Hari minggu kemarin diajak nonton film berjudul “tanda tanya” sama si Anc. Satu lagi film yang disutradarai Hanung Bramantyo. Terakhir nonton film dia “sang pencerah” berharap filmnya yang ini sebagus yang sebelumnya.Film ini bercerita tentang kerukunan umat beragama yang menurut saya sedikit “lebay” tapi menarik. Sedikit terganggu dengan adegan pembuka dimana sehabis Pastor ditusuk trus ada merpati yang hinggap di atas patung seorang Santo, keliatan banget patung Santo-nya palsu, soalnya pas dihinggapi si merpati, patungnya bergerak-gerak, seperti dibuat dari Styrofoam terkesan murahan…huhu..
Ceritanya menarik, tentang seorang janda yang pindah agama Katholik karena panggilan hati, sementara anaknya dibiarkan tetap memeluk agama Islam. Trus ada seorang muslim yang bimbang ketika harus memerankan tokoh Yesus, yang akhirnya dijalaninya karena butuh uang dan dia dibayar untuk memerankan tokoh itu. Adalagi seorang anak pemilik restoran yang berlatar belakang keluarga Kong Fu Chu yang akhirnya tertarik untuk masuk Islam.
Saya sendiri nggak begitu mempermasalahkan jalan ceritanya, karena saya merasa cukup bertoleransi dalam masalah beragama . Saya punya teman yang Kristen dan Buddha, semuanya nggak ada masalah. Cuma saya bertanya-tanya kalau yang nonton mereka-mereka didaerah yang masih kurang pemahamannya mengenai pluralisme, apa nggak mencak-mencak melihat film ini? Karena sepertinya film ini lebih cocok untuk mereka yang tinggal diperkotaan.
Saya punya tetangga kost yang lumayan islam banget, yang heran di kamar kost saya ada patung Buddha. Mungkin dia bakalan shock lagi kalau tahu dikamar saya di rumah, masih banyak lagi patung-patung Buddha dalam berbagai posisi tapa brata hehe.. Dalam pengertian dia, dalam Islam, patung dilarang. Menurut guru agama saya dulu, Islam melarang patung karena khawatir akan disembah, Lha, selama kita tidak menyembah itu patung nggak apa-apa dong? Lagian saya suka patung Buddha karena atristik dan eksotik banget, nggak ada maksud lain.
Kalau dipikir-pikir mengenai kerukunan umat beragama, menurut saya di Indonesia sudah lebih baik dibanding negara-nagara lain. Bandingkan ini : di Thailand tidak ada libur nasional untuk agama Kristen dan Islam, walau di selatan Thailand, mayoritas penduduknya pemeluk Islam. Tidak ada libur Imlek juga disana. Di Perancis, jilbab dilarang, di Italia membangun mesjid dilarang, di Swiss yang apa-apa pakai referendum, mayoritas masyarakat sana tidak memperbolehkan pendirian menara mesjid, di Amerika, Al-Quran dibakar. Jadi kenapa kita ribut-ribut soal SKB 3 mentri yang sebenarnya bukan saja mengatur pendirian gereja di wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim, tapi juga mengatur pendirian mesjid diwilayah yang mayoritas Kristen? Benturan pasti ada dimana-mana antara mayoritas dan minoritas, tapi bukan berarti harus ribut-ribut tanpa solusi kan?
No comments:
Post a Comment