Monday, May 23, 2011

Paris is Romantis

Perjalanan dari Jakarta – Dubai makan waktu 7-8 jam, Dubai – Paris 7–8 jam lagi. Pegel… tapi begitu landing di Airport Charles de Gaulle Paris, jadi seger lagi. Masuk bandara ini kesannya masuk ke Soetta... (ya eyalaahh...secara perancangnya sama, Paul Andreu). Yang mirip yaitu langit-langit yang rendah sama semennya dibiarkan begitu aja, nggak dicat atau ditutupi apa-apa, kusyammm..

Sutralah, biarpun bandaranya kuno tapi imigrasinya cepat dan efisien. Diluar sudah malam dan suhunya 8-10 derajat celcius, bikin semriwing.. padahal ini sudah musim semi menjelang musim panas.. ngga kebayang gimana rasanya kalau jalan-jalan dimusim dingin, bisa hipotermia kaleee..

Paris memang romantis dan sexy. Lihat dari ujung ke ujung, penduduk disana selalu keliatan modis, tas Louis Vuitton dibawa kemana-mana, serasi dengan tubuh mereka yang langsing-langsing. Hampir nggak pernah liat penduduk sana yang gemuk, kecuali yang imigran kali ye.. Namun ada yang kurang sreg karena toko-toko disana buka cuma sampai jam 6 atau jam 8 malam. Kalau acara tour-nya sampai jam makan malam, kapan belanjanyaaa...kan kalo ngga belanja = mati gayaa (lebay.com), mana hari minggu toko-toko juga tutup. Hufftt..


Menara Eiffel memang seksi, dari jauh dari dekat sama cantiknya. Penjaja souvenir yang negro bisa manggil-manggil dalam bahasa Indonesia, wow...ternyata turis kita terkenal disana ya..wkwkwkwk.. Tapi peringatan berkali, banyak copet di Paris, apalagi ditempat wisata seperti menara Eiffel. Peringatan ditempel didalam lift. Beware...
Menara ini terbuat dari besi-besi yang disambung dengan paku-paku besi. Mulai dibangun tahun 1887, selesai 1889 dirancang oleh Gustav Eiffel, semula menara ini mau dibangun di Barcelona, tapi ditolak pemerintah setempat dan akhirnya dibangun di Paris sebagai pintu gerbang untuk pameran internasional yang akan diselenggarakan disana. Seharusnya, ijin menara ini hanya untuk 20 tahun, atau sudah harus dibongkar ditahun 1909, tapi untungnya tidak jadi, dan menara itu menjadi daya tarik bagi 80 juta turis yang berkunjung ke Paris tiap tahunnya.

Bangunan di Paris kelihatan seragam, klasik dengan ukiran khas eropa seperti masa lalu. Memang ada peraturan mengenai ketinggian bangunan ini, sehingga bangunan tidak boleh lebih dari 7 tingkat saja. Bule-bule disini gila sinar matahari, jadi kalau ada panas sedikit saja udah pada gelepar ditaman-taman atau minum kopi di kafe dibagian luar sambil berjemur.


Puas dari menara Eiffel, naik kapan pesiar menyusuri sungai Rhein selama sejam. Sungai Rhein ini membelah kota Paris, ditengah sungai ini ada pulau kecil, dimana ada gereja Katedral Notre Dame de Paris yang sangat terkenal itu

Tempat lain yang wajib dikunjungi adalah kediaman si Monalisa, alias Museum Louvre. Museum ini merupakan museum terbesar di dunia dengan koleksi-koleksi patung dan lukisan yang fantastik! Kalau nonton film Da Vinci Code, ceritanya dibawah piramid kaca yang terletak dihalaman museum ini tempat bersemayam si Maria Magdalena (yang ini fiksi ya, bukan beneran!)

Kalau masuk museum ini hati-hati nyasar sangking luasnya. Lebih baik kalau rombongan pakai tour guide dari museum, selain nggak nyasar, ada penjelasan juga mengenai benda-benda yang dipamerkan. Banyak lukisan-lukisan dari abad pertengahan yang sangat berharga – yang gedenya segede bagong, sampai geleng-geleng sendiri, gimana cara lukisnya yak ? Tapi yang istimewa tentu saja si mbak Monalisa, Lukisan karya Leonardo da Vinci abad ke-16 ini diperlakukan istimewa, dijagain beberapa petugas, dikasih tali pembatas pada jarak 2 meter, dan tentu saja, dilapisi kaca anti peluru... melihat Monalisa serasa mau nyium Hajar Aswad, susahnya minta ampun..


Sedikit agak keluar kota, kita bisa mengunjungi Istana Versaille (sekarang menjadi museum). Kalau nggak salah mulai dibangun pas raja Louis XIV (Bukan Louis Vuitton ya!) Selain luasnya nggak ketulungan, dibelakangnya ada taman yang dibangun tanpa ujung sangking luasnya. Kata pemandu wisata, kamu bisa nyasar ditamannya, sangking luasnya. Disini pula berawal revolusi Perancis, dimana tahun 1789 sistem kerajaan dihapuskan dan diganti menjadi Republik Perancis.

Selain yang sejarah-sejarah berdarah, ada juga hiburan-hiburan yang modern, seperti Paris Disney. Ini adalah Disney yang pertama dibuka diluar Amerika yang modalnya dari pihak Amerika ~ ceritanya, Jepang membuka Tokyo Disney duluan dengan sistem franchise tahun 1983, dan untung besar... merasa tergiur, kemudian Amerika membuka Disney Paris dengan modal sendiri tahun 1992 hasilnya : Rugi besar..

Selain wisata, Paris juga surga belanja. Pertokoan disepanjang jalan Champs-Élysées menawarkan barang-barang branded yang pastinya lebih murah dibanding kalau kita beli di Jakarta. Walau pajak Perancis tergolong besar – 19,6%, tapi buat turis bisa dapat taxfree jika belanja minimal 175 Euro (kira-kira Rp.2.500.000) tapi yang dikembalikan cuma 12% saja ya..

Transportasi di Paris lumayan oke, kamu bisa naik kereta bawah tanah (MRT) seperti di Singapur atau Hong Kong. Satu tarif seperti naik busway, jauh-dekat, beda dengan MRT singapur-hongkong yang tariff dihitung berdasarkan jarak. Tapi jangan bayangin secanggih MRT di Singapur ya, karena Metro di Paris kuno, baik stasiun maupun keretanya. Kuno dan jorok. Kita mesti benar-benar perhatiin tiap stasiun yang dilewati, soalnya nggak ada pengumuman mengenai pemberhentian stasiun seperti kalau naik MRT Singapur. Kalau lengah ya terlewatlah.. Dan yang unik, pintunya mesti dibuka manual, nggak otomatis…O Mei Got..

Well, nggak berenti-berenti kalau ngomongin Paris. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Nice, Perancis selatan. So, let’s go to the next trip!

No comments:

Post a Comment