Saturday, April 9, 2011

Bersosialisasi atau bersosialita?

Beberapa waktu yang lalu saya ketemu seseorang yang kenal dengan teman saya dimasa lalu. Saya bilang dimasa lalu, karena memang karena suatu dan lain hal saya sudah tidak intens lagi kontak dengan dia.

Yang saya tahu, teman saya itu orang yang biasa-biasa saja secara financial. Seperti halnya saya, bekerja, mendapat gaji, dan dihabiskan dalam sebulan, begitu seterusnya, seperti siklus air, dari laut, menguap keudara, menjadi uap air dan turun sebagai hujan, terus seperti itu dan berulang.

Singkat kata, teman saya ini punya suatu lingkungan ~ sebut saja group nongkrong ~ dimana mereka sering ngumpul untuk bersosialisasi, seringnya disuatu mall. Yang saya tahu ada beberapa diantara mereka yang punya karir bagus dengan salary yang lumayan, dan sebagian lagi tidak. Dan seperti yang kita tahu, bagian yang kurang mampu “terinspirasi” dengan cerita-cerita bagian yang mampu. Kemudian mulai melek brand. Nggak usah bicara Louis Vuitton atau Dolce & Gabanna, tapi brand menengah seperti Zara atau dibawahnya seperti Giordano. Yang jelas, masih termasuk mahal untuk kaum pekerja dengan gaji 2-3 juta sebulan.

Yang jelas, ngumpul seperti itu juga sudah suatu cost. Walaupun ibaratnya kamu cuma pesan es teh di mall, harganya berlipat kali lipat dibanding kamu beli es teh di warung pinggiran. Belum makannya. Dan untuk ngobrol ngalur ngidul yang nggak jelas, mungkin menghabiskan lebih dari satu gelas minuman. Belum lagi kalau ngobrol-ngobrolnya di starbuck, dimana segelas kopi sama biayanya sama dengan ongkos transport kita ke kantor beberapa hari. Alhasil dari ngobrol-ngobrol itu teman saya yang pas-pasan ini tertarik dengan cerita temannya yang baru beli ini-itu, bergabung dengan fitness yang mahal, pokoknya ikut bergaya hidup kaum metroseksual.

Saya masih ingat dulu sekali dia pernah cerita, pernah terlilit masalah kartu kredit, sampai akhirnya orang tuanya tahu dan akhirnya orang tuanya juga yang melunasi. Sejak saat itu dia memutuskan tidak ingin punya kartu kredit. Great, bagus. Tapi itu tidak menghentikan egonya untuk terlihat mapan dimata keluarganya. Maksud saya, ketika kakaknya ada masalah harus masuk rumah sakit, atau adiknya mau menikah, dia yang kelimpungan mencari uang untuk menyumbang, sampai rela berhutang. Saya cuma bisa bilang, Oh my God. Membantu nggak ada salahnya selama kamu punya uang, tapi bukan berarti kamu harus berhutang supaya terlihat hebat dimata keluargamu.

Kalau sudah begitu, mulai melirik teman yang kelihatannya punya uang banyak, trus mulai mencoba minjam dan berhutang. Padahal kita tidak bisa menilai orang banyak uang dari penampilan. Mungkin teman kamu memakai baju bagus dan mahal, bukan berarti dia punya uang banyak kan? Mungkin dia mencicil – bisa jadi. Mungkin dia besar mulut cerita pergi kesana atau kesini, tapi itu mungkin cuma cerita biar terlihat hebat, belum tentu juga dia punya uang. Kalau sudah begitu, karena masalah uang, hubungan bisa jadi rusak. Nggak dikasih pinjaman jadi marahan, musuhan. Tapi adakalanya kalau dipercaya dipinjami, lupa bayar, akhirnya lupa kalau punya hutang! Nggak lucu banget pertemanan rusak gara-gara uang...

Saya tidak menyalahkan kalau kita pingin punya teman dari kaum “the have” tapi bukan berarti kita harus ikut gaya hidup mereka. Salah pergaulan berbahaya. Apalagi kalau masalah uang. Bisa-bisa kamu korupsi hanya untuk bisa hidup dengan standar tinggi. Sosialisasi memang perlu, tapi nggak perlu sampai minder juga kalau kita datang dan nggak mesan apa-apa. Kalau kamu dianggap aneh karena nggak bisa ikut standar mereka, paling juga kamu dijauhi, tapi justru itu kamu bisa tahu, siapa yang benar-benar teman sejati, right? :-)

No comments:

Post a Comment