Tuesday, May 31, 2011

Dimana-mana Ada Cina

Jangan bernegatif thinking dulu, maksud judul diatas bukan diskriminesyong kok, cuma menggambarkan bagaimana keturunan Cina itu hebat, bisa tersebar dinegara manapun… Ceritanya, waktu jalan-jalan ke Dubai, liat restoran Cina. Di Paris, makan di restoran Cina. Di Nice, Canes, Marseille makan di restoran Cina. Di Barcelona sama Madrid, makan di restoran Cina, Bahkan dikota kecil seperti Zaragoza juga makan di restoran Cina…wew.. hebat euy… Cuma kadang secara etika, kita bisa berkerut-kerut dahi sendiri melihat cara mereka menyajikan makanan, Serba klentang-klenteng, gubrak-gubrak, jauh dari kesan anggun seperti kalau kita masuk restoran Italia. Waktu makan direstoran Cina di Nice, bahkan yang punya restoran menyajikan makanan sambil dibanting… mungkin memang begitu cara mereka dinegara asalnya sono, serba cepat.. cepat menyajikan, cepat suruh kita pergi haha… Tapi restoran Chinese yang ini memang unik. Waktu ada peserta Tour yang bilang makanannya kurang ada rasa, dengan enteng mereka menjawab : kalau nggak suka, nggak usah dimakan! Oh Mai Got! sopan sekali… Trus yang punya (suami-istri) saling ribut teriak-teriak pakai bahasa cas-cis-cus. Lebih baik kita makan cepat sebelum ada piring terbang..wakakakakak… Tapi tentunya nggak semua restoran Cina begitu, ya nggak..(sambil melirik Ant, sipemuja mata cipit..hihihi)

Jadi berfikir gimana caranya bangsa Cina dari berbagai suku bisa tersebar keseluruh penjuru dunia… Kalau dari literatur sih katanya jaman dulu orang-orang bule mencari pekerja-pekerja tambang dari Cina buat proyek-proyek mereka. Lebih kesono lagi, jaman dahulu kala banyak pelaut-pelaut Cina yang berseliweran kepenjuru dunia untuk berdagang. Kalau dikita sih yang terkenal seperti Sam-Po-Kong, yang sampai sekarang masih ada klentengnya di Semarang.

Sekarang selain masakan Cina, yang terkenal itu masakan Thai dan Jepang. Kalo bule, ya masakan Italia. Kapan ya masakan Indonesia bisa tersebar dipenjuru dunia. Paling nggak turis-turis Indonesia nggak melulu dikasih makanan Chinese, sebelum kita-kita nanti tiba-tiba jadi fasih berbahasa mandarin, haiyaaaa….

Friday, May 27, 2011

Susahnya menjadi Janda Chubby di Ibukota

Yap, sama seperti jendi yg kadang-kadang di cap miring, chubby like me juga kadang menghadapi hal yang sama. Memang bentuk tubuh gue membesar di perut, buncit, sama tembem dipipi, bukan bentuk tubuh yang ideal. Biar katanya banyak chubby chaser, tapi gue nggak mengalami tuh..huhu.. Lebih banyak yang bilang : itu tas pinggang nggapain dibawa kemana-mana..haha..

Temen seperti Ant bahkan mengira ukuran baju saya XL, huh enaks aza, gini-gini M masih muat tauuuk… untuk produk pakaian tertentu kadang S juga masuk. Soal ukuran ini memang nggak bisa jadi patokan karena kadang satu merk pakaian dengan pakaian lainnya standar ukuran “S” atau “M” nya nggak jelas, jadi takut kalo titip-titipan baju, soalnya nggak bisa di pass di fitting room. Kalau salah beli, mesti ngecilin lagi ditukang jahit, nambah ongkos lagi dah…
Celana syukur alhamdulillah masih bertahan di 32 untuk celana kerja dan 31 untuk celana jeans. Itu masih masuk golongan “M” buat ukuran celana.

Tapi emang untuk urusan perut gue cuma geleng-geleng aja, desperate gimana caranya kecilin perut. Diet kemarin cuma nyusutin separo aja, tetap masih njembling gak jelas gini, huhuhu..

Kembali ke laptop, kayaknya sekarang cara pandang penduduk (muda) Jakarta udah berubah. Mereka begitu terobsesi memiliki tubuh yang ideal, minimal nggak gendut. Pingin dapet pacar cewek yang ramping, pingin dapat pacar cowok yang muscle.. tinggallah yang chubby-chubby like me ini yang tersisa, berjuang untuk mendapatkan cinta di ibukota…huhuhu..

Tuesday, May 24, 2011

Madrid is Splendid

Perjalanan dari Barcelona ke Madrid lumayan lama, naik bus lewat jalan tol yang super duper mulus membuat perjalanan lama nggak terasa. Sempat mampir di kota Zaragoza buat makan siang. Kota ini sering denger kalo ada pertandingan liga Spanyol, walau prestasinya biasa-biasa aja, terakhir menang piala winners tahun 1994. (sekarang piala winners sudah ditiadakan, diganti menjadi piala UEFA).

Masuk kota Madrid sudah disambut dengan kemacetan (mungkin juga karena jam pulang kantor). Bangunannya klasik, tapi buat bangunan yang baru kesannya modern dan a-simetris. Boleh juga buat ditiru di Jakarta :-P

Malam pertama sudah harus kejar-kejaran Metro buat nonton Flamingo, tarian khas Spanyol, yang menurut saya lebih mirip “tap dance” cuma bedanya diiringi gitar sama nyanyian-nyanyian khas Spanyol. Heran aja penarinya bisa tahan 30 menit menghentak-hentakkan kaki dipanggung, apa nggak varises itu kaki? Wew… Ngomong-ngomong Metro, kereta bawah tanah di Madrid dan Barcelona jauh lebih bagus dan manusiawi daripada yang di Paris. Tiketnya sekali jalan buat selamanya (sekali jalan,jauh-dekat) kalau mau hemat bisa juga beli tiket multipel. Belinya juga gampang, pakai mesin tiket yang sangat informatif. Sekali belajar pasti bisa.

Objek Wisatanya yang wajib kunjung yaitu Istana Royal Palace of Madrid. Isinya banyak benda-benda antik, patung dan lukisan dari masa lalu. Saat ini Raja dan keluarganya tidak tinggal disini, mereka lembih memlilih tinggal di Istana De La Zarzuela yang lebih sederhana. Sekarang selain jadi museum buat para turis, Royal Palace juga dijadikan tempat untuk acara-acara seremonial kerajaan saja. Sayangnya nggak boleh foto-foto didalam, petugasnya dengan wajah cemberut bentar-bentar ngawasi kita ditiap ruangan.

Raja kembali berkuasa di Spanyol setelah mangkatnya Jendral Franco tahun 1975. Jendral Franco berkuasa dari 1939 – 1975, setelah membuang kepengasingan Raja Alfonso XIII yang saat itu bertahta. Saat ini makam Franco menjadi salah satu tujuan kunjungan turis. Raja yang sekarang, Juan Carlos I, adalah cucu dari raja Alfonso XIII.

Tempat yang wajib dikunjungi bagi pecinta bola apalagi kalau bukan stadion sarang Real Madrid, Stadion Santiago Bernabeu . Sama seperti di Barcelona, masuk harus bayar. Souvenirnya juga nggak murah, 73 Euro untuk satu kaosnya.. makasiy deehh..

Yang paling ditunggu apalagi kalo bukan syoping, walau cuma jadi penggembira aja. Pajak di Spanyol lebih rendah dari Perancis, jadi harga untuk item tertentu lebih murah disini. Tapi kalau LV lebih baik beli di Perancis, lebih murah walau beda tipis. Tapi bagi kaum papa seperti diriku (lebay), yang tak mampu borong LV, paling tujuannya hanya ke butik Zara sajah.. dibading harga yang di Jakarta, beli Zara di negara asalnya ini jauh lebih murah, bisa selisih 200-300 ribu, plus dapat tax free 8%. Yippie…

Sekian liputan gak jelas dari rangkaian jalan-jalan kali ini. Sebelum dibacok mbak Trinity dengan "naked traveler"-nya karena merebut lahan beliau, sebaiknya saya sudahi sampai disini. Sampai ketemu diperjalanan selanjutnya...

Barcelona is Fantastica

Barcelona adalah Ibukota dari wilayah otonomi Catalonia di tenggara Spanyol. Buat yang belum tau, Catalonia punya pemerintahan, budaya dan bahasa sendiri, beda dari bahasa Spanyol, kira-kira mirip Hong Kong yang punya bahasa Kanton. Jadi kalau kamu liat di mana-mana, pengumuman ditulis dalam dua bahasa, bahasa Catalan dan bahasa Spanyol, kadang-kadang ditambahin bahasa Inggris buat para turis. Contohnya di pom bensin ini, yang paling atas pakai bahasa Catalan.

Barcelona kota pantai yang cuacanya hangat, tapi masih dingin juga buat ukuran orang Indonesia seperti saya. Kota dosa juga karena hiburan yang serem-serem juga dimasukkan dalam brosur wisatanya, huhuhu…

Barcelona pernah menjadi tuan rumah olympiade tahun 1992. Sampai sekarang kompleks bekas laga olympiade dijadikan objek wisata. Sayang gara-gara ibu-ibu peserta tour yang telat naik bus, kita gak turun disini, cuma ngider-ngider pakai bus, liat dari luar.

Objek wisata lainnya, Spanish village, semacam taman mini disini, didalamnya ada berbagai bentuk bangunan daerah-daerah di spanyol, yang bagi saya orang awam keliatan hampir sama semua bentuknya, hehe.. kalau nggak salah spanyol terdiri dari berbagai daerah otonomi, seperti Andalusia, Catalonia, Aragon, Valencia, Galicia, de-el-el.

Gereja yang terkenal disini Sagarda Familia, dibangun mulai tahun 1882, sampai sekarang belom kelar-kelar. Dari jauh, gereja ini tampak nakutin, seperti bangunan nenek sihir, tapi kalau dari dekat, baru keliatan kalau sebenarnya didindingnya itu banyak ukiran dan patung-patung diorama mengenai kehidupan Yesus mulai dari kelahiran sampai penyaliban, bangus banget. Cuma bingung aja udah 129 tahun belum kelar-kelar juga...

Kunjungan yang wajib bagi penggila FC Barcelona ya ke stadionnya, Masuknya kena 17 euro, bisa foto-foto di lapangan rumputnya, mau foto sama piala Champion, bayar lagi. Souvenirnya mahal buat ukuran kantong saya, satu kaos FC Barcelona dihargai 70 Euro atau hampir 1 juta, jadi yah mending jalan-jalan ke Zara aja, wkwkwkwk…

Marseille is A’uzubillee..

Why? why? why? Karena kota ini jorok dan bau eek burung dimana-mana, padahal ini kota kedua terbesar di Perancis setelah Paris. Marseille itu kota pelabuhan terbesar di Perancis, dan terbesar ke-empat di Eropa. Banyak burung camar disini, mungkin mereka yang buat ranjau-ranjau diatas trotoar itu!. Entah kenapa kok kesan kusamnya begitu terasa. Mungkin karena disini banyak imigran dari negara-negara Afrika utara seperti Maroko, Aljazair yang seliweran. Ada pasar murah digelar di taman, pokoknya enggak banget dibanding dengan Paris yang elegan.

Karena sampai disini hari Minggu, toko-toko pada tutup, kecuali restoran, bete bo’ kaga ada yang bisa diliat.

Yang paling berkesan di Marseille ini, selain kaki masih bengkak sejak dari Monaco, juga hampir ketrabrak jambret bermotor yang lagi kejar-kejaran dengan polisi, mirip seperti kisah film Taxi yang juga mengambil lokasi di Marsaile. Mungkin karena penuh dengan imigran maka angka kriminalitas di kota ini lumayan tinggi.

Bocen ahhh.. next town : Barcelona..

Avignon is for Nun


Nun ~ maksudnya biarawati hehe (maksa.com), Kota ini memang kental nuansa Katoliknya, karena kota kecil Avignon ini pernah menjadi kediaman 9 orang Paus. Berawal dari terpilihanya Paus Clement V yang orang Perancis ditahun 1305, dia menolak pindah ke Vatikan, dan memilih tinggal di Avignon. Ada 9 Paus yang bertahta disini, lucunya, 2 Paus terakhir tidak diakui Vatikan.

Ini dia 7 paus yang bertahta di Avignon :
•Paus Clement V: 1305–1314
•Paus John XXII: 1316–1334
•Paus Benedict XII: 1334–1342
•Paus Clement VI: 1342–1352
•Paus Innocent VI: 1352–1362
•Paus Urban V: 1362–1370
•Paus Gregory XI: 1370–1378

Dua Paus yang tidak diakui Vatikan (Anti Paus) yaitu :
•Clement VII: 1378–1394
•Benedict XIII: 1394–1423 (di usir dari Avignon tahun 1403)

Kalau kamu liat daftar nama Paus, tidak ada Clement VII, karena menurut versi Vatikan, Paus yang berkuasa setelah Gregorius XI adalah Paus Urbanus VI.


Enough..enough sejarahnya, dah kayak dosen sejarah nggak jelas. Tapi memang obyek wisata andalannya ya cuma kastil tempat Paus pernah tinggal. Bangunannya bagus tapi seram. Ada jembatan Pont De Avignon, jembatan yang dibangun tahun 1171 ini nggak pernah selesai karena selalu tergerus arus sungai, sampai sekarang jembatan ini masih buntung.

Cannes is Nyes-Nyes

Entah kenapa Perancis memilih Cannes sebagai tempat festival film paling terkenal setelah oscar itu. Mungkin karena suasananya yang santai dan hangat kali ya. Lokasi Festival Cannes ada dibibir pantai berupa tenda-tenda dan sebuah gendung dengan kasino didepannya. Sederhana sekali. Didepannya ada cap telapak tangan artis-artis mirip walk of fame di Holywood atau di Kowloon Hong Kong.

Kota Cannes sendiri nggak gede-gede amat. Seperti Nice, banyak toko-toko branded didepan pantai. Kalau memang keuangan memungkinkan silakan belanja, ditunggu sampai jam 8 malam saja… (niat jualan gak seehh..)

Disini juga ada pulau St.Marguerite, tempat pengasingan seseorang yang diyakini kembaran raja Louis XIV selama 11 tahun. Legenda ini sempat difilmkan dengan judul "The Man in the iron mask" yang dibintangi Leonardo di Caprio. Selain itu film Mr.Bean Holiday juga mengambil lokasi di Cannes.

Banyak hotel-hotel besar disekitar pantai, mungkin untuk menampung tamu-tamu selama festival berlangsung (setiap bulan mei). Namun secara keseluruhan Nice dan Cannes kesannya hampir sama, cocok buat jemuran dipinggir pantai sambil ngulet-ngulet. jangan lupa bawa sunglass biar mata nggak nyes-nyes kesilauan.

Monaco is Fantastico


Jauh sebelum ada pengumuman tour tahun ini menyinggahi negara kota Monaco, saya sudah sering buka-buka profil negara mini ini diinternet. Monaco adalah negara kedua terkecil didunia setelah Vatikan. Luas awalnya cuma 1,8km persegi, setelah direklamasi sekarang luasnya sekitar 2,02km persegi.

Monaco memang unik, berawal dari penaklukan rock of Monaco oleh Francois Grimaldi, dimana dia menyamar sebagai biarawan sewaktu merebut kota itu dari penguasa Monaco saat itu, Genoa. Peristiwa ini diabadikan sebagai lambang negara Monaco, dimana dua biarawan mengapit bendera Monaco. Dinasti ini berkuasa dari tahun 1297 hingga saat ini (tua banget ya bo'). Karena ukurannya yang mini, Negara Monaco sangat bergantung dengan Perancis, dimana untuk masalah pertahanan diserahkan kepada Perancis. Sesuai perjanjian tahun 1918 dengan Perancis, Monako akan dikembalikan ke Perancis bila Rainier tidak memiliki keturunan laki-laki. Berhubung keturunannya ada anak laki-lakinya, sampai sekarang Monaco masih survive (CMIIW).

Sangking kecilnya, jalannya sempit-sempit, masing-masing cuma satu lajur. Parkir juga mahal, untuk bus tour kena 150 Euro sekali bayar untuk satu hari, parker paling mahal yak, 1,5juta lebih.

Pusat kotanya ada di Rock of Monaco, atau sebutannya Monaco Ville, letaknya diatas batu karang. Selain ada istana, disitu ada gereja Katedral tempat menikahnya Pangeran Rainier III dan Grace Kelly. Pun setelah keduanya mangkat, mereka dikubur didalamnya (Co Cuittt..). Ada juga gedung pengadilan dan taman-taman disekitarnya, dan nggak ketinggalan museum oceanografi yang terkenal itu. Walau bebas pajak, tapi hidup di Monaco serba mahal. Daya tariknya adalah kasino di Monte Carlo, sebuah distrik ditimur kota, dan tentu saja lomba balap F1 yang diselenggarakan sejak tahun 1911, dimana jalanan dirubah sedemikian rupa menjadi sirkuit balap.

Monaco sebenarnya berbentuk principality, artinya raja disana bergelar “pangeran” sampai akhir hayat. Merupakan satu dari empat principality yang tersisa di dunia selain Andorra, Wales dan Liechtenstein.

Next : Let's go to Cannes! ^_^

Nice is Nice

Dari Paris ada kereta cepat TGV (Trains à Grande Vitesse) menuju Nice, Perancis selatan. Naik dari stasiun Gare de Lyon, Paris, udah serasa main film The Tourist-nya Angelina Jolie, hueheheh.. Keretanya modern, dua tingkat, kecepatannya fantastis, antara 270-320km/jam! Jarak Paris – Nice 930km ditempuh dalam 4 jam saja. Bandingin dengan jarak Jakarta – Surabaya yang cuma 674km ditempuh 9 jam pakai KA Argo… garing booo... Keretanya pakai listrik, dan terasa halus jalannya, walaupun jalan-jalan gak berasa goyangannya seperti kalau kita naik kereta Argo..

Nice Cote d’Azure, kota dipantai mediterania, keliatan banget arsitekturnya khas mediterania. Kalau di Paris designnya rumit bergaya abad pertengahan, kalau mediterania designnya simple, menyesuaikan dengan udaranya yang lebih hangat. Pemandangannya terasa damai, dikanan kiri perjalanan banyak rumput ilalang dengan bunga warna-warni, buat kamu pingin loncat dari bus trus lari-lari guling-gulingan disana kayak film India...

Nice pantainya bagus banget, pasir putih dengan deretan toko-toko branded disepanjang pantai, membuat liburan jadi sempurna. Sayang gue cuma bisa ngiler-ngiler aja liat etalase, huhuhu… Jadi sementara para ibu-ibu belanja, saya cukup duduk-duduk ditaman, menikmati udara pantai yang sejuk sambil liatin sepasang kekasih saling pagut bibir dibangku seberang :-P

Monday, May 23, 2011

Paris is Romantis

Perjalanan dari Jakarta – Dubai makan waktu 7-8 jam, Dubai – Paris 7–8 jam lagi. Pegel… tapi begitu landing di Airport Charles de Gaulle Paris, jadi seger lagi. Masuk bandara ini kesannya masuk ke Soetta... (ya eyalaahh...secara perancangnya sama, Paul Andreu). Yang mirip yaitu langit-langit yang rendah sama semennya dibiarkan begitu aja, nggak dicat atau ditutupi apa-apa, kusyammm..

Sutralah, biarpun bandaranya kuno tapi imigrasinya cepat dan efisien. Diluar sudah malam dan suhunya 8-10 derajat celcius, bikin semriwing.. padahal ini sudah musim semi menjelang musim panas.. ngga kebayang gimana rasanya kalau jalan-jalan dimusim dingin, bisa hipotermia kaleee..

Paris memang romantis dan sexy. Lihat dari ujung ke ujung, penduduk disana selalu keliatan modis, tas Louis Vuitton dibawa kemana-mana, serasi dengan tubuh mereka yang langsing-langsing. Hampir nggak pernah liat penduduk sana yang gemuk, kecuali yang imigran kali ye.. Namun ada yang kurang sreg karena toko-toko disana buka cuma sampai jam 6 atau jam 8 malam. Kalau acara tour-nya sampai jam makan malam, kapan belanjanyaaa...kan kalo ngga belanja = mati gayaa (lebay.com), mana hari minggu toko-toko juga tutup. Hufftt..


Menara Eiffel memang seksi, dari jauh dari dekat sama cantiknya. Penjaja souvenir yang negro bisa manggil-manggil dalam bahasa Indonesia, wow...ternyata turis kita terkenal disana ya..wkwkwkwk.. Tapi peringatan berkali, banyak copet di Paris, apalagi ditempat wisata seperti menara Eiffel. Peringatan ditempel didalam lift. Beware...
Menara ini terbuat dari besi-besi yang disambung dengan paku-paku besi. Mulai dibangun tahun 1887, selesai 1889 dirancang oleh Gustav Eiffel, semula menara ini mau dibangun di Barcelona, tapi ditolak pemerintah setempat dan akhirnya dibangun di Paris sebagai pintu gerbang untuk pameran internasional yang akan diselenggarakan disana. Seharusnya, ijin menara ini hanya untuk 20 tahun, atau sudah harus dibongkar ditahun 1909, tapi untungnya tidak jadi, dan menara itu menjadi daya tarik bagi 80 juta turis yang berkunjung ke Paris tiap tahunnya.

Bangunan di Paris kelihatan seragam, klasik dengan ukiran khas eropa seperti masa lalu. Memang ada peraturan mengenai ketinggian bangunan ini, sehingga bangunan tidak boleh lebih dari 7 tingkat saja. Bule-bule disini gila sinar matahari, jadi kalau ada panas sedikit saja udah pada gelepar ditaman-taman atau minum kopi di kafe dibagian luar sambil berjemur.


Puas dari menara Eiffel, naik kapan pesiar menyusuri sungai Rhein selama sejam. Sungai Rhein ini membelah kota Paris, ditengah sungai ini ada pulau kecil, dimana ada gereja Katedral Notre Dame de Paris yang sangat terkenal itu

Tempat lain yang wajib dikunjungi adalah kediaman si Monalisa, alias Museum Louvre. Museum ini merupakan museum terbesar di dunia dengan koleksi-koleksi patung dan lukisan yang fantastik! Kalau nonton film Da Vinci Code, ceritanya dibawah piramid kaca yang terletak dihalaman museum ini tempat bersemayam si Maria Magdalena (yang ini fiksi ya, bukan beneran!)

Kalau masuk museum ini hati-hati nyasar sangking luasnya. Lebih baik kalau rombongan pakai tour guide dari museum, selain nggak nyasar, ada penjelasan juga mengenai benda-benda yang dipamerkan. Banyak lukisan-lukisan dari abad pertengahan yang sangat berharga – yang gedenya segede bagong, sampai geleng-geleng sendiri, gimana cara lukisnya yak ? Tapi yang istimewa tentu saja si mbak Monalisa, Lukisan karya Leonardo da Vinci abad ke-16 ini diperlakukan istimewa, dijagain beberapa petugas, dikasih tali pembatas pada jarak 2 meter, dan tentu saja, dilapisi kaca anti peluru... melihat Monalisa serasa mau nyium Hajar Aswad, susahnya minta ampun..


Sedikit agak keluar kota, kita bisa mengunjungi Istana Versaille (sekarang menjadi museum). Kalau nggak salah mulai dibangun pas raja Louis XIV (Bukan Louis Vuitton ya!) Selain luasnya nggak ketulungan, dibelakangnya ada taman yang dibangun tanpa ujung sangking luasnya. Kata pemandu wisata, kamu bisa nyasar ditamannya, sangking luasnya. Disini pula berawal revolusi Perancis, dimana tahun 1789 sistem kerajaan dihapuskan dan diganti menjadi Republik Perancis.

Selain yang sejarah-sejarah berdarah, ada juga hiburan-hiburan yang modern, seperti Paris Disney. Ini adalah Disney yang pertama dibuka diluar Amerika yang modalnya dari pihak Amerika ~ ceritanya, Jepang membuka Tokyo Disney duluan dengan sistem franchise tahun 1983, dan untung besar... merasa tergiur, kemudian Amerika membuka Disney Paris dengan modal sendiri tahun 1992 hasilnya : Rugi besar..

Selain wisata, Paris juga surga belanja. Pertokoan disepanjang jalan Champs-Élysées menawarkan barang-barang branded yang pastinya lebih murah dibanding kalau kita beli di Jakarta. Walau pajak Perancis tergolong besar – 19,6%, tapi buat turis bisa dapat taxfree jika belanja minimal 175 Euro (kira-kira Rp.2.500.000) tapi yang dikembalikan cuma 12% saja ya..

Transportasi di Paris lumayan oke, kamu bisa naik kereta bawah tanah (MRT) seperti di Singapur atau Hong Kong. Satu tarif seperti naik busway, jauh-dekat, beda dengan MRT singapur-hongkong yang tariff dihitung berdasarkan jarak. Tapi jangan bayangin secanggih MRT di Singapur ya, karena Metro di Paris kuno, baik stasiun maupun keretanya. Kuno dan jorok. Kita mesti benar-benar perhatiin tiap stasiun yang dilewati, soalnya nggak ada pengumuman mengenai pemberhentian stasiun seperti kalau naik MRT Singapur. Kalau lengah ya terlewatlah.. Dan yang unik, pintunya mesti dibuka manual, nggak otomatis…O Mei Got..

Well, nggak berenti-berenti kalau ngomongin Paris. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Nice, Perancis selatan. So, let’s go to the next trip!

Dubai is Lebai...

1 Mei 2011, saya berkesempatan untuk ikut tour ke Eropa. Berhubung transit di Dubai, kenapa nggak sekalian jalan-jalan dikota ini... Kalau liat internet, atau nonton National Geographic liat pembangunan Dubai, jadi ngiler pingin kesana. Sekilas info, Dubai adalah salah satu dari 7 ke-emirat-an yang bergabung menjadi Negara Uni Emirat Arab. Bahrain dan Qatar pernah diundang untuk join, tapi menolak dan akhirnya mendirikan negara sendiri. Dulu, kita taunya Abu Dhabi, Ibu kota negara ini. Abu Dhabi memang keemiratan paling luas dibanding 6 emirat lainnya, mungkin karena itu dipilih menjadi Ibu Kota. Tapi kemudian Dubai yang luasnya Cuma 4.114 km2 tiba-tiba dikenal dunia dengan pembangunan property-nya yang fantastis…



Siapa yang nggak tau Palm Al-Jumeirah, pulau buatan berbentuk pohon palm itu dibangun selesai dibangun tahun 2001, disusul kemudian dengan pulau The World dan Palm Jebel Ali, Terakhir Palm Deira (yang menjadi pulau buatan terbesar di dunia). Selain pulau-pulau buatan, Dubai juga pesat dengan pembangunan gedung-gedung, sampai yang terakhir Burj Al-Khalifa, bangunan tertinggi di dunia setinggi 828 meter. Gedung ini harusnya bernama Burj Al-Dubai, tapi pada tahun 2008 pembangunannya terancam mandeg karena krisis ekonomi global, dan Dubai meminta bantuan si saudara tua, Abu Dhabi untuk menalangi krisis-nya, sehingga sebagai penghormatan nama Burj Al-Dubai dirubah menjadi Burj Al-Khalifa.

Dulu kalau persawat transit pasti ke Abu Dhabi, sekarang pesawat pada transit di Dubai. Karena saya naik Emirates, mesti transit di Dubai, jadi sekalian aja jalan-jalan. Kotanya gersang, dibangun diatas padang pasir, tapi dimana-mana ada bunga warna-warni bagus banget. Jadi heran gimana bunga-bunga itu bisa tumbuh ditanah yang tandus. Ternyata rahasianya ditanah ditanam pipa plastik yang dilubangi kecil, sehingga air selalu menetes (jadi bukan model siram seperti disini). Dengan air yang selalu menetes, tanah menjadi lembab dan tumbuhan bisa hidup, great technology!



Ada juga “sungai” buatan, sebenarnya cuma tanah dikeruk, trus air laut dibiarin masuk, kesannya seperti sungai, lengkap dengan kapal-kapal dagangnya. Menurut tour guide, orang-orang sini nggak suka di foto, bisa dituntut! Jadi jangan asal jeprat-jepret orang aja :-P

Yang lebih unik, Dubai penduduk aslinya cuma 15% saja dari total 2,2 juta penduduk. Lainnya pendatang, pekerja seperti TKI. Menurut tour guide, pendatang-pendatang ini, walaupun sudah berpuluh tahun kerja di Dubai tidak akan bisa menjadi warga negara sana. Tapi paling nggak banyaknya tenaga kerja asing menjadi berkah tersendiri bagi maskapai penerbangan mereka, Emirates, yang pesawatnya selalu full..kayaknya nggak pernah ada “rute kering” bagi maskapai penerbangan ini…hohoho


Bandaranya juga bagus, baru dan modern. Nantinya bandara ini khusus buat pesawat-pesawat Emirates aja, karena mereka tengah membangun bandara baru khusus pesawat-pesawat asing yang diberi nama Bandar Udara Internasional World Central Dubai (kode:JBX). Sementara Bandara International Dubai ini (DBX) terus diperluas, karena padat banget… pas balik, kita mesti berputar-putar sebelum diijinkan mendarat, dan pas mendarat juga nggak kebagian garbarata, mesti berhenti jauh ditengah dan dijemput bus…wew.

Kalau melihat lebai-lebai nya Dubai, jadi bertanya-tanya sendiri, bangunan yang begitu banyak apa ada penghuninya, apa ada yang mau beli? Katanya property di Dubai harganya salah satu tertinggi di dunia, apa lagi dengan adat arab yang masih tinggi normanya, yang ciuman aja nggak boleh, bangun kasino apalagi.. dengan suhu udara yang bisa 44derajat celcius pula, apa ada yang minat beli property disana?
Tapi paling nggak, kita bisa belanja bebas pajak disini, jadi nggak perlu repot antri minta pengembalian tax-free dibandara. Pingin jalan-jalan lagi disini, karena belum puas, tapi yang pasti bukan bulan April-Oktober karena cuaca masih panas-panasnya…

Next... lanjut ke Paris!

Sunday, May 22, 2011

Liburan Tanpa Oleh-Oleh

Seingat gue, tiap kali gue cuti liburan, baik dalam dan luar negeri, pasti orang-orang yang tahu tentang kepergian gue nyeletuk : oleh-olenya ya...

Entah berasal dari tradisi mana, sepertinya oleh-oleh udah menjadi suatu keharusan bagi kamu yang jalan-jalan, pulang kampung, tugas kantor, cuti ke Bali, ke Singapur, ke Hong Kong, de-el-el, walau mungkin seperti gue ini, jalan-jalan tujuannya melepas kejenuhan, bukan berarti gue jalan-jalan karena terlalu kebanyakan duit. Jalan-jalan sekarang sudah bisa ditekan biayanya. Kamu bisa search tiket murah air asia, minta hotel yang murah, atau sewa apartemen seperti di Singapura, sampai jalan-jalan sendiri, nggak usah ikut tour-touran. Liburan bisa makin hemat.

Oleh-oleh yang paling murah mungkin makanan, buat dimakan rame-rame satu kantor, sampai yang lebih personal, tiap orang dapet, paling murah sih gantungan kunci. Tapi kadang-kadang oleh-oleh seperti itu dipandang sebelah mata. Murahan (mungkin), tapi masa bodo amatlah, mau syukur nggak ya gak apa, yang penting udah ngasih!

Disadari atau tidak, oleh-oleh itu sebenarnya suatu beban, bener gak sih? kira-kira sama dengan orang yang "nitip" dibeliin ini dicariin itu. Walau nantinya diganti, tetap aja kita harus meluangkan waktu untuk mencari "barang titipan" itu. Jadi beban pikiran juga, takut salah beli ntar diomelin, nggak cocok nanti mukanya cemberut, apalagi karena keterbatasan waktu, barang titipan itu nggak sempat kebeli. Pokoknya nggak enakin deh.

Jadi...waktu dapet liburan ke eropa ini, gue berusaha untuk tidak ambil pusing masalah oleh-oleh ini. Jadi sengaja nggak dibudgetin, dan nggak mau dititipin juga. Walau teman kantor bilang bawain ini yaaa.. bawain itu yaa.. gue anggap becandaan aja, membuang jauh-jauh perasaan nggak enak dalam diri gue. Toh tujuan jalan-jalan buat lepasin stress, bukan buat nambah stress..hehe