Hari ini dimulai perjalanan panjang menuju kota Canakkale. Kota ini terletak dibagian barat Turki wilayah Asia. Untuk menuju kota ini lewat darat, kita menyusuri wilayah Turki Eropa, sampai ke kota Eceabat. Dari sini kita menyeberang ke Asia menggunakan kapal Ferry menyeberangi laut Marmara. Saat itu sudah menjelang malam (karena memasuki musim gugur, jam 5 sore sudah gelap). Menyeberang naik Ferry selama kira-kira 20 menit dengan hembusan angin dingin gilak yang bikin beku. Kalau mau hangat-hangat ya masuk kedalam, ada café didalamnya dengan secangkir kopi ukuran kertas dihargai 5 Lira ( Kira-kira Rp 27.500) Mahal ya..
Sampai di Kota Canakkale sudah malam, dapat hotel “horror” pula. Resort sebenarnya karena memang kota tepi pantai ini banyak dikunjungi turis-turis terutama Rusia. Yang unik adalah resort ini ada 3 lantai tanpa lift, jadi mesti geret-geret koper keatas, mana gelap pula.. soalnya mereka memakai lampu sensor, yang menyala jika ada gerakan dan mati beberapa saat kemudian. Tapi kamarnya luaassss… Ngrokk.
Sebenarnya lokasi wisatanya bukan di kota ini sih, disini cuma numpang tidur saja. Tujuan wisata selanjutnya mengunjungi kota Troya. Tau dong cerita legenda kuda Troya yang terkenal itu. Perjalanan ke bekas kota Troya yang sekarang tinggal reruntuhan ini kira-kira 20 menit. Didalamnya ada replika kuda Troya dan sebelahnya ada museum kecil tempat dipamerkan benda-benda yang ditemukan selama penggalian.
Asal muasal perang Troya ini sendiri banyak versi, sempat diangkat kelayar lebar juga kan, tapi coba saya ceritakan versi aslinya menurut penuturan si Topak, tour leader yang tok-tok asli orang Turki.
Alkisah jaman dahulu kala, Permaisuri Troya bermimpi api keluar dari perutnya. Menurut peramal, dikatakan kelak anaknya membawa bencana bagi kota Troya. Karena itu segera setelah lahir, Raja Troya memerintahkan seorang pengawal untuk membunuhnya. Karena tidak tega, pengawal ini kemudian membuang si bayi ke tengah hutan, dengan harapan bayi tersebut tewas dimakan hewan buas. Ternyata bayi tsb ditemukan seorang gembala dan dipelihara hingga tumbuh menjadi pemuda tampan. Bayi itu kemudian diberi nama Paris… iya Paris, tanpa Hilton, off course
Suatu ketika, Zeus lagi mengadakan pesta pernikahan Peulus dan Thetis, dimana Eris, dewi perselisihan tidak diundang. Ketika Eris akhirnya datang ke pesta itu tanpa diundang, dia dicegah oleh Hermes atas perintah Zeus. Hermes itu dewa pembawa pesan ya, jadi bukan tas Hermes atau Parfum Terre D’Hermes itu ya. Merasa sakit hati (drama) Eris melempar sebutir apel emas bertuliskan “untuk yang tercantik”. Pada saat itu ada tiga dewi yang melihat dan rebutan itu apel. Mereka adalah Hera, Istri Zeus, Athena dan Aphrodite. Pusing mendengar tiga trio macan ini cakar-cakaran, Zeus menyuruh mereka bertanya kepada Paris, siapa yang paling okehh diantara mereka bertiga. Singkat cerita merekapun mendatangi Paris. Kayak pejabat di Indonesia yang suka disuap, Tiga dewi ini mengiming-iming si Paris biar dipilih sebagai wanita tercantik. Hera menawarkan kekuasaan atas seluruh Asia, Athena menawarkan kebijaksanaan dan kelihaian bertempur, sementara Aphrodite menawarkan Paris wanita tercantik di dunia. Karena tidak ada yang menawarkan deposito dan travel chek, akhirnya Paris memilih Aphrodite. Sesuai janji, Aphrodite memberikan wanita tercantik saat itu, Helene, putri Sparta.
Duh kalau diceritain bisa patah jari saya. Inti ceritanya, Helene diculik dan dibawa ke Troya oleh Paris. Kemudian Pihak Yunani berusaha untuk merebut kembali Helene, dan terjadilah perang Troya yang berlangsung selama 10 tahun. Seperti cerita yang sudah kita ketahui bersama, akhirnya pihak Yunani berpura-pura menghadiahkan patung kuda yang didalamnya terdapat pasukan terhebat mereka yang ketika malam tiba mereka keluar dan meporakporandakan kota Troya.
Mitos ya sekedar mitos. Kota itu memang ada beserta reruntuhannya. Tapi kemungkinan perang itu akibat perang perebutan wilayah saja. Apalagi wilayah Troya ini merupakan daerah yang strategis.
Anyway, selepas dari Troya ini kita menuju ke Akropolis, sebuah reruntuhan kota lainnya. Jaraknya sekitar sejam dari Troya. Biar nggak ketukar dengan Akropolis yang di Yunani, Akropolis di Turki itu memakai embel-embel “Acropolis of Pergamon”. Disini ada reruntuhan perpustakaan yang konon pada waktu itu menjadi perpustakaan terbesar setelah perpustakaan Alexandria Mesir.
Untuk naik ke atas, kita harus menaiki lift menuju ke kereta gantung. Amazing ngga sih membayangkan waktu dulu mereka mengangkut batu-batu besar ke atas bukit ini? Selain perpustakaan juga ada Teater Hellenistic yang bisa menampung 10.000 orang, Kuil Athena dan tempat pemandian ala Romawi.
Dan buat yang suka belanja-belanja, sebelum turun di kebawah naik kereta gantung lagi, ada sederetan toko souvenir yang harganya relatif murah. Jangan lupa untuk menawar. Biasanya mereka menawarkan dalam bentuk Euro, tapi jika membayar dengan Lira mereka memakai kurs yang fair, jadi jangan kuatir.
No comments:
Post a Comment