Saturday, June 11, 2011

Studi Banding

Kemarin Anc ngajakin ikut kursus bahasa Italia. Hah... apah??

Ini bukan pertama kali dia ngajakin ikut kursus bahasa asing. Tahun lalu dia ngajakin kursus bahasa Perancis yang saya tolak karena nggak PD. Lagian alasannya dulu biar semangat ngejar target ke Perancis, maka harus ikut atau membeli sesuatu yang berbau-bau Perancis. Alasan yang mengada-ada... tapi siapa yang nyangka ternyata saya bisa bener-bener dapat poin gratis ikut ke Perancis... jadi nyesel gak ikut ajakannya..

Jalan-jalan ke luar negeri memang buat ketagihan. Suka dengan suasananya... Saya menyarankan seandainya mampu kenapa nggak setiap penduduk Indonesia disuruh jalan-jalan ke luar negeri atau home stay disana selama 3 bulan... buat belajar disiplin!

Yak, kadang-kadang kalau melihat sarana transportasi di LN atau cara berdisiplin mereka, jadi miris sendiri melihat cara kita berprilaku. Singapura, Hongkong bahkan Bangkok sudah punya subway... kita? buat tender aja makan waktu bertahun-tahun. Bahkan kalo nggak molor, MRT bawah tanah baru bisa kita nikmati tahun 2016, itupun baru secuil dari Lebak Bulus - Dukuh Atas. Bandara kita juga kuno, kalah sama Bangkok apalagi Hongkong atau Dubai. Kereta bandara nggak jadi-jadi, dari dulu masih tenderrr aja, kapan jalannya??

Kadang suka sebel liat kelakuan pengendara sepeda motor yang seenaknya suka nyalip sana nyalip sini, melawan arah dan jumlahnya nggak ketulungan. Tapi disatu sisi selama pemerintah belum bisa menyediakan pelayanan transport publik yang nyaman, mereka juga nggak bisa disalahin kalau lebih memilih naik motor. Busway konsepnya oke, walau konsepnya bus cepat, tapi saya tidak, tidak dan sekali lagi TIDAK menyarankan naik busway kalau hendak mengejar waktu atau lagi terburu-buru mencapai tujuan. Kenapa? selain armadanya sedikit dan harus bersaing dengan kemacetan, kadang kalau lagi penuh bener, antriannya bisa panjang sampai ke jembatan penyeberangan. Udah gitu giliran busnya datang, yang boleh naik cuma segelintir orang demi alasan kenyamanan. Alhasil kita disuruh menunggu bus berikutnya yang datangnya suka-suka aja, nggak ada pengumuman berapa menit lagi akan datang seperti kalau kita naik MRT.

Katanya sering studi banding, harusnya tau dong kalau layanan publik itu harusnya dipegang pemda, bukannya swasta. contohnya Singapura. Nggak ada sopir bus yang ugal-ugalan saling kejar buat ngejar setoran atau ngetem seenak udel buat nyari penumpang. Semuanya serba teratur. Tapi sekali lagi studi banding tetep aja jadi sampah, cuma buat buang-buang uang negara aja, beuh!

Kenyamanan publik - coba makan di kaki lima Singapur atau KL, mana ada pengamen yang tiap lima menit datang gangguin? Disini terlalu banyak cing-cong. Pemdanya nggak tegas. Giliran tegas, datang LSM pembela HAM, cuap-cuap kalo menertibkan pengamen-pengasong itu melanggar HAM, OMG...kapan selesainya itu urusan!

Pemda DKI sepertinya lebih memilih membagun fly over atau terowongan ketimbang memburu proyek angkutan umum, maka terjadilah fly over yang bentuknya "aneh bin ajaib" seperti misalnya fly over grogol atau fly over dijalan daan mogot, jembatan diatas jembatan, saling numpuk gak jelas, semrawut dan nggak enak dipandang mata, atau terowongan jalan angkasa yang serba nanggung, karena tetap terjadi titik kemacetan!

Anyway, saran saya supaya seluruh masyarakat Indonesia melakukan studi banding tingkah laku berlalu-lintas di LN kedengerannya lebay yak, tapi kalau kita nggak mau dinilai sebagai negara miskin dan terbelakang sama negara-negara tetangga, kenapa kita nggak mau berubah kearah yang positif?

No comments:

Post a Comment