Friday, October 11, 2013

Lost in Lisbon

Tidak ada tanda-tanda yang jelas kalau kita pindah negara di Eropa, itu karena semenjak bergabungnya mereka menjadi uni eropa dengan status negara-negara Schengen, maka tidak ada lagi border dengan gerbang imigrasinya, jadi kadang nggak sadar kalau sudah pindah negara. Seperti perbatasan Spanyol – Portugal ini, cuma padang rumput aja gitu. Paling cuma ada tanda sign board “welcome to Portugal”. Anyway setelah melalui padang rumput dengan lading bit dan sapi-sapinya sampai juga di wilayah paling ujung barat semenanjung Iberia ini. Portugal termasuk negara tertua, tapi juga termasuk negara termiskin di Eropa. Dimasa lalu mereka punya koloni dimana-mana, tapi sekarang ya tragis gitu ya. Kolni terakhir mereka, Macau yang cuma disewa 99 tahun dari China, sudah dikembalikan sama yang punya di tahun 1999. Pun koloni mereka, Goa di India sudah direbut sejak lama oleh India. Brazil sudah lepas sejak dulu banget. Jadi tinggallah negara ini seupil plus dengan kepulauan Medeira di Atlantik.

BTW, jam di Portugal ini sama dengan GMT, alias maju satu jam dari Spanyol. Kota Lisbon adalah kota yang modern, gedungnya banyakan yang baru ketimbang bangunan lama. Ini terjadi karena pada tahun 1755 pernah terjadi gempa di Lisbon yang disertai Tsunami, menghancurkan kota ini. Saat itu gempanya diperkirakan mencapai 9 skala richter. Walhasil kota Lisbon yang sekarang adalah kota yang dibangun kembali diatas puing-puing kota lama. Ciri khas kota ini adalah Trem berwarna kuning dengan bentuk mirip mobil VW. Walau sekarang sudah diganti trem model baru, tapi trem lama ini tetap ada untuk tujuan wisata.




Tujuan wisata yang wajib kunjung adalah Jeronimos Monastery (biara Geronimo). Dibangun pada tahun 1459, bangunan ini awalnya merupakan rumah bagi ordo Hieronymte. Kemudian pada masa pemerintahan raja Mauel I, dimulailah pembangunan biara pada tahun 1501. Project ini selesai 100 tahun kemudian. Didalam biara ini terdapat makam Vasco da Gama. Yang suka sejarah, pasti tahu dong ya siapa beliau, sang explorer. Daerah-daerah pelayaran da Gama kemudian menjadi wilayah koloni Portugis, misalnya Brazil, Mozambique dan Goa, India.

Yang pantas dikunjungi juga yaitu Katedral Lisbon ( Santa Maria Maioe de Lisboa). Katedral ini awalnya dibangun tahun 1147, dan kemudian di modifikasi sana-sini mengikuti selera raja yang berkuasa, Setelah bencana gempa bumi, Katedral yang semula bergaya Roman diganti menjadi gaya Gothic pada masa Raja Alfonso IV.

Beberapa objek wisata lainnya di sini adalah jembatan 25 de Abril, yang mirip-mirip-mirip banget sama jembatan Golden Gate di San Francisco. Kenapa bisa mirip? Ya karena yang buat adalah perusahaan yang sama. Dibangun sejak 1962, jembatan ini selesai tahun 1966. Ada juga Santa Justa Lift, dulu bangunan tertinggi buat memandang kesekeliling kota Lisbon yang berbukit-bukit. Dan tak ketinggalan Belem Tower, yang dibangun di pinggir laut, yang masa lalu berfungsi sebagai pengawas kapal-kapal yang lewat dan sekarang bangunan ini menjadi Museum.

Kalau mau belanja, bisa turun di jalan “avenue da Liberdade” dijalan yang panjang lurus ini banyak toko-toko banded yang tersebar dikanan-kiri. Diujungnya ada alun-alun / Plaza Restauradores. Ada Hardrock cafĂ© disini kalau yang suka koleksi kaosnya.. hehe.. Kesanaan dikit lagi ada Plaza Dom Pedro IV dengan patung dia ditengah-tengah. Ada dua air mancur cantik disini, tapi jangan terlalu dekat kalau berfoto, sebab angin disini kenceng banget sampai-sampai air mancurnya ikut ketiup angin.. bisa-bisa kebasahan nanti, haha..

Tidak banyak tempat yang dapat dikunjungi dalam waktu dua hari. Hari kedua saya meuju Fatima, sebuah kota rohani di utara Lisbon, kira-kira 120km. Walau nggak seterkenal Loudres di Perancis, tapi Bunda Maria sempat menampakkan diri disini didepan tiga anak gembala domba. Tempat ini sekarang sudah diakui Vatikan, jadilah kota Fatima menjadi salah satu kota wisata rohani Katholik. Yang unik, kalau mau berdoa dengan tradisi lama, harus jalan berlutut mengikuti garis putih yang dimaksudkan sebagai jalan kayu salib> lumayan jauh dari ujung keujung ada mungkin 300 meter.



Berawal dari 3 anak gembala (Lucia, Francisco dan Jacinta) melihat penampakan Maria ditahun 1917, sebanyak 6 kali kalau nggak salah. Kedua anak itu tidak berusia panjang, Jacinta meninggal tahun 1919 dan Francisco tahun 1920. Sementara Lucia kemudian menjadi biarawati dan meninggal tahun 2005. Sekarang, tempat penampakan Maria ditandai dengan salib kayu besar. Cara beribadahnya juga unik, kita harus berjalan dengan lutut sepanjang garis putih yang menuju ke capela das aparicoes. Disitu juga ada Chapel of the Apparitions and the Basilica of Our Lady of the Rosary, dimana didalamnya terdapat makam ketiga anak itu.

Kemudian, kembali ke Lisbon, saya mencoba naik Metro-nya. Harganya jauh-dekat € 1,40, plus tiketnya seharga €0,50 jadi total € 1,90. Tiketnya jangan dibuang, karena bisa dipakai lagi. Jadi kalau pakai tiket daur ulang ini, kita cuma bayar € 1,40 untuk pengisian selanjutnya.



Bandara Lisbon (Lisbon Portela Airport) termasuk kecil. Mungkin karena terletak dipusat kota cuma 15 menit saja dari hotel) membuatnya nggak bisa berkembang lagi. Denger-denger sih Lisbon mau bangun bandara baru, tapi nggak tau deh kapan.. apalagi sebenarnya kota ini juga bukan kota yang penting di Eropa, jadi ya nggak sibuk-sibuk amat kali ya.

Well, berakhir sudah trip jalan-jalan di Eropa tahun ini. semoga bisa balik lagi tahun depan dinegara lainnya :-p

Tuesday, October 8, 2013

Lost in Sevilla


Sevila adalah ibukota sekaligus kota terbesar dari daerah otonomi Andalusia. Ada 8 provinsi di daerah otonomus Andalusia ini, yaitu Almeia, Cadiz, Cordoba, Granada, Huelva, Jaen, Malaga dan tentunya Sevilla sendiri. Mungkin karena dekat Afrika, udaranya juga super hot, bisa mencapai 31 derajat dikala musim semi.

Di Sevilla masih bisa ditemukan peninggalan-peninggalan sisa kekuasaan bangsa moor arab dimasa lalu. Yang masih tersisa misalnya Katedral Sevilla. Dulunya mesjid sebelum hancur dan dirubah menjadi gereja. Tapi yang unik adalah menara mesjidnya masih utuh sampai sekarang, dan dirubah menjadi menara lonceng gereja. Menara ini disebut “Giralda” setinggi 105 meter. Kalau punya stamina yang cukup silahkan manjat sampai keatas. Jalan menuju ke atas menara ini dibuat melandai, dan bukan berbentuk anak tangga. Tapi tetep ya bo’ capekkk…





Didalam gereja ini juga ada makam Christopher Colombus. Sebenarnya awalanya Colombus ini dimakamkan di Valladolid, jauh di utara Spanyol, tapi kemudian atas permintaan anaknya yang saat itu menjadi gubernur di Hispanola (sekarang Republik Dominika) maka jasadnya dibawa kesana. Sewaktu Hispanola direbut Perancis tahun 1795, jasad Colombus dipindahkan ke Havana, Cuba. Setelah Cuba merdeka dari Spanyol tahun 1898, jasad Colombus akhirnya dibawa ke Sevilla, di Katedral ini. Ribet bener yaaa… hiyuh. Ironis juga karena sebenarnya dia lahir di Itali. Tapi karena dulu yang mau membiayai penjelajahannya menuju “dunia baru” cuma Spanyol, jadilah dia warga Spanyol.

Tempat lainnya yang bisa dikunjungi antara lain Torre del oro yang kalau diterjemahkan menjadi “menara emas”. Sebenarnya sama sekali nggak ada hubungannya dengan emas-emas-an, karena material yang dipakai untuk membangun menara ini adalah gabungan antara mortar, batuan lime dan jerami, dan karena posisinya tepat ditepian sungai, maka terlihat seperti warna keemas-emasan dari jauh. Dibangun diabad ke 13 oleh dinasti Al-Mohad, dikasudkan sebagai menara pengawas lalu-lintas kapal disungai Guadalquivir. Kemudian sempat menjadi penjara, dan sekarang menjadi museum.



Tempat wisata lainnya antala lain taman Maria Luisa, dan didekatnya ada Plaza de Espana. Plaza de Espana ini dibangun tahun 1929, pada saat Sevilla menjadi tuan rumah penyelenggaraan World’s fair. Didesign oleh Nicholas Forestier, bangunan ini menurut saya menjadi bangunan paling indah diseantero Sevilla hehe..