Friday, July 27, 2012

Imigrasi, Immigration, Inmigración, Immigratie, การ เข้าเมือง

Barangkali proses yang nakutin dalam kunjungan ke luar negeri itu apalagi kalau bukan melewati imigrasi. Hampir semua petugas imigrasi mukanya nggak ramah, cenderung jutek. Nggak pernah tuh saya lewatin imigrasi dengan senyum dan ucapan “have a nice holiday” atau “selamat datang dinegara kami” yang ada malah tatapan penuh selidik… aih. Coba saya ingat-ingat dulu ya udah berapa kali lewatin imigrasi (Imigrasi Jakarta nggak ditung, karena baik-baik dan unyu-unyu. Yang harus diwaspadai di Bandara Soetta itu justru petugas Bea-Cukainya! Pisss)

Jeddah
Dibandara Jeddah, petugas imigrasinya lumayan sedikit, jadi nggak heran denger cerita kalau mesti berjam-jam menunggu antrian. Petugas Imigrasi disana paling suka ngobrol, bikin Be-Te kan? Entah ngobrolin apa, tapi bener-bener bikin kita pingin teriak “WOOOII..antrian udah satu kilo, kaleeeee”

Dubai
Imigrasi di Dubai lebih parah dari Jeddah. Selain petugas imigrasinya doyan ngobrol, kadang mereka pergi gitu aja, entah ke toilet atau entah kemana, alhasil kita yang lagi ngantri ini cuma bisa bengong-bengong doang sambil menggerutu. Visa On Arrival juga bisa dipermasalahkan sama mereka. Belagu banget. Udah gitu kayaknya beraaattt banget kasih stempel visa disitu. Satu orang bisa dilayanin sampai 15 menit kali? Dan yang lebih parah, ada petugas yang lalu lalang disekitaran antrian imigrasi dari ujung ke ujung dengan muka sangar, secara acak mereka menarik orang untuk di “wawancara” di ruangan khusus. Mungkin merasa udah PD jadi negara kaya kali ya, jadi semua orang dicurigain sebagai “imigran gelap”. Yang saya liat hampir semua antrian pasti ada aja yang ditanya-tanyain, entah bule, Rusia, China, pokoknya acak. Salah satu rombongan kita sempat kena, cap visanya dicoret / dibatalkan dan di interview, ditanya-tanya tujuannya kemana (padahal jelas-jelas udah ada tiket terusan) jadi ya gitulah. Dubai is always Lebaiiii!!!

Singapura
Pernah melewati Harbour Front dan Changi, petugasnya sama-sama dinginnya. Masuk Singapura ini serasa udah masuk Amerika aja, pemeriksaan super ketat sampai badan sampai digrepe-grepe. Dulu sempat ditanya-tanya ‘untuk keperluan apa anda datang kesini?’ dengan pasang muka angkuh dan mengangkat dagu ya saya jawab “for syoping lah yaaaaa, menurut looooo?”

Hong Kong & Macau
Waktu wabah flu burung masih hot-hotnya, semua yang masuk HK mesti “ditembak” sama thermometer laser dari jarah jauh (ini bukan laser wajah itu ya!) alhasil, saya yang baru sembuh dari flu biasa, kena juga dipanggil. Hebat juga ya alatnya bisa mendeteksi panas tubuh seseorang dari jarak jauh, haiyaaa… setelah dipanggil, suhu badan saya diukur memakai thermometer yang dimasukkan kedalam telinga. Akhirnya beres, dilepas deh..fufufu.. Nasib apes juga dialami seorang teman yang ditanya-tanya karena wajahnya “mencurigakan” katanya. Apalagi kalo udah miara jenggot udah deh abis disangka anggota Al-Qasidah huhuhu.. Sementara pelayanan imigrasi di Macau lebih friendly kali ya, ya iyalaaahh, negara ini kalau nggak baik-baik sama turis dan penjudi yang datang, gimana mau dapat devisa kaleee…


Shenzhen / China
Nggak ada yang bisa mengalahi dinginnya imigrasi China. Dinginya ngalahin kulkas. Mau nunduk salah, ntar dikira ngumpetin narkoba – mau tatap mata salah, dikira nantangin. Hedew.. tapi dilain waktu petugasnya biasa-biasa aja, langsung stempel tanpa banyak cing-cong, jadi ya tergantung dapet petugas yg gimana kali ya…

Bangkok
Kalau di Don Muang atau Swarnabhumi ditiap loket imigrasinya ada alat kamera kecil mirip antenna yang sebenarnya kamera untuk foto wajah kita. Petugasnya cuma bilang : look at the camera pleaseee… cheeeseee (ok, ini lebay). Terakhir kesana, ditiap loketnya sekarang udah pakai alat purifier mini, dikiranya turis-turis asing itu pada bawa virus kali yeeee….

KL
Petugas imigrasinya sebenarnya biasa aja. Tapi mungkin karena banyak imigran gelap yang ngaku-ngaku turis, jadinya kadang suka ditanya-tanya hal yang kadang aneh. Kadang sisuruh menyebutkan “nama kamu siapa?” – padahal udah ada kan di passport. Mereka seperti ngecek gitu, kali-kali kita “lupa” nama yg di paspor, wew… Kalau saya pernah kejadian ditanya apa arti nama “Agam” dan dari bahasa daerah mana? Waktu saya jelaskan itu berasal dari bahasa Bengkulu sana dia cuma mengernyitkan dahi.. Really??? Ya eyalahh, masa dari Bahasa Perancis? D’après Vous??? (Menurut LOOHHH???)

Roma, Paris, Madrid, Brussel
Sebenarnya negara-negara Eropah ini lumayan efektif dan efisien kalau urusan imigrasi. Selama kita udah pegang visa Schengen, dianggap kita sudah melalui tahapan penyelidikan rahasia ala Eropa di kedubes masing-masing dimana kita mengajukan visa, bahwa kita “clean”. Cuma sayangnya di bandara saya kebagian petugas imigrasi seorang wanita paruh baya yang wajahnya syupeerr dyupeerr jueeteeeeeeekkkkkk buangetttt!!! Senyum kagak, cantik juga kagak, serem kayak herder.. hiuhhh.

Pengalaman yang sama juga saya dapatkan waktu melewati imigrasi Paris di bandara Charles De Gaulle. Pas antri, petugasnya sambil ngobrol gitu sama rekannya, tapi cuma stempel aja gitu…di scan kagak, ngeliat wajah kita juga nggak. Paling cuma 2 detik udah lewat. Saya sampai bingung, ini beneran udah selesai prosesnya ya?? Dan petugasnya yang unyu itu dengan entengnya jawab : Oui, because you have schengen visa… Oooo jadi gitu ya, okeeh, D’accord! 

No comments:

Post a Comment