Ngga ada yang nyangka bisa kembali ke Xiang Gang (Ejaan Mandarin untuk Hong Kong), karena dulu udah pernah kesini, jadi memang nggak diniatin untuk kembali kesini lagi (lebih baik menjelajah Negara lain yang belum pernah dimasuki). Tapi, karena gratis dari kantor, ya terima saja. Dapat uang saku, dan yang penting ~ karena boss ikut ~ minimal dapet hotel bintang 4 :-P
Naik Cathay Pacific, dengan pramugara cong berjari lentik ~ jadi kepingin nonjok ~ akhirnya tiba juga di bandara Chek Lap Kok, setelah terbang 4 jam lebih, Bandaranya bagus, luas dan bersih seperti baru, walau sudah dioperasikan lebih dari 10 tahun yang lalu.
Dari HK lanjut ke Shenzen, China, sampai disini mulai kelihatan perbedaan antara Hong Kong dan China. Kalau Hong Kong bersih teratur, Shenzen itu walau dibuat bersih dan terkesan kota metropolis, tapi kok… tetep China gitu loh, sensasinya beda. Masih ada pengemis yang ngikutin kamu, masih ada penipu dijalan, pokoknya beda banget.
Dari Shenzen lanjut ke Macau, Bekas koloni Portugis ini resmi masuk China sejak tahun 1999, tapi seperti Hong Kong, mendapat otonomi khusus, dimana masuk kesana masih harus lewat imigrasi mereka juga.
Macau sekarang luasnya 29,5km2, masih ada reklamasi 3 km2 lagi yang selesai 5 tahun mendatang. Bandingkan dengan luas aslinya yang hanya 15km2. Berkat bisnis judi, Macau bisa berkembang sehebat ini. Dulu siapa yang menyangka wilayah mini seperti ini punya bandara internasional sendiri? Sekarang mereka sudah punya. Pulau Taipa dan Coloane direklamasi jadi satu, dibuat kasino The Venetian, dimana didalamnya ada mall dengan tiruan nuansa Venesia, lengkap dengan sungai dan gondolanya.
Nggak banyak objek wisata di Macau, terutama mereka ada dipulau Macau disini ada kuil A-Ma, dari sini cikal bakal berdirinya Macau, Karena Kata Macau berasal dari kuil ini. Lanjut ke Reruntuhan Gereja Saint Paul, yang Cuma tinggal dinding depannya saja. Gereja ini dibangun Portugis tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul's, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Di tahun 1835, kebakaran melanda universitas dan gereja tersebut, meninggalkan hanya halaman depan yang dramatik itu dengan empat baris tiang
Disekitar gereja tampaknya menjadi pusat kota dimasa lampau, benar-benar serasa berada di eropa, dengan gang-gang sempit dan jalanan berbatu. Kesannya romantissss… :-P
Ujung-ujungnya balik ke Hong Kong, Walau kota sibuk, HK terlihat teratur dan tidak semerawut. Public Transportnya bagus, Kereta bawah tanahnya bersih dan cepat, walau dibanding Singapura, kereta bawah tanah di HK ini kurang informatif. Kalau nggak bener-bener nyimak pemberitahuan stasiun pemberhentiannya kita bisa kelewatan. Di Singapura ada pemberitahuan berulang-ulang untuk stasiun pemberhentian selanjutnya. Disini cuma sekali, masing-masing dalam bahasa Kanton, Mandarin dan Inggris.
Malam sebelum kembali ke tanah air, nyempetin jalan-jalan sendiri naik MTR, asyik, nggak ribet, serasa jadi warga Hong Kong beneran :-P