Barangkali proses yang nakutin dalam kunjungan ke luar negeri itu apalagi kalau bukan melewati imigrasi. Hampir semua petugas imigrasi mukanya nggak ramah, cenderung jutek. Nggak pernah tuh saya lewatin imigrasi dengan senyum dan ucapan “have a nice holiday” atau “selamat datang dinegara kami” yang ada malah tatapan penuh selidik… aih. Coba saya ingat-ingat dulu ya udah berapa kali lewatin imigrasi (Imigrasi Jakarta nggak ditung, karena baik-baik dan unyu-unyu. Yang harus diwaspadai di Bandara Soetta itu justru petugas Bea-Cukainya! Pisss)
Jeddah
Dibandara Jeddah, petugas imigrasinya lumayan sedikit, jadi nggak heran denger cerita kalau mesti berjam-jam menunggu antrian. Petugas Imigrasi disana paling suka ngobrol, bikin Be-Te kan? Entah ngobrolin apa, tapi bener-bener bikin kita pingin teriak “WOOOII..antrian udah satu kilo, kaleeeee”
Dubai
Imigrasi di Dubai lebih parah dari Jeddah. Selain petugas imigrasinya doyan ngobrol, kadang mereka pergi gitu aja, entah ke toilet atau entah kemana, alhasil kita yang lagi ngantri ini cuma bisa bengong-bengong doang sambil menggerutu. Visa On Arrival juga bisa dipermasalahkan sama mereka. Belagu banget. Udah gitu kayaknya beraaattt banget kasih stempel visa disitu. Satu orang bisa dilayanin sampai 15 menit kali? Dan yang lebih parah, ada petugas yang lalu lalang disekitaran antrian imigrasi dari ujung ke ujung dengan muka sangar, secara acak mereka menarik orang untuk di “wawancara” di ruangan khusus. Mungkin merasa udah PD jadi negara kaya kali ya, jadi semua orang dicurigain sebagai “imigran gelap”. Yang saya liat hampir semua antrian pasti ada aja yang ditanya-tanyain, entah bule, Rusia, China, pokoknya acak. Salah satu rombongan kita sempat kena, cap visanya dicoret / dibatalkan dan di interview, ditanya-tanya tujuannya kemana (padahal jelas-jelas udah ada tiket terusan) jadi ya gitulah. Dubai is always Lebaiiii!!!
Singapura
Pernah melewati Harbour Front dan Changi, petugasnya sama-sama dinginnya. Masuk Singapura ini serasa udah masuk Amerika aja, pemeriksaan super ketat sampai badan sampai digrepe-grepe. Dulu sempat ditanya-tanya ‘untuk keperluan apa anda datang kesini?’ dengan pasang muka angkuh dan mengangkat dagu ya saya jawab “for syoping lah yaaaaa, menurut looooo?”
Hong Kong & Macau
Waktu wabah flu burung masih hot-hotnya, semua yang masuk HK mesti “ditembak” sama thermometer laser dari jarah jauh (ini bukan laser wajah itu ya!) alhasil, saya yang baru sembuh dari flu biasa, kena juga dipanggil. Hebat juga ya alatnya bisa mendeteksi panas tubuh seseorang dari jarak jauh, haiyaaa… setelah dipanggil, suhu badan saya diukur memakai thermometer yang dimasukkan kedalam telinga. Akhirnya beres, dilepas deh..fufufu.. Nasib apes juga dialami seorang teman yang ditanya-tanya karena wajahnya “mencurigakan” katanya. Apalagi kalo udah miara jenggot udah deh abis disangka anggota Al-Qasidah huhuhu.. Sementara pelayanan imigrasi di Macau lebih friendly kali ya, ya iyalaaahh, negara ini kalau nggak baik-baik sama turis dan penjudi yang datang, gimana mau dapat devisa kaleee…
Shenzhen / China
Nggak ada yang bisa mengalahi dinginnya imigrasi China. Dinginya ngalahin kulkas. Mau nunduk salah, ntar dikira ngumpetin narkoba – mau tatap mata salah, dikira nantangin. Hedew.. tapi dilain waktu petugasnya biasa-biasa aja, langsung stempel tanpa banyak cing-cong, jadi ya tergantung dapet petugas yg gimana kali ya…
Bangkok
Kalau di Don Muang atau Swarnabhumi ditiap loket imigrasinya ada alat kamera kecil mirip antenna yang sebenarnya kamera untuk foto wajah kita. Petugasnya cuma bilang : look at the camera pleaseee… cheeeseee (ok, ini lebay). Terakhir kesana, ditiap loketnya sekarang udah pakai alat purifier mini, dikiranya turis-turis asing itu pada bawa virus kali yeeee….
KL
Petugas imigrasinya sebenarnya biasa aja. Tapi mungkin karena banyak imigran gelap yang ngaku-ngaku turis, jadinya kadang suka ditanya-tanya hal yang kadang aneh. Kadang sisuruh menyebutkan “nama kamu siapa?” – padahal udah ada kan di passport. Mereka seperti ngecek gitu, kali-kali kita “lupa” nama yg di paspor, wew… Kalau saya pernah kejadian ditanya apa arti nama “Agam” dan dari bahasa daerah mana? Waktu saya jelaskan itu berasal dari bahasa Bengkulu sana dia cuma mengernyitkan dahi.. Really??? Ya eyalahh, masa dari Bahasa Perancis? D’après Vous??? (Menurut LOOHHH???)
Roma, Paris, Madrid, Brussel
Sebenarnya negara-negara Eropah ini lumayan efektif dan efisien kalau urusan imigrasi. Selama kita udah pegang visa Schengen, dianggap kita sudah melalui tahapan penyelidikan rahasia ala Eropa di kedubes masing-masing dimana kita mengajukan visa, bahwa kita “clean”. Cuma sayangnya di bandara saya kebagian petugas imigrasi seorang wanita paruh baya yang wajahnya syupeerr dyupeerr jueeteeeeeeekkkkkk buangetttt!!! Senyum kagak, cantik juga kagak, serem kayak herder.. hiuhhh.
Pengalaman yang sama juga saya dapatkan waktu melewati imigrasi Paris di bandara Charles De Gaulle. Pas antri, petugasnya sambil ngobrol gitu sama rekannya, tapi cuma stempel aja gitu…di scan kagak, ngeliat wajah kita juga nggak. Paling cuma 2 detik udah lewat. Saya sampai bingung, ini beneran udah selesai prosesnya ya?? Dan petugasnya yang unyu itu dengan entengnya jawab : Oui, because you have schengen visa… Oooo jadi gitu ya, okeeh, D’accord!
Friday, July 27, 2012
Thursday, July 26, 2012
Past and Present
Bulan Ramadhan datang lagi, bulan yang menurut umat Islam sebagai bulan penuh berkah. Jadi ingat 4 tahun lalu, saat terakhir kali menjalani bulan puasa dengan Ibu. Ibu saya mendapat serangan stroke setelah lebaran, tepatnya setelah pulang dari menjenguk saudaranya dan nyekar di makam kakek di Rembang. Ibu koma dari November 2008 dan akhirnya meninggal bulan Februari ditahun berikutnya. Yang buat sedih, karena waktu itu saya tidak ada sewaktu beliau meninggal dan itu bikin sedih jadi berlipat ganda.Miss u Mom :-(
Menolak untuk “campur” dengan rumah tangga kakak dan ipar, tujuh bulan kemudian saya memutuskan untuk kost, didaerah Pramuka. Walau rumah sebenarnya cukup luas tapi sepertinya sudah saatnya saya hidup mandiri juga kan. Dua tahun kost akhirnya memutuskan untuk pindah ke rusunami. Agak konyol juga karena tahun 2008 sebenarnya saya sudah DP untuk sebuah rusunami di daerah Buaran Jakarta Timur, tapi karena proyek itu mandeg setelah lengsernya Jusuf Kalla dari posisi wapres, jadinya saya mencari-cari rusunami lain. Akhirnya dapat di daerah Jakarta Timur juga, tapi tidak sejauh daerah Buaran, paling nggak dilalui buswaylah walau untuk ke haltenya nggak deket-deket juga.
Pindah ke rusunami segera setelah lebaran tahun 2011, waktu itu bahkan interiornya belum jadi. Sempat ngomel-ngomel sama design interior yang muluk-muluk janji 2 bulan selesai, ngga taunya sampai 4 bulan baru jadi (kurang sabar & baik apa cobak gue). Bosen bertahun-tahun pakai warna biru, akhirnya beralih ke warna hijau. Jadilah tembok saya cat hijau. Bukan hijau tua sih, tapi hijau-hijau muda gitu, karena menurut psikolog, warna hijau muda yang cerah mengandung banyak kuning akan berkesan ringan, segar dan menyenangkan. Kalau sumpek dari tempat kerja atau habis berjibaku dengan kemacetan lalu-lintas, kayaknya perlu ketenangan waktu sampai di rumah. Dan warna hijau ini kayaknya cukup tepat untuk mewakili kesan “tenang” itu :-)
Dan disinilah saya, sekarang. Banyak yang bilang kenapa rusunami? Well, karena kalau punya uang pasti sudah beli apartemen beneran. Kenapa apartemen? Karena menurut saya penghuni apartemen itu lebih cuek, dan karena bangunannya relatif masih didalam kota, sehingga mobilitas tiap hari juga nggak se-riweh teman-teman yang stay di Bekasi-Depok-Bogor-Tangerang. Kenapa pilih yang agak jauh dari pusat kota? Well, pertama, untuk menekan cost, rusunami jarang dibangun dipusat kota. Jadi nggak heran posisinya nyempil-nyempil. Kemudian karena disini ga begitu jauh dari terminal bus, jadi semua rute kendaraan umum pasti ada. Lalu nggak jauh juga dari rumah kakak + ipar tercinta, cukup sekali naik subway (ngayal), ngga jauh juga kalau mau nyekar ke makam ibu-bapak. Mau ke mall juga nggak jauh, cuma sekali naik Metro sampai ke Kelapa Gading Mall, Mall of Indonesia, Mall Artha Gading atau kalau urusan komputer rusak juga dekat dengan Cempaka Mas. Sudah cukup lengkap menurut saya. J’aime ma maison ( ` 3 `)
Menolak untuk “campur” dengan rumah tangga kakak dan ipar, tujuh bulan kemudian saya memutuskan untuk kost, didaerah Pramuka. Walau rumah sebenarnya cukup luas tapi sepertinya sudah saatnya saya hidup mandiri juga kan. Dua tahun kost akhirnya memutuskan untuk pindah ke rusunami. Agak konyol juga karena tahun 2008 sebenarnya saya sudah DP untuk sebuah rusunami di daerah Buaran Jakarta Timur, tapi karena proyek itu mandeg setelah lengsernya Jusuf Kalla dari posisi wapres, jadinya saya mencari-cari rusunami lain. Akhirnya dapat di daerah Jakarta Timur juga, tapi tidak sejauh daerah Buaran, paling nggak dilalui buswaylah walau untuk ke haltenya nggak deket-deket juga.
Pindah ke rusunami segera setelah lebaran tahun 2011, waktu itu bahkan interiornya belum jadi. Sempat ngomel-ngomel sama design interior yang muluk-muluk janji 2 bulan selesai, ngga taunya sampai 4 bulan baru jadi (kurang sabar & baik apa cobak gue). Bosen bertahun-tahun pakai warna biru, akhirnya beralih ke warna hijau. Jadilah tembok saya cat hijau. Bukan hijau tua sih, tapi hijau-hijau muda gitu, karena menurut psikolog, warna hijau muda yang cerah mengandung banyak kuning akan berkesan ringan, segar dan menyenangkan. Kalau sumpek dari tempat kerja atau habis berjibaku dengan kemacetan lalu-lintas, kayaknya perlu ketenangan waktu sampai di rumah. Dan warna hijau ini kayaknya cukup tepat untuk mewakili kesan “tenang” itu :-)
Dan disinilah saya, sekarang. Banyak yang bilang kenapa rusunami? Well, karena kalau punya uang pasti sudah beli apartemen beneran. Kenapa apartemen? Karena menurut saya penghuni apartemen itu lebih cuek, dan karena bangunannya relatif masih didalam kota, sehingga mobilitas tiap hari juga nggak se-riweh teman-teman yang stay di Bekasi-Depok-Bogor-Tangerang. Kenapa pilih yang agak jauh dari pusat kota? Well, pertama, untuk menekan cost, rusunami jarang dibangun dipusat kota. Jadi nggak heran posisinya nyempil-nyempil. Kemudian karena disini ga begitu jauh dari terminal bus, jadi semua rute kendaraan umum pasti ada. Lalu nggak jauh juga dari rumah kakak + ipar tercinta, cukup sekali naik subway (ngayal), ngga jauh juga kalau mau nyekar ke makam ibu-bapak. Mau ke mall juga nggak jauh, cuma sekali naik Metro sampai ke Kelapa Gading Mall, Mall of Indonesia, Mall Artha Gading atau kalau urusan komputer rusak juga dekat dengan Cempaka Mas. Sudah cukup lengkap menurut saya. J’aime ma maison ( ` 3 `)
Thursday, July 19, 2012
Kisah Tragis si Narsis
Alkisah, dahulu kala di Yunani ada seorang dewa sungai bernama Cephissus dan peri Liriope yang menikah dan dikaruniai seorang anak pria tampan yang diberi nama Narcissus (Narkissos dalam bahasa Yunani). Suatu ketika si ibu membawa anaknya ini ke seorang peramal di kota Thebes yang sangat terkenal yang bernama Tiresias, yang konon ramalannya selalu jitu dan terbukti kebenarannya. Si Ibu bertanya : apakah anak saya dapat berumur panjang? Dan si peramal menjawab : Bisa, dengan syarat dia tidak pernah melihat dirinya sendiri. Selepas itu, Ibu Narsissus membuang semua cermin dan logam2 yang memungkinkan Narssisus untuk bisa berkaca.
Dan tahun berganti tahun, musim berganti musim, Mode berganti Mode... si Narssisus tumbuh menjadi pemuda yang tampan lagi gagah, diincar para wanita, disukai para janda, (Iya kali) Begitu gantengnya sampai ada seorang peri yang jatuh cintrong berat sama si Narssisus. Peri ini bernama Echo. Echo ini sangat suka berbicara, sangking gengges-nya sehingga mendapat kutukan dari Dewi Juno (istri Dewa Jupiter) supaya si Echo ini gak bisa ngomong, kecuali cuma bisa meniru ucapan terakhir dari apa yang didengarnya.
Karena selalu dibilang ganteng, Narssisus jadi sombong. Tidak ada yang dibalas cintanya oleh Narssisus ini termasuk cinta si Echo (belum liat kali ya si Echo ini kalo jari kelingking Narssisus ini ngetril.. Yuk Mari). Padahal si Echo ini udah menjadi stalker sejati, kemana Narssisus pergi dikuntit. Suatu ketika Echo mengikuti Narssisus melewati hutan. Waktu si Narsissus bertanya “siapa?” si Echo cuma bisa menjawab “siapa?” Waktu Narssisus bilang “kemarilah” si Echo cuma bisa menjawab “kemarilah”
Dan sewaktu Echo mendekat, Narsissus marah dan menyuruhnya pergi. Echo Patah hati, merana dan akhirnya meninggal (drama banget sik). Kemudian tubuhnya berubah menjadi batu gunung tapi suaranya tetap masih menjadi gema. Jadi tau dong ya asalnya Echo(gema) itu dari mana…
Sangking marahnya, sebelum Echo tewas, dia mengeluarkan kutukan…. JEDERRR.. dan halilintar menyambar-nyambar (okeh, ini lebay) Kutukannya, engkau milikku atau tidak sama sekali..(zoom in – zoom out), mengutuknya agar ia merasakan perasaan cinta yang dalam namun tidak mendapatkan balasan. Dan dewa pun mengabulkannya, menciptakan sesuatu yang akan dicintainya. Sesuatu yang tidak nyata dan tidak akan pernah membalas rasa cintanya.
Dan suatu ketika si Narssisus melewati hutan entah kenapa matanya tertuju ke aliran sungai Styx. Disitu kagetlah dia melihat seorang rupawan banget dan sekejap jatuh cintalah dia pada pandangan pertama (background lagu RAN) begitulah tiap hari kerjanya cuma melihat bayangannya sendiri disungai itu sampai akhirnya karena arus sungai menjadi deras, bayangan wajahnyapun hilang.. Narsissus pun menjadi merana karena merasa cintanya ditolak oleh bayangannya itu. Akhirnya dia meninggal ditepi sungai dan dewa-dewa yang kasihan mengubah mayatnya menjadi bunga Narcissus.
Nah begitulah sekelumit cerita asal muasal seorang Narsis. Dijaman modern ini narsis lebih ditujukan buat orang yang suka memuji diri sendiri secara berlebihan, baik secara fisik, harta atau intelektual. Merasa paling pinter or paling gateng sejagat. Padahal bukan kitalah yang menilai dirikita sendiri melainkan orang lain, bener gak sik? Ambil contoh, kalau kita merasa ganteng, tapi orang lain bilang kamu jelek, ya berarti ada yang salah dengan retina mata kamu kan ya? Menurut saya narsis sudah menjadi semacam candu memabukkan yang membuat orang menjadi suka merendahkan orang lain karena merasa dirinya lebih diatas yang lain. Tapi percaya deh, penampilan, kekayaan dan kepintaran itu sih penting, tapi kalau kamu sedikit lebih down-to-earth, walaupun muka pas-pasan, bakalan lebih menarik, bener gak sik? (` 3 `)
Dan tahun berganti tahun, musim berganti musim, Mode berganti Mode... si Narssisus tumbuh menjadi pemuda yang tampan lagi gagah, diincar para wanita, disukai para janda, (Iya kali) Begitu gantengnya sampai ada seorang peri yang jatuh cintrong berat sama si Narssisus. Peri ini bernama Echo. Echo ini sangat suka berbicara, sangking gengges-nya sehingga mendapat kutukan dari Dewi Juno (istri Dewa Jupiter) supaya si Echo ini gak bisa ngomong, kecuali cuma bisa meniru ucapan terakhir dari apa yang didengarnya.
Karena selalu dibilang ganteng, Narssisus jadi sombong. Tidak ada yang dibalas cintanya oleh Narssisus ini termasuk cinta si Echo (belum liat kali ya si Echo ini kalo jari kelingking Narssisus ini ngetril.. Yuk Mari). Padahal si Echo ini udah menjadi stalker sejati, kemana Narssisus pergi dikuntit. Suatu ketika Echo mengikuti Narssisus melewati hutan. Waktu si Narsissus bertanya “siapa?” si Echo cuma bisa menjawab “siapa?” Waktu Narssisus bilang “kemarilah” si Echo cuma bisa menjawab “kemarilah”
Dan sewaktu Echo mendekat, Narsissus marah dan menyuruhnya pergi. Echo Patah hati, merana dan akhirnya meninggal (drama banget sik). Kemudian tubuhnya berubah menjadi batu gunung tapi suaranya tetap masih menjadi gema. Jadi tau dong ya asalnya Echo(gema) itu dari mana…
Sangking marahnya, sebelum Echo tewas, dia mengeluarkan kutukan…. JEDERRR.. dan halilintar menyambar-nyambar (okeh, ini lebay) Kutukannya, engkau milikku atau tidak sama sekali..(zoom in – zoom out), mengutuknya agar ia merasakan perasaan cinta yang dalam namun tidak mendapatkan balasan. Dan dewa pun mengabulkannya, menciptakan sesuatu yang akan dicintainya. Sesuatu yang tidak nyata dan tidak akan pernah membalas rasa cintanya.
Dan suatu ketika si Narssisus melewati hutan entah kenapa matanya tertuju ke aliran sungai Styx. Disitu kagetlah dia melihat seorang rupawan banget dan sekejap jatuh cintalah dia pada pandangan pertama (background lagu RAN) begitulah tiap hari kerjanya cuma melihat bayangannya sendiri disungai itu sampai akhirnya karena arus sungai menjadi deras, bayangan wajahnyapun hilang.. Narsissus pun menjadi merana karena merasa cintanya ditolak oleh bayangannya itu. Akhirnya dia meninggal ditepi sungai dan dewa-dewa yang kasihan mengubah mayatnya menjadi bunga Narcissus.
Nah begitulah sekelumit cerita asal muasal seorang Narsis. Dijaman modern ini narsis lebih ditujukan buat orang yang suka memuji diri sendiri secara berlebihan, baik secara fisik, harta atau intelektual. Merasa paling pinter or paling gateng sejagat. Padahal bukan kitalah yang menilai dirikita sendiri melainkan orang lain, bener gak sik? Ambil contoh, kalau kita merasa ganteng, tapi orang lain bilang kamu jelek, ya berarti ada yang salah dengan retina mata kamu kan ya? Menurut saya narsis sudah menjadi semacam candu memabukkan yang membuat orang menjadi suka merendahkan orang lain karena merasa dirinya lebih diatas yang lain. Tapi percaya deh, penampilan, kekayaan dan kepintaran itu sih penting, tapi kalau kamu sedikit lebih down-to-earth, walaupun muka pas-pasan, bakalan lebih menarik, bener gak sik? (` 3 `)
Monday, July 16, 2012
Demi Pengakuan?
Minggu lalu ada kejadian heboh di kantor. Seorang teman kantor yang terkenal royal ternyata melakukan penggelapan uang kas. How come?
Kadang kita tidak menduga hal semacam ini terjadi. Seorang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari *ceilah* berbuat sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Alasannya sedikit tidak masuk akal, karena salah satu keluarganya tersandung masalah narkoba? tapi yang kita lihat sehari-hari kerjanya nge-mol terus dan of course, makan yang enak-enak hampir tiap hari. Kontradiktif sekali dengan pengakuannya yang serba menghiba-hiba itu.
Kadang kita sebagai manusia, butuh pengakuan. Diakui sebagai orang kaya, diakui sebagai orang cantik / ganteng, diakui sebagai orang dengan intelektual tinggi (jadi inget boss gue yang baru-baru ini resign), de-el-el, sampai kita lupa sebenarnya untuk semuanya itu kita telah melewati batas kemampuan. Keinginan untuk diakui sebagai orang yang "wah" kadang memabukkan. Kadang mungkin bagi yang punya akses ke keuangan seperti teman kantor saya ini, godaannya begitu besar. Niatnya mungkin pinjam dulu, nanti diganti. Namun akhirnya keterusan, gali lubang tutup lubang, sehingga suatu saat ketahuan, dan sewaktu dilakukan cash opname jumlah selisih uangnya ternyata fantastis!
Sebenarnya bukan hanya resiko kehilangan pekerjaan, tapi juga rasa malu setelahnya, termasuk mencoreng nama keluarga. Untunglah tidak sampai dibawa ke polisi, karena mungkin kasusnya nggak seheboh Malinda Dee yang membobol dana nasabah citibank sampai triliyunan rupiah kali ya :-/
Saya beruntung dilahirkan dikeluarga yang sederhana, sudah biasa makan tempe goreng atau sayur lodeh. Sehingga saya tidak akan merasa panas dingin jika hanya ada tempe untuk dimakan. Saya tidak perlu pengakuan orang sehingga harus dugem tiap malam minggu di klub malam, atau bergaul dengan kaum sosialite karena memang saya tidak punya kemampuan apa-apa untuk berbaur dengan mereka. Saya adalah saya. Kadang mungkin kesepian, tapi I could find a way to solve it
Kadang kita tidak menduga hal semacam ini terjadi. Seorang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari *ceilah* berbuat sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Alasannya sedikit tidak masuk akal, karena salah satu keluarganya tersandung masalah narkoba? tapi yang kita lihat sehari-hari kerjanya nge-mol terus dan of course, makan yang enak-enak hampir tiap hari. Kontradiktif sekali dengan pengakuannya yang serba menghiba-hiba itu.
Kadang kita sebagai manusia, butuh pengakuan. Diakui sebagai orang kaya, diakui sebagai orang cantik / ganteng, diakui sebagai orang dengan intelektual tinggi (jadi inget boss gue yang baru-baru ini resign), de-el-el, sampai kita lupa sebenarnya untuk semuanya itu kita telah melewati batas kemampuan. Keinginan untuk diakui sebagai orang yang "wah" kadang memabukkan. Kadang mungkin bagi yang punya akses ke keuangan seperti teman kantor saya ini, godaannya begitu besar. Niatnya mungkin pinjam dulu, nanti diganti. Namun akhirnya keterusan, gali lubang tutup lubang, sehingga suatu saat ketahuan, dan sewaktu dilakukan cash opname jumlah selisih uangnya ternyata fantastis!
Sebenarnya bukan hanya resiko kehilangan pekerjaan, tapi juga rasa malu setelahnya, termasuk mencoreng nama keluarga. Untunglah tidak sampai dibawa ke polisi, karena mungkin kasusnya nggak seheboh Malinda Dee yang membobol dana nasabah citibank sampai triliyunan rupiah kali ya :-/
Saya beruntung dilahirkan dikeluarga yang sederhana, sudah biasa makan tempe goreng atau sayur lodeh. Sehingga saya tidak akan merasa panas dingin jika hanya ada tempe untuk dimakan. Saya tidak perlu pengakuan orang sehingga harus dugem tiap malam minggu di klub malam, atau bergaul dengan kaum sosialite karena memang saya tidak punya kemampuan apa-apa untuk berbaur dengan mereka. Saya adalah saya. Kadang mungkin kesepian, tapi I could find a way to solve it
Friday, July 13, 2012
Lost in Brussels
Belgia adalah sebuah kerajaan kecil tetangga Belanda. Nama asalnya adalah Belgica, dulunya adalah sebuah provinsi Roman dengan suku bangsa Belgae berdiam disitu. Belgia mempunyai 3 bahasa resmi, yaitu Perancis, Belanda dan Jerman. Namun bahasa Perancis dan Belanda lebih dominan disini, karena wilayah penutur bahasa Jerman hanya sedikit saja diujung selatan yang berbatasan dengan Jerman. Sangking “bermusuhan”nya penutur 2 bahasa ini, sampai-sampai ada istilah Flender (Flandria) yaitu daerah yang berbahasa Belanda, dan daerah Wallon (Wallonia) yang berbahasa Perancis. Sementara ibu kota Belgia sendiri, Brussel, berada di antara dua kawasan itu, dan disini semua-semua papan nama atau dokumen ditulis dalam dwi bahasa. Pucing ndak sik? Flander dan Wallonia ini seperti punya kebanggan sendiri-sendiri, kesannya nggak mau nyampur, sampai TOP 100 lagu2 di Belgia ini terbagi dua, Tangga lagu Wallonia & tangga lagu Flanders, dan pernah juga selama 249 hari Belgia nggak punya pemerintahan gara-gara dua etnis ini ributtt meyuyu. Fiuh..
Anyway nggak banyak waktu untuk keliling-keliling di Brussel ini, yang wajib kunjung pasti dong tugu “atomium” apa itu? Itu adalah semacam menara yang berbentuk atom gitu deh… udah jadi kebiasaan kan kalau ada World Expo itu dibuat semacam kenang-kenangan gitu, misalnya waktu World Expo di Paris tahun 1889 dibangunlah menara Eiffel, nah.. waktu World Expo tahun 1958 di Brussel, dibangunlah bangunan Atomium ini, gitu lhoo… tinggi atomium ini sekitar 102 meter, kira-kira hampir sama tinggi dengan tugu monas kali yeee.. kalau minat bisa manjat keatas, ada tangga didalamnya, tapi denger-denger sik nggak ada lift, jadi silakan bercapek-capek keatas ya :-P
Yang unik dan tak terduga, kita sempat terperangkap dalam pawai GLBT disini, oh Mon Dieu, kebayang nggak sik terjebak diantara waria-waria yang berpakaian seksi? Hihihi… Belgia dan Belanda memang terbuka untuk urusan begini-beginian, kalau di Indonesia, pasti waria-waria ini sudah ngacir dikejar-kejar FPI yak… xixixi. Niat hati mau cari Hard Rock buat beli kaos titipan teman, tapi ternyata lagi renovasi :-( tapi paling nggak kita bisa foto-foto di istana raja, karena ternyata masih dalam satu kompleks. Walau nggak masuk ya didepannya juga ndak pa-pa kan ya :-P Sebenarnya ada lagi yg wajib kunjung di Belgia ini, yaitu patung Manekin Piss (patung anak kecil yang lagi pipis) dan museum Tin-Tin, cuma ndak keburuuu... kapan-kapan ya jika ada kesempatan kembali kesini ( `3`)
Pulang ke Indo juga lewat Belgia. Bandaranya termasuk kecil sik, tapi nggak jauh dari pusat kotanya. dan urusan tax-free nya sangat ribet hingga antriannya mengular… mana petugasnya cuma satu, kakek-kakek pulak.. bahkan ada yang terpaksa tidak mengurus karena nggak keburu, daripada ditinggal pesawat? Hayooo. Heran deh ini bandara bisa menyabet predikat bandara terbaik se-Eropa tahun 2005..pfftt
Baiklah, sekian rangkaian perjalanan Europe 2012 ini, semoga tahun depan masih bisa jalan-jalan lagi. Karena saudara-saudara, Life is too short, kalau kalian bisa, lihatlah dunia, lihatlah keindahan alam ciptaan Tuhan, karena bener-bener amazing!
Anyway nggak banyak waktu untuk keliling-keliling di Brussel ini, yang wajib kunjung pasti dong tugu “atomium” apa itu? Itu adalah semacam menara yang berbentuk atom gitu deh… udah jadi kebiasaan kan kalau ada World Expo itu dibuat semacam kenang-kenangan gitu, misalnya waktu World Expo di Paris tahun 1889 dibangunlah menara Eiffel, nah.. waktu World Expo tahun 1958 di Brussel, dibangunlah bangunan Atomium ini, gitu lhoo… tinggi atomium ini sekitar 102 meter, kira-kira hampir sama tinggi dengan tugu monas kali yeee.. kalau minat bisa manjat keatas, ada tangga didalamnya, tapi denger-denger sik nggak ada lift, jadi silakan bercapek-capek keatas ya :-P
Yang unik dan tak terduga, kita sempat terperangkap dalam pawai GLBT disini, oh Mon Dieu, kebayang nggak sik terjebak diantara waria-waria yang berpakaian seksi? Hihihi… Belgia dan Belanda memang terbuka untuk urusan begini-beginian, kalau di Indonesia, pasti waria-waria ini sudah ngacir dikejar-kejar FPI yak… xixixi. Niat hati mau cari Hard Rock buat beli kaos titipan teman, tapi ternyata lagi renovasi :-( tapi paling nggak kita bisa foto-foto di istana raja, karena ternyata masih dalam satu kompleks. Walau nggak masuk ya didepannya juga ndak pa-pa kan ya :-P Sebenarnya ada lagi yg wajib kunjung di Belgia ini, yaitu patung Manekin Piss (patung anak kecil yang lagi pipis) dan museum Tin-Tin, cuma ndak keburuuu... kapan-kapan ya jika ada kesempatan kembali kesini ( `3`)
Pulang ke Indo juga lewat Belgia. Bandaranya termasuk kecil sik, tapi nggak jauh dari pusat kotanya. dan urusan tax-free nya sangat ribet hingga antriannya mengular… mana petugasnya cuma satu, kakek-kakek pulak.. bahkan ada yang terpaksa tidak mengurus karena nggak keburu, daripada ditinggal pesawat? Hayooo. Heran deh ini bandara bisa menyabet predikat bandara terbaik se-Eropa tahun 2005..pfftt
Baiklah, sekian rangkaian perjalanan Europe 2012 ini, semoga tahun depan masih bisa jalan-jalan lagi. Karena saudara-saudara, Life is too short, kalau kalian bisa, lihatlah dunia, lihatlah keindahan alam ciptaan Tuhan, karena bener-bener amazing!
Thursday, July 12, 2012
Lost in Amsterdam
Yihaa.. setelah melewati perbatasan Jerman masuklah kita ke wilayah Kerajaan Belanda, Welkomen in Nederland. Disebut Nederland because (Neder = Turun, Land = Tanah) Yap, sebagian wilayah Belanda ini memang berada dibawah level permukaan laut, jadi jika laut utara meluap, banjirlah sebagian negara ini.
Pemberhentian pertama kita adalah kota Venlo, dimana lagi diadakan perlehatan “Floriade 2012 World Horticultural Expo”. Pameran kembang ini diadakan di Belanda sepuluh tahun sekali, dan untuk kali ini diadakan di kota Venlo, sebuah kota kecil dekat perbatasan dengan Jerman. Tiap sepuluh tahun itu kota penyelenggaranya beda-beda dimulai semenjak tahun,1960 saat itu diadakan di Rotterdam (Het Park), kemudian tahun 1972 di kota Amsterdam (Amstelpark), tahun 1982 - Amsterdam (Gaasperplas), tahun 1992 di kota Zoetermeer , tahun 2002 dikota Haarlemmermeer dan 2012 ini diadakan di kota Venlo. Di pameran ini ada stand Indonesianya juga lho.
Setelah muter-muter disini, kita kembali memasuki jalan tol untuk menuju Amsterdam. Melewati padang-padang rumput dengan sesekali pemandangan kincir angin khas Belanda, akhirnya kita memasuki kota Amsterdam. Macet juga, walau nggak separah Jekardah huhuhu..
Sebelum memasuki hotel kita sempat didrop untuk makan malam disebuah restoran Indonesia, “Desa” namanya. Rasanya lumayan enak, apalagi sama lidah yang udah berhari-hari nggak makan masakan Indonesia. Sesuatu banget la yaa nemu makanan Indo di Erpoah ginih.. ( ` 3 `)
Kita nginap jauuuh didekat bandara Schipol, di hotel Ibis. Tapi hotelnya bagus kok. Keesokan harinya perjalanan dimulai pagi-pagi menuju Volendam, sebuah kota kecil dibagian utara Belanda, kira-kira 20 menit perjalanan dari Amsterdam. Ada apa disana? Ya ada dam kaleee… wkwkwk. Yang istimewa di Amsterdam ini dimana-mana disediakan jalur khusus untuk sepeda. Disini sepeda adalah raja, kita yang harus minggir kalau mereka lewat. Disini sewa sepeda mudah sih, tinggal gesek kartu kredit. Nah gimana kalau sepedanya dibawa kabur? ya tinggal di charge aja harga sepedanya di kartu kredit yang kita gesek itu hehe. Tapi tingkat pencurian sepeda di Belanda lumayan tinggi lho..
Nah, akhirnya sampai di kota kecil Volendam, Dam-nya sendiri berupa tanggul dimana dikiri adalah laut, dikanan rumah-rumah. Kalau dilihat memang tinggi permukaan laut lebih tinggi dari rumah-rumah disebelahnya. Kota ini merupakan tempat turis yang popular. Ada deretan toko souvenir disini, kalau ada duit lebih bolehlah kalian berfoto menggunakan baju tradisional Belanda yang super ribet plus memakai sepatu kayunya yang terkenal itu. Nggak kebayang ya gimana mereka bisa memakai itu, bikin kaki sakit dan licin pulak :-/
Selepas dari Volendam, bisa foto-foto di kincir anginnya trus melanjutkan perjalanan kembali ke Amsterdam, dimana (seperti biasa) kalau ikut tour itu pasti ada disuruh masuk toko-toko “titipan” pemerintah setempat. Dibawalah kita ke ‘Coster Diamond’ dimana sales-sales berlian yang berbahasa Indonesia dengan baik hati menerangkan proses pengasahan berlian sampai menawarkan berlian dengan beraneka ragam harga, mulai dari yang mahal sampai yang harga ‘ekonomis’.
Karena saya nggak berminat untuk membeli berlian, maka beberapa dari kami ‘kabur’ ke Hard Rock Café Amsterdam, yang ternyata letaknya tidak jauh dari Coster Diamond ini. Cuma jalan kaki dikit plus lari-larian sampailah disana, beli-beli kaos HRC dengan kasir yang bisa berbahasa Indonesia patah-patah, wew.. terkenal juga ya bahasa Indonesia disini haha.. Sebenarnya di sekitaran Coster Diamonds itu banyak museum-museum lho, Cuma karena waktu terbatas nggak sempat masuk. Didepannya ada semacam lapangan yang ada kolam panjaaangg banget dengan tulisan besar diujungnya : I am sterdam, wkwkwk ada-ada aja.
Selepas itu kita didrop ke Amsterdam Centraal, itu ada stasiun kereta api sentralnya kali ya, tapi kita bukan naik kereta, tapi ikut tour kanal-kanal di Belanda. Disepanjang jalan Prins Hendrikkade ini ada kapal-kapal pesiar yang akan membawa kita plesiran disepanjang kanal untuk kira-kira 40-45 menit kali ya.
Belanda memang terkenal dengan kanalnya, untuk sarana penahan banjir. Tekhnologi ini sebenarnya sudah dibawa ke Batavia kok, buktinya ada kanal-kanal juga di Jakarta kan, walau skalanya lebih kecil, misalnya yang melintas di Istana jalan Veteran – Pasar baru, Kali sunter dan kanal banjir barat. Di Amsterdam ini ada kanal yang katanya kanal terlebar yang pernah dibuat manusia, kita pasti tau dong dananya dari mana, ya dari VOC ya ndak sik? Plesiran Kanal ini kita akan melewati rumah Anne Frank. Anne Frank adalah seorang gadis keturunan Yahudi yang kisah buku hariannya sangat terkenal. Ceritanya selama 2 tahun dia dan keluarganya bersembunyi di rumah itu, sampai akhirnya mereka dikhianati dan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi. Saat itu hanya ayah Anne, Otto Frank yang selamat, dan ketika dia kembali ke Amsterdam, asistennya menemukan buku harian Anne dan menyerahkan kepada Otto. Kemudia Otto mempublikasikan buku tersebut. Sampai saat ini, Buku diary Anne Frank (katanya) menjadi buku kedua terlaris didunia setelah Bible. Anne Frank berusia 13 tahun sewaktu menulis itu. Dia tewas di kamp Nazi pada tahun 1945 kira-kira waktu berusia 15 tahun.
Anyway busway, udah dulu kisah sedih-sedihnya. Nggak jauh dari situ ada Red Light Distric, tau dong itu apaaah… Jam 9 malam saya ketemu temannya teman disitu, mbak Mini dan Mbak Muli yang menikah dengan orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Belanda. Lumayan ada pemandu wisata gratis menyusuri Red Light Distric.. wkwkwkwk… Sepanjang kanal ada ruko-ruko dengan jendela kaca, dan wanita-wanita dan pria-pria itu berpakaian minim menjajakan diri disitu. Legal. Kalau cocok, pintu kacanya dibuka, masuk kedalam trus gordennya ditutup, srekk.. bwawawa. Ada juga museum sex, museum erotis, sex shop, sama pertunjukan-pertunjukan live show gituan. Tapi karena saya anak baik-baik ya cuma lewat aja , sekedar tahu. Nggak boleh foto-foto terlalu dekat ke jendela-jendela itu jadi ya foto dari jauh aja.
Btw, bendera Amsterdam yang ada symbol XXX nya itu ngga ada kaitannya dengan mesum-mesum ya, XXX itu sebenarnya adalah Saint Andew Cross, karena seperti yang kita tahu kebudayaan Eropa, tiap kota ada pelindungnya, kayak Santo-santo gitulah. Cuma kadang citra kota Amsterdam yang mesum itu dikait-kaitkan dengan benderanya ini :-P
Setelah puas muter-muter dan mencicipi kroket Belanda (belinya pakai mesin-masukin koin gitu) akhirnya mampir ke rumah Mbak Muli, naik Trem. Trem disana bayar waktu masuk, ada loket penjaga didalamnya, jadi kondekturnya nggak seperti disini, keliling-keliling minta ongkos sama penumpang, disitu kondekturnya duduk ada di loket mungil didalamnya. Rumah mbak Muli ada didaerah sekitar Schipol, masih enak suasananya. Muli tinggal di Apartemen yang cuma 2 tingkat (nggak seperti apartemen disini yang berlantai-laintai) tapi harganya fantastis lho, sekitar 2 M, wow.. Akhirnya dirumah mbak Muli ini kita bisa merasakan teh botol sosro setelah 2 minggu nggak ketemu minuman favorit ini. Yawn
Jam 2 pagi barulah balik ke hotel, mana belum sempat berbenah lagi, padahal besok sudah harus cabut ke Belgia. Yippii..
Pemberhentian pertama kita adalah kota Venlo, dimana lagi diadakan perlehatan “Floriade 2012 World Horticultural Expo”. Pameran kembang ini diadakan di Belanda sepuluh tahun sekali, dan untuk kali ini diadakan di kota Venlo, sebuah kota kecil dekat perbatasan dengan Jerman. Tiap sepuluh tahun itu kota penyelenggaranya beda-beda dimulai semenjak tahun,1960 saat itu diadakan di Rotterdam (Het Park), kemudian tahun 1972 di kota Amsterdam (Amstelpark), tahun 1982 - Amsterdam (Gaasperplas), tahun 1992 di kota Zoetermeer , tahun 2002 dikota Haarlemmermeer dan 2012 ini diadakan di kota Venlo. Di pameran ini ada stand Indonesianya juga lho.
Setelah muter-muter disini, kita kembali memasuki jalan tol untuk menuju Amsterdam. Melewati padang-padang rumput dengan sesekali pemandangan kincir angin khas Belanda, akhirnya kita memasuki kota Amsterdam. Macet juga, walau nggak separah Jekardah huhuhu..
Sebelum memasuki hotel kita sempat didrop untuk makan malam disebuah restoran Indonesia, “Desa” namanya. Rasanya lumayan enak, apalagi sama lidah yang udah berhari-hari nggak makan masakan Indonesia. Sesuatu banget la yaa nemu makanan Indo di Erpoah ginih.. ( ` 3 `)
Kita nginap jauuuh didekat bandara Schipol, di hotel Ibis. Tapi hotelnya bagus kok. Keesokan harinya perjalanan dimulai pagi-pagi menuju Volendam, sebuah kota kecil dibagian utara Belanda, kira-kira 20 menit perjalanan dari Amsterdam. Ada apa disana? Ya ada dam kaleee… wkwkwk. Yang istimewa di Amsterdam ini dimana-mana disediakan jalur khusus untuk sepeda. Disini sepeda adalah raja, kita yang harus minggir kalau mereka lewat. Disini sewa sepeda mudah sih, tinggal gesek kartu kredit. Nah gimana kalau sepedanya dibawa kabur? ya tinggal di charge aja harga sepedanya di kartu kredit yang kita gesek itu hehe. Tapi tingkat pencurian sepeda di Belanda lumayan tinggi lho..
Nah, akhirnya sampai di kota kecil Volendam, Dam-nya sendiri berupa tanggul dimana dikiri adalah laut, dikanan rumah-rumah. Kalau dilihat memang tinggi permukaan laut lebih tinggi dari rumah-rumah disebelahnya. Kota ini merupakan tempat turis yang popular. Ada deretan toko souvenir disini, kalau ada duit lebih bolehlah kalian berfoto menggunakan baju tradisional Belanda yang super ribet plus memakai sepatu kayunya yang terkenal itu. Nggak kebayang ya gimana mereka bisa memakai itu, bikin kaki sakit dan licin pulak :-/
Selepas dari Volendam, bisa foto-foto di kincir anginnya trus melanjutkan perjalanan kembali ke Amsterdam, dimana (seperti biasa) kalau ikut tour itu pasti ada disuruh masuk toko-toko “titipan” pemerintah setempat. Dibawalah kita ke ‘Coster Diamond’ dimana sales-sales berlian yang berbahasa Indonesia dengan baik hati menerangkan proses pengasahan berlian sampai menawarkan berlian dengan beraneka ragam harga, mulai dari yang mahal sampai yang harga ‘ekonomis’.
Karena saya nggak berminat untuk membeli berlian, maka beberapa dari kami ‘kabur’ ke Hard Rock Café Amsterdam, yang ternyata letaknya tidak jauh dari Coster Diamond ini. Cuma jalan kaki dikit plus lari-larian sampailah disana, beli-beli kaos HRC dengan kasir yang bisa berbahasa Indonesia patah-patah, wew.. terkenal juga ya bahasa Indonesia disini haha.. Sebenarnya di sekitaran Coster Diamonds itu banyak museum-museum lho, Cuma karena waktu terbatas nggak sempat masuk. Didepannya ada semacam lapangan yang ada kolam panjaaangg banget dengan tulisan besar diujungnya : I am sterdam, wkwkwk ada-ada aja.
Selepas itu kita didrop ke Amsterdam Centraal, itu ada stasiun kereta api sentralnya kali ya, tapi kita bukan naik kereta, tapi ikut tour kanal-kanal di Belanda. Disepanjang jalan Prins Hendrikkade ini ada kapal-kapal pesiar yang akan membawa kita plesiran disepanjang kanal untuk kira-kira 40-45 menit kali ya.
Belanda memang terkenal dengan kanalnya, untuk sarana penahan banjir. Tekhnologi ini sebenarnya sudah dibawa ke Batavia kok, buktinya ada kanal-kanal juga di Jakarta kan, walau skalanya lebih kecil, misalnya yang melintas di Istana jalan Veteran – Pasar baru, Kali sunter dan kanal banjir barat. Di Amsterdam ini ada kanal yang katanya kanal terlebar yang pernah dibuat manusia, kita pasti tau dong dananya dari mana, ya dari VOC ya ndak sik? Plesiran Kanal ini kita akan melewati rumah Anne Frank. Anne Frank adalah seorang gadis keturunan Yahudi yang kisah buku hariannya sangat terkenal. Ceritanya selama 2 tahun dia dan keluarganya bersembunyi di rumah itu, sampai akhirnya mereka dikhianati dan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi. Saat itu hanya ayah Anne, Otto Frank yang selamat, dan ketika dia kembali ke Amsterdam, asistennya menemukan buku harian Anne dan menyerahkan kepada Otto. Kemudia Otto mempublikasikan buku tersebut. Sampai saat ini, Buku diary Anne Frank (katanya) menjadi buku kedua terlaris didunia setelah Bible. Anne Frank berusia 13 tahun sewaktu menulis itu. Dia tewas di kamp Nazi pada tahun 1945 kira-kira waktu berusia 15 tahun.
Anyway busway, udah dulu kisah sedih-sedihnya. Nggak jauh dari situ ada Red Light Distric, tau dong itu apaaah… Jam 9 malam saya ketemu temannya teman disitu, mbak Mini dan Mbak Muli yang menikah dengan orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Belanda. Lumayan ada pemandu wisata gratis menyusuri Red Light Distric.. wkwkwkwk… Sepanjang kanal ada ruko-ruko dengan jendela kaca, dan wanita-wanita dan pria-pria itu berpakaian minim menjajakan diri disitu. Legal. Kalau cocok, pintu kacanya dibuka, masuk kedalam trus gordennya ditutup, srekk.. bwawawa. Ada juga museum sex, museum erotis, sex shop, sama pertunjukan-pertunjukan live show gituan. Tapi karena saya anak baik-baik ya cuma lewat aja , sekedar tahu. Nggak boleh foto-foto terlalu dekat ke jendela-jendela itu jadi ya foto dari jauh aja.
Btw, bendera Amsterdam yang ada symbol XXX nya itu ngga ada kaitannya dengan mesum-mesum ya, XXX itu sebenarnya adalah Saint Andew Cross, karena seperti yang kita tahu kebudayaan Eropa, tiap kota ada pelindungnya, kayak Santo-santo gitulah. Cuma kadang citra kota Amsterdam yang mesum itu dikait-kaitkan dengan benderanya ini :-P
Setelah puas muter-muter dan mencicipi kroket Belanda (belinya pakai mesin-masukin koin gitu) akhirnya mampir ke rumah Mbak Muli, naik Trem. Trem disana bayar waktu masuk, ada loket penjaga didalamnya, jadi kondekturnya nggak seperti disini, keliling-keliling minta ongkos sama penumpang, disitu kondekturnya duduk ada di loket mungil didalamnya. Rumah mbak Muli ada didaerah sekitar Schipol, masih enak suasananya. Muli tinggal di Apartemen yang cuma 2 tingkat (nggak seperti apartemen disini yang berlantai-laintai) tapi harganya fantastis lho, sekitar 2 M, wow.. Akhirnya dirumah mbak Muli ini kita bisa merasakan teh botol sosro setelah 2 minggu nggak ketemu minuman favorit ini. Yawn
Jam 2 pagi barulah balik ke hotel, mana belum sempat berbenah lagi, padahal besok sudah harus cabut ke Belgia. Yippii..
Monday, July 9, 2012
Lost in Frankfurt
Setelah melewatkan kota Lucerne nan indah dan cantik dan sunyi dengan bau kotoran kebo yang memikat (halah) sekarang saya dan rombongan bergerak memasuki wilayah Jerman. Ja, Ja.. Ich gehe auf Deutschland, baby!!!
Sebelum benar-benar meninggalkan Swiss kita masih sempat melihat Reinfall, yaitu air-terjun-yang-katanya-terbesar- di Eropa-tapi-cuma-begitu-doang. Sungai Rhein ini nantinya akan masuk ke wilayah Jerman dan bermuara di Belanda.
Memasuki perbatasan Jerman, seluruh belanjaan kita yang dibeli di Swiss harus di cap dibea cukai perbatasan, ini dikarenakan Swiss belum masuk Uni Eropa, jadi punya kebijakan pabean sendiri. Kadangkala barang yang kita beli disuruh tunjukkan, untuk memastikan barang itu benar-benar keluar dari negaranya, barulah stempel tax free-nya dikasih.
Perhentian pertama kita di Jerman adalah hutan Black Forrest. Ada danau cantik disini plus hutan pinus yang kalau dari jauh keliatan kehitam-hitaman seperti black forrest, udah, titik, gitu doang. Disekitarnya ada toko-toko souvenir dan jam yang kalau mau beli langsung dikurangi tax 15% dengan menunjukkan passport.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke kota Frankfurt. Frankfurt adalah kota nomor 5 terbesar di Jerman. Kita didrop dikawasan Romerberg, yang merupakan kawasan bersejarah, karena pada waktu Perang Dunia II, daerah ini habis dibombardir pasukan sekutu hingga benar-benar lenyap. Pada tahun 1981 – 1984 dilakukan rekonstruksi terhadap 6 rumah disitu yang menjadi ciri khas daerah ini.
Sebelum benar-benar meninggalkan Swiss kita masih sempat melihat Reinfall, yaitu air-terjun-yang-katanya-terbesar- di Eropa-tapi-cuma-begitu-doang. Sungai Rhein ini nantinya akan masuk ke wilayah Jerman dan bermuara di Belanda.
Memasuki perbatasan Jerman, seluruh belanjaan kita yang dibeli di Swiss harus di cap dibea cukai perbatasan, ini dikarenakan Swiss belum masuk Uni Eropa, jadi punya kebijakan pabean sendiri. Kadangkala barang yang kita beli disuruh tunjukkan, untuk memastikan barang itu benar-benar keluar dari negaranya, barulah stempel tax free-nya dikasih.
Perhentian pertama kita di Jerman adalah hutan Black Forrest. Ada danau cantik disini plus hutan pinus yang kalau dari jauh keliatan kehitam-hitaman seperti black forrest, udah, titik, gitu doang. Disekitarnya ada toko-toko souvenir dan jam yang kalau mau beli langsung dikurangi tax 15% dengan menunjukkan passport.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke kota Frankfurt. Frankfurt adalah kota nomor 5 terbesar di Jerman. Kita didrop dikawasan Romerberg, yang merupakan kawasan bersejarah, karena pada waktu Perang Dunia II, daerah ini habis dibombardir pasukan sekutu hingga benar-benar lenyap. Pada tahun 1981 – 1984 dilakukan rekonstruksi terhadap 6 rumah disitu yang menjadi ciri khas daerah ini.
Lost in Lucerne (Switzerland)
Kalau dibilang ada Negara unik didunia, maka Swiss adalah salah satunya. Mengapa oh mengapa? Kalau dilihat dari perangkonya, Swiss menyebut nama Negara mereka sebagai “Helvetia” yang berasal dari bahasa Latin (mungkin) yang jelas, Konfederasi Swiss ini mempunyai 4 bahasa resmi yaitu Jerman, Perancis, Italia dan Romans dan terdiri dari 26 canton (semacam Negara bagian). Jadi mereka bisa disebut sebagai Schweiz, Suisse, Svizzera atau Svizra, dengan Komunitas terbanyak adalah berbahasa Jerman ( 17 canton = 60%), Perancis ( 4 canton = 20%), Italia (1 canton) dan sisanya berbahasa campuran.
Baiklah sekian dulu belajar sejarahnya (-____-“) Setelah menempuh perjalanan berkelok dari Milan, kita akan melewati jalan-jalan pegunungan yang berliku-liku. Pemandangan penuh dengan danau-danau indah, salah satunya ada danau Como yang terkenal itu. Memasuki wilayah Swiss, udara mulai anjlok, dingin banget.. Walaupun Swiss tidak tergabung dengan Uni Eropa, namun tidak perlu punya Visa khusus jika kita sudah mengantongi Visa Schengen. Uang pun mereka masih memakai Franc Swiss, yang rate-nya kira-kira sama dengan Dollar Amerika. Namun kalau kepepet, mereka juga menerima mata uang Euro, tapi rugi jatuhnya karena 1 Euro disamakan dengan 1 Swiss Franc. Tujuan kami adalah kota Luzerne atau Lucerne. Menuju kesana kita akan melewati padang bunga-bunga kuning yang menjadi bahan baku permen Ricola (bahkan kita melalui pabriknya juga), juga rumah-rumah khas Swiss yang berjendela banyak (mungkin biar sinar matahari masuk) jangan heran kalau disatu dinding, rumah Swiss memiliki 12 jendela! Hehe… dan juga karena daerah bergunung-gunung, kita akan melewati terowongan bawah gunung berkali-kali. Yang terpanjang adalah terowongan sejauh 17km, perlu 20 menit untuk melaluinya. Luar biasa ya, mereka bisa membolongi gunung untuk dibuat terowongan sepanjang itu. Denger-denger ini bukan terowongan terpanjang karena masih dibangun terowongan lainnya sepanjang 22km! busyettt :-/
Baiklah, Kota Lucerne (Luzern) adalah ibu kota dari Canton Lucerne dengan penduduk hanya 70an ribu jiwa saja. Jadi kebayang dong gimana tenangnya kota ini. Kota Lucerne mengelilingi danau Lucerne yang indah, dengan puncak-puncak salju abadi disekelilingnya. Untuk ikut tour pesiar di danau itu mesti keluar uang 35 Euro lagi satu orang, karena kita menyewa satu kapal untuk rombongan ini. Kira-kira diajak pelesir sekitar 30 menit saja, kemudian di turunkan di sebuah toko jam. Swiss memang terkenal akan jam tangannya, mulai dari merk ternama seperti Rolex, sampai merk-merk yang asing terdengar. Kalau kamu termasuk yang doyan jam tangan silahkan dibeli karena dijamin harganya lebih murah ketimbang kalau sudah masuk Indonesia, plus diskon toko dan tax refund. Tapi harganya juga fantastis, untuk Rolex misalnya, ada jam yang harganya sampai 1 Miyar rupiah masaaaa…
Perjalanan selanjutnya, mendaki puncak gunung Titlis, bukan mendaki beneran kali, karena ada gondola atau cable car untuk menuju keatasnya. Disini suhu udara sudah bikin menggigil. Titlis sendiri merupakan salah satu puncak pegunungan Apen di Swiss dengan ketinggian 3000 meter lebih. Ada salju abadi dipuncaknya, yang bahkan tidak meleleh sewaktu musim panas. Cuma ya itu, semakin tinggi, udara semakin tipis pula, buat yang nggak biasa, dada menjadi terasa sesak dan kepala menjadi pusing karena kekurangan oksigen. Jadi sementara yang lain ber haha-hihi mainan salju saya memlilih untuk duduk-duduk saja karena kepala sudah mulai pening. Dipuncak gunung titilis sendiri ada area buat yang suka main ski, ada restoran juga dan tentunya toko souvenir. Unutk naik dan turun puncaknya, kita harus menaiki gondola kecil sekali (yang muat 4 – 6 orang) , kemudian naik gondola yang lebih besar lagi yang bisa menampung kira-kira seratus orang, dan gondola besar ini bisa berputar 360 derajat, jadi kita bisa melihat pemandangan secara utuh.
Sekembali dari Mount Titlis ini kita kembali di drop di kota Lucerne untuk melihat semacam monumen kota ini, yaitu patung singa yang sekarat dengan tombak yang masih menancap dibadannya. Kok bisa? Menurut cerita, dulu pada saat revolusi Perancis, prajurit-prajurit Swiss dari kota ini di sewa oleh raja Louis untuk melindungi dari para revolusioner. Akhirnya mereka gugur, dan dibangunlah monumen ini untuk mengenang keberanian para prajurit itu. Selanjutnya adalah acara bebas. Tapi nggak banyak yang bisa dilakukan lagi, karena toko-toko rata-rata tutup jam 6 sore. Mungkin bagi yang suka kasino, bisa melanjutkan malam dengan mencari peruntungan disini, tapi saya sendiri lebih memilih untuk membeli segelas Starbuck dan kentang goreng dari MC.Donalds. Nyam.. BTW, saya ulang tahun di kota ini lho, di Swiss!! jadi Happy B’day to me yaaa… uwuwuwuwu..
Baiklah sekian dulu belajar sejarahnya (-____-“) Setelah menempuh perjalanan berkelok dari Milan, kita akan melewati jalan-jalan pegunungan yang berliku-liku. Pemandangan penuh dengan danau-danau indah, salah satunya ada danau Como yang terkenal itu. Memasuki wilayah Swiss, udara mulai anjlok, dingin banget.. Walaupun Swiss tidak tergabung dengan Uni Eropa, namun tidak perlu punya Visa khusus jika kita sudah mengantongi Visa Schengen. Uang pun mereka masih memakai Franc Swiss, yang rate-nya kira-kira sama dengan Dollar Amerika. Namun kalau kepepet, mereka juga menerima mata uang Euro, tapi rugi jatuhnya karena 1 Euro disamakan dengan 1 Swiss Franc. Tujuan kami adalah kota Luzerne atau Lucerne. Menuju kesana kita akan melewati padang bunga-bunga kuning yang menjadi bahan baku permen Ricola (bahkan kita melalui pabriknya juga), juga rumah-rumah khas Swiss yang berjendela banyak (mungkin biar sinar matahari masuk) jangan heran kalau disatu dinding, rumah Swiss memiliki 12 jendela! Hehe… dan juga karena daerah bergunung-gunung, kita akan melewati terowongan bawah gunung berkali-kali. Yang terpanjang adalah terowongan sejauh 17km, perlu 20 menit untuk melaluinya. Luar biasa ya, mereka bisa membolongi gunung untuk dibuat terowongan sepanjang itu. Denger-denger ini bukan terowongan terpanjang karena masih dibangun terowongan lainnya sepanjang 22km! busyettt :-/
Baiklah, Kota Lucerne (Luzern) adalah ibu kota dari Canton Lucerne dengan penduduk hanya 70an ribu jiwa saja. Jadi kebayang dong gimana tenangnya kota ini. Kota Lucerne mengelilingi danau Lucerne yang indah, dengan puncak-puncak salju abadi disekelilingnya. Untuk ikut tour pesiar di danau itu mesti keluar uang 35 Euro lagi satu orang, karena kita menyewa satu kapal untuk rombongan ini. Kira-kira diajak pelesir sekitar 30 menit saja, kemudian di turunkan di sebuah toko jam. Swiss memang terkenal akan jam tangannya, mulai dari merk ternama seperti Rolex, sampai merk-merk yang asing terdengar. Kalau kamu termasuk yang doyan jam tangan silahkan dibeli karena dijamin harganya lebih murah ketimbang kalau sudah masuk Indonesia, plus diskon toko dan tax refund. Tapi harganya juga fantastis, untuk Rolex misalnya, ada jam yang harganya sampai 1 Miyar rupiah masaaaa…
Perjalanan selanjutnya, mendaki puncak gunung Titlis, bukan mendaki beneran kali, karena ada gondola atau cable car untuk menuju keatasnya. Disini suhu udara sudah bikin menggigil. Titlis sendiri merupakan salah satu puncak pegunungan Apen di Swiss dengan ketinggian 3000 meter lebih. Ada salju abadi dipuncaknya, yang bahkan tidak meleleh sewaktu musim panas. Cuma ya itu, semakin tinggi, udara semakin tipis pula, buat yang nggak biasa, dada menjadi terasa sesak dan kepala menjadi pusing karena kekurangan oksigen. Jadi sementara yang lain ber haha-hihi mainan salju saya memlilih untuk duduk-duduk saja karena kepala sudah mulai pening. Dipuncak gunung titilis sendiri ada area buat yang suka main ski, ada restoran juga dan tentunya toko souvenir. Unutk naik dan turun puncaknya, kita harus menaiki gondola kecil sekali (yang muat 4 – 6 orang) , kemudian naik gondola yang lebih besar lagi yang bisa menampung kira-kira seratus orang, dan gondola besar ini bisa berputar 360 derajat, jadi kita bisa melihat pemandangan secara utuh.
Sekembali dari Mount Titlis ini kita kembali di drop di kota Lucerne untuk melihat semacam monumen kota ini, yaitu patung singa yang sekarat dengan tombak yang masih menancap dibadannya. Kok bisa? Menurut cerita, dulu pada saat revolusi Perancis, prajurit-prajurit Swiss dari kota ini di sewa oleh raja Louis untuk melindungi dari para revolusioner. Akhirnya mereka gugur, dan dibangunlah monumen ini untuk mengenang keberanian para prajurit itu. Selanjutnya adalah acara bebas. Tapi nggak banyak yang bisa dilakukan lagi, karena toko-toko rata-rata tutup jam 6 sore. Mungkin bagi yang suka kasino, bisa melanjutkan malam dengan mencari peruntungan disini, tapi saya sendiri lebih memilih untuk membeli segelas Starbuck dan kentang goreng dari MC.Donalds. Nyam.. BTW, saya ulang tahun di kota ini lho, di Swiss!! jadi Happy B’day to me yaaa… uwuwuwuwu..
Lost in Milan
Nggak banyak yang bisa saya ceritakan tentang kota Milan, sebab disini kita hanya dilepas setengah hari buat memenuhi kehausan belanja ibu-ibu peserta tour. Mana dilepas di pusat perbelanjaan lagehh…
Kalau ditanya pusatnya mode dunia, jawabannya adalah Milan. Tempat berkumpulnya para designer ternama dunia yang silih berganti menyelenggarakan peragaan busana tanpa henti. Termasuk penduduk kotanya pun gaya. Ini Milan, bung..wakakak.
Asal muasal nama Milan berasal dari bahasan latin, Mediolanum uang berarti “ditengah-tengah hamparan” ini karena kota Milan memang terletak di Italia utara pas ditengah-tengah, dan dibilang sebagai daerah paling maju dan kaya di Italia. Wew, penduduknya pantas berbangga kali ya :-P
Objek wisata yang terkenal dan menjadi landmark disini adalah Duomo (Gereja Katedral Milan) yang sangat terkenal itu. Bangunannya bergaya gothic yang penyelesaiannya memakan waktu sekitar 6 abad. Gereja Milan ini merupakan gereja terbesar di Italia, dan ke-4 didunia.
Yang lebih menarik ibu-ibu disini apalagi kalau bukan pusat perbelanjaan disebelah Katedral ini, Galleria Vittorio Emanuele II namanya, Galleria ini dinamai Vittorio Emanuele II, raja pertama Kerajaan Italia. Dirancang pada tahun 1861 dan dibangun oleh Giuseppe Mengoni antara tahun 1865 sampai 1877.. Banyak merk-merk ternama didalamnya, silahkan belanja sepuas-puasnya jika punya uang lebih :-P
Didepan Mall ada patung Leonardo da Vinci. Leonardo adalah seorang arsitek, pematung, dan pelukis terkenal kelahiran Italia yang sangat terkenal, nggak heran kalau beliau sangat dihormati disini. Sebenarnya jika ada waktu pingin lihat karya Leonardo yaitu lukisan “perjamuan terakhir” yang tersohor seantero jagat itu. Lukisan itu sendiri berada dalam gereja Santa Maria delle Grazie, di kota Milan ini. Lukisan selebar 4,5m X 8,70m ini dilukis di dinding ujung ruang makan di biara Santa Maria ini.
Sebelum meninggalkan Milano, masih berkesempatan mengunjungi Stadio Giuseppe Meazza atau yang lebih popular dengan sebutan Stadion San Siro, yang merupakan kandang dari dua kesebelasan asal Milan, yaitu A.C Milan dan Inter Milan. Stadion ini dibangun pertama kali pada tahun 1925 di distrik San Siro, Milan, namun di tahun 1979 stadion ini diubah namanya menjadi "Giuseppe Meazza" yaitu seorang pesepak bola Inter Milan di era tahun 1920-an. Tha-tha Milan..selanjutnya perjalanan diteruskan memasuki wilayah Swiss (^__^)
Kalau ditanya pusatnya mode dunia, jawabannya adalah Milan. Tempat berkumpulnya para designer ternama dunia yang silih berganti menyelenggarakan peragaan busana tanpa henti. Termasuk penduduk kotanya pun gaya. Ini Milan, bung..wakakak.
Asal muasal nama Milan berasal dari bahasan latin, Mediolanum uang berarti “ditengah-tengah hamparan” ini karena kota Milan memang terletak di Italia utara pas ditengah-tengah, dan dibilang sebagai daerah paling maju dan kaya di Italia. Wew, penduduknya pantas berbangga kali ya :-P
Objek wisata yang terkenal dan menjadi landmark disini adalah Duomo (Gereja Katedral Milan) yang sangat terkenal itu. Bangunannya bergaya gothic yang penyelesaiannya memakan waktu sekitar 6 abad. Gereja Milan ini merupakan gereja terbesar di Italia, dan ke-4 didunia.
Yang lebih menarik ibu-ibu disini apalagi kalau bukan pusat perbelanjaan disebelah Katedral ini, Galleria Vittorio Emanuele II namanya, Galleria ini dinamai Vittorio Emanuele II, raja pertama Kerajaan Italia. Dirancang pada tahun 1861 dan dibangun oleh Giuseppe Mengoni antara tahun 1865 sampai 1877.. Banyak merk-merk ternama didalamnya, silahkan belanja sepuas-puasnya jika punya uang lebih :-P
Didepan Mall ada patung Leonardo da Vinci. Leonardo adalah seorang arsitek, pematung, dan pelukis terkenal kelahiran Italia yang sangat terkenal, nggak heran kalau beliau sangat dihormati disini. Sebenarnya jika ada waktu pingin lihat karya Leonardo yaitu lukisan “perjamuan terakhir” yang tersohor seantero jagat itu. Lukisan itu sendiri berada dalam gereja Santa Maria delle Grazie, di kota Milan ini. Lukisan selebar 4,5m X 8,70m ini dilukis di dinding ujung ruang makan di biara Santa Maria ini.
Sebelum meninggalkan Milano, masih berkesempatan mengunjungi Stadio Giuseppe Meazza atau yang lebih popular dengan sebutan Stadion San Siro, yang merupakan kandang dari dua kesebelasan asal Milan, yaitu A.C Milan dan Inter Milan. Stadion ini dibangun pertama kali pada tahun 1925 di distrik San Siro, Milan, namun di tahun 1979 stadion ini diubah namanya menjadi "Giuseppe Meazza" yaitu seorang pesepak bola Inter Milan di era tahun 1920-an. Tha-tha Milan..selanjutnya perjalanan diteruskan memasuki wilayah Swiss (^__^)
Friday, July 6, 2012
Lost in Venice
Perjalanan ke Venice dari Pisa lumayan lama, kira-kira 3 jam. Tapi itu juga didukung dengan jalanan tol yang super mulus. Kalau nggak pasti udah berjam-jam perjalanan kesana. Pemandangan sepanjang jalan indah banget, dengan hamparan ilalang berbunga kuning atau lembah-lembah hijau. C’est fantastique!
Kota Venesia sendiri sebenarnya terbagi dua, didaratan dan di pulau. Yang terkenal pasti wilayah Venesia yang ada dipulaunya dong ya.. mungkin banyak dari kita yang doyan bola Liga Italia udah ngga asing dengan kota Verona, Vicenza dan Padova, yup.. itu merupakan beberapa dari “kabupaten-kabupaten” dari provinsi Venesia ini.
Dahulu sebelum bergabung dengan Italia tahun 1797, Venesia merupakan negara sendiri dan memiliki bahasa sendiri pula yang berbeda dengan bahasa Italia saat ini. Venesia menurut sejarah didirikan tahun 421. Diperkirakan asal muasal penduduk aslinya dari para pengungsi daerah-daerah sekitarnya yang melarikan diri dari invasi bangsa Hun dan Germanic. Untuk alasan perdagangan dan keamanan, kota tua didirikan di sebuah langoon dengan 118 pulau-pulau kecil yang membentuk kota Venesia tua dengan kanal-kanalnya yang terkenal. Wilayah Venesia dulu rutin kena banjir akibat badai atau air pasang. Banjir paling parah terjadi pada tahun 1966, kemudian terjadi juga banjir besar tahun 1979, 1986 dan 2008.Begitu mengganggunya banjir ini, hingga pada 31 Januari 2008 digelontorkan dana 400 juta Euro untuk proyek pembangunan semacam bendungan penghalang banjir. Rencananya, proyek yang bernama MOSE (MOdulo Sperimentale Elettromeccanico, atau Eksperimen Elektromekanikal Modul) ini akan memasang suatu bendungan bawah air, yang apabila air bah datang, suatu penghalang besar terbuat dari metal akan muncul dari laut yang berfungsi menghalangi air masuk. Semacam dam di Belanda, cuma bedanya demi mempertahankan keindahan dan aestethic (ceilah, aestethic..jadi ingat dokter kecantikan :-/), dam ini disembunyikan didalam air jika tidak diperlukan… demikian yang pernah saya lihat di tayangan National Geographic Channel :-P
Menyeberang ke pulau-pulau itu, kita dapat menaiki semacam speedboat yang muat kira-kira 70 orang. Cuma sekitar 15 menitan kita sudah bisa sampai di pulau utama, disini ada alun-alun (Piazza) Santo Marco, dengan gereja Santo Marco disalah satu sisinya, dan pusat perbelanjaan di sisi-sisi lainnya. Didepan gereja ada menara gereja dengan ujungnya berbentuk segitiga berwarna hijau yang terkenal, dan ada patung singa bersayap yang menjadi lambang kota dan bendera Vatikan. Diseputaran alun-alun ini merupakan surga belanja buat yang doyan dengan barang-barang branded. Ada Louis Vuitton, Hermes, de-el-el. Ada juga Hard Rock Café, buat yang gemar mengkoleksi kaos-kaos dan pin-nya, letaknya agak nyempil tapi kerumunannya luar biasa crowded :-/
Yang buat ketar-ketir apalagi kalau bukan harus bayar 150 Euro (hampir 2 juta) untuk bisa naik gondola menyusuri kanal-kanal selama 30 menit! Dilema..uang udah cekak, tapi dilewatkan juga sayang karena (mungkin) ini pengalaman sekali seumur hidup naik gondola langsung di Venesia (bukan di Venetian-Macau) huhu… Untungnya satu gondola ini bisa dinaiki maksimal 6 orang, jadi bisa dibagi rata satu orang patungan 25 Euro. Yah lumayanlah bayar 300.000 perak
Banyak yang bilang Venesia air lautnya bau, saya sih nggak mencium bau.. cuma memang ada ganggang laut dibeberapa tempat yang tidak dibersihkan yang mengakibatkan pemandangan agak sedikit terganggu.
Anyway, naik gondola ngga ada ruginya. Harus malah. Ada beberapa tempat untuk naik gondola ini, dan kemarin saya naik dari Danielli, letaknya tepat didepan Hotel Danieli. Hotel ini jadi terkenal karena ceritanya di film “The Tourist” Angelina Jolie dan Jhonny Deep nginap disini (entah bener atau tidak shootingnya bener-bener di hotel ini atau pakai setting tempat lain). Arsitektur disepanjang kanal ini sungguh indah dan romantis. Cocok buat kalian yang mau bulan madu, hehehe..
Kota Venesia sendiri sebenarnya terbagi dua, didaratan dan di pulau. Yang terkenal pasti wilayah Venesia yang ada dipulaunya dong ya.. mungkin banyak dari kita yang doyan bola Liga Italia udah ngga asing dengan kota Verona, Vicenza dan Padova, yup.. itu merupakan beberapa dari “kabupaten-kabupaten” dari provinsi Venesia ini.
Dahulu sebelum bergabung dengan Italia tahun 1797, Venesia merupakan negara sendiri dan memiliki bahasa sendiri pula yang berbeda dengan bahasa Italia saat ini. Venesia menurut sejarah didirikan tahun 421. Diperkirakan asal muasal penduduk aslinya dari para pengungsi daerah-daerah sekitarnya yang melarikan diri dari invasi bangsa Hun dan Germanic. Untuk alasan perdagangan dan keamanan, kota tua didirikan di sebuah langoon dengan 118 pulau-pulau kecil yang membentuk kota Venesia tua dengan kanal-kanalnya yang terkenal. Wilayah Venesia dulu rutin kena banjir akibat badai atau air pasang. Banjir paling parah terjadi pada tahun 1966, kemudian terjadi juga banjir besar tahun 1979, 1986 dan 2008.Begitu mengganggunya banjir ini, hingga pada 31 Januari 2008 digelontorkan dana 400 juta Euro untuk proyek pembangunan semacam bendungan penghalang banjir. Rencananya, proyek yang bernama MOSE (MOdulo Sperimentale Elettromeccanico, atau Eksperimen Elektromekanikal Modul) ini akan memasang suatu bendungan bawah air, yang apabila air bah datang, suatu penghalang besar terbuat dari metal akan muncul dari laut yang berfungsi menghalangi air masuk. Semacam dam di Belanda, cuma bedanya demi mempertahankan keindahan dan aestethic (ceilah, aestethic..jadi ingat dokter kecantikan :-/), dam ini disembunyikan didalam air jika tidak diperlukan… demikian yang pernah saya lihat di tayangan National Geographic Channel :-P
Menyeberang ke pulau-pulau itu, kita dapat menaiki semacam speedboat yang muat kira-kira 70 orang. Cuma sekitar 15 menitan kita sudah bisa sampai di pulau utama, disini ada alun-alun (Piazza) Santo Marco, dengan gereja Santo Marco disalah satu sisinya, dan pusat perbelanjaan di sisi-sisi lainnya. Didepan gereja ada menara gereja dengan ujungnya berbentuk segitiga berwarna hijau yang terkenal, dan ada patung singa bersayap yang menjadi lambang kota dan bendera Vatikan. Diseputaran alun-alun ini merupakan surga belanja buat yang doyan dengan barang-barang branded. Ada Louis Vuitton, Hermes, de-el-el. Ada juga Hard Rock Café, buat yang gemar mengkoleksi kaos-kaos dan pin-nya, letaknya agak nyempil tapi kerumunannya luar biasa crowded :-/
Yang buat ketar-ketir apalagi kalau bukan harus bayar 150 Euro (hampir 2 juta) untuk bisa naik gondola menyusuri kanal-kanal selama 30 menit! Dilema..uang udah cekak, tapi dilewatkan juga sayang karena (mungkin) ini pengalaman sekali seumur hidup naik gondola langsung di Venesia (bukan di Venetian-Macau) huhu… Untungnya satu gondola ini bisa dinaiki maksimal 6 orang, jadi bisa dibagi rata satu orang patungan 25 Euro. Yah lumayanlah bayar 300.000 perak
Banyak yang bilang Venesia air lautnya bau, saya sih nggak mencium bau.. cuma memang ada ganggang laut dibeberapa tempat yang tidak dibersihkan yang mengakibatkan pemandangan agak sedikit terganggu.
Anyway, naik gondola ngga ada ruginya. Harus malah. Ada beberapa tempat untuk naik gondola ini, dan kemarin saya naik dari Danielli, letaknya tepat didepan Hotel Danieli. Hotel ini jadi terkenal karena ceritanya di film “The Tourist” Angelina Jolie dan Jhonny Deep nginap disini (entah bener atau tidak shootingnya bener-bener di hotel ini atau pakai setting tempat lain). Arsitektur disepanjang kanal ini sungguh indah dan romantis. Cocok buat kalian yang mau bulan madu, hehehe..
Wednesday, July 4, 2012
Lost in Pisa
Pisa, ya Pisa not Pizza, ga ada kaitannya kalau dibilang masakan Pizza berasal dari situ. Hari ini perjalanan dilanjutkan menuju salah satu keajaiban dunia yang satu itu. Yoolloo, bayangin ya, sebuah menara yang salah konsep pembuatannya sehingga jadi miring, sekarang dianggap keajaiban. Fiuhh.. Tapi yang menakjubkan gimana membuat bangunan dari batu marmer putih dan bisa bertahan ribuan tahun ya, bener-bener suatu maha karya yang ngga ada duanya :-P
Dan berhubung banyak ibu-ibu yang doyan belanja dalam rombongan ini, mereka minta bus dibelokkan kearah suatu kota kecil yang berada sekitar 1 jam perjalanan dari kota Pisa. Kota Leccioa namanya, disini ada factory outlet yang (katanya) lumayan terkenal, karena menjual barang-barang branded dengan harga sangat miring, bisa sampai 70% katanya sik, namanya The Mall.Yang dijual disini bukan barang reject atau cacat, tapi biasanya barang yang sudah out of season, karena seperti yang kita tahu, di Eropa ada 4 musim dan mode itu mengikuti musim-musim itu, jadi kadang barang keluaran musim winter udah aja dilego gitu.
Btw, karena melenceng dari jalur resmi, mau nggak mau kita harus membayar ekstra. Setelah diitung biaya bensin + tol + sopir itu mesti keluar 15 Euro seorang, coba aja dikali 62 orang peserta tour, udah hampir 1000 euro kan? Busyet..
Anway, buat yang punya duit lebih, memang nggak rugi deh belanja disini. Surga belanja. Mulai dari Prada, Dior, Armani, Salvatire Ferragamo, Tod’s, Burberry saling berjejer disini. Cuma pelayannya rada jutek, no photo inside, pleaseee… wakakak.
Melanjutkan perjalanan, akhirnya tibalah di kota Pisa. Kotanya kecil dan sepi. Bus harus parkir agak jauh dari kompleks menara Pisa. Dari sini naik bus warna kuning, diantar sampai ke tembok kompleks Pisa. Untuk naik bus ini ada biayanya, namun karena sudah termasuk paket tour ya tinggal naik saja.
Kompleks Pisa ini sebenarnya terdiri dari 3 bangunan saja, yaitu dome, gereja dan lonceng menara. Lonceng menara ini-lah yang berbentuk miring dan lebih dikenal dengan sebutan Menara Pisa. Menara ini didirikan tahun 1173 oleh Bonanno Da Pisa dan selesai dalam kurun waktu 177 tahun, busyet…lama banget ya.. karena sebenarnya dibuat secara bertahap pula. Dibuat dari marmer, menara ini mulai miring sejak lantai 2 dibangun. Karena kekurangan dana, pembangunannya sempat terhenti. Tahun 1198, sebuah jam untuk sementara ditaruh diatasnya. Selanjutnya pada tahun 1272, pembangunan dilanjutkan dengan arsitek Giovanni di Simone, namun terhenti lagi ditahun 1284 karena saat itu Pisa yang merupakan negara merdeka ditaklukan oleh negara tetangganya, Genoa (aneh ya, padahal sekarang jadi satu negara wkwkwk..)
Kesalahan struktur ini bukannya tidak diketahui oleh perancangnya, karena kalau dilihat lebih teliti, dibagian puncak menara dimana lonceng digantungkan, dibuat agak lebih vertikal (melawan arah miring), yang sepertinya dimaksudkan sebagai penyeimbang kemiringan menara ini, namun sepertinya usaha ini juga sia-sia.
Semenjak saat itu menara Pisa menjadi semakin miring, diperkirakan setiap tahunnya bagian yang miring ini bertambah miring sekitar 5cm. Sudah banyak usaha untuk mengeremnya, diantaranya pernah dipasang kabel-kabel baja penarik, menyuntikkan cairan semen kebagian struktur bawah tanahnya dengan harapan tanah dibawahnya menjadi lebih stabil, sampai terakhir metode yang dipakai yaitu dengan diletakkannya pemberat balik, maka posisinya mendaji lebih stabil. Mungkin kalau dilihat tetap miring, tapi paling nggak tidak bertambah miring. Yang jelas sekarang menara setinggi 56meter ini sudah dapat dinaiki turis jika mau. Dan setelah puas foto-foto, kemudian perjalanan kembali dilanjutkan menuju destinasi selanjutnya : Venesia! :-D
Dan berhubung banyak ibu-ibu yang doyan belanja dalam rombongan ini, mereka minta bus dibelokkan kearah suatu kota kecil yang berada sekitar 1 jam perjalanan dari kota Pisa. Kota Leccioa namanya, disini ada factory outlet yang (katanya) lumayan terkenal, karena menjual barang-barang branded dengan harga sangat miring, bisa sampai 70% katanya sik, namanya The Mall.Yang dijual disini bukan barang reject atau cacat, tapi biasanya barang yang sudah out of season, karena seperti yang kita tahu, di Eropa ada 4 musim dan mode itu mengikuti musim-musim itu, jadi kadang barang keluaran musim winter udah aja dilego gitu.
Btw, karena melenceng dari jalur resmi, mau nggak mau kita harus membayar ekstra. Setelah diitung biaya bensin + tol + sopir itu mesti keluar 15 Euro seorang, coba aja dikali 62 orang peserta tour, udah hampir 1000 euro kan? Busyet..
Anway, buat yang punya duit lebih, memang nggak rugi deh belanja disini. Surga belanja. Mulai dari Prada, Dior, Armani, Salvatire Ferragamo, Tod’s, Burberry saling berjejer disini. Cuma pelayannya rada jutek, no photo inside, pleaseee… wakakak.
Melanjutkan perjalanan, akhirnya tibalah di kota Pisa. Kotanya kecil dan sepi. Bus harus parkir agak jauh dari kompleks menara Pisa. Dari sini naik bus warna kuning, diantar sampai ke tembok kompleks Pisa. Untuk naik bus ini ada biayanya, namun karena sudah termasuk paket tour ya tinggal naik saja.
Kompleks Pisa ini sebenarnya terdiri dari 3 bangunan saja, yaitu dome, gereja dan lonceng menara. Lonceng menara ini-lah yang berbentuk miring dan lebih dikenal dengan sebutan Menara Pisa. Menara ini didirikan tahun 1173 oleh Bonanno Da Pisa dan selesai dalam kurun waktu 177 tahun, busyet…lama banget ya.. karena sebenarnya dibuat secara bertahap pula. Dibuat dari marmer, menara ini mulai miring sejak lantai 2 dibangun. Karena kekurangan dana, pembangunannya sempat terhenti. Tahun 1198, sebuah jam untuk sementara ditaruh diatasnya. Selanjutnya pada tahun 1272, pembangunan dilanjutkan dengan arsitek Giovanni di Simone, namun terhenti lagi ditahun 1284 karena saat itu Pisa yang merupakan negara merdeka ditaklukan oleh negara tetangganya, Genoa (aneh ya, padahal sekarang jadi satu negara wkwkwk..)
Kesalahan struktur ini bukannya tidak diketahui oleh perancangnya, karena kalau dilihat lebih teliti, dibagian puncak menara dimana lonceng digantungkan, dibuat agak lebih vertikal (melawan arah miring), yang sepertinya dimaksudkan sebagai penyeimbang kemiringan menara ini, namun sepertinya usaha ini juga sia-sia.
Semenjak saat itu menara Pisa menjadi semakin miring, diperkirakan setiap tahunnya bagian yang miring ini bertambah miring sekitar 5cm. Sudah banyak usaha untuk mengeremnya, diantaranya pernah dipasang kabel-kabel baja penarik, menyuntikkan cairan semen kebagian struktur bawah tanahnya dengan harapan tanah dibawahnya menjadi lebih stabil, sampai terakhir metode yang dipakai yaitu dengan diletakkannya pemberat balik, maka posisinya mendaji lebih stabil. Mungkin kalau dilihat tetap miring, tapi paling nggak tidak bertambah miring. Yang jelas sekarang menara setinggi 56meter ini sudah dapat dinaiki turis jika mau. Dan setelah puas foto-foto, kemudian perjalanan kembali dilanjutkan menuju destinasi selanjutnya : Venesia! :-D
Monday, July 2, 2012
Lost and Last in Rome
Roma kota yang cantik dan cukup percaya diri, sehingga dikeluarkan aturan “pajak turis” disini. Oh Mon Dieu, Turis dipajakin?
Ya begitulah, katanya peraturan baru… mungkin karena dampak dari krisis yang hampir membuat negara ini bangkrut (how come?) Hotel di Roma mengenakan pajak ini 2 Euro sehari, ditagih sebelum kita meninggalkan hotel. Lumayan kan, sehari kena 25.000. Tapi katanya nggak semua kota menerapkan pajak turis ini, pun jumlahnya bervariasi.
Hari ini kami harus bergabung dengan peserta tour lainnya, dapat hotel diujung kulon, Hotel Aldobrandeschi namanya, sesuai dengan nama jalannya. Untuk kesini harus naik bus, karena tidak dilalui Metro. Yang unik dari bus di Roma ini, sopirnya seperti nggak perduli kita bayar/tidak. Didalamnya ada alat scan untuk tiket, tapi tidak disediakan kotak koin. Jadi kalau kita nggak punya tiketpun turun ya turun aja, nggak perlu khawatir bakal dikejar-kejar sama kenek kayak kalau kita lupa bayar ongkos bus di Jakarta, hehehe… Cuma ya gitu, jam kerja di negara-negara eropa ini sangat ketat. Sempat di ‘telantarkan’ sekitar 30 menit waktu sopir istirahat, tapi ya sudahlah, justru lebih bagus begitu kan, ketimbang sarana bus publik disini, ugal-ugalan. Pengalaman naik angkutan umum di negara orang, apalagi sambil geret-geret koper super berat, lucuk kan? :-P
Hari terakhir di Roma ini diisi dengan (kembali) mengunjungi Vatikan dan Colosseum. Karena saya sudah pernah ke Vatikan dua hari yang lalu, jadi saya putuskan untuk mengunjungi stadion Olimpico aja.
Roma pernah menjadi penyelenggara olimpiade dunia tahun 1960. Tapi sebenarnya stadion ini sudah dibangun sejak 1926, dan sewaktu penyelenggaraan olimpiade Roma, direnovasi dan diganti namanya menjadi Stadion Olimpico. Seakrang menjadi markas AS Roma. Namun tidak seperti stadion di Barcelona atau Madrid, dimana dijadikan objek wisata dan jualan souvenir, disini stadion tidak bisa dimasuki umum.
Sehabis kabur 2 jam ke stadion, lanjut keperjalanan selanjutnya ke Colosseum dan Trevi fountain (lagi) :-/ disini saya kabur untuk foto-foto didepan Piazza Venesia, Alun-alun dimana dibelakangnya terdapat bangunan megah bekas kedutaan besar Venesia. Yup, dulu sebelum ada penyatuan Italia, Venesia pernah menjadi negara sendiri.
Yang saya geleng-geleng, ibu-ibu ini lebih memilih belanja ketimbang masuk dalam Basilika St.Petrus. Menurut saya sayang aja, kemungkinan cuma sekali seumur hidup mengunjungi negara ini, dan mereka mengabaikannya. Walaupun mungkin karena mereka bukan Katholik, tapi ini masterpiece peninggalan sejarah Bu, sejarahhh!!! *emosi*
Jalan-jalan di Roma ini diakhiri dengan dilepasnya kita di Spanish Step, yaitu sebuah bukit kecil dimana ada 138 anak tangga disana dengan sebuah bangunan gereja Trinita dei Monti diatasnya. Kenapa dinamakan Spanish Steps? Kenapa ya, ya,ya? Konon tangga yang dibuat dengan dana dari diplomat Perancis Stefano Gueffier ini menghubungkan Kedutaan Spanyol dengan Holy See (Vatikan) dibangun antara tahun 1723 hingga 1725 menghabiskan biaya 20.000 scudi (mata uang Italia saat itu).
Baiklah, baiklan, bukan Spanish Steps dengan air mancur Fontana della Barcaccia itu yang jadi fokus ibu-ibu disini, tapi jalan didepannya, Yap, saudara-saudara… tepat didepannya ada jalan Condotti (Via Condotti) yang sangat terkenal diseantero jagad itu karena dikanan kirinya berisi toko-toko fashion dengan merk ternama dunia. Ada Prada, Gucci, Bvlgari, Louis Vuitton, dan lain-lain yang nyebutnya aja mulut jadi memble. Disinilah surga belanja mereka hehe.. Namun seperti pertokoan lainnya di Eropa, jam 6 sudah tutup. Jadi tidak banyak waktu untuk menimbang-nimbang, kalau suka langsung beli aja ya.. kalau saya mah yang kere ini, cuma bisa liat-liat doang sambil numpang foto sama belanjaan orang, hiks.
Ya begitulah, katanya peraturan baru… mungkin karena dampak dari krisis yang hampir membuat negara ini bangkrut (how come?) Hotel di Roma mengenakan pajak ini 2 Euro sehari, ditagih sebelum kita meninggalkan hotel. Lumayan kan, sehari kena 25.000. Tapi katanya nggak semua kota menerapkan pajak turis ini, pun jumlahnya bervariasi.
Hari ini kami harus bergabung dengan peserta tour lainnya, dapat hotel diujung kulon, Hotel Aldobrandeschi namanya, sesuai dengan nama jalannya. Untuk kesini harus naik bus, karena tidak dilalui Metro. Yang unik dari bus di Roma ini, sopirnya seperti nggak perduli kita bayar/tidak. Didalamnya ada alat scan untuk tiket, tapi tidak disediakan kotak koin. Jadi kalau kita nggak punya tiketpun turun ya turun aja, nggak perlu khawatir bakal dikejar-kejar sama kenek kayak kalau kita lupa bayar ongkos bus di Jakarta, hehehe… Cuma ya gitu, jam kerja di negara-negara eropa ini sangat ketat. Sempat di ‘telantarkan’ sekitar 30 menit waktu sopir istirahat, tapi ya sudahlah, justru lebih bagus begitu kan, ketimbang sarana bus publik disini, ugal-ugalan. Pengalaman naik angkutan umum di negara orang, apalagi sambil geret-geret koper super berat, lucuk kan? :-P
Hari terakhir di Roma ini diisi dengan (kembali) mengunjungi Vatikan dan Colosseum. Karena saya sudah pernah ke Vatikan dua hari yang lalu, jadi saya putuskan untuk mengunjungi stadion Olimpico aja.
Roma pernah menjadi penyelenggara olimpiade dunia tahun 1960. Tapi sebenarnya stadion ini sudah dibangun sejak 1926, dan sewaktu penyelenggaraan olimpiade Roma, direnovasi dan diganti namanya menjadi Stadion Olimpico. Seakrang menjadi markas AS Roma. Namun tidak seperti stadion di Barcelona atau Madrid, dimana dijadikan objek wisata dan jualan souvenir, disini stadion tidak bisa dimasuki umum.
Sehabis kabur 2 jam ke stadion, lanjut keperjalanan selanjutnya ke Colosseum dan Trevi fountain (lagi) :-/ disini saya kabur untuk foto-foto didepan Piazza Venesia, Alun-alun dimana dibelakangnya terdapat bangunan megah bekas kedutaan besar Venesia. Yup, dulu sebelum ada penyatuan Italia, Venesia pernah menjadi negara sendiri.
Yang saya geleng-geleng, ibu-ibu ini lebih memilih belanja ketimbang masuk dalam Basilika St.Petrus. Menurut saya sayang aja, kemungkinan cuma sekali seumur hidup mengunjungi negara ini, dan mereka mengabaikannya. Walaupun mungkin karena mereka bukan Katholik, tapi ini masterpiece peninggalan sejarah Bu, sejarahhh!!! *emosi*
Jalan-jalan di Roma ini diakhiri dengan dilepasnya kita di Spanish Step, yaitu sebuah bukit kecil dimana ada 138 anak tangga disana dengan sebuah bangunan gereja Trinita dei Monti diatasnya. Kenapa dinamakan Spanish Steps? Kenapa ya, ya,ya? Konon tangga yang dibuat dengan dana dari diplomat Perancis Stefano Gueffier ini menghubungkan Kedutaan Spanyol dengan Holy See (Vatikan) dibangun antara tahun 1723 hingga 1725 menghabiskan biaya 20.000 scudi (mata uang Italia saat itu).
Baiklah, baiklan, bukan Spanish Steps dengan air mancur Fontana della Barcaccia itu yang jadi fokus ibu-ibu disini, tapi jalan didepannya, Yap, saudara-saudara… tepat didepannya ada jalan Condotti (Via Condotti) yang sangat terkenal diseantero jagad itu karena dikanan kirinya berisi toko-toko fashion dengan merk ternama dunia. Ada Prada, Gucci, Bvlgari, Louis Vuitton, dan lain-lain yang nyebutnya aja mulut jadi memble. Disinilah surga belanja mereka hehe.. Namun seperti pertokoan lainnya di Eropa, jam 6 sudah tutup. Jadi tidak banyak waktu untuk menimbang-nimbang, kalau suka langsung beli aja ya.. kalau saya mah yang kere ini, cuma bisa liat-liat doang sambil numpang foto sama belanjaan orang, hiks.
Lost in Rome (Part 3)
Loh masih ada Lost in Rome jilid 3 toh? Iya dong, masih ada satu kunjungan wajib yang belom diliput, yap… Colosseum!
Colosseum adalah satu dari 7 keajaiban dunia kuno. Nama aslinya sebenarnya adalah Flavian Amphitheatre. Dibangun sebagai tempat hiburan dikala itu, hiburan tapi sadis, apalagi kalau bukan tempat gladiator saling tarung dan meregang nyawa. Seram. Flavian Amphitheatre ini lebih dikenal dengan nama Colosseum, yang sebenarnya adalah nama patung yang didirikan disekitarnya, yaitu patung Colossus.
Colosseum sendiri sebenarnya merupakan salah satu bangunan dari kompleks di Forum Romawi. Reruntuhan kota kuno Roma ini masih ada disekitarnya sampai sekarang. Beberapa situs bahkan masih belum selesai digali.
Kalau naik Metro, berhenti di stasiun “colosseo” dan begitu keluar pintu, maka bangunan ini tepat ada didepan batang hidung kita. Yippie…
Masuk kedalam Colosseum ini, antriannya sudah seperti ular. Kalau mau cepat, kamu bisa langsung masuk antrian “with tour guide” harganya beda 5 euro dari antrian tanpa tour guide. Karena waktu mendesak, akhirnya kita ikut antrian dengan tour lokal itu. Jatuh-jatuhnya kok mahal ya, hampir 24 Euro untuk karcis terusan colosseum + forum romawi.
Seperti yang sudah diduga, tour lokal wanita cantik ini cuma nemenin kira-kira 30 menit saja, dengan bahasa Inggris beraksen Italia yang seksi tentunya, tapi tetep aja kemahalan kaleee… tapi ya sudahlah, paling nggak kita nggak buang-buang waktu ngantri tiket biasa. Jadi banyak waktu yang bias dipakai buat foto-foto.
Didalam Colosseum sendiri, selain sisa-sisa arena gladiator dan ruang-ruang bawah tanah dibawahnya, juga terdapat museum kecil disekitarannya. Isinya adalah sebagian benda-benda yang ditemukan selama penggalian disitu, antara lain ada pecahan-pecahan tembikar dan juga ada sisa-sisa tengkorak binatang yang dulu duel maut disana. Ada sisa tulang kuda, singa, burung-burung, sampai beruang. Mon Dieu, sadisnya.. Dan FYI, Colosseum ini bisa menampung sekitar 50.000 orang lho..
Menurut tour guide, sebenarnya yang tanding disini adalah kriminal-kriminal, namun pada akhirnya ada juga golongan biasa yang mau bertarung karena imbalan uang. Kebayang nggak sik dulu kaisar cuma kasih jempol untuk membiarkan pihak yang kalah untuk hidup atau jempol kebawah untuk mati. Mengerikan!
Keluar dari Colosseum, lafar… jadilah makan dulu diwarung. Yup, warung yang jual seperti orang India gitu, tapi bisa berbahasa Italia. Bravo! Maka makanlah saya dengan roti semacam sandwich yang sebenarnya gak enak tapi harus makan, karena nggak ada pilihan lain.. bhahakhak..
Kemudian dengan tiket terusan ini, kita bisa masuk ke Forum Romawi, yaitu cikal bakal kota Roma jaman dahulu. Disini tinggal reruntuhan saja, dengan jalanan yang terbuat dari batu-batu besar yang ditanam. Kebayang gak sik jaman dahulu naik kereta kuda dijalanan yang nggak rata begini. Disini ada puing-puing kuil dewa-dewa, salah satunya Kuil Saturnus. Barang-barang yang ditemukan saat penggalian bisa dilihat di dalam museum yang ada dikompleks ini. Kebanyakan sih patung-patung marmer.
Saya menghabiskan waktu disini sampai pengumuman bahwa tempat wisata ini akan ditutup, kira-kira jam 6 sore. Belum sepenuhnya puas sih, karena belum keliling kesemua tempat. Habis mau gimana lagi, kaki udah keburu gempor hehe..
Colosseum adalah satu dari 7 keajaiban dunia kuno. Nama aslinya sebenarnya adalah Flavian Amphitheatre. Dibangun sebagai tempat hiburan dikala itu, hiburan tapi sadis, apalagi kalau bukan tempat gladiator saling tarung dan meregang nyawa. Seram. Flavian Amphitheatre ini lebih dikenal dengan nama Colosseum, yang sebenarnya adalah nama patung yang didirikan disekitarnya, yaitu patung Colossus.
Colosseum sendiri sebenarnya merupakan salah satu bangunan dari kompleks di Forum Romawi. Reruntuhan kota kuno Roma ini masih ada disekitarnya sampai sekarang. Beberapa situs bahkan masih belum selesai digali.
Kalau naik Metro, berhenti di stasiun “colosseo” dan begitu keluar pintu, maka bangunan ini tepat ada didepan batang hidung kita. Yippie…
Masuk kedalam Colosseum ini, antriannya sudah seperti ular. Kalau mau cepat, kamu bisa langsung masuk antrian “with tour guide” harganya beda 5 euro dari antrian tanpa tour guide. Karena waktu mendesak, akhirnya kita ikut antrian dengan tour lokal itu. Jatuh-jatuhnya kok mahal ya, hampir 24 Euro untuk karcis terusan colosseum + forum romawi.
Seperti yang sudah diduga, tour lokal wanita cantik ini cuma nemenin kira-kira 30 menit saja, dengan bahasa Inggris beraksen Italia yang seksi tentunya, tapi tetep aja kemahalan kaleee… tapi ya sudahlah, paling nggak kita nggak buang-buang waktu ngantri tiket biasa. Jadi banyak waktu yang bias dipakai buat foto-foto.
Didalam Colosseum sendiri, selain sisa-sisa arena gladiator dan ruang-ruang bawah tanah dibawahnya, juga terdapat museum kecil disekitarannya. Isinya adalah sebagian benda-benda yang ditemukan selama penggalian disitu, antara lain ada pecahan-pecahan tembikar dan juga ada sisa-sisa tengkorak binatang yang dulu duel maut disana. Ada sisa tulang kuda, singa, burung-burung, sampai beruang. Mon Dieu, sadisnya.. Dan FYI, Colosseum ini bisa menampung sekitar 50.000 orang lho..
Menurut tour guide, sebenarnya yang tanding disini adalah kriminal-kriminal, namun pada akhirnya ada juga golongan biasa yang mau bertarung karena imbalan uang. Kebayang nggak sik dulu kaisar cuma kasih jempol untuk membiarkan pihak yang kalah untuk hidup atau jempol kebawah untuk mati. Mengerikan!
Keluar dari Colosseum, lafar… jadilah makan dulu diwarung. Yup, warung yang jual seperti orang India gitu, tapi bisa berbahasa Italia. Bravo! Maka makanlah saya dengan roti semacam sandwich yang sebenarnya gak enak tapi harus makan, karena nggak ada pilihan lain.. bhahakhak..
Kemudian dengan tiket terusan ini, kita bisa masuk ke Forum Romawi, yaitu cikal bakal kota Roma jaman dahulu. Disini tinggal reruntuhan saja, dengan jalanan yang terbuat dari batu-batu besar yang ditanam. Kebayang gak sik jaman dahulu naik kereta kuda dijalanan yang nggak rata begini. Disini ada puing-puing kuil dewa-dewa, salah satunya Kuil Saturnus. Barang-barang yang ditemukan saat penggalian bisa dilihat di dalam museum yang ada dikompleks ini. Kebanyakan sih patung-patung marmer.
Saya menghabiskan waktu disini sampai pengumuman bahwa tempat wisata ini akan ditutup, kira-kira jam 6 sore. Belum sepenuhnya puas sih, karena belum keliling kesemua tempat. Habis mau gimana lagi, kaki udah keburu gempor hehe..
Lost in Vatican (Part Two)
Well seperti yang sudah direncanakan kemarin, hari ini tujuannya adalah ke Museum Vatikan. Jalan masuknya adalah dari samping di utara. Ngantrinya juga udah sepeti uler. Sepanjang antrian itu, ada beberapa ‘tour guide’ dadakan yang menawarkan jasa guide dengan iming-iming bias bebas dari antrian, langsung masuk ke pintu gerbang. Tapi males ah. Kalau tour guide ginian, paling cuma nemenin 30 menit doing trus kita ditinggal. Males kan, akhirnya kita terus aja ngantri masuk.
Orang sabar disayang Tuhan. Akhirnya berhasil mencapai pintu gerbang masuk museum Vatikan. Nggak seperti Museum di Indonesia yang tiket masuknya dilego cuma seceng alias 5.000 rupiah, disini masuk museum lumayan mahal. 15 Euro atau hamper 200.000 rupiah. Wow..
Tapi worth it lah, melihat koleksi-koleksi museum ini yang luar biasa. Udah bawa buku Top 10 Roma dari Jakarta, udah tau mana yang mau diliat, dan tentu saja yang paling pingin dimasuki, Kapel Sistine, yaitu kapel dimana tempat pemilihan Paus (sidang konklaf) dilaksanakan jika Paus terdahulu mangkat, dengan lukisan spektakuler karya Michael Angelo yang sangat terkenal di dinding dan langit-langitnya.
Singkat kata, mulailah masuk kedalam, kita akan menemukan museum vatikan ini terdiri dari bagian-bagian, misalnya ada bagian Mesir kuno, disini dipamerkan peti mumi lengkap dengan isinya, kertas-kertas papyrus dan pecahan-pecahan tembikar. Disebelahnya ada bagian patung-patung sejak jaman Romawi kuno. Patung-patung Kaisar yang terbuat dari marmer atau logam.Ada juga Belvedere Torso yang terkenal itu. Patungnya tinggal bagian dada – paha saja, yang lainnya hilang. Patung ini dipercaya sebagai patung tubuh Herkules.
Selanjutnya ada patung Apollo Belvedere dan patung Laocoon dan anaknya. Laocoon ini dalam mitos adalah seorang pendeta di kota Troya. Dia memperingatkan bahwa kuda troya itu sebenarnya adalah tipuan, akibatnya dia di gigit ular laut yang dikirim oleh Poisedon, si dewa laut. Lebih kedalam, kita akan melalui lorong yang berisi peta-peta jadul (Gallery of Maps) dimana dipamerkan peta-peta Italia dan Eropa jaman dahulu. Ada juga lukisan-lukisan sebesar gaban yang tadinya saya pikir itu karpet.
Dan taraaaaa… akhirnya ketemu juga apa yang dicari-cari, Kapel Sistine! Kapel ini merupakan hasil renovasi tahun 1477, dimana Michael Angelo diminta untuk melukis langit-langitnya yang pekerjaannya dimulai tahun 1508 dan selesai tahun 1512, dengan lukisannya “The Creation of Adam” yang menceritakan tentang mulainya diciptakan Adam dan Hawa sampai akhirnya tergoda untuk mengambil buah apel yang terlarang, sehingga mereka diusir dari surga. Pada tahun 1535-1541, Michael Angelo kembali melukis untuk temboknya dengan lukisan “The Last Judgement” yang terkenal itu. Didalam Kapel Sistine ini, kita dilarang sama sekali untuk berfoto ataupun berisik, karena ada petugas yang lalu lalang yang mengawasi.
Sehabis dari sana, istirahat dulu di kantin museum. Lapar bo’. Selanjutnya ke gedung sebelahnya, masih museum juga, dengan benda-benda yang berbau kristiani protestan dari berbagai penjuru dunia. Di bagian atasnya ada museum uang koin dan perangko. Diatasnya lagi ada toko souvenir dan kantor pos. Yang lucu, banyak turis yang membeli dan mengirimkan kartu pos dari sini. Kayaknya udah kebiasaan bule untuk mengirimkan kartu pos dari tempat wisata yang mereka kunjungi. Saya mencoba untuk mengirimkn selembar kartu pos ke Indonesia, perangkonya juga cuma 1,5 Euro. Murah kan, sampainya sekitar 2-3 minggu hehe…
Museum ditutup sekitar jam 5 sore. Walaupun cuaca masih terang, namun nggak banyak toko yang buka, jadi mau nggak mau menghabiskan waktu dengan duduk-duduk ditaman menikmati sore yang indah, di Roma
Orang sabar disayang Tuhan. Akhirnya berhasil mencapai pintu gerbang masuk museum Vatikan. Nggak seperti Museum di Indonesia yang tiket masuknya dilego cuma seceng alias 5.000 rupiah, disini masuk museum lumayan mahal. 15 Euro atau hamper 200.000 rupiah. Wow..
Tapi worth it lah, melihat koleksi-koleksi museum ini yang luar biasa. Udah bawa buku Top 10 Roma dari Jakarta, udah tau mana yang mau diliat, dan tentu saja yang paling pingin dimasuki, Kapel Sistine, yaitu kapel dimana tempat pemilihan Paus (sidang konklaf) dilaksanakan jika Paus terdahulu mangkat, dengan lukisan spektakuler karya Michael Angelo yang sangat terkenal di dinding dan langit-langitnya.
Singkat kata, mulailah masuk kedalam, kita akan menemukan museum vatikan ini terdiri dari bagian-bagian, misalnya ada bagian Mesir kuno, disini dipamerkan peti mumi lengkap dengan isinya, kertas-kertas papyrus dan pecahan-pecahan tembikar. Disebelahnya ada bagian patung-patung sejak jaman Romawi kuno. Patung-patung Kaisar yang terbuat dari marmer atau logam.Ada juga Belvedere Torso yang terkenal itu. Patungnya tinggal bagian dada – paha saja, yang lainnya hilang. Patung ini dipercaya sebagai patung tubuh Herkules.
Selanjutnya ada patung Apollo Belvedere dan patung Laocoon dan anaknya. Laocoon ini dalam mitos adalah seorang pendeta di kota Troya. Dia memperingatkan bahwa kuda troya itu sebenarnya adalah tipuan, akibatnya dia di gigit ular laut yang dikirim oleh Poisedon, si dewa laut. Lebih kedalam, kita akan melalui lorong yang berisi peta-peta jadul (Gallery of Maps) dimana dipamerkan peta-peta Italia dan Eropa jaman dahulu. Ada juga lukisan-lukisan sebesar gaban yang tadinya saya pikir itu karpet.
Dan taraaaaa… akhirnya ketemu juga apa yang dicari-cari, Kapel Sistine! Kapel ini merupakan hasil renovasi tahun 1477, dimana Michael Angelo diminta untuk melukis langit-langitnya yang pekerjaannya dimulai tahun 1508 dan selesai tahun 1512, dengan lukisannya “The Creation of Adam” yang menceritakan tentang mulainya diciptakan Adam dan Hawa sampai akhirnya tergoda untuk mengambil buah apel yang terlarang, sehingga mereka diusir dari surga. Pada tahun 1535-1541, Michael Angelo kembali melukis untuk temboknya dengan lukisan “The Last Judgement” yang terkenal itu. Didalam Kapel Sistine ini, kita dilarang sama sekali untuk berfoto ataupun berisik, karena ada petugas yang lalu lalang yang mengawasi.
Sehabis dari sana, istirahat dulu di kantin museum. Lapar bo’. Selanjutnya ke gedung sebelahnya, masih museum juga, dengan benda-benda yang berbau kristiani protestan dari berbagai penjuru dunia. Di bagian atasnya ada museum uang koin dan perangko. Diatasnya lagi ada toko souvenir dan kantor pos. Yang lucu, banyak turis yang membeli dan mengirimkan kartu pos dari sini. Kayaknya udah kebiasaan bule untuk mengirimkan kartu pos dari tempat wisata yang mereka kunjungi. Saya mencoba untuk mengirimkn selembar kartu pos ke Indonesia, perangkonya juga cuma 1,5 Euro. Murah kan, sampainya sekitar 2-3 minggu hehe…
Museum ditutup sekitar jam 5 sore. Walaupun cuaca masih terang, namun nggak banyak toko yang buka, jadi mau nggak mau menghabiskan waktu dengan duduk-duduk ditaman menikmati sore yang indah, di Roma
Subscribe to:
Comments (Atom)











