Wednesday, December 5, 2012

Lost in Dubai

Udah jadi tradisi di kantor kalau mengadakan acara jalan-jalan serba dadakan. Masih ingat dulu pengumuman pemberian jalan-jalan gratis umroh (buat yang muslim) atau jalan-jalan ke Jerussalem (buat yang non muslim), atau jalan-jalan ke Hong Kong diumumin kurang dari sebulan sebelum keberangkatan! Ketar-ketir deh ya yang belum punya paspor atau yang udah kadaluarsa. Tapi amazingnya, semua bisa berjalan sesuai rencana walau divisi umum dan travelnya mesti kerja ekstra, hehe..

Pengumuman jalan-jalan tahun ini juga serba instant, nggak tau kenapa salah satu menantu boss menyebut kata “Turki” dan berangkatlah kita kesana.

Kebetulan saya belum pernah ke negara ini. Cuma sering lihat di film-film aja. Sudah ngga kehitung kali ya, berapa kali Istanbul menjadi lokasi shooting, pasti ada yang istimewa di kota satu ini. Kalau nggak, ngga mungkin “James Bond” bisa shooting sampai 3 kali di kota ini kan, bhahak.

Dimenit-menit terakhir si boss mendadak mengusulkan destinasi ditambah satu lagi, Dubai. Ini karena pesawat Emirates yang kita naiki nanti mempunyai waktu transit yang lama, 9 jam sebelum connecting flight ke Istanbul. Jadi ya sekalian aja diinapkan satu malam di Dubai. Tapi berhubung budget per-satu orang cuma pas-pasan, jadi diminta masing-masing orang untuk membayar visa Dubai masing-masing. Ini juga bukan masalah, karena berbeda dengan jalan-jalan versi asuransi yang hanya menanggung biaya pesawat + akomodasi, jalan-jalan versi kantor ini ditambah dengan uang saku. Jadi buat visa on arrival Dubai yang amit-amit mahalnya itu (USD 90) ya potong aja dari uang sakunya. Kantor hanya subsidi buat tour Dubai dan hotelnya. Siplah kalau begitu..

Pesawat Emirates berangkat dari Jakarta Dini hari, jam 00.30, menempuh jarak 6.542km kira-kira 7,5 jam. Berhubung perbedaan waktunya 3 jam, maka nanti akan sampai di Dubai International Airport (DBX) sekitar jam setengah lima subuh waktu Dubai. Seperti yang sudah-sudah, Emirates memakai pesawat jenis Boeing 777-300 untuk penerbangan ini. Pesawatnya bersih dan selalu kelihatan baru, dengan langit-langit membentuk kemerlap bintang-bintang kalau lampu kabin dimatikan. Sempat turbulence lumayan lama disekitar laut Andaman, membuat tidur jadi nggak begitu nyaman.

Mendarat di Dubai, seperti yang sudah pernah saya cerita dulu, kita akan dihadapkan dengan petugas Imigrasi paling nggak efisien sedunia. Beda dengan petugas-petugas lain yang boleh ambil pekerja migran, petugas imigrasi ini tulen arab. Saya kebagian petugas cewek yang resek. Kali ini, pakai retina mata kayaknya, soalnya kita mesti melihat kesuatu alat dan nggak boleh kedip. Kayaknya mereka kesulitan karena saya pakai lensa kontak, jadi ada kali 15 menit saya disetrap disitu. Tapi namanya juga pakai lensa kontak, kalau kelamaan nggak kedip kering lah yaaa, sampai bergeser kesana-kesini. Tapi begitu saya kedip, disuruh ulang dari awal lagi, cape deee.. tapi mungkin dia juga yang capek kali ya, akhirnya disuruh hadap kamera satunya dan difoto muka. Dari tadi keq! *toyor*

Begitu keluar dari Bandara Dubai, sudah disambut semburan panas udara gurun. Ga sepanas kalau lagi musim panasnya sik, tapi menjelang musim dingin aja suhunya 25 kalau subuh dam 32 derajat kalau siang, begimana waktu hot-hot nya ya dibulan Agustus bisa sampai 44 derajat. Fiuhhh.. *peres keringet*

Karena cuma semalam nginap, jadi begitu keluar bandara kita sudah diajak keliling-keliling kota Dubai untuk city tour. Sadis ya, mana dipesawat kurang tidur.. tapi yam au ke hotel juga belum saatnya check-in. Jadilah kita mengunjungi Burj Al-Arab lagi untuk foto-foto, lalu ke Dubai Creek, itu semacam Sunda Kelapa-nya Jakarta, dimana banyak kapal-kapal tradisional yang lagi bongkar muat barang. Kebanyakan partner dagangnya orang-orang Iran. Selepas dari Dubai Creek, kita diajak mengunjungi Museum Dubai.Museum Dubai ini dulunya merupakan benteng Al Fahidi yang dibangun tahun 1787, dan merupakan bangunan tertua di Dubai. Bentuknya sih ya gitu deh, ngga menarik, beda sama benteng-benteng Eropa yang megah dan kokoh, benteng ini semacam dibangun dari tanah liat aja. Didalamnya sempit, koleksinya sedikit. Paling banyak diorama-diorama kehidupan masyarakat Dubai dimasa lalu, bisa di compare sama Chinese Heritage di Singapore kali ya.. Tapi bikin saya manggut-manggut juga. Bayangkan aja dulu kehidupan mereka begitu terbelakang, mata pencaharian cuma berdagang dan mencari mutiara tapi sekarang menjadi mega city yang diperhitungkan dunia.
Pingin ya punya pemimpin seperti Mohammed bin Rashid
Al Maktoum ini, biar pemerintahannya absolute, tapi uang dari penjualan minyak bener-bener dipakai untuk pembangunan Dubai. Beda sama negara-negara lain yang kekayaan alam melimpah tapi tetap miskin.



Selepas dari museum ini kita dilepas di Dubai Shouk, itu semacam Pasar Baroe di Jakarta. Pusat pasar tradisional yang sebenarnya tidak melulu menjual emas, tapi juga ada pernak pernik lainnya, mulai dari baju, makanan, sampai bumbu-bumbu dapur. Dubai Creek, Museum, dan Shouk ini terletak dipusat kota Dubai lama.

Kemudian baru di drop di Hotel, yang teletak di bagian Dubai lainnya. FYI, kota Dubai terus meluas disepanjang pantainya sampai ke perbatasan dengan negara bagian lainnya, Abu Dhabi. Tapi nggak bisa lama-lama, karena sorenya sudah harus jalan ke gurun pasir untuk mengikuti acara Desert Safari.

Desert Safari, apa itu? Ya mengarungi gurun aja gitu, naik Jeep dengan sopir ala-ala ali topan anak jalanan. Mula-mula kita diajak keluar kota Dubai, Melewati Factory Outlet (yang katanya jual merk2 brand ternama) trus melewati Universal Studio Dubai yang masih dalam tahap pembangunan. Trus sesampainya digurun, mobil keluar dari jalan dan kita dikasih kesempatan foto-foto diantara pasir dulu, sementara para supir itu menggembosi ban-ban mobil mereka. Ternyata untuk bisa menyusuri gurun pasir, ban mobil itu nggak boleh dalam kondisi udara full, mesti dikurangi kira-kira ¼ nya.

Dan dimulailah horror… kalau kamu pernah naik Jet coaster, ya gitulah safari desert ini, didalam jeep kita udah teriak-teriak aja waktu mobil menanjak dan menuruni gundukan pasir yang curam, atau bermanuver berbelok dengan kemiringan 45 derajat. Mampus deh kalau sampai terguling… *pray*

Acara safari ini ditutup dengan makan malam ditengah gurun pasir sambil disuguhi tarian perut…aihhh… tapi berhubung kepala pusing dan kurang tidur dari kemarin, saya udah nggak minat untuk makan, jadi ketiduran aja gitu ditengah gurun. Tapi agendanya belum selesai. Kita-kita yang pengkoleksi kaos Hard Rock udah memutuskan untuk mencari HRC Dubai yang jaraknya 45 km dari gurun ini. Beruntung si supir mau nge-drop kami kesana. HRC ini letaknya di kawasan Dubai Festival, di kota lama yang dekat dari bandara juga. Sampai di HRC sudah jam 10 malam, setelah selesai bingung pulangnya. Waktu di Jakarta kita sudah ancer-ancer lihat dari Google map, tapi sampai disini benar-benar blank. Sebenarnya yang terdekat ada stasiun Metro Emirates, tapi jaraknya lumayan jauh dan udah ngga keburu karena sudah malam juga, kalau sampai stasiun tapi sudah tutup ngga lucu kali ya..

Akhirnya kita memutuskan naik taxi aja. Taxi Dubai ini belegong alias belagu, sama seperti standar Eropa, cuma boleh max. 4 penumpang. Dengan sopir orang India, kita melihat argo dengan harap-harap cemas. Maklum jarak hotel ke kota lama Dubai ini lumayan jauh. Habis 55,5 Dirham jadinya (kira-kira 150 ribu rupiah). Hedeww..

Sampai hotel udah lewat tengah malam, cium bantal dan langsung molor. Besok perjalanan masih panjang ke Istanbul, so… to be continued yah.. :-P

No comments:

Post a Comment