"carikan pacar yang baik hati dan setia dong, please.." itu status seorang teman di BBM nya. Hmmm...baik hati dan setia? yakin cuma itu?
Pengalaman menjodohkan saya tidak pernah berhasil dengan sukses. Malah sempet ribut dulu sama Henk waktu saya menjodohkannya dengan seseorang. Waktu itu memang saya salah juga terlalu nge-push, tapi sebagai pihak mak comblang, tentunya kita pingin tau segala sesuatunya, right? apa alasannya perjodohan itu gagal, i need to know.
But anyway, sebenarnya kalau yang dicari cuma baik hati dan setia, mungkin ada banyak. Tapi biasanya fisik yang utama. Kalau nggak ganteng atau nggak cantik, nggak mau. Tapi nggak bisa disalahin juga. Kita manusia, pingin liat yang indah-indah. Siapa yang nggak mau dapat pasangan yang ganteng atau cantik, plus kalau bisa punya badan berotot perut sixpack untuk pria atau wanita dengan bentuk badan ramping dengan rambut tergerai indah. Apalagi kalau plus kaya, setia, baik hati dan tidak sombong, sempurna...
Tapi sosok yang ideal itu nggak ada. Makin cakep pasangan kita, makin besar biaya maintenance-nya. Misalnya, supaya tidak berpindah kelain hati, kita bisa royal memanjakan dia dengan materi, selain itu makin cakep pasangan kita, makin besar kesempatan dia untuk selingkuh, bener nggak?
Kembali keatas, saya pribadi lebih suka mencari jodoh sendiri ketimbang dicarikan atau minta dikenal-kenalkan. Memangnya mau buat kartu kredit, perlu referesi dari atasan? Dikenalkan kesannya kita sudah nggak laku, dan tidak independen. Saya lebih suka cinta padangan pertama, saling lihat dan saling lihat dan jatuh cinta, Kenalan lewat chatting atau jejaring sosial juga OK, tapi beda dengan pandangan pertama itu. Pertama, kita sudah tau fisiknya. Beda kalau kamu kenalan lewat facebook, misalnya, cuma ada foto disitu, terlalu banyak prosedur yang harus dijalani. Kirim pesan, nunggu dia baca dulu, tunggu tanggapannya, apakah dia tertarik atau tidak. Kalau jawabannya cuma "hi" atau "hi juga" forget it. Kalaupun jadi, mesti ketemu dulu, saling menilai fisik, bla-bla-bla. Kalau lewat pandangan pertama, lebih ada gregetnya. Semua serba spontan, dan nyali benar-benar diuji.
But anyway, Katanya jodoh ada ditangan Tuhan. Saya merasa Tuhan sudah memberikan jodoh kepada kita, cuma kitanya yang ngeyel - banyak maunya, sehingga jodoh nggak datang-datang. Saya masih ingat sama Yet, teman kantor saya dulu, yang terobsesi banget kawin sama bule. Modalnya cuma pergi ke warnet tiap pulang kerja, kenalan-kenalan dengan bule di Friendster, chatting di Yahoo Messenger, dan whala, dia dapat! seorang pria Belanda, datang ke Jakarta, dan akhirnya mereka menikah. Namun karena suatu alasan yang spele, Long Distance, akhirnya dia cerai. Great! Inilah yang saya bilang, sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita jodoh, namun karena pikiran pendek kita sendiri, terlalu banyak pertimbangan, kita menyia-nyiakannya, dan kemudian tiap malam kita ribut berdoa kepada-Nya "mana jodoh saya Tuhan?"
Jika sekarang tiap malam Yet, atau Henk curhat sama saya betapa kesepian dan desperatenya mereka mencari pasangan, saya jadi bosan, dan sekarang saya blok mereka di YM sehingga mereka nggak bisa cerita lagi. Saya bosan mendengar keluh kesah mereka tentang jodoh yang nggak dateng-dateng. Kalau saya aja bosen dan menjauh, apalagi Tuhan kali ya? :-P
No comments:
Post a Comment