Minggu lalu teman lama saya Dee, declare kalau dia lagi dalam deadline dalam hubungannya dengan pacarnya. Dan seperti yang sudah saya duga, hasilnya : PUTUS.
Itulah cinta. Kemarin sayang hari ini benci. Nggak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi esok lusa. Masih kebayang melow-melow lebay teman saya ini menulis distatus twitternya, betapa cintanya dia pada beliau..huhuhu..*pingin nabok*
But anyway, nggak tau apakah itu karma atau memang sudah hukum alam, hal yang sama terjadi dengan pacarnya yang terdahulu. Bedanya memang dia yang ingin putus. Sekarang, dia yang diputusin.
Dulu dia nggak tau kenapa mantan pacarnya yang dulu, jadi sangat membencinya setelah mereka putus. Tapi sekarang ketika semuanya berbalik, justru saya lihat dia yang sangat membenci mantan pacarnya ini. Tabungan dan asuransi yang dibuka dengan mantannya ini langsung ditutup, diremove dari FB, dan ditagih hutang piutangnya. Wew…untung masih sebatas pacaran, gimana kalau kawin, pasti panjang urusan harta gono-gininya..huehehehe
Dimana-mana, pihak yang memutuskan biasanya pasti ingin tetap berteman, bersilaturahmi. Tapi pihak yang diputusin rata-rata nggak bisa nerima, bisa kalap, bahkan bisa sampai meneror. Itu sudah biasa. Biasanya kejadiannya karena ada pihak ketiga. Diputusin, dicampakkan atau what ever bahasanya, membuat diri kita seperti nggak berharga, diacuhkan, dibuang.
Tapi yang menakjubkan, dia dengan cepat mencari-cari penggantinya, seolah-olah ingin “membalas”, suatu tundakan yang menurut saya agak kekanak-kanakan. Harusnya kegagalan cinta membuat kita lebih berhati-hati mencari pengganti, ya nggak. Apalagi kalau mencari hubungan LTR, lebih baik menunggu agak lama untuk berkomitmen daripada hari ini jadi dan besok sudah putus. Hufftt….
No comments:
Post a Comment