Tuesday, June 19, 2012

Lost in Rome (Part One)

Setelah penuh dengan ketidak jelasan diawal tahun, akhirnya saya berkesempatan untuk kembali mengunjungi Yurep alias Eropa, Yippie. Seperti yang diumumkan tahun lalu, destinasi tahun 2012 ini adalah ke Roma, dengan tambahan post tour ke kota-kota cantik Italia lainya plus ke Swiss, Jerman, Belanda, dan berakhir di Belgia.

Melihat perjalanan ke Paris tahun lalu, rasanya c’est tres rempong dengan belanja-belanja ketimbang wisatanya, jadi saya memutuskan untuk berangkat duluan sebelum rombongan lain tiba. Berbekal pengalaman pernah pesen hotel via website Agoda, akhirnya saya mendapatkan hotel Sallustio Roma, dideket stasiun Kereta Termini. Stasiun Termini ini adalah pusat dari sistem perkereta-apian di Roma, pun cuma distasiun termini ini pula jalur Metro (subway) Roma bertemu pada titik silang.

Anyway, karena nanti pulang lewat Brussel Belgia, maka tidak bisa naik Emirates because tidak ada rute Emirates ke Brussel. Akhirnya naiklah Turkish Airlines… Kalau menurut skytrax, maskapai ini udah setaraf Emirates dan Garuda juga, bintang 4. :-D

Singkat cerita, naik pesawat Turkis jam 7 malem, transit sejam di Changi. Penumpang mulai penuh di Changi ini, sepertinya peserta Umrah dari Malaysia. Perjalanan ke Istanbul kira-kira ditempuh damal 13 jam, pegel bo’. Tapi yang menarik adalah dibagikannya amenity kits! Biasanya amenity kits ini dibagi buat penumpang kelas bisnis atau first class aja, tapi disini kelas ekonomipun dapet. Yah bukan Aigner kayak di Garuda atau kemasan Remowa seperti di Thai airways, ini cuma bungkusan biasa yang isinya a.l. penutup mata, penutup kuping, kaos kaki, dan sikat gigi+odol kecil.

Anyway busway, sesampainya di Bandara Ataturk Istanbul, riwehnya luar biasa. Kayaknya bandara ini terlalu kecil untuk dijadikan hub-nya Turkish Airlines, sampai turun dan naik kepesawat mesti pakai bus, karena pesawat diparkir nun jauh diujung sanah… fiuhh..

Beda dengan tadi, pesawat selanjutnya ini berjenis B737-800, O-em-ji…. Berasa banget sempit-sempitnya hehe.. mungkin karena perjalanan lanjutan ini hanya sekitar 2,5 jam-an jadi ngga perlu pesawat besar-besar kali ya.
Akhirnya mendarat di bandara Fumicio alias Leonardo Davinci sekitar jam 10 pagi waktu setempat. Harusnya Roma ikut waktu GMT +1, tapi pada minggu terakhir pada bulan maret, Italia dan negara eropa bagian tengah lainnya memajukan jamnya menjadi +2 atau yang disebut dengan Central European Summer Time. Jadi beda waktunya dengan Jakarta itu 5 jam. Walau masih musim semi, tapi matahari masih terang di jam 9 malam, bayangin kalau bener-bener musim panas ya, bisa jam 11 malampun masih terang mungkin? :-P

Bandara Utama di Italia ini kesannya tua dan baunya ngga enak. Ada pusat informasi turis disini, dan setelah bertanya mengenai alamat hotel barulah beli tiket ke pusat kota Roma. Harga tiketnya kalau ga salah 4 euro untuk satu orang, dan sepanjang jalan penumpang dibelakang ribut ngobrol pakai bahasa Italia, oh my God, saya berasa alien dinegeri ini :-P
Akhirnya bus membawa memasuki kota tua Roma. Kota Roma ini didirikan 21 April 753 sebelum masehi. Oh Mai Ghot, tua banget ya bo’ Awalnya kota Roma ini kecil saja, dikelilingi tembok super tebel yang sampai sekarang beberapa bagian masih ada. Kota Roma yang sekarang udah jauh melebar melewati dinding kota lama. Kota Roma ini sendiri berdiri pakai legenda-legenda juga, alkisah dulu ada dua anak kembar Romulus dan Remus yang merupakan anak dewa Mars dengan perawan Vesta yang dibuang ke hutan dan dipelihara oleh serigala sehingga berhasil bertahan hidup.. trus karena perselisihan si Romulus membunuh Remus, dan selanjutnya asal nama kota Roma itu ya dari namanya si Romulus ini…ya gitu-gitu deh, kalau diceritain panjang dan bisa jadi dongeng sebelum tidur yang membuat anda tertidur sebelum selesai membaca tulisan ini… bhahak.

Bus membawa saya ke Termini central station. Disini merupakan pusat dari terminal Bus, kereta api, dan satu-satunya pertemuan dua jalur sub-way Roma, biarpun kota tua, tapi jalur subway Roma ini tergolong apa adanya, Cuma ada dua jalur yang membentuk huruf X dan Termini ini merupakan pusat pertemuan dua jalur itu. Bandingkan dengan Paris yang subway-nya berasa jarring-jaring spiderman, ruwet dan bisa pindah kereta berkali-kali kalau mau.

Anyway setelah nyasar sana-sini akhirnya saya berhasil menemukan hotel yang sebelumnya udah dipesan via agoda. Dalam hati, oh my Ghot, segini ini dibilang bintang 3? Di Jakarta dengan harga segitu udah bisa dapet bintang lima plus plus kaleee… tapi sebodo ah, kamar cuma buat tidur ini, lebih banyak jalan-jalannya kan, kan, kan… dan yang penting ada dipusat kota, bandingin dengan hotel pilihan travel yang Yo Olloooooo jauhnyaaa di ujung Roma sana, ditempat Jin Roma buang anak..ppffttt…

Ya sudah sementara sekian dulu liputan jalan-jalannya, nanti disambung lagi kalau boss lagi pergi ya, ya, ya… I’ll be back! *tring.. ngilang*

No comments:

Post a Comment