Mendarat di Istanbul ditengah musim gugur harus sedia jaket berlapis-lapis. Lebay ya, tapi memang saya nggak tahan dingin mungkin. Mendarat di Bandara Internasional Attaturk, disambut dengan udara dingin kira-kira 16 derajat. Pemegang paspor Indonesia cukup ngantri ke loket Visa On Arrival (VOA) dan membayar USD 25 saja, untuk 30 hari kunjungan. Kalau rombongan bisa digabung aja, jadi misalkan punya uang USD 100, bisa langsung 4 orang maju. VOA nya cuma stiker kecil yang ditempel di paspor kita. Petugasnya cewek, selalu senyum ramah walau tangannya tato-an. Sebenarnya kalau ngga mau repot bisa ngurus visa di kedutaan Turki di Jakarta, tapi kenanya lebih mahal, sekitar 600.000, mending langsung aja datang ke negaranya ya, cuma kena 237.500 kalau pakai kurs 9.500 / 1 USD. Untuk pembayaran VOA ini beda-beda untuk setiap negara, untuk turis Ausralia misalnya VOA nya USD 60, atau warga Amerika kena USD 20. Tapi ngiri nggak sih kalau warga Malaysia dan Singapura bebas masuk ke Turki tanpa visa? Haiyah…
Anyway, Bandara Udara Internasional Attaturk ini merupakan bandara terbesar di seantero Turki, bahkan lebih besar dari bandara Ibukotanya di Ankara. Punya 38 buah garbarata tapi kenapa keliatan minimalis ya..
Bandara ini terletak di Istanbul bagian Eropa. Oh ya bagi yang belum tahu, Istanbul itu satu-satunya kota di dunia yang terletak di dua benua, Eropa dan Asia. Jarak dari bandara ke pusat kota Istanbul ini kira-kira 24km saja, tapi ternyata Istanbul itu juga kota dengan kemacetan yang parah seperti Jakarta, apalagi jalanannya sempit-sempit. Jadi kalau stuck macet ya harap sabar aja ya
BTW. Istanbul ini sebenarnya nama terakhir dari kota ini. Awalnya kota ini bernama Lygos kemudian berubah menjadi Byzantium lalu menjadi Augusta Antonia kemudian menjadi Alma Roma lalu berubah menjadi kota konstantin alias Constantinopel, kemudian setelah ditaklukan pasukan islam menjadi Islambol dan terakhir sewaktu kesultanan dihapuskan dan berganti menjadi republik, diubah namanya menjadi Istanbul.
Karena udah malam kita cuma bisa jalan-jalan disekitaran hotel aja. Dapatnya Hotel Vicenza, terletak didaerah kota lama. Sebenarnya kalau sampainya bisa lebih awal, kita bisa jalan-jalan lebih jauh, karena walau semua bernuansa Eropa, tapi teuteup took-toko cita rasa Asia, maksudnya, kalau di Eropa beneran kan Mall tutup jam 6 atau 7 malam, nah di Turki itu ikutin jam orang asia, tutup jam 10 malam.
Dan besoknya, city tour.. kunjungan pertama apalagi kalau bukan Blue Mosque (Sebenarnya nama aslinya Sultan Ahmed Mosque) Kenapa di namakan Mesjid Sultan Ahmed? karena mesjid ini dibangun oleh Sultan Ahmed I ( berkuasa 1603 – 1617) dibangun pada tahun 1609 dan selesai tahun 1616, dirancang oleh Sedefkâr Mehmed Ağa. Mesjid ini lebih populer dengan sebutan Blue Mosque karena ornamen didalamnya lebih dominan memakai material keramik berwarna biru. Bangunan mesjid ini menurut cerita dibangun untuk menyaingi bangunan Haga Sofia yang berada persis bersebelahan.
Kunjungan selanjutnya adalah Istana Topkapi. Ini adalah istana peninggalan para Sultan yang berkuasa di Ottoman (Turki sekarang). Letaknya berada di belakang bangunan Hagia Sofia, menghadap ke selat Bosporus. Sehingga dari salah satu berandanya kita bisa melihat selat Borsporus yang terkenal itu plus sisi benua Asia diseberang sana.
Istana ini dipakai sebagai istana selama 400 tahun. Dibangun pada tahun 1459 oleh Sultan Mehmed II, sang penakhluk Constantinopel. Sebagai istana, bangunan ini terbilang sangat sederhana dibandingkan dengan istana-istana Eropa yang “wah”. Dindingnya polos, dan ada sedikit ukiran kaligrafi dilangit-langitnya. Istana ini terakhir ditempati tahun 1853 sebelum sang sultan pindah ke istana lainnya, Dolmabahce Palace yang terletak persis ditepian selat Bosporus (kalau kalian ikutan Bosporus cruise, akan melewati istana itu). Sultan terakhir berkuasa di Turki adalah Sultan Abdulmecid II pada tahun 1924, sebelum akhirnya Mustafa Kemal mengubah Turki menjadi republik. Kenapa Turki bisa menjadi negara Republik yang begitu sekuler? Itu karena waktu Perang Dunia I, sang Sultan beraliansi dengan pihak Jerman. Dan seperti yang kita ketahui, mereka kalah, dan pudarlah pamor sang Sultan sehingga kemudian Turki menjadi terbelah-belah dikuasai pihak yang menang perang, sampai akhirnya diadakan perjanjian Lausanne (ditandatangani di kota Lausanne, Swiss)tanggal 24 Juli 1923, yang menjadikan wilayah Turki seperti sekarang ini. Setelah menjadi negara Republik, Turki berubah menjadi negara sekuler, dimana mereka merubah bendera, melarang jilbab disekolah-sekolah dan lembaga pemerintahan, sampai menghapuskan tulisan aksara arab dan diganti menjadi aksara latin sampai sekarang.
Didalam istana Topkapi ini (yang sekarang menjadi museum) dipamerkan banyak peninggalan sultan, seperti mahkota, pedang, singgasana, alat-alat makan, bintang-bintang kehormatan, dan tentu saja bagian yang paling menarik adalah reliki-reliki islam. Seperti yang kita ketahui bahwa pada era jayanya Ottoman, daerah kekuasaaannya meliputi Mekkah dan Madinah. Setelah mereka kalah dan harus menyerahkan wilayahnya, banyak reliki-reliki yang diboyong ke Istanbul, terlepas dari benar atau tidaknya tapi sebagian muslim percaya saja. Adapun reliki-reliki itu diantaranya tongkat nabi Musa, pedang Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, ada bekas plat tempat hajar aswad, tempat gigi dan helaian janggut nabi Muhammad. Sayang nggak boleh di foto, jadi mau nggak mau kalau penasaran kalian harus melihat sendiri kesana..hehe..
Turut dipamerkan di bagian peninggalan harta adalah berlian terbesar di dunia, yaitu berlian 86 karat. Menurut tour guidenya, berlian ini ditemukan secara tidak sengaja sewaktu istana ini berubah menjadi rumah sakit dikala perang, dan ditukar dengan sendok, sehingga berlian ini mendapat julukan “ the spoon diamond”
Dari Topkapi barulah kita mengunjungi sang legenda, Hagia Sofia. Banyak tulisan untuk Hagia Sofia ini, kadang disebut Ayia Sofia, Sancta Sophia atau seperti orang Turki menyebutnya : Aya Sofya. Kedengerannya seperti nama seorang wanita ya, padahal artinya “holy wisdom / kebijaksanaan suci”
Hagia Sofia selesai dibangun tahun 360, sejak awal pendiriannya hingga tahun 1453 berfungsi sebagai gereja ortodox timur (tapi pada tahun 1204 -1261 sempat menjadi gereja katholik Roma). Ketika Sultan Mehmed II menaklukan Konstantinopel (romawi timur) ditahun 1453, gereja ini segera diubah menjadi mesjid. Kalau kalian masuk kedalamnya, akan terlihat tempat imamnya agak miring ke kanan, tidak pas ditengah-tengah karena mengikuti arah kiblat. Dan BTW, Sultan Mehmed II juga yang mengubah nama kota Konstantinopel menjadi Islambol yang berarti “Islam secara keseluruhan”. Nama ini diubah kemudian oleh Mustafa Kemal menjadi “Istanbul”
Bangunan awalnya Hagia Sofia ini hanya memiliki satu menara. Menara yang asli ini kalau kalian lihat warnanya beda sendiri dibanding 3 menara tambahan lainnya. Menara ke-2 dibangun Mehmed II, dan Sultan Selim II membangun 2 menara lainnya. Pada awalnya walaupun dipakai sebagai mesjid, namun ornament-ornamen kristiani seperti gambar Yesus atau Bunda Maria dibiarkan begitu saja. Baru waktu pemerintahan Sultan Selim II (1566 -1574) ini semua lukisan ditutupi cat (karena dalam islam lukisan gambar orang dilarang) maka jika kamu perhatikan lukisan malaikat di kubah utama, yang satunya wajah malaikatnya sudah dikelupas catnya (direstorasi) sementara malaikat satunya wajahnya dicat menjadi bintang.
Beberapa lukisan orang suci, Yesus dan Maria sudah dibuka lagi dibeberapa tempat, sementara ornament yang bercirikan Islam seperti tulisan “Allah” dan “Muhammad” yang besar-besar itu dibiarkan saja. Walaupun sebenarnya sudah ada Mesjid Biru disebelahnya, Hagia Sofia tetap difungsikan sebagai mesjid sampai tahun 1937, Mustafa Kemal (bapak pendiri republik Turki modern) mengubahnya menjadi museum.
Sebenarnya belum puas menjelajah situs-situs bersejarah ini, tapi karena kepepet waktu ya sudahlah. Mudah-mudahan nanti bias kembali ke kota ini. Dihari terakhir nanti saya dan rombongan akan kembali ke Istanbul, dan sekarang kita bersiap untuk mulai mengeksplor bagian-bagian Turki lainnya.
No comments:
Post a Comment