnya sampai ke terminal 2E. Ribet karena di Soetta ini penumpang diperiksa dua kali, pertama ketika masuk ke counter chek-in, sekali lagi waktu mau masuk ke boarding room.
Akhirnya sampai juga di atas pesawat CI. Airbus 300, lumayan-lah. Pramugara-nya tua-tua, sementara pramugarinya lumayan muda. Tempat duduk so-so, tapi AVOD-nya kecil. Mungkin karena pesawat lama kali ya, sama dulu kayak Cathay dan Singapore Airlines (ngga tau deh kalau sekarang pesawat-pesawat baru mereka denger-denger udah diupgrade semua).
Makanannya standar. Cuma rada-rada pelit air minum doang hehe.. Kayaknya Pramugara/i-nya kurang fasih bahasa Inggris, lebih suka bicara dalam bahasa Mandarin. Haiya.. (-__-“). Untuk penerbangan tengah malam selama hampir 5 jam, udah males liat film dengan layar kecil. Mending tidur sahaja, karena biasanya kalau sampai pagi itu langsung digeber untuk jalan-jalan ketimbang langsung ke Hotel, karena belum waktunya chek-in juga kan?
Mendarat di bandara Cap Lai Kok, masih ternganga seperti biasa. Padahal bandara ini udah dibangun menjelang Hong Kong dikembalikan ke China, 16 tahun lalu. Penampilannya membuat Soekarno Hatta jadi njomplang, bagai bumi dan planet Jupiter.
Anyway, setelah ambil bagasi menujulah kita langsung ke ShenZhen. Wilayah RRC ini ditempuh sekitar 40 menit perjalanan darat. Beda dengan dua kunjungan sebelumnya, di Imigrasi HK sekarang sudah tidak pakai cap seperti biasa. Gantinya dapet secarik kertas kecil yang distaples dipaspor, nanti kalau keluar HK, diganti dengan secarik kertas keluar. Pun ketika melewati imigrasi China sudah tidak pakai stempel-stempelan lagi. Dan sekarang masuk China cukup pakai VOA. Tapi karena pakai tour ya semua sudah diurus tour leadernya.
Yang lucu selewat imigrasi, barang bawaan wajib X ray tapi ga ada petugas satupun dimesin itu. Ngga tau monitornya ada dimana ya?
Sebenarnya kalau boleh milih, udah cukup dua kali ke Shen Zhen, ngga mau lagi. Tapi ya ga pa-pa lah itung-itung sekalian nyari tumbler starbucks buat koleksi.. hue-hue-hue
Kota Shen Zhen sendiri dulunya cuma persawahan, tapi sekarang disulap jadi kota modern yang konon katanya menjadi kota paling kaya seantero China daratan. Dibangun dulunya buat menyaingi Hong Kong, biar orang-orang Cina nggak tergiur untuk menyeberang ke HK. Saat ini justru kebalik, penduduk HK banyak yang membeli property di ShenZhen, karena harga property di HK yang harganya fantastis. Jadi semacam kota satelit, pagi mereka kerja ke HK dan malam balik ke ShenZhen. Hebat ya, pergi-pulang kerja aja lewatin dua imigrasi yang berbeda, haha.. Karena walaupun Hong Kong dan Macau sudah dikembalikan ke China, tapi masih dapat perlakuan khusus selama 50 tahun kedepan (semenjak penyerahan kedaulatan). Jadilah dua teritori ini semacam menjadi Negara sendiri, dengan mata uang sendiri, imigrasi sendiri dan pemerintahan sendiri. Unik ya..
Wisata di Shen Zhen kemana lagi kalau bukanke Lou Wu. Semacam ITC mangga dua disini, isinya barang-barang palsu semua. Dari yang KW 1 sampai KW 1000. Mau belanja beneran, mall banyak, tapi harganya nggak kompetitif. Sama mahalnya seperti Jakarta (apa karena pengaruh kurs rupiah yang lagi jeblok $11.600 / USD ya?) tapi nggak juga ah. Semacam Zara atau Top Man, padahal label dikerahnya juga made in China, tapi harganya juwara. Nggak rekomen beli gituan disini.
Nginepnya di Century Hotel. Lumayan bagus untuk 4 bintang. Kalau mau jalan malam ke Lou Wu ya tinggal jalan 10-15 menit udah sampai, mereka tutup jam 10-11 malam. Kurang duit? Bias ambil ATM pakai ATM Indonesia yang sudah kerja sama (semacam master card – visa) kena biaya sekitar Rp.25.000
Tempat wisata di Shenzhen yang pasti dibawa adalah Windows of the world, dimana ada replica-replika bangunan icon dari berbagai Negara di dunia. Skalanya suka-suka ya, jadi kadang ada yang gede banget, seperti menara Eiffel ada juga yang kecil banget seperti Angkor Wat. Kalau nggak mau capek bias baik kereta gandeng, yang berhenti di tiga titik – kalau mau foto-foto, atau naik monorel (tapi kalau naik monorel ga bias berhenti2). Jangan lupa nonton pertunjukan Imax Flying over America. Bangkunya bisa naik dan bergerak-gerak seolah-olah ikutan terbang.
Tempat wisata lainnya, ada disebelahnya, Splendid China. Isinya adalah miniatur-miniatur rumah dan bangunan seantero china. Ada yang ukuran mini ada yang beneran, semacam TMII kali ya? Ada pertunjukan tari-tarian yang mewakili seluruh provinsi di China, ada pertunjukan kuda gaya-gaya tempo dulu, ada lagi show tari-tarian dimalam hari dengan panggung yang keren (pakai api-api dan laser gitu, jadinya show ini cuma ada ketika malam).
Dari Shenzhen besoknya ke Macau. Naik Ferry sekitar 45 menit kali ya? Bekas koloni portugis ini dikembalikan ke China tahun 1999. Tapi nuansa kolonialisme-nya masih tetap dipertahankan, seperti petunjuk-petunjuk lalu lintas dan arahan-arahan semuanya ditulis dalam bahasa Canton (bahasa resmi Macau dan Hong Kong) dan bahasa Portugis. Meskipun saya ragu apakah sekarang masih ada penduduk Macau yang bisa berbahasa Portugis. Ferry mendarat di terminal Ferry sebelah bandara Macau. Mereka baru punya bandara tahun 1993 setelah mereklamasi laut. Tapi penerbangannya sepi sih, termasuk kecil untuk ukuran bandara.
Yang unik buat penduduk China yang mau masuk ke Macau – dibatasi hanya 4 bulan sekali. Ini dikarenakan orang China daratan suka sekali berjudi, jadi pemerintah RRC membuat peraturan seperti itu. Karena itu kerap kali Visa Macau (yap – masuk Macau orang China daratan harus pakai Visa) sering dipalsukan penduduk China. Hal ini beda dengan Hong Kong, dimana warga RRC yang mau masuk HK bebas saja kapanpun. Mungkin karena di HK nggak ada kasino ya.
Macau, kota yang hidup dari judi. Luas awalnya cuma 11km persegi, teru-terusan direklamasi, sekarang luarnya mencapai 29,5km2. Termasuk mereklamasi laut antara pulau Taipa dan pulau Coloane, menghasilkan sebuah daratan yang dinamakan Cotai. Disini dibangun banyak kasino dan hotel mewah semacam Venetian dan City of Dream.
Tujuan wisatanya, mula-mula pasti diajak ke Kuil A- Ma, karena kuil ini asal-muasal nama Macau. Waktu itu orang portugis yang bertanya ke penduduk lokal nama tempat itu, penduduk yang tidak mengerti bahasa portugis mengira mereka menanyakan nama kuil, jadilah tempat ini disebut Macau. Di kuil ini ada sebuah batu besar dengan ukiran perahu, katanya kalau mau minta sesuatu, gosokkan uang dari ujung ke ujung trus simpan uangnya setahun. Satu permintaan satu lembar uang, dua permintaan dua lembar uang, begitu seterusnya. Biar nggak rugi pakai uang kertas 1000 rupiah-an aja ya, hue-hue-hue.
Pada saat menuju A-Ma Temple ini, pasti diajak melewati rumah Stanley Ho. Melewati jalan-jalan sempit, rumah Stanley Ho yang beristri 4 ini nggak istimewa banget. Biasa aja buat kita. Tapi luar biasa untuk penduduk Macau dengan lahan super sempit bisa punya rumah diatas tanah sendiri (bukan apartemen) pastinya orang kaya buangett.
So, siapa Stanley Ho? Dia mungkin orang terkaya disini, dari 33 kasino di macau, separuhnya milik Stanley Ho. Pria dengan 4 istri ini (istri pertamanya sudah meninggal) punya kekayaan sampai 2 milyar dollar AS. Huih..
Tujuan wisata lainnya sama, Reruntuhan gereja St. Paul, Macau Tower, Jembatan antara pulau Macau dan Taipa (heran nggak wilayah sekecil ini dengan hanya 500.000 penduduk punya 4 jembatan?) 3 jembatan menghubungkan Pulau Macau dan Pulau Taipa, satu lagi, Lotus Bridge menghubungkan Macau (Taipa) dengan wilayah Zuhai China. Ulasan wisata macau ini liat di posting saya yang dulu-dulu ya, males nulis berulang-ulang hehe..
Kalau mau ke mall silahkan ke Venetian macau, mall + kasino + hotel dengan tiruan Venesia lengkap dengan kanal-kanalnya. Bisa nyobain naik gondola juga kalau mau. City of Dream diseberangnya ada Hard Rock Café dan Hotel, ada mall, dan pertunjukan Bubble. Judulnya Dragon Treasure. Jadi ada satu ruangan mbulet yang dindingnya layar semua, trus diputer film animasi naga jadi seolah-olah hidup gitu. Liatnya juga garus sambil dongak. Ngga apa sih pegel dikit, cuma 15 menit kok hehe..
Selanjutnya dibawa ke hotel-hotel dengan lobby yang unik. Ada yang jam-jam tertentu ada pertunjukan air mancur dengan replika berlian besar ditengahnya (hotel Galaxy) atau hotel dengan lobby lantainya ada emas batangan (hotel Grand Emperor) ada-ada aja yak.
Buat yang mau lanjut, hiburan malam di Macau seperti gak ada tidurnya. Hiburan “dewasa” pasti ditawarkan ke peserta tour. Mulai dari tarian bugil sampai live show beneran. Yang main bule. Tiketnya 500 HKD kalau mau.
Hong Kong sendiri ya gitu-gitu aja. Wajib kunjung ke The Peak, bisa naik kereta kabel dengan kemiringan 45 derajat, ada Madame Tussaud disana. Dapat hotel yang lumayan jauh di New Territories, tapi ga berasa karena transport di HK termasuk OK, ada jalur subway dimana-mana. Cuma beda dengan Metro di Eropa yang jauh-dekat tarif sama, disini tarif berdasarkan jarak semacam di Singapura.
Mau belanja yang muramura bisa ke kawasan Tung Chung, didekat bandara kesono lagi. Produk branded yang lumayan murah ada disini. Kalau semacam Giordano dan Esprit emang murah gilak, tapi kalau Armani atau DNKY buat saya ya didiskon juga masih tetep aja mahal. Wajib foto kalau ke Hong Kong apalagi kalau bukan avenue of the stars, letaknya diujung Kowloon yang berhadapan dengan pulau Hong Kong diseberangnya. Kalau malam lampu digedung-gedung mulai dinyalakan jadi bagus banget.
Malamnya saya sempat keliling-keliling di Pulau Hong Kong ini, nyari-nyari Hard Rock Cafe yang buka lagi di kawasan LKF Tower. Nanya sama seorang petugas keamanan ternyata nggak bisa bahasa Inggris. Hai-ya.. bukannya kalian bekasnya koloni Inggris ya? hiyuh..
Yang sama saja yaitu tour guide lokalnya selalu mengeluh mahalnya sewa apartemen di HK, bahkan kuburan saja ada waiting list-nya, bisa 5 tahun nunggunya.Udah nunggu, ada masa pakaijuga sekitar 10-20 tahun kalau ga salah. Dimakamkannya juga dalam posisi berdiri, bukan baringan demi menghemat lahan (kalau kalian menuju ke The Peak pakai bus, akan melewati kompleks pemakaman ini). Saat ini pemerintah mendorong untuk mengkremasi saja orang-orang yang meninggal ketimbang dikubur.
Tapi diluar itu semua, Hong Kong termasuk kota yang aman. Jadi kalau ada waktu coba jalan-jalan ke HK. Dijamin pingin kesana lagi.. :-P