Hari ini selesai ikut diet super disiplin ala Anc. Pantang makan garam, pantang bumbu, jadi sayuran hanya direbus, dan daging digoreng dengan minyak bunga matahari atau dikukus. Saya menyebutnya diet ala fear factor, dimana pesertanya ditantang untuk makan telur busuk atau binatang hidup, atau bagian-bagian tubuh hewan yang menjijikkan. Kebayang nggak sih bayam atau kangkung cuma direbus tanpa bumbu apa-apa? berbanding terbalik dengan kangkung yang selama ini saya pesan direstoran, enak banget, bisa nambah berkali-kali.. tapi kalau cuma kangkung rebus, rasanya mau muntah...
Wortel terasa enak waktu menjadi salad di hokben, tapi menjadi bencana waktu saya harus makan wortel kukus.... dan yang lebih parah, jika harus makan ayam kukus tanpa bumbu..kebayang nggak sih amisnya daging ayam? kalau yang ini saya bener-bener muntah beneran...
Kata Ant, saya cuma menyiksa diri..kenapa mau menyiksa diri untuk diet yang super duper menyiksa ini? well, karena berat badan saya turun naik. Dulu waktu masih kerja di tempat yang lama, berat saya 68kg...dulu banget tahun 2001 60 kg, dan menurut dokter waktu chek-up kesehatan akhir tahun lalu, berat badan ideal saya 67kg. Berat saya pernah mencapai 80kg..busyet..setelah pakai obat pelangsing, beratnyapernah susut jadi 69 (rekor tahun lalu) lalu kembali naik turun antara 78 - 74. Terakhir, berat nggak mau beranjak dari 74-75kg, setelah putus asa, akhirnya saya putuskan ikut diet ala fear factor ini, dah...whala, berat setelah ikut diet ini paling mentok di rekor 66kg. Namun katanya, berat bakal naik sekitar 2 kilo lagi setelah diet selesai, dan stabil sampai setahun...dan hari ini berat saya naik jadi 68 kilo..huhu
Tapi harus diakui bener-bener susah untuk kecilin perut. Walau sudah menyusut 7 kilo, tapi perut saya cuma mengecil sedikit. Heran kenapa perut Anc yang gendutnya gak ketulungan itu bisa bener-bener ramping setelah ikut diet ini.. Kayaknya udah waktunya mengatur pola makan supaya bisa menjaga ini badan diposisi berat yang ideal...huhuhu..
Saturday, April 30, 2011
Sunday, April 17, 2011
My Lapie
Hari ini pakai Lapie baru, sebenarnya mau di launching dari kemarin-kemarin sih, namun kayaknya belum afdol kalau windowsnya belum diganti ke versi original. Akhirnya pilihan jatuh ke Win 7 Home Basic. Paling nggak udah lumayanlah fungsi-fungsinya ketimbang Win 7 Starter, yang bahkan buat ganti wallpaper aja gak bisa.
Walaupun nggak sekeren apple punya, tapi paling nggak harga Lapie Toshi ini masih make sense, walau saya beli murah, tapi jatuhnya sama aja karena Win nya harus beli juga :(
pingin lebih aktif buat nge-blog, kalo bisa satu hari satu postingan (berat, bo'), tapi paling nggak ada tempat buat numpahin uneg-uneg kalau lagi insomnia seperti malam ini. Menurut saya blog, twitter, facebook, atau apapun itu dimana kamu berinteraksi sama orang, sebenarnya merasa nggak sih kalau kita membuka kehidupan pribadi kita keorang lain. Sebenarnya gak ada salahnya, tapi kalau kita terlalu jujur bisa menyinggung orang lain, membuka aib, whateverlah. Orang bisa tau kita lagi marah, lagi jatuh cinta, lagi belanja ~ busyet~ kalau buat FB atau twitter tanpa teman juga nggak asyik. Apalag kalo lagi acara ledek-ledekan, masa mau ledek diri sendiri?
well, anyway, semoga saja dengan lapie ini bisa membuat saya lebih produktif lagi dari kemaren-kemaren. I hope so...
Walaupun nggak sekeren apple punya, tapi paling nggak harga Lapie Toshi ini masih make sense, walau saya beli murah, tapi jatuhnya sama aja karena Win nya harus beli juga :(
pingin lebih aktif buat nge-blog, kalo bisa satu hari satu postingan (berat, bo'), tapi paling nggak ada tempat buat numpahin uneg-uneg kalau lagi insomnia seperti malam ini. Menurut saya blog, twitter, facebook, atau apapun itu dimana kamu berinteraksi sama orang, sebenarnya merasa nggak sih kalau kita membuka kehidupan pribadi kita keorang lain. Sebenarnya gak ada salahnya, tapi kalau kita terlalu jujur bisa menyinggung orang lain, membuka aib, whateverlah. Orang bisa tau kita lagi marah, lagi jatuh cinta, lagi belanja ~ busyet~ kalau buat FB atau twitter tanpa teman juga nggak asyik. Apalag kalo lagi acara ledek-ledekan, masa mau ledek diri sendiri?
well, anyway, semoga saja dengan lapie ini bisa membuat saya lebih produktif lagi dari kemaren-kemaren. I hope so...
Monday, April 11, 2011
Tanda Tanya
Hari minggu kemarin diajak nonton film berjudul “tanda tanya” sama si Anc. Satu lagi film yang disutradarai Hanung Bramantyo. Terakhir nonton film dia “sang pencerah” berharap filmnya yang ini sebagus yang sebelumnya.Film ini bercerita tentang kerukunan umat beragama yang menurut saya sedikit “lebay” tapi menarik. Sedikit terganggu dengan adegan pembuka dimana sehabis Pastor ditusuk trus ada merpati yang hinggap di atas patung seorang Santo, keliatan banget patung Santo-nya palsu, soalnya pas dihinggapi si merpati, patungnya bergerak-gerak, seperti dibuat dari Styrofoam terkesan murahan…huhu..
Ceritanya menarik, tentang seorang janda yang pindah agama Katholik karena panggilan hati, sementara anaknya dibiarkan tetap memeluk agama Islam. Trus ada seorang muslim yang bimbang ketika harus memerankan tokoh Yesus, yang akhirnya dijalaninya karena butuh uang dan dia dibayar untuk memerankan tokoh itu. Adalagi seorang anak pemilik restoran yang berlatar belakang keluarga Kong Fu Chu yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam.
Saya sendiri nggak begitu mempermasalahkan jalan ceritanya, karena saya merasa cukup bertoleransi dalam masalah beragama . Saya punya teman yang Kristen dan Buddha, semuanya nggak ada masalah. Cuma saya bertanya-tanya kalau yang nonton mereka-mereka didaerah yang masih kurang pemahamannya mengenai pluralisme, apa nggak mencak-mencak melihat film ini? Karena sepertinya film ini lebih cocok untuk mereka yang tinggal diperkotaan.
Saya punya tetangga kost yang lumayan islam banget, yang heran di kamar kost saya ada patung Buddha. Mungkin dia bakalan shock lagi kalau tahu dikamar saya di rumah, masih banyak lagi patung-patung Buddha dalam berbagai posisi tapa brata hehe.. Dalam pengertian dia, dalam Islam, patung dilarang. Menurut guru agama saya dulu, Islam melarang patung karena khawatir akan disembah, Lha, selama kita tidak menyembah itu patung nggak apa-apa dong? Lagian saya suka patung Buddha karena atristik dan eksotik banget, nggak ada maksud lain.
Kalau dipikir-pikir mengenai kerukunan umat beragama, menurut saya di Indonesia sudah lebih baik dibanding negara-nagara lain. Bandingkan ini : di Thailand tidak ada libur nasional untuk agama Kristen dan Islam, walau di selatan Thailand, mayoritas penduduknya pemeluk Islam. Tidak ada libur Imlek juga disana. Di Perancis, jilbab dilarang, di Italia membangun mesjid dilarang, di Swiss yang apa-apa pakai referendum, mayoritas masyarakat sana tidak memperbolehkan pendirian menara mesjid, di Amerika, Al-Quran dibakar. Jadi kenapa kita ribut-ribut soal SKB 3 mentri yang sebenarnya bukan saja mengatur pendirian gereja di wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim, tapi juga mengatur pendirian mesjid diwilayah yang mayoritas Kristen? Benturan pasti ada dimana-mana antara mayoritas dan minoritas, tapi bukan berarti harus ribut-ribut tanpa solusi kan?
Sunday, April 10, 2011
Karma
Do you believe in Karma?
I do…
Meskipun dulu guru agama saya bilang dalam Islam tidak ada yang namanya karma, karena itu merupakan kepercayaan Hindu dan Buddha, tapi percaya atau tidak, itu saya rasakan terjadi dikehidupan saya sehari-hari..
Kalau dalam agama Kristen namanya hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur, itu yang kamu dapat. Mungkin dalam ilmu alam namanya hukum sebab-akibat ya?
Saya tidak tahu apakah karma merupakan recycle dimana nantinya manusia dilahirkan kembali sebagai manusia juga atau sebagai hewan atau sebagai tumbuhan. Ketika beberapa waktu yang lalu saya dan An menyaksikan pameran tentang agama Buddha disuatu mall, saya bisa tahu dalam agama Buddha, segala sesuatu hal itu ada penjelasannya. Ini juga yang membuat seorang teman saya memutuskan pindah agama dari Katholik menjadi Buddha, karena dia pernah bertanya kepada Pastur : kenapa begini atau kenapa begitu? Dan jawaban sang Pastur adalah : karena itu sudah kehendak dan jalan dari Tuhan. Sedangkan dalam Buddha, sesuatu itu ada penjelasannya, misalnya : kenapa seseorang berumur pendek? Jawabannya karena dimasa lalu dia seorang tukang jagal hewan. Lalu ada lagi : kenapa seorang istri bisa ditinggal mati suaminya begitu cepat? Jawabannya karena dikehidupan yang lampau wanita ini suka menyiksa suaminya…. Dan seterusnya, kamu tanya apa saja, pasti ada jawabannya.
Well, mungkin saya percaya karma dari sudut pandang yang lain. Coba renungin ini : kalau kamu marahin orang, tiba-tiba kamu dimarahin orang. Kamu gosipin orang tiba-tiba kamu digosipin, Kamu putusin orang, tiba-tiba kamu diputusin orang, Kamu ngecewain orang, maka kamu akan dikecewakan orang... dan seterusnya.
Seorang teman cerita kalau dia ikut pengajian dan ceramah agama tiap jum'at malam, katanya sebagai penyeimbang atas dosa-dosa yang dia lakukan selama sabtu - kamis. Saya rasa itu ide yang bagus juga, right? Karena kita sebagai manusia, susah banget menjadi selalu menjadi manusia yang lurus.
Bagi saya, hukuman balasan didunia itu lebih baik daripada hukuman balasan di neraka. Saya percaya musibah itu sebagai penyeimbang dan pengurang dosa-dosa kita. Karma didunia menjadi semacam pengingat supaya kita bisa introspeksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang selamanya kita tidak bisa selalu menjadi orang baik, tapi paling tidak kita sudah berusaha, ya ndak? :-P
I do…
Meskipun dulu guru agama saya bilang dalam Islam tidak ada yang namanya karma, karena itu merupakan kepercayaan Hindu dan Buddha, tapi percaya atau tidak, itu saya rasakan terjadi dikehidupan saya sehari-hari..
Kalau dalam agama Kristen namanya hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur, itu yang kamu dapat. Mungkin dalam ilmu alam namanya hukum sebab-akibat ya?
Saya tidak tahu apakah karma merupakan recycle dimana nantinya manusia dilahirkan kembali sebagai manusia juga atau sebagai hewan atau sebagai tumbuhan. Ketika beberapa waktu yang lalu saya dan An menyaksikan pameran tentang agama Buddha disuatu mall, saya bisa tahu dalam agama Buddha, segala sesuatu hal itu ada penjelasannya. Ini juga yang membuat seorang teman saya memutuskan pindah agama dari Katholik menjadi Buddha, karena dia pernah bertanya kepada Pastur : kenapa begini atau kenapa begitu? Dan jawaban sang Pastur adalah : karena itu sudah kehendak dan jalan dari Tuhan. Sedangkan dalam Buddha, sesuatu itu ada penjelasannya, misalnya : kenapa seseorang berumur pendek? Jawabannya karena dimasa lalu dia seorang tukang jagal hewan. Lalu ada lagi : kenapa seorang istri bisa ditinggal mati suaminya begitu cepat? Jawabannya karena dikehidupan yang lampau wanita ini suka menyiksa suaminya…. Dan seterusnya, kamu tanya apa saja, pasti ada jawabannya.
Well, mungkin saya percaya karma dari sudut pandang yang lain. Coba renungin ini : kalau kamu marahin orang, tiba-tiba kamu dimarahin orang. Kamu gosipin orang tiba-tiba kamu digosipin, Kamu putusin orang, tiba-tiba kamu diputusin orang, Kamu ngecewain orang, maka kamu akan dikecewakan orang... dan seterusnya.
Seorang teman cerita kalau dia ikut pengajian dan ceramah agama tiap jum'at malam, katanya sebagai penyeimbang atas dosa-dosa yang dia lakukan selama sabtu - kamis. Saya rasa itu ide yang bagus juga, right? Karena kita sebagai manusia, susah banget menjadi selalu menjadi manusia yang lurus.
Bagi saya, hukuman balasan didunia itu lebih baik daripada hukuman balasan di neraka. Saya percaya musibah itu sebagai penyeimbang dan pengurang dosa-dosa kita. Karma didunia menjadi semacam pengingat supaya kita bisa introspeksi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Memang selamanya kita tidak bisa selalu menjadi orang baik, tapi paling tidak kita sudah berusaha, ya ndak? :-P
Saturday, April 9, 2011
Bersosialisasi atau bersosialita?
Beberapa waktu yang lalu saya ketemu seseorang yang kenal dengan teman saya dimasa lalu. Saya bilang dimasa lalu, karena memang karena suatu dan lain hal saya sudah tidak intens lagi kontak dengan dia.
Yang saya tahu, teman saya itu orang yang biasa-biasa saja secara financial. Seperti halnya saya, bekerja, mendapat gaji, dan dihabiskan dalam sebulan, begitu seterusnya, seperti siklus air, dari laut, menguap keudara, menjadi uap air dan turun sebagai hujan, terus seperti itu dan berulang.
Singkat kata, teman saya ini punya suatu lingkungan ~ sebut saja group nongkrong ~ dimana mereka sering ngumpul untuk bersosialisasi, seringnya disuatu mall. Yang saya tahu ada beberapa diantara mereka yang punya karir bagus dengan salary yang lumayan, dan sebagian lagi tidak. Dan seperti yang kita tahu, bagian yang kurang mampu “terinspirasi” dengan cerita-cerita bagian yang mampu. Kemudian mulai melek brand. Nggak usah bicara Louis Vuitton atau Dolce & Gabanna, tapi brand menengah seperti Zara atau dibawahnya seperti Giordano. Yang jelas, masih termasuk mahal untuk kaum pekerja dengan gaji 2-3 juta sebulan.
Yang jelas, ngumpul seperti itu juga sudah suatu cost. Walaupun ibaratnya kamu cuma pesan es teh di mall, harganya berlipat kali lipat dibanding kamu beli es teh di warung pinggiran. Belum makannya. Dan untuk ngobrol ngalur ngidul yang nggak jelas, mungkin menghabiskan lebih dari satu gelas minuman. Belum lagi kalau ngobrol-ngobrolnya di starbuck, dimana segelas kopi sama biayanya sama dengan ongkos transport kita ke kantor beberapa hari. Alhasil dari ngobrol-ngobrol itu teman saya yang pas-pasan ini tertarik dengan cerita temannya yang baru beli ini-itu, bergabung dengan fitness yang mahal, pokoknya ikut bergaya hidup kaum metroseksual.
Saya masih ingat dulu sekali dia pernah cerita, pernah terlilit masalah kartu kredit, sampai akhirnya orang tuanya tahu dan akhirnya orang tuanya juga yang melunasi. Sejak saat itu dia memutuskan tidak ingin punya kartu kredit. Great, bagus. Tapi itu tidak menghentikan egonya untuk terlihat mapan dimata keluarganya. Maksud saya, ketika kakaknya ada masalah harus masuk rumah sakit, atau adiknya mau menikah, dia yang kelimpungan mencari uang untuk menyumbang, sampai rela berhutang. Saya cuma bisa bilang, Oh my God. Membantu nggak ada salahnya selama kamu punya uang, tapi bukan berarti kamu harus berhutang supaya terlihat hebat dimata keluargamu.
Kalau sudah begitu, mulai melirik teman yang kelihatannya punya uang banyak, trus mulai mencoba minjam dan berhutang. Padahal kita tidak bisa menilai orang banyak uang dari penampilan. Mungkin teman kamu memakai baju bagus dan mahal, bukan berarti dia punya uang banyak kan? Mungkin dia mencicil – bisa jadi. Mungkin dia besar mulut cerita pergi kesana atau kesini, tapi itu mungkin cuma cerita biar terlihat hebat, belum tentu juga dia punya uang. Kalau sudah begitu, karena masalah uang, hubungan bisa jadi rusak. Nggak dikasih pinjaman jadi marahan, musuhan. Tapi adakalanya kalau dipercaya dipinjami, lupa bayar, akhirnya lupa kalau punya hutang! Nggak lucu banget pertemanan rusak gara-gara uang...
Saya tidak menyalahkan kalau kita pingin punya teman dari kaum “the have” tapi bukan berarti kita harus ikut gaya hidup mereka. Salah pergaulan berbahaya. Apalagi kalau masalah uang. Bisa-bisa kamu korupsi hanya untuk bisa hidup dengan standar tinggi. Sosialisasi memang perlu, tapi nggak perlu sampai minder juga kalau kita datang dan nggak mesan apa-apa. Kalau kamu dianggap aneh karena nggak bisa ikut standar mereka, paling juga kamu dijauhi, tapi justru itu kamu bisa tahu, siapa yang benar-benar teman sejati, right? :-)
Yang saya tahu, teman saya itu orang yang biasa-biasa saja secara financial. Seperti halnya saya, bekerja, mendapat gaji, dan dihabiskan dalam sebulan, begitu seterusnya, seperti siklus air, dari laut, menguap keudara, menjadi uap air dan turun sebagai hujan, terus seperti itu dan berulang.
Singkat kata, teman saya ini punya suatu lingkungan ~ sebut saja group nongkrong ~ dimana mereka sering ngumpul untuk bersosialisasi, seringnya disuatu mall. Yang saya tahu ada beberapa diantara mereka yang punya karir bagus dengan salary yang lumayan, dan sebagian lagi tidak. Dan seperti yang kita tahu, bagian yang kurang mampu “terinspirasi” dengan cerita-cerita bagian yang mampu. Kemudian mulai melek brand. Nggak usah bicara Louis Vuitton atau Dolce & Gabanna, tapi brand menengah seperti Zara atau dibawahnya seperti Giordano. Yang jelas, masih termasuk mahal untuk kaum pekerja dengan gaji 2-3 juta sebulan.
Yang jelas, ngumpul seperti itu juga sudah suatu cost. Walaupun ibaratnya kamu cuma pesan es teh di mall, harganya berlipat kali lipat dibanding kamu beli es teh di warung pinggiran. Belum makannya. Dan untuk ngobrol ngalur ngidul yang nggak jelas, mungkin menghabiskan lebih dari satu gelas minuman. Belum lagi kalau ngobrol-ngobrolnya di starbuck, dimana segelas kopi sama biayanya sama dengan ongkos transport kita ke kantor beberapa hari. Alhasil dari ngobrol-ngobrol itu teman saya yang pas-pasan ini tertarik dengan cerita temannya yang baru beli ini-itu, bergabung dengan fitness yang mahal, pokoknya ikut bergaya hidup kaum metroseksual.
Saya masih ingat dulu sekali dia pernah cerita, pernah terlilit masalah kartu kredit, sampai akhirnya orang tuanya tahu dan akhirnya orang tuanya juga yang melunasi. Sejak saat itu dia memutuskan tidak ingin punya kartu kredit. Great, bagus. Tapi itu tidak menghentikan egonya untuk terlihat mapan dimata keluarganya. Maksud saya, ketika kakaknya ada masalah harus masuk rumah sakit, atau adiknya mau menikah, dia yang kelimpungan mencari uang untuk menyumbang, sampai rela berhutang. Saya cuma bisa bilang, Oh my God. Membantu nggak ada salahnya selama kamu punya uang, tapi bukan berarti kamu harus berhutang supaya terlihat hebat dimata keluargamu.
Kalau sudah begitu, mulai melirik teman yang kelihatannya punya uang banyak, trus mulai mencoba minjam dan berhutang. Padahal kita tidak bisa menilai orang banyak uang dari penampilan. Mungkin teman kamu memakai baju bagus dan mahal, bukan berarti dia punya uang banyak kan? Mungkin dia mencicil – bisa jadi. Mungkin dia besar mulut cerita pergi kesana atau kesini, tapi itu mungkin cuma cerita biar terlihat hebat, belum tentu juga dia punya uang. Kalau sudah begitu, karena masalah uang, hubungan bisa jadi rusak. Nggak dikasih pinjaman jadi marahan, musuhan. Tapi adakalanya kalau dipercaya dipinjami, lupa bayar, akhirnya lupa kalau punya hutang! Nggak lucu banget pertemanan rusak gara-gara uang...
Saya tidak menyalahkan kalau kita pingin punya teman dari kaum “the have” tapi bukan berarti kita harus ikut gaya hidup mereka. Salah pergaulan berbahaya. Apalagi kalau masalah uang. Bisa-bisa kamu korupsi hanya untuk bisa hidup dengan standar tinggi. Sosialisasi memang perlu, tapi nggak perlu sampai minder juga kalau kita datang dan nggak mesan apa-apa. Kalau kamu dianggap aneh karena nggak bisa ikut standar mereka, paling juga kamu dijauhi, tapi justru itu kamu bisa tahu, siapa yang benar-benar teman sejati, right? :-)
Sabtu ini...
Sabtu ini..
Masih di kost seperti minggu lalu, menikmati kesendirian setelah seminggu kerja, telinga penuh dengan hiruk pikuk terutama dari dua ibu-ibu monster yang duduk dibelakang gue, yang selalu rebut dengan obrolan-obrolan yang nggak penting, membuat hari-hari gue bete tiada tara *lebayy*
Since I don’t have many friends, maksudnya jarang ketemu juga ~ lebih sering BBM-an aja ~ jadi sabtu lebih sering di kost aja. Satu persatu teman kost pada kelayapan, dan gue tetap disini. Sabtu lalu sibuk bongkar lemari dan box, mencari sesuatu benda yang ternyata setelah bongkar sana-sini tetap nggak ketemu. Tapi paling nggak, kamar gue lebih tertata rapi setelah membuang 4 plastik besar sampah, Yes… gue emang suka simpan sampah..
Buat gue, suatu benda itu punya history-nya masing-masing. Jadilah gue simpan plastik bag, paper bag, brosur-brosur belanja, katalog-katalog yang sudah kadaluasa, dan lain-lain. Masih simpan tiket bioskop 21, struk belanja, brosur pameran komputer, brosur travel dan nggak ketinggalan katalog Carrefour dan department store yang semuanya sudah kadaluarsa, great!
Masing-masing benda punya sejarah, right? Tiket pertama kali kamu nonton sama dia, struk makan waktu kamu berdua sama si dia, dan lain-lainnya. Seburuk apapun hubungan kamu dengan seseorang, pasti ada saat-saat manis yang kalian jalani. Jadi jika kalian berantem, jangan lihat kejelekannya semata, tapi juga liat saat-saat manisnya. Tapi kadang kala, apabila suatu hubungan itu sudah stag dan tidak bisa dilanjutkan, ada baiknya semua kamu kubur dalam-dalam, buang dalam 4 kantong plastik besar..wew..
Masih di kost seperti minggu lalu, menikmati kesendirian setelah seminggu kerja, telinga penuh dengan hiruk pikuk terutama dari dua ibu-ibu monster yang duduk dibelakang gue, yang selalu rebut dengan obrolan-obrolan yang nggak penting, membuat hari-hari gue bete tiada tara *lebayy*
Since I don’t have many friends, maksudnya jarang ketemu juga ~ lebih sering BBM-an aja ~ jadi sabtu lebih sering di kost aja. Satu persatu teman kost pada kelayapan, dan gue tetap disini. Sabtu lalu sibuk bongkar lemari dan box, mencari sesuatu benda yang ternyata setelah bongkar sana-sini tetap nggak ketemu. Tapi paling nggak, kamar gue lebih tertata rapi setelah membuang 4 plastik besar sampah, Yes… gue emang suka simpan sampah..
Buat gue, suatu benda itu punya history-nya masing-masing. Jadilah gue simpan plastik bag, paper bag, brosur-brosur belanja, katalog-katalog yang sudah kadaluasa, dan lain-lain. Masih simpan tiket bioskop 21, struk belanja, brosur pameran komputer, brosur travel dan nggak ketinggalan katalog Carrefour dan department store yang semuanya sudah kadaluarsa, great!
Masing-masing benda punya sejarah, right? Tiket pertama kali kamu nonton sama dia, struk makan waktu kamu berdua sama si dia, dan lain-lainnya. Seburuk apapun hubungan kamu dengan seseorang, pasti ada saat-saat manis yang kalian jalani. Jadi jika kalian berantem, jangan lihat kejelekannya semata, tapi juga liat saat-saat manisnya. Tapi kadang kala, apabila suatu hubungan itu sudah stag dan tidak bisa dilanjutkan, ada baiknya semua kamu kubur dalam-dalam, buang dalam 4 kantong plastik besar..wew..
Friday, April 8, 2011
My rules
Kemarin, seorang teman dari teman men-unfollow saya di twitter. Saya nggak begitu kenal orang ini, dia temannya seorang teman, sekali waktu kita pernah ketemu sekali. Sebenarnya saya tadinya nggak begitu aktif di twitter, sampai ketika ada masalah sama seorang teman kantor yang rada gila ~ yang sebenarnya dia bermasalah dengan teman kantor yang lain ~ tapi nggak tau kenapa saya yang kena getahnya ~ akhirnya saya lebih suka bercuap-cuap di twitter.
Buat saya, jejaring sosial adalah milik pribadi, dimana siempunya bisa berekspresi, bebas mengutarakan uneg-uneg dan dikomentari sama teman-temannya. Namun kayaknya sekarang sudah banyak tata kramanya, nggak boleh ngomong sembarangan, apalagi kalau kita lagi kesel sama seseorang dan menulisnya di status facebook, wew, bisa geger dunia. Tapi sebenarnya saya sendiri suka eneg dengan beberapa status yang menurut saya lebay, dan biasanya segera saya delete orang itu (semoga orang-orang juga nggak menganggap status saya kelewat lebay yak.. :-P )
Twitter sebenarnya sama aja. Udah bukan jadi milik pribadi, tapi milik umum. Tapi berhubung saya bukan artis, jadi ya sedikit yang memfollow, dan lebih bisa fun disana, karena mungkin yang maniak twitter tidak sebanyak yang maniak dengan facebook.
But anyway, kembali tentang temennya temen tadi, kalau liat status-statusnya memang berbau-bau “politis”. Mungkin karena dia bekerja disebuah LSM yang kerjanya memang tukang buat kritik ke pemerintah, berbanding terbalik dengan saya yang cuma buat status kejadian sehari-hari… saat saya senang, saat saya marah atau jengkel, dan mungkin juga saling berbalas ngeledek teman… Tapi menurut saya memang itu tujuannya kan? Orang pingin mengenal siapa kamu, lagi apa, apa yang terjadi pada dirimu, sesekali komentar politik its OK, tapi nggak setiap saat berkomentar hal-hal yang berat. Mungkin agar kelihatan intelek? berpendidikan? atau hebat? Well, I don’t know. Yang jelas, enggak banget!
Well, saya punya rules dimana jika seseorang men-unfollow saya, maka saya wajib untuk melakukan tindakan balasan, men-unfollow dia. And its done.
Buat saya, jejaring sosial adalah milik pribadi, dimana siempunya bisa berekspresi, bebas mengutarakan uneg-uneg dan dikomentari sama teman-temannya. Namun kayaknya sekarang sudah banyak tata kramanya, nggak boleh ngomong sembarangan, apalagi kalau kita lagi kesel sama seseorang dan menulisnya di status facebook, wew, bisa geger dunia. Tapi sebenarnya saya sendiri suka eneg dengan beberapa status yang menurut saya lebay, dan biasanya segera saya delete orang itu (semoga orang-orang juga nggak menganggap status saya kelewat lebay yak.. :-P )
Twitter sebenarnya sama aja. Udah bukan jadi milik pribadi, tapi milik umum. Tapi berhubung saya bukan artis, jadi ya sedikit yang memfollow, dan lebih bisa fun disana, karena mungkin yang maniak twitter tidak sebanyak yang maniak dengan facebook.
But anyway, kembali tentang temennya temen tadi, kalau liat status-statusnya memang berbau-bau “politis”. Mungkin karena dia bekerja disebuah LSM yang kerjanya memang tukang buat kritik ke pemerintah, berbanding terbalik dengan saya yang cuma buat status kejadian sehari-hari… saat saya senang, saat saya marah atau jengkel, dan mungkin juga saling berbalas ngeledek teman… Tapi menurut saya memang itu tujuannya kan? Orang pingin mengenal siapa kamu, lagi apa, apa yang terjadi pada dirimu, sesekali komentar politik its OK, tapi nggak setiap saat berkomentar hal-hal yang berat. Mungkin agar kelihatan intelek? berpendidikan? atau hebat? Well, I don’t know. Yang jelas, enggak banget!
Well, saya punya rules dimana jika seseorang men-unfollow saya, maka saya wajib untuk melakukan tindakan balasan, men-unfollow dia. And its done.
Thursday, April 7, 2011
Mau kemana?
Kalau ditanya, kalau disuruh pergi dua kali, mau kenegara mana? Hmmm… Sejauh ini sih, baru pergi ke Hong Kong, Macau, Secuil Cina daratan (Shen Zhen), Bangkok-Pattaya, Kuala Lumpur, Singapura, sama Saudi Arabia (Jeddah-Mekkah-Madinah)~ itupun dapet jatah umroh dari kantor, hehe.. well, bingung milihnya, karena masing-masing negara punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.
Singapura dan Hong Kong mirip. Transportasinya oke, terutama kereta bawah tanahnya, walau pendatang, kita bisa menggunakan sarana transport ini dengan relatif mudah. Orang-orangnya cuek, kalau jalan-jalan pasti nggak ada yang ganggu. Lalu lintasnya juga teratur. Tapi biaya hidup disini mahal. Nggak cocok buat kantong karyawan pas-pasan seperti saya untuk tinggal lama-lama di dua negara ini. Maklum lah, semua serba impor karena keterbatasan lahan. Kalau Macau lebih nggak cocok lagi, Daerah SAR China ini standar hidupnya mungkin lebih tinggi dari Hong Kong. Tapi walaupun Macau karena sangking kecilnya wilayah ini, tidak punya subway, namun sebagian besar mall yang ada kasinonya itu menyediakan bus-bus gratisan. Kita tinggal datang ke shuttle busnya dan duduk manis diantar sampai tempat tujuan. Kalau wilayah China Shen Zhen yang dibangun buat nyaingin HK, gedung-gedungnya bagus, tapi nuansanya “beda” dengan HK, nggak tau kenapa, ngga betah aja diwilayah ini… tapi disini surga belanja barang-barang branded palsu. Kalau pingin barang yang mirip asli tapi palsu, silahkan puas-puasin belanja disini. Tipsnya, nawarnya mesti tega. Tawar aja 70% dari harga yang dibuka sipenjual.
Sebenarnya saya lebih suka ke Bangkok, diluar urusan “wisata syahwat” nya, Bangkok punya ciri khas sendiri dibandingkan tiga wilayah diatas. Wisatanya bagus, banyak objek wisata yang menarik. Cuma dua kali kesana, nggak pernah mencoba naik sky train atau subway-nya, masih takut… Masalahnya di Bangkok ini banyak sekali penipu jalanan yang berkeliaran mengincar para turis. Triknya macam-macam, mulai dari kasih makanan burung, sampai yang paling sering, bekerja sama dengan sopir tuk-tuk untuk dibawa ketempat-tempat tertentu yang penuh dengan “pesan sponsor”. Kadang mereka bilang : anda beruntung, hari ini hari Raja, sehingga naik tuk-tuk gratis… mungkin kita bakalan tertarik dengan tawaran ini tapi justru sebenarnya masuk jebakan komplotan ini. Sangking seringnya penipuan ala beginian, sampai ditulis di depan Grand Palace supaya tidak tergoda dengan rayuan sopir tuk-tuk ini.Tapi diluar urusan tipu-menipu itu, Thailand sebenarnya menarik. Makanan murah, yah nggak jauh-jauh beda dengan di Indonesia. Lalu lintasnya semerawut tapi kayaknya parahan Jakarta deh.
Kuala Lumpur kotanya oke, makanannya enak dan lumayan terjangkau, cuma kok kesannya begitu-begitu saja ya. Objek wisatanya paling diajak ke Genting. Tapi kalau buat belanja-belanja bolehlah…Kalau Arab, wew… untuk yang kantong pas-pasan nggak cocok kesini. Kalau mau belanja, semuanya made in China, sama aja boong. Udaranya kalau musim panas ya panas banget. Mau ke Mall, mesti liat jadwal sholat… soalnya tiap adzan toko-toko dan mall pasti tutup. Jadi mesti gesit juga belanjanya, jangan nawar-nawar atau ngepas baju kelamaan, dan harga susah ditawar…
So, kalau ditanya mau kemana kalau disuruh milih, pingin ke Bangkok lagi kali ya... :-P
Wednesday, April 6, 2011
Flashback Trip in Thailand

Miss Langsing, salah satu teman lama di kantor, mau trip ke Thailand akhir bulan ini. Si Ant, akhir Mei juga mau kesana, sendirian, setelah tergoda tiket murah Air Asia yang dibeli tahun lalu. Jadi iri, jadi pingin kesana lagi.
Jadi inget waktu kesana tahun 2006 dan 2008. dua kali mengunjungi Negara yang sama, dan tempat yang hampir sama, kecuali yang kedua nyempil sendiri ke Ayutthaya, kota tua tempat ibukota Thailand yang lama, sebelum dipindahkan ke Bangkok, setelah kota itu di bumi hanguskan oleh kerajaan Burma.
Pingin ingat-ingat kembali, hari itu tanggal 6 Mei, akhirnya jadi juga jalan2 ke Thailand. Sebenarnya ini surprise dari dia dalam rangka ultah gue.
Penerbangan hampir 4 jam direct Jakarta – Bangkok bikin pegal juga. Mendarat di Swarnabhumi airport Bangkok jam 8.15 malam.
Karena sudah malam jadi gak bisa begitu nikmati bandara baru kota Bangkok ini, tapi dari apa yang diliat interiornya cukup mewah sih, dibanding Soekarno-Hatta yang lebih berkesan tradisional dan agak kumel, Swarnabhumi lebih modern dan bersih. WC toiletnya mirip toilet di mal. Beda jauh juga sama Bandara lamanya, Don Muang yang bau pesing (Ini kali kedua ke Thailand, sebelumnya masih mendarat di Don Muang) Tapi namanya juga baru ya, lama2 juga jadi kumel hehehe..
Akhirnya ketemu juga sama penjemput dari pihak travel. Namanya Mr.Yong, 42 Thn, blm merried. Ditransfer langsung ke hotel Prince Palace. Bintang 4 sih, Cuma lingkungannya kacau balau kalau pagi. Soalnya bagian bawahnya udah seperti ITC mangga dua aja. But so far, hotel bintang 4 ini oke banget.
Buat makan malam, belanja di seven eleven, disana jual nasi beku yang tinggal di microwave aja, langsung makan. Rasanya aneh2.. mungkin karena orang Thai seneng yang asem2 kayak Tom Yam, jadi semua masakan terasa asem. Yang lumayan Cuma nasi goreng, yang setelah diteliti ternyata mengandung B2.. (tapi sadarnya setelah di makan huhuhu...)

Suwarnabhumi Airport
Day – 1 (Rabu,7 Mei 2008)
Hari ini jalan2 hari pertama, langsung check out, karena setelah city tour nanti langsung ke pattaya. Kita digabung sama rombongan lain, sepasang suami-istri yang lagi bulan madu, plus 2 cewek. Berenam dibawa ke sungai chao praya. Rutenya sama persis sama tour pertama dulu, Persinggahan pertama, Wat Arun.
Candi Wat Arun ini sebenarnya Cuma ditempel2 pecahan keramik, kebanyakan pecahan piring keramik cina gitu deh. Tangganya juga terjal2. Disekelilingnya ada kuil Budha.
Selesai foto2, terus belanja souvenir di sebelahnya. Tips buat yang mau ke Bangkok, Kalau mau beli souvenir belilah disini, soalnya harganya paling murah, terutama kaos2nya. Mungkin bawanya yang agak repot ya.. hehe, tapi kalau mau save uang, ya harus repot sedikit.
Next, Kita dibawa ke Pattaya, jaraknya kira2 Jakarta – Bandung. Ini juga kali kedua ke Pattaya, dibawa ke hotel yang sama seperti 2 tahun lalu.
Pattaya memang kota mesum, jam 4 sore aja cewe-cewe prositusi udah pada mejeng di bar-bar yang tersebar hampir disepanjang jalanan Pattaya.
Objek wisatanya, nonton cabaret waria di Alcazar. Panggungnya mewah, warianya cantik, melebihi cewek beneran, cuma boring aja nontonnya, liat orang lip-sync lagu-lagu.
Setelah pertunjukan selesai, waria-waria itu keluar, siapa yang mau foto bareng boleh, bayar 40 Bhat ( Rp.12ribu). Anc antusias baget deh kalo acara foto-foto gitu. Gue sih males..
Nggak seperti pertama kali ke Pattaya, kali ini gak liat show esek-esek. Udah malam dan capek. Besok masih harus jalan dari pagi. Tengah malam dapat ucapan selamat ulang tahun to me.... Happy B’dayyy!!!

Wat Arun - Bangkok
Day-2 ( Kamis, 8 Mei 2008 )
Objek wisatanya udah pernah dikunjungi, jadi males nulisnya. Liat Gajah, Tiger Show, Toko Buah buat oleh-oleh, pabrik permata…
Mungkin dikira turis Indo itu banyak duit kali ya, diajak ke pabrik permata sampai dua kali?
Day-3 ( Jumat, 9 Mei 2008 )
Rombongan yang 4 orang hari ini udah gak ikut lagi, balik ke Jakarta, Jadi tinggal gue sama Ance yang city Tour.
Mengunjungi 4 face Budha, katanya permohonan bisa terkabul kalau berdoa disini. Selanjutnya ya acara shoping-shoping sampai malam. Nyari Hardrock Café Bangkok yang lokasinya nyempil (si Anc kolektor pin Hard Rock), Lanjut ke Siam Paragon, Mall mewah yang dibawahnya ada Sea World.
Malamnya, Mister Yong, Tourguide kami, ngajak ke Pat-Pong, Daerah mesum yang dilegalkan di Bangkok. Disepanjang lorong udah disuguhi menu-menu sex show. Kita sih Cuma lewat aja, sekedar tahu doang.
Day-4 (Sabtu,10 Mei 2008)
Tour ke Ayutthaya gak termasuk dalam paket wisata, jadi harus keluar duit lagi, ikut tour lokal. Habis 1.700 bhat untuk 1 orang. Perjalanan Pakai Bus, dicampur dengan turis-turis lain. Kira2 makan waktu hamper 2 jam.
Persinggahan pertama, istana musim panas Bang-Pa-In. Istananya bagus, tamannya luas. Disini kira-kira 1 jam, kemudian ke reruntuhan candi Wat Po. Candi ini dibakar waktu diserbu pasukan Burma ber-abad yang lalu, sekarang tinggal puing-puingnya saja. Satu patung Budha yang terbuat dari emas terselamatkan dan di bangunkan sebuah kuil yang baru. Disini juga ada kepala Budha yang kejepit akar pohon yang terkenal itu. Kalau mau foto harus jongkok ya, kalu nggak ditegur sama penjaganya. Dari situ kemudian mengunjungi Budha Tidur, atau recycle Budha, Cuma sebentar kemudian dibawa ke chao Praya, naik kapal berlayar kembali ke Bangkok. Kalau lewat sungai, 3 jam baru sampai Bangkok. Makan siang di kapal, prasmanan. Sadisnya orang Thai, kita dikasih kopi/teh panas buat minum, kalau mau yang dingin2 harus beli, termasuk air putih dingin.. hiks..
Sampai Hotel sudah malam, jadi langsung tidurr…

Istana Bang Pha In, Ayyuthaya
Day-5 (Minggu, 11 Mei 2008)
Hari ini bebas, jadi gue sama Anc mau jalan-jalan sendiri aja. Berbekal map wisata, kami mau menuju Grand Palace. Bener-bener mirip turis back pack, modal nekat. Secara kebetulan ketemu Museum Praja Deprok (Gue sebutnya Raja Depok, hihihi) . Raja Depok.. eh, Praja Deprok ini nama bekennya Rama VII. Musium ini hibah dari Istrinya setelah mangkat, isinya ya memorabilia aja. Kalau anda kesini, isi buku tamunya ya, ada nama gue disitu.. hehe…
Selanjutnya jalan lagi… Hampir ditipu lagi sama orang2 Thai yang bejat. Why? Dulu pas Pertama kali ke Thai, kita juga jadi korban penipuan orang2 yang ngincar turis. Boleh pakai tuk-tuk gratis, atau bayar sangat murah, tapi kita dibawa ke tempat-tempat penjualan permata dan panti pijat. Kita kira orang2 ini baik benerrr… ujung-ujungnya si Anc kena juga beli cincin seharga 7 juta-an, padahal harga aslinya jauh dibawah itu. Jadi sekarang tidak terjebak untuk kedua kali. Jangan pernah mau ditawari apa-apa kalau ketemu orang di Jalan. Orang Thai itu susah berbahasa Inggris, jadi kalau ketemu orang dijalan yang Bahasa Inggrisnya fasih benar, harus hati-hati ya.
Sebelum ke Istana, Mapir ke Museum Nasional Bangkok. Wah jangan bayangin museumnya nyaman kayak di Singapura. Selain kesannya kumuh, penataan sembarangan, nggak ada AC pula. AC cuma ada di bagian koin/uang.. lumayan deh buat ngadem.
Museum nasional ini letaknya gak jauh dari Grand Palace, tapi ternyata sudah kesorean, Udah tutup. Jadi jalan balik lagi ke Hotel. Oya, hati-hati juga kalau ada yang nawarin anda makanan burung (disekitar situ banyak burung merpati), mereka maksa banget, sesudahnya kita dimintain duit yang gak kira-kira untuk secuil makanan burung. Jadi sebelum itu terjadi, buru-buru kabur aja ya..


Grand Palace, Bangkok
Day-6 (Senin, 12 Mei 2008)
Nanti malam sudah harus balik ke Indo, Jadi pagi-pagi kita udah buru-buru ke Grand Palace, karena kemarin udah keburu tutup. Sempat hujan sih, tapi untungnya gak lama.
Dalam kompleks Grand palace ini ada kuil tempat bersemayamnya emerald Budha. Patungnya kecil sih, Cuma perlakuannya istimewa, Patung ini punya 3 macam pakaian terbuat dari emas, mengikuti 3 musim di Thailand : musim panas, musim hujan dan musim dingin. Jadi tiap 4 bulan sekali bajunya diganti.
Puas dari Grand Palace, kita jalan-jalan ke mall, makan, sebelum dijemput jam 5 sore, balik ke Bandara Swarnahumi. Kali ini baru deh kita bisa liat kemegahan bandara ini. Check in nya luas banget. Sempat kesel juga karena tas bawaan harus digeledah, kesannya gue teroris banget ya?
Setelah hampir 4 jam akhirnya tiba juga di Jakarta jam 12 malam. Badan udah capek banget, dan besok udah harus masuk kerja. Gak enak kan cuti kelamaan?
Kapan ya bisa ke Thailand lagi…
Sunday, April 3, 2011
Baik hati dan setia
"carikan pacar yang baik hati dan setia dong, please.." itu status seorang teman di BBM nya. Hmmm...baik hati dan setia? yakin cuma itu?
Pengalaman menjodohkan saya tidak pernah berhasil dengan sukses. Malah sempet ribut dulu sama Henk waktu saya menjodohkannya dengan seseorang. Waktu itu memang saya salah juga terlalu nge-push, tapi sebagai pihak mak comblang, tentunya kita pingin tau segala sesuatunya, right? apa alasannya perjodohan itu gagal, i need to know.
But anyway, sebenarnya kalau yang dicari cuma baik hati dan setia, mungkin ada banyak. Tapi biasanya fisik yang utama. Kalau nggak ganteng atau nggak cantik, nggak mau. Tapi nggak bisa disalahin juga. Kita manusia, pingin liat yang indah-indah. Siapa yang nggak mau dapat pasangan yang ganteng atau cantik, plus kalau bisa punya badan berotot perut sixpack untuk pria atau wanita dengan bentuk badan ramping dengan rambut tergerai indah. Apalagi kalau plus kaya, setia, baik hati dan tidak sombong, sempurna...
Tapi sosok yang ideal itu nggak ada. Makin cakep pasangan kita, makin besar biaya maintenance-nya. Misalnya, supaya tidak berpindah kelain hati, kita bisa royal memanjakan dia dengan materi, selain itu makin cakep pasangan kita, makin besar kesempatan dia untuk selingkuh, bener nggak?
Kembali keatas, saya pribadi lebih suka mencari jodoh sendiri ketimbang dicarikan atau minta dikenal-kenalkan. Memangnya mau buat kartu kredit, perlu referesi dari atasan? Dikenalkan kesannya kita sudah nggak laku, dan tidak independen. Saya lebih suka cinta padangan pertama, saling lihat dan saling lihat dan jatuh cinta, Kenalan lewat chatting atau jejaring sosial juga OK, tapi beda dengan pandangan pertama itu. Pertama, kita sudah tau fisiknya. Beda kalau kamu kenalan lewat facebook, misalnya, cuma ada foto disitu, terlalu banyak prosedur yang harus dijalani. Kirim pesan, nunggu dia baca dulu, tunggu tanggapannya, apakah dia tertarik atau tidak. Kalau jawabannya cuma "hi" atau "hi juga" forget it. Kalaupun jadi, mesti ketemu dulu, saling menilai fisik, bla-bla-bla. Kalau lewat pandangan pertama, lebih ada gregetnya. Semua serba spontan, dan nyali benar-benar diuji.
But anyway, Katanya jodoh ada ditangan Tuhan. Saya merasa Tuhan sudah memberikan jodoh kepada kita, cuma kitanya yang ngeyel - banyak maunya, sehingga jodoh nggak datang-datang. Saya masih ingat sama Yet, teman kantor saya dulu, yang terobsesi banget kawin sama bule. Modalnya cuma pergi ke warnet tiap pulang kerja, kenalan-kenalan dengan bule di Friendster, chatting di Yahoo Messenger, dan whala, dia dapat! seorang pria Belanda, datang ke Jakarta, dan akhirnya mereka menikah. Namun karena suatu alasan yang spele, Long Distance, akhirnya dia cerai. Great! Inilah yang saya bilang, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita jodoh, namun karena pikiran pendek kita sendiri, terlalu banyak pertimbangan, kita menyia-nyiakannya, dan kemudian tiap malam kita ribut berdoa kepada-Nya "mana jodoh saya Tuhan?"
Jika sekarang tiap malam Yet, atau Henk curhat sama saya betapa kesepian dan desperatenya mereka mencari pasangan, saya jadi bosan, dan sekarang saya blok mereka di YM sehingga mereka nggak bisa cerita lagi. Saya bosan mendengar keluh kesah mereka tentang jodoh yang nggak dateng-dateng. Kalau saya aja bosen dan menjauh, apalagi Tuhan kali ya? :-P
Pengalaman menjodohkan saya tidak pernah berhasil dengan sukses. Malah sempet ribut dulu sama Henk waktu saya menjodohkannya dengan seseorang. Waktu itu memang saya salah juga terlalu nge-push, tapi sebagai pihak mak comblang, tentunya kita pingin tau segala sesuatunya, right? apa alasannya perjodohan itu gagal, i need to know.
But anyway, sebenarnya kalau yang dicari cuma baik hati dan setia, mungkin ada banyak. Tapi biasanya fisik yang utama. Kalau nggak ganteng atau nggak cantik, nggak mau. Tapi nggak bisa disalahin juga. Kita manusia, pingin liat yang indah-indah. Siapa yang nggak mau dapat pasangan yang ganteng atau cantik, plus kalau bisa punya badan berotot perut sixpack untuk pria atau wanita dengan bentuk badan ramping dengan rambut tergerai indah. Apalagi kalau plus kaya, setia, baik hati dan tidak sombong, sempurna...
Tapi sosok yang ideal itu nggak ada. Makin cakep pasangan kita, makin besar biaya maintenance-nya. Misalnya, supaya tidak berpindah kelain hati, kita bisa royal memanjakan dia dengan materi, selain itu makin cakep pasangan kita, makin besar kesempatan dia untuk selingkuh, bener nggak?
Kembali keatas, saya pribadi lebih suka mencari jodoh sendiri ketimbang dicarikan atau minta dikenal-kenalkan. Memangnya mau buat kartu kredit, perlu referesi dari atasan? Dikenalkan kesannya kita sudah nggak laku, dan tidak independen. Saya lebih suka cinta padangan pertama, saling lihat dan saling lihat dan jatuh cinta, Kenalan lewat chatting atau jejaring sosial juga OK, tapi beda dengan pandangan pertama itu. Pertama, kita sudah tau fisiknya. Beda kalau kamu kenalan lewat facebook, misalnya, cuma ada foto disitu, terlalu banyak prosedur yang harus dijalani. Kirim pesan, nunggu dia baca dulu, tunggu tanggapannya, apakah dia tertarik atau tidak. Kalau jawabannya cuma "hi" atau "hi juga" forget it. Kalaupun jadi, mesti ketemu dulu, saling menilai fisik, bla-bla-bla. Kalau lewat pandangan pertama, lebih ada gregetnya. Semua serba spontan, dan nyali benar-benar diuji.
But anyway, Katanya jodoh ada ditangan Tuhan. Saya merasa Tuhan sudah memberikan jodoh kepada kita, cuma kitanya yang ngeyel - banyak maunya, sehingga jodoh nggak datang-datang. Saya masih ingat sama Yet, teman kantor saya dulu, yang terobsesi banget kawin sama bule. Modalnya cuma pergi ke warnet tiap pulang kerja, kenalan-kenalan dengan bule di Friendster, chatting di Yahoo Messenger, dan whala, dia dapat! seorang pria Belanda, datang ke Jakarta, dan akhirnya mereka menikah. Namun karena suatu alasan yang spele, Long Distance, akhirnya dia cerai. Great! Inilah yang saya bilang, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita jodoh, namun karena pikiran pendek kita sendiri, terlalu banyak pertimbangan, kita menyia-nyiakannya, dan kemudian tiap malam kita ribut berdoa kepada-Nya "mana jodoh saya Tuhan?"
Jika sekarang tiap malam Yet, atau Henk curhat sama saya betapa kesepian dan desperatenya mereka mencari pasangan, saya jadi bosan, dan sekarang saya blok mereka di YM sehingga mereka nggak bisa cerita lagi. Saya bosan mendengar keluh kesah mereka tentang jodoh yang nggak dateng-dateng. Kalau saya aja bosen dan menjauh, apalagi Tuhan kali ya? :-P
Subscribe to:
Comments (Atom)