Sudah beberapa kali ini saya mendapat telpon dari Citibank, suara mbak-mbak yang sok akrab seperti biasanya, memberi tahukan kalau Citibank akan mengirimkan tagihan bulanan sekarang via e-mail, bukan lewat surat lagi. Penawaran ini seharusnya bersifat sukarela sih, tapi kadang-kadang disertai suara "ancaman" seperti : "Apakah Bapak tahu mulai bulan depan Citibank tidak akan mengeluarkan statement bulanan dalam bentuk kertas lagi?" Bah! mengancam? saya ancam balik : OK, kalau begitu saya tidak akan bayar tagihannya karena saya tidak menerima tagihan! Eh lalu suaranya menjadi melunak dan ga masalah tuh, tetap aja tagihan dikirim via kurir. Itu sudah setahun yang lalu, tapi ternyata ajakan "go green - go green-an" ini muncul rutin tiap bulan sekali (mungkin mereka dapat komisi kalau saya iya-kan kali ya?)
Kenapa saya bilang go-green boongan? ya karena alasan sebenarnya mereka hanya mau mengalihkan biaya kertas dan kurirnya menjadi beban nasabah, demi efisiensi mereka sendiri. Saya memang punya kebiasaan untuk mengumpulkan tagihan-tagihan dan billing statement kartu kredit semenjak ada kasus transaksi orang masuk ke billing saya. Sejak itu saya memang jadi lebih berhati-hati melihat satu-satu tagihan yang muncul harus sesuai dengan yang saya pakai. Dan waktu saya bilang saya biasa mem-file tagihan-tagihan itu, mbak-mbaknya bilang : kan Bapak bisa print dari E-mail, WHAT? itu sama aja nggak go-green dong? Emangnya saya nge-print didaun pisang? nge-print juga pakai kertas kali... *Toyor*
Coba bayangkan berapa yang dihemat pihak bank ini dari akal-akalan go-green:
1. Biaya kertas
2. Biaya Amplop
3. Biaya Tinta Printer
4. Biaya Kurir (kayaknya ini sih komponen terbesar biaya mereka)
Kelihatan spele, tapi Itu semua dikalikan berapa juta nasabah ya.. Sementara itu mereka mengalihkan biaya-biaya ini ke kita:
1. Biaya koneksi internet, berapa kilobytes buat buka itu format pdf? taruhlah
butuh 300kb untuk mengunduh tagihan dengan biaya 1/kb = 1 X 300 = Rp.300
2. Biaya Listrik karena harus membuka internet
3. Biaya kertas
4. Biaya tinta printer
Jadi, apanya yang go-green kalau begini? Cuma pengalihan biaya doang kan jadinya? Ketimbang ngabis-ngabisin waktu buat membujuk nasabah dan membayar tenaga telemarketing itu, kenapa tidak mencari solusi lain yang benar-benar go green? Misalnya memakai kertas daur ulang. Nggak usah yang bagus-bagus, kertas bekas daur ulang koran bekas juga sudah cukup. Lalu mungkin mereka juga bisa memakai kurir sepeda yang pastinya mengurangi emisi udara juga, ya nggak? Atau para nasabah ini diberi insentif berupa potongan biaya tagihan 2000 rupiah perbulan jika sukarela mengubah tagihan menjadi e-billing, pasti banyak yang mau deh. Kalau ingat ancaman ala operator selular XL dulu yang akan membebankan RP.10.000 / nasabah jika tidak mau mengubah tagihan ke e-billing, rasanya fair dong kalau nasabah juga dikasih kompensasi, ya nggak sih? Intinya silahkan buat gerakan go-green selama itu tidak merugikan orang lain demi keuntungan sendiri. So.. let's go green then..

No comments:
Post a Comment