Kalau ditanya, gaji saya habis buat apa?
Jawabnya pasti pertama kali bayar kost dan makan.
Tapi kalau ditanya benda konsumtif apa yang paling sering kamu beli dengan gajimu?
Nomor 1, Pakaian
Well, siapa yang nggak butuh pakaian, selain makan, pakaian juga kebutuhan primer, right? (kecuali kamu kaum nudis). Tapi tanpa sadar, lama-lama lemari pakaian jadi penuh dan semrawut. Apalagi kalau pakaian yang ingin dipakai ada dibagian bawah, sekali tarik berantakanlah semuanya.
Tapi keinginan membeli pakaian tetap jalan, walau yang dibeli barang diskon. Pakaian bisa memperbaiki penampilan, betul nggak? Biar yang liatnya juga nggak bosen.
Tapi jujur deh, kamu juga pasti suka kalau lihat orang, walaupun wajah dan tubuh pas-pasan, bisa ketolong kalau tepat memilih baju. Walau saya bukan “mister matching” ~ karena kadang-kadang suka salah kostum juga ~ apalagi dikaruniai perut yang gendut ~ tapi sebisa mungkin memadu-madankan pakaian supaya enak diliat. Mungkin bagi sebagian orang merasa memakai baju adalah hal yang privasi, terserah gue, asal nyaman. Tapi jangan lupa kamu juga diliatin orang, jangan sampai orang jatuh kasian liat kamu, gara-gara salah pakai baju! :-P
Nomor 2, Buku
Walau nggak maniak-maniak banget, tapi saya suka koleksi buku. Apalagi kalau ada diskon 30% dari salah satu toko buku terbesar di Indonesia, bisa kalap. Ada beberapa dus buku dirumah, nunggu lemari pajang yang bagus buat disusun seperti perpustakaan mini. Setiap membeli buku baru, pasti saya cap nama saya sebagai pemilik, sebuah cap nama yang ditulis dalam huruf Cina (iseng-iseng buat waktu jalan-jalan di pecinaan di Singapura) dan stempel tanggal pembelian buku, biar ada “kenang-kenangan”nya
Waktu main ke rumah Cips ~ beberapa bulan yang lalu ~ liat koleksi buku-buku mahalnya, jadi iri. Bukunya buku ilustrasi terbitan luar yang harganya bisa setengah juta lebih satu bukunya. Tiap buku diberi sampul plastik, kelihatan rapi. Sampai hati-hati banget bacanya, takut rusak. Dulu saya rajin sampulin buku, tapi sekarang jadi males, karena terlalu banyak yang belum diberi sampul. Kemarin sudah beli sampul plastik, siap dikerjakan kembali.
Urusan buku ini juga membuat saya menjadi lebay. Kadang sedikit noda di buku membuat saya marah dan frustrasi. Kadang ada buku yang tidak dicetak ulang, karena nggak begitu laku, lebih membuat saya frustrasi. Mau beli dimana lagi?
Padahal kalau dipikir-pikir, buku itu lama-lama juga akan rusak, warnanya akan pudar, halaman-halamannya akan menguning secara alami, karena cuaca dan karena rayap. Kalau kelembapannya tinggi, akan muncul bercak-bercak kecoklatan di kertasnya, seperti juga manusia yang akan keriput sejalan dengan usia, dan kita nggak bisa menghentikannya karena itu sudah kodrat alam.
Monday, December 13, 2010
Friday, November 26, 2010
Xiang Gang
Ngga ada yang nyangka bisa kembali ke Xiang Gang (Ejaan Mandarin untuk Hong Kong), karena dulu udah pernah kesini, jadi memang nggak diniatin untuk kembali kesini lagi (lebih baik menjelajah Negara lain yang belum pernah dimasuki). Tapi, karena gratis dari kantor, ya terima saja. Dapat uang saku, dan yang penting ~ karena boss ikut ~ minimal dapet hotel bintang 4 :-P
Naik Cathay Pacific, dengan pramugara cong berjari lentik ~ jadi kepingin nonjok ~ akhirnya tiba juga di bandara Chek Lap Kok, setelah terbang 4 jam lebih, Bandaranya bagus, luas dan bersih seperti baru, walau sudah dioperasikan lebih dari 10 tahun yang lalu.
Dari HK lanjut ke Shenzen, China, sampai disini mulai kelihatan perbedaan antara Hong Kong dan China. Kalau Hong Kong bersih teratur, Shenzen itu walau dibuat bersih dan terkesan kota metropolis, tapi kok… tetep China gitu loh, sensasinya beda. Masih ada pengemis yang ngikutin kamu, masih ada penipu dijalan, pokoknya beda banget.
Dari Shenzen lanjut ke Macau, Bekas koloni Portugis ini resmi masuk China sejak tahun 1999, tapi seperti Hong Kong, mendapat otonomi khusus, dimana masuk kesana masih harus lewat imigrasi mereka juga.
Macau sekarang luasnya 29,5km2, masih ada reklamasi 3 km2 lagi yang selesai 5 tahun mendatang. Bandingkan dengan luas aslinya yang hanya 15km2. Berkat bisnis judi, Macau bisa berkembang sehebat ini. Dulu siapa yang menyangka wilayah mini seperti ini punya bandara internasional sendiri? Sekarang mereka sudah punya. Pulau Taipa dan Coloane direklamasi jadi satu, dibuat kasino The Venetian, dimana didalamnya ada mall dengan tiruan nuansa Venesia, lengkap dengan sungai dan gondolanya.
Nggak banyak objek wisata di Macau, terutama mereka ada dipulau Macau disini ada kuil A-Ma, dari sini cikal bakal berdirinya Macau, Karena Kata Macau berasal dari kuil ini. Lanjut ke Reruntuhan Gereja Saint Paul, yang Cuma tinggal dinding depannya saja. Gereja ini dibangun Portugis tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul's, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Di tahun 1835, kebakaran melanda universitas dan gereja tersebut, meninggalkan hanya halaman depan yang dramatik itu dengan empat baris tiang
Disekitar gereja tampaknya menjadi pusat kota dimasa lampau, benar-benar serasa berada di eropa, dengan gang-gang sempit dan jalanan berbatu. Kesannya romantissss… :-P
Ujung-ujungnya balik ke Hong Kong, Walau kota sibuk, HK terlihat teratur dan tidak semerawut. Public Transportnya bagus, Kereta bawah tanahnya bersih dan cepat, walau dibanding Singapura, kereta bawah tanah di HK ini kurang informatif. Kalau nggak bener-bener nyimak pemberitahuan stasiun pemberhentiannya kita bisa kelewatan. Di Singapura ada pemberitahuan berulang-ulang untuk stasiun pemberhentian selanjutnya. Disini cuma sekali, masing-masing dalam bahasa Kanton, Mandarin dan Inggris.
Malam sebelum kembali ke tanah air, nyempetin jalan-jalan sendiri naik MTR, asyik, nggak ribet, serasa jadi warga Hong Kong beneran :-P
Tuesday, November 9, 2010
Shin-Chia-Po
Jadi juga ke Singapore setelah 2 tahun nggak kesana. Terakhir kesana tahun 2007, masih ribet karena harus lewat batam center naik ferry buat menekan fiskal yang gila-gilaan. Kebayang gak sih harus berpanas-panas, terguncang-guncang ditengah laut, belum lagi menghadapi poter-poter di pelabuhan yang bisa buat kita geleng-geleng kepala liat kelakuannya, lebih tepat disebut profesi pemeras ketimbang profesi poter.
Sekarang mendarat di Changi, enak, adem, wangi.. hehe, walau sebelnya mereka terlalu lebay dalam masalah keamanan. Kebayang gak sih gara2 ikat pinggang besi seluruh tubuhku digerayangi…huhuhu..
Konyolnya waktu pulang, udah PD aja itu sabuk nggak dipakai, eh tetap aja sensor metalnya bunyi…. Kali ini bunyinya berasal dari kancing baju yang terbuat dari logam…huhu nasib, nasib… digerayangi lagi.
But anyway, jalan-jalan di Shin-Chia-Po memang asyik, kemana2 gampang karena naik MRT, cukup bekal peta juga udah bisa kelayapan sendiri. Banyak perubahan setelah dua tahun nggak kesini, ada Universal Studio di Pulau Sentosa, ada juga Sky Park Marina Bay ~ gedung unik dengan bentuk tiga pilar yang diatasnya ada kolam renang (belum sempat naik, waktunya nggak ada), jadi cukup lihat-lihat dari jauh dari tempat patung singa Merlion berdiri. Patung icon Singapura ini menurut literatur, dirancang tahun 1964 dan diresmikan tahun 1972. Kayaknya belum sempurna jalan-jalan di Singapura kalau belum foto didepan patung ikan kepala singa ini.
Soal makanan, untungnya masih ada restoran melayu dengan hidangan nasi lemak yang benar-benar enak. Walau 80% penduduk Singapura itu Chinese, tapi mereka bisa bahasa Inggris, paling nggak bahasa Inggris pasar. Jadi walau bahasa Inggris saya belum cas-cis-cus,tapi masih oke lah buat berkomunikasi. Bahkan penjual es krim walls keliling juga bisa bahasa inggris loh.. haha..
Lain waktu kalau bisa kesini lagi, pingin banget liat museum filateli Singapura. Dulu cuma sempat ke Museum Asian Civilisation, Images of Singapore Museum di Sentosa, sama Museum Chinese Heritage di China Town… Jadi, semoga nanti bisa jalan-jalan lagi kesini, jika ada rejeki, aminnn…
Subscribe to:
Comments (Atom)