Monday, February 28, 2011

Bakar Kalori

Sudah 3 kali gue pulang dengan berjalan kaki dari kantor ke kost, secara sebenarnya gak jauh-jauh amat dari kost, kira-kira tiga kilo (mungkin) atau malah hanya 2 kilo. Yang jelas kalau jalan dari bioskop megaria makan waktu sekitar 40 menit. kalau lewat jalan Talang, belakang kantor bisa 30 atau 35 menit, sesuai dengan imbauan latihan treadmil yang disarankan minimal 30 menit.

Beda dengan tetangga kost yang mampu buat ikut klub fitnes ternama di ibu kota ini, gue kok sayang mengeluarkan uang sebanyak itu hanya buat fitnes ditempat yang jauh dari kantor. Dulu pernah ikut sih, tapi cuma di hotel atau klub fitness yang kecil-kecil yang alatnya nggak lengkap juga. Murah meriah...tapi ya itu... lama-lama jadi males dan akhirnya nggak dateng sama sekali.

Semuanya berawal ketika tiba-tiba merasa celana yang dipakai sudah nggak muat! ukuran 31 udah kekecilan, padahal beberapa bulan yang lalu celana ini masih bisa dikaitkan, dan sekarang tidak. Mengenai ukuran celana, dulu gue pakai ukuran 32, kemudian turun jadi 31, dan sekarang sepertinya akan kembali ke ukuran 32. Wew... jadi ingat jaman dulu kala, waktu itu awal mulai kerja awal tahun 2000-an, masih muat dengan celana ukuran 29.

Karena itu seminggu yang lalu gue merasa perlu melakukan tindakan untuk membakar lemak-lemak diperut ini. Untuk ikutan fitnes udah males, selain dana cekak juga, akhirnya diusahakan berjalan kaki aja dari kantor ke kost-an. Dipilih waktu pulang kerja aja, mengingat kalau berangkat kerja pasti kesiangan, dan sayang juga kalau keringetan bajunya bau keringat, haha.. Selain itu bisa sambil liat-liat juga pemandangan di jalanan beda dengan treadmil yang monoton (pembelaan diri orang kere yang nggak mampu ikut fitnes)

So, doain aja dalam waktu dekat kembali ke berat semula (70kg) dari saat ini 78kg... syukur-syukur bisa mendapatkan berat ideal seperti saran dokter waktu chek-up kesehatan bulan Desember tahun lalu yaitu 67kg. Ayo, Semangat!!!

Wednesday, February 9, 2011

Karena kita tidak perlu sempurna

Kalau ditanya, kamu mencari pasangan lihat apanya sih? apa karena rupa wajah, fisik, kecerdasan atau mungkin karena dia orang berada? atau bahkan karena alasan dari pada nggak ada yang mau sama gue?

Banyak faktor dan pertimbangan kenapa kita "mau" sama dia atau kenapa dia mau sama kita? Kalau mau jujur pasti ada salah satu faktor diatas kenapa kita bisa mau dengan pasangan kita. Kalau saya pikir2 alasan fisik sih nomer satu. Love at the fist sight - cinta pandangan pertama - pasti karena kita lihat rupa atau fisiknya. Kita nggak tau dia punya tabungan berapa, atau bawa kendaraan apa, yang penting suka pada pandangan pertama, yang lain nyusul.

Kalau saya pikir2, sebenarnya secara fisikpun orang itu nggak ada yang sempurna. Cakep tapi pendek.. cakep tapi gemuk.. cakep tapi kurus, cakep tapi pesek... nggak ada ujungnya. Jadi saya nggak mengerti kenapa ada orang yang begitu saklek (ngotot) "pingin body yang seperti itu" sementara secara fisik dia jauh dari kata sempurna, dan nggak kaya juga. Jadi apa modalmu? cinta??

Jadi ingat waktu naik bus, dikursi belakang saya duduk seorang wanita yang mungkin usianya 25-an, bersama seorang bapak2 duduk mesra, mungkin wanita itu pasangan selingkuhan si bapak yang usianya mungkin sudah akhir 40-an. Tiba2 ada sms masuk dan si wanita menggerutu sama si pria... "ini sms dari cowok itu"... sepertinya cowok itu naksir si cewek ini, tapi si cewek gak tertarik. Yang lebih mengagetkan, cewek ini sampai bilang : "udah jelek, miskin, pake ngejar2 gue..mending ganteng"... trus disambung "hari gini cuman modal cinta, makan tuh cinta"...

Jadi saya jadi jatuh kasihan sama beberapa teman yang berkutat dengan masalah fisik ini, membuat mereka nggak dapat2 jodoh sampai sekarang. Giliran dapat yang cakep, ternyata cuma diporotin, giliran dapat yang biasa2 aja, ditolak mentah2... alasannya jelek, terlalu hitam, terlalu ini, terlalu itu, bukan suku ini, bukan suku itu.. membuat saya jadi bertanya2, bukannya jodoh itu ditangan Tuhan? jadi kenapa kita yang memilah2 dan membuat semua jadi rumit sendiri? padahal usia makin bertambah dan semakin tua, semakin susah kamu mencari sosok yang ideal. Siapa mau sama sosok yang keriput dan beruban? Hidup ini cuma sekali, dan rasanya sia2 hidup ini tanpa pernah kamu merasakan cinta dan perhatian dari seseorang yang spesial.

So....masih mau ngomongin fisik?? No body's perfect, honey...because you're not perfect either.

Sunday, February 6, 2011

Coocie - Coocie

Dari dulu karena keadaan, saya suka cuci sendiri.. setelah kost setahun setengah ini, saya tetap mencuci sendiri. Bukan karena suka mencuci, tapi semata2 harus nambah 150.000 lagi kalau mau ikutan nyuci di kost. termasuk mahal sih kalau saya bandingkan dengan ongkos cuci kost2 lainnya.. jadi, untuk menghemat pengeluaran saya putuskan untuk mencuci sendiri.

Tadinya saya cuci tiap sabtu, bukannya jorok suka numpuk baju kotor seminggu, tapi memang nggak ada waktu selain weekend untuk mencuci. Selain itu hemat air dan detergent juga khan? (mencari pembenaran.com), tapi sekarang nyuci jumat malam, pulang kerja. Dibela-belain buat nyuci walau udah larut malam, pernah sampai jam 1 pagi selesai. Dulu nyuci di atas, waktu kost masih sepi, dipagi hari, setelah nyuci jumat malam, tempat eksekusi pindah ke kamar mandi dalam kamar. kalau dulu cuma bisa bengong nunggu rendaman, sekarang bisa sambil nonton TV atau sambil chatting :)

Waktu menjemur diatas, kadang saya liat jemuran yang jatuh dilantai ketiup angin. Kalau lagi musim hujan lebih sadis lagi, udah jatuh, kebasahan lagi... dan saya berbaik hati untuk mengangkat jemuran2 itu dan menggantungnya lagi ditali jemuran, dan dijepit biar ga terbang-terbang lagi.

Kalau melihat perlakuan tukang cuci itu terhadap pakaian2 itu, rasanya pilihan saya untuk mencuci sendiri udah tepat. Pertama, mereka mencuci dengan mesin, jadi kalau ada kotoran yang bandel, dijamin nggak ilang. Kedua, ada laporan pakaian hilang-kayaknya ketiup angin, atau ketukar dan hilang gak jelas. Ketiga, yang paling sadis, pakaian2 kita dikasih nomor sesuai nomor kamar, ditulis spidol di bagian merk pakaiannya. Kenapa saya bilang paling sadis? karena berasa jadi penghuni penjara, dengan nomor sel. Lagian kalau bajunya lumayan mahal, sayang banget kalau dinomorin begitu, merusak pemandangan, hehe..

Anyway, karena mencuci sendiri saya juga bisa mengenal penghuni-penghuni lain dari pakaiannya. Dari pakaian2 yang tergantung itu saya bisa lebih mengenal mereka, walaupun ngga pernah bertegur sapa. Saya bisa "mengenal" sifat mereka, dari cara mereka memilih baju, nggak percaya? kalau kamu seperti saya, lama2 kamu juga bisa :)

Dilema

Hari ini saya ke Bekasi untuk keperluan pembayaran tukang pekerjaan renovasi rumah di Bekasi. Rumah peninggalan nyokap ini keliatan serba nanggung, setengah jadi, terbengkalai karena kekurangan dana (atau lebih tepat dibilang karena terlalu percaya dengan saudara? – sehingga semua dana yang ada dipercayakan padanya?)

Saya jadi berfikir apakah alasan nekat merenovasi rumah ini hanya gara2 alasan emosional semata, dimana saya memerlukan tempat untuk berteduh, walaupun letaknya jauh diujung dunia.

Belakangan saya mulai berfikir, apakah sanggup tinggal didaerah yang sangat jauh dari tempat saya bekerja. Banyak masukan yang mendukung, tapi banyak masukan juga yang tidak mendukung.

Masukan yang mendukung, terutama dari keluarga dan teman2 yang tinggal di Bekasi mengatakan kalau akses gampang naik KRL, tapi saya tidak suka dengan moda angkutan ini, karena berbagai alasan, mulai dari jam yang suka melar, gangguan kalau hujan lebat, belum lagi copet, wew... kapan kita punya MRT seperti di Singapura atau Hong Kong? Selain itu ada alasan sentimentil juga sih, ingat dulu waktu awal2 nyokap beli rumah ini, yang ditawarin cicilan ringan dari kantor, saya yang dititipi uang tiap bulan ke kantor pos untuk bayar cicilannya... ingat dulu naik angkutan 45 (Pulo Gadung – Wisma Asri) bareng nyokap untuk bersih2. Dulu masih ingat banget masih ada sawah dengan suara jangkrik.... sekarang, jangan ditanya, jalanan makin terasa sempit seiring dengan banyaknya hunian perumahan2 baru disekitarnya.

Sementra masukan yang menentang, bilang sebaiknya dijual dan cari rumah yang lebih dekat dengan pusat kota.... masukan yang masuk akal, saya nggak mau tua di jalan, tapi masalahnya, rumah diujung dunia itu bisa laku berapa?

Punya pikiran juga sih menjadikan rumah itu sebagai “villa” yang disinggahi kala weekend atau libur panjang, cocok karena lingkungannya lumayan tenang, seperti kisah teman2 yang memiliki nasib yang sama, punya rumah diujung dunia... kost di Jakarta, weekend balik ke rumah mereka diujung dunia. Tapi dipikir2, selama ini juga saya lebih suka menghabiskan weekend di kamar kost aja atau jalan2 ke mall ketimbang ke Bekasi... so, what should i have to do?? Any sugestion?