Wednesday, May 20, 2009

Putus Hubungan

Akhirnya berakhir juga nasib tabungan Lippo saya. Saya sisa-in 60.000 di ATM, soalnya saldo mengendap harus 50.000. dalam 3 bulan harusnya tabungan saya otomatis sudah ditutup karena saldonya sudah nol. Seingat saya, dulu saya buka tabungan Lippo sekitar tahun 2002, saat itu dianterin Ance naik motor ke Lippo Bank Cempaka Putih (dulu masih miskin…naik motor..hehe)

Dulu tujuan buka karena kartu ATM Lippo ada logo “VISA” nya, yang berarti juga bisa dipakai di mesin-mesin gesek yang menerima Visa, soalnya dulu belum punya kartu kredit… jadi sekedar gaya-gaya saja. Pada tahap selanjutnya, setelah punya kartu kredit, tabungan ini dipakai buat bayar listrik dan telpon saja, jadi nyokap titip duit disitu… soalnya almarhum ibu saya paling anti sama yang namanya ATM..hehe…

Karena sifatnya yang cuma numpang lewat itu, maka saldo tabungan Lippo saya paling bersisa 100 ribuan saja. Nah belakangan, waktu mau ganti buku tabungan, saya baru sadar kalau tiap bulan ada potongan 22.500, waktu ditanya ke CS – nya dijawab itu biaya bulanan kalau saldo dibawah 250.000…

Waduh… saya kok baru sadar kalau selama ini kita mengeluarkan uang yg tidak sedikit untuk bayar administrasi bank yah… apalagi buka beberapa rekening di bank berbeda, sudah berapa uang yang saya “buang”percuma?

Kalau melihat asas keadilan… dimana-mana yang kuat membantu yang lemah. Dengan bunga bank yang sangat kecil, perlu saldo diatas 10 juta biar “impas”.. artinya bunga kita sebanding dengan biaya bulanannya.
Disini, dengan saldo semakin sedikit, biaya bulanan justru lebih banyak. Seperti Lippo tadi, “normal”nya kena 15.000, karena dibawah 250.000 dikenakan 22.500. Tragis…
Apa gunanya pemerintah keluarin himbauan “ayo ke bank” di spanduk-spanduk?
Harusnya ditulis “ jangan ke bank kalau saldo rata-rata anda dibawah 10 juta… tekor bow”

Dari sisi Bank mereka bilang : Bunga kecil karena dana nasabah itu bebas ditarik kapan saja, sehingga mereka “tidak leluasa” untuk memutar uang itu… beda dengan deposito yang wajib mengendap, sehingga bunganya bisa lebih tinggi sedikit.
Kalau masalah iuran bulanan mereka bilang : kami berhak dong meminta biaya administrasi… kan kami mengelola uang andaaaa….

Prettt!!!! Dasar pemorot! Ada aja alasannya!
Kartu kredit lebih gila-gilaan lagi biayanya…
1. Iuran tahunan (sebagian bank menggantinya dengan iuran bulanan)
2. Biaya tarik tunai
3. Biaya melebihi limit
4. Biaya terlambat bayar
5. Biaya tolakan giro
6. Biaya bayar (kalau lewat ATM 5.000 s/d 7.000, langsung ke teller bisa kena 15.000 lebih)
7. Biaya salinan tagihan (kalau minta di print ulang)
8. Biaya Bunga (kalau bayar nggak full antara 3,25% s/d 3,75% per-bulan)

Itu trik-nya bank lagi…. Kalau bunga 3% itu, artinya bunga setahun…. Artinya sebulan bunganya cuma 0,25% perbulan. Tapi kalau kartu kredit, Bunga 3,50% itu bunga sebulan, berarti setahun bunganya 39%. Fantastis….

Makanya saya paling nggak mau kalau disuruh bayar iuran tahunan kartu kredit… sekali-sekali bank harus ikutin RULE saya, jangan cuma kita yang disuruh ikutin rule mereka dengan syarat dan perjanjian yang mereka buat sendiri.
Kalau ada yang nggak mau kasih gratis iuran tahunan ya tutup saja…
Alhasil, cuma UOB yang ngga mau kasih free, akhirnya saya tutup, empat lainnya bener-bener free…

Kalau seorang teman yang baik hati (hehe) bilang wajar dong bayar iuran tahunan, nanti pegawainya makan dari mana??
Waaaaa…. Menurut saya nggak gitu juga kali, Bank itu banyak pemasukannya kok… kalau pegang pembukuan perusahaan, anda pasti tau ada biaya kliring, biaya RTGS dan biaya provisi kiriman transfer luar negeri, biayanya mulai 10.000, 30.000, sampai ratusan ribu, karena provisi itu fee-nya berapa persennya dari dana yang dikirim. Nah…dalam sehari ada berapa ribu perusahaan yang saling transaksi, berapa tuh pendapatan mereka? Trus belum lagi dana pihak ketiga diputar, dibuat kredit rumah yang bunganya 13%, plus diputar di pasar modal… waaaa…. Sebenarnya keuntungan mereka tuh berlebih lebih lho…

Nah, sewaktu Danamon buka tabungan bebas, saya bilang boleh juga nih. Iklannya kan gak ada biaya apapun. Akhirnya setelah coba buka ternyata bener, biayanya cuma pajak bunga doang, yang artinya duit saya masih bertambah walau sedikit… Harusnya semua bank melakukan hal yang sama ya…

Wednesday, May 13, 2009

De Javu

Kemarin setelah sekian lama nggak ngumpul-ngumpul sama teman lama, akhirnya ada moment juga untuk ngundang teman-teman ngumpul dalam acara ulang tahun. Ada misi juga sih menjodoh-jodohkan kalau memang ada chemistry, atau menempelkan yang sudah nempel seperti Ant… siapa tau setelah ini hubungannya bisa ditingkatkan, Ibarat bangunan, hubungannya dengan “Ri” selama ini seperti pemegang sertifikat Hak Guna Bangunan / HGB saja, belum Sertifikat Hak Milik..hahaha..
Hak Guna Bangunan itu berarti posisinya lemah, sewaktu-waktu bisa di gusur kalau bangunannya kena proyek pemerintah. Kalau sudah hak milik, berarti posisi tawarnya sudah tinggi… paling nggak dapat ganti rugi yang besar 

Sebelumnya juga de javu sama teman lama juga, Aga dan vick. Aga sudah lebih fresh dan lebih lepas.. beda dengan dia setahun dua tahun yang lalu, sewaktu masih jadi queen of drama queen sama mantannya. Kalau dulu aura “victime” nya keliatan banget sebagai korban cinta, sekarang kok kebalik, malah jadi si pelaku …haha

But good for him lah, kalau sudah bisa menemukan jalannya. Kenangan lama memang nggak bagus disimpan lama-lama, Apalagi kenangan buruk. Karena kalau kita selalu mencari jawaban “kenapa” maka nggak akan selesai-selesai. Lebih baik kubur dalam-dalam dan memulai something new… wink-wink ;-)

Friday, May 8, 2009

More Older, More Wrinkle

Today I’m xx, udah makin tua, udah mulai kerut-kerut  tapi tetap chubby.. hehe…
Terima kasih buat ucapan-ucapannya, terima kasih juga buat kado-kadonya 

Usia 30-an itu ibarat kata hidup segan mati tak mau… dibilang muda enggak, dibilang tua juga enggak. Usia mapan katanya… padahal saya belum mapan-mapan juga.
Pernah baca, kenapa orang diusia 30-an lebih suka selingkuh dan lebih suka ber eksperimen? Katanya sih, orang 30-an itu sudah mapan secara financial, jadi suka mencoba sesuatu yang baru. Kalau usia 20-an itu ibarat fresh graduated, usia 30-an itu udah advance..hehe..

Makin tambah usia juga harus ada peningkatan…
Termasuk udah mulai melek brand ya, kalau dulu asal beli baju, sekarang udah liat-liat merek… dulu GT man, sekarang Renoma (soalnya Calvin Klein kemahalan hehe..) dulu belanja di matahari, sekarang di sogo. Dulu jalan kaki, sekarang naik taxi.

Tapi nggak hanya melek brand, dong… tapi juga harus melek wawasan. Jangan melulu jadi korban, sesekali jadi pelaku…. Korban asmara, korban cinta, korban perasaan dan korban mode. Beli barang-barang bermerk boleh aja, asal sesuai dengan penghasilan… Kalau sudah punya uang lebih, boleh perbaiki penampilan.. apalagi buat jomblowan-jomblowati, terbukti penampilan bisa menutupi kekurangan, jadi siapa tau bisa mendapatkan jodoh….hehe

Duh kok jadi ngelantur kemana-mana
Sekali lagi makasih banyak ya buat teman-teman semua… God Bless U All..

Thursday, May 7, 2009

Being Simple?

Kemarin nganterin An liat-liat pameran rumah di JICC. Ternyata ruang pameran di JICC hanya memakai secuil tempat saja dari gedung yang luasnya beribu meter persegi itu, pesertanya juga sedikit, dan rumah yang ditawarkan jauh dipelosok ujung dunia.. antara lain Bogor, Tangerang, Bekasi dan beberapa di Jakarta Barat. Lainnya ada apartemen mewah dan apartemen bersubsidi.

Kalau dilihat sekarang type-type rumah yang ditawarkan semakin kecil saja… maketnya lumayan menjanjikan, tapi kalau sudah lihat unit contohnya , baru deh dahi berkerut-kerut…
Sama seperti dulu pertama kali melihat-lihat salah satu apartemen bersubsidi di daerah Jakarta Timur, maketnya look so nice, brosurnya apalagi… dicetak pakai kertas tebal mengkilat dan berkesan eksklusif. Nggak pikir panjang langsung kasih DP via kartu kredit!

Belakangan, setelah melihat unit contohnya siang-siang (kemarin waktu datang sudah malam), wow… bener-bener kecil ya… kalau kamu kasih tempat tidur di kamarnya, maka dari kepala sampai kaki pas nempel di temboknya…haha..
Tapi Rusunami jauh lebih manusiawi dibanding rumah susun yang benar-benar seperti kandang burung.

TIPS : kalau lihat brosur, lihat huruf kecil-kecil di sudut bawah yang tulisannya : ilustrasi diatas tidak mengikuti skala yang sebenarnya

But it’s OK, memang kemampuannya beli yang kecil-kecil, kenapa harus maksain beli yang besar-besar? Sudah untung dapat tempat bernaung di Jakarta, betul nggak? Kalau dilihat sekarang rumah-rumah baru lebih berkesan simple dan minimalis.

Kalau ada simple, pasti ada complicated…. Ada nggak ya rumah yang complicated? Mungkin rumah-rumah di Pondok Indah yang bentuk luarnya pakai pilar-pilar seperti colesium, kuil-kuil kuno di Yunani itu bisa dibilang rumah yang complicated, ukiran-ukirannya udah seperti ukiran candi… apakah penghuninya juga orang-orang yang complicated ya? Hehehehehe….

Kalau urusan hati… mungkin saya itu masuk yang setengah complicated ya, soalnya saya belum bisa jadi orang yang simple.

Simple itu kesannya gampangin, nggak mau komitmen, disposibel, cuma sekali pakai, mirip sendok plastik.
Kalau complicated itu terlalu berbelit-belit, tarik ulur dan rumit, mirip motif kain batik Solo.

Nah… kalau kamu sendiri, kira-kira masuk kategori yang mana? ;-)