Thursday, July 12, 2012

Lost in Amsterdam

Yihaa.. setelah melewati perbatasan Jerman masuklah kita ke wilayah Kerajaan Belanda, Welkomen in Nederland. Disebut Nederland because (Neder = Turun, Land = Tanah) Yap, sebagian wilayah Belanda ini memang berada dibawah level permukaan laut, jadi jika laut utara meluap, banjirlah sebagian negara ini.

Pemberhentian pertama kita adalah kota Venlo, dimana lagi diadakan perlehatan “Floriade 2012 World Horticultural Expo”. Pameran kembang ini diadakan di Belanda sepuluh tahun sekali, dan untuk kali ini diadakan di kota Venlo, sebuah kota kecil dekat perbatasan dengan Jerman. Tiap sepuluh tahun itu kota penyelenggaranya beda-beda dimulai semenjak tahun,1960 saat itu diadakan di Rotterdam (Het Park), kemudian tahun 1972 di kota Amsterdam (Amstelpark), tahun 1982 - Amsterdam (Gaasperplas), tahun 1992 di kota Zoetermeer , tahun 2002 dikota Haarlemmermeer dan 2012 ini diadakan di kota Venlo. Di pameran ini ada stand Indonesianya juga lho.
Setelah muter-muter disini, kita kembali memasuki jalan tol untuk menuju Amsterdam. Melewati padang-padang rumput dengan sesekali pemandangan kincir angin khas Belanda, akhirnya kita memasuki kota Amsterdam. Macet juga, walau nggak separah Jekardah huhuhu..

Sebelum memasuki hotel kita sempat didrop untuk makan malam disebuah restoran Indonesia, “Desa” namanya. Rasanya lumayan enak, apalagi sama lidah yang udah berhari-hari nggak makan masakan Indonesia. Sesuatu banget la yaa nemu makanan Indo di Erpoah ginih.. ( ` 3 `)

Kita nginap jauuuh didekat bandara Schipol, di hotel Ibis. Tapi hotelnya bagus kok. Keesokan harinya perjalanan dimulai pagi-pagi menuju Volendam, sebuah kota kecil dibagian utara Belanda, kira-kira 20 menit perjalanan dari Amsterdam. Ada apa disana? Ya ada dam kaleee… wkwkwk. Yang istimewa di Amsterdam ini dimana-mana disediakan jalur khusus untuk sepeda. Disini sepeda adalah raja, kita yang harus minggir kalau mereka lewat. Disini sewa sepeda mudah sih, tinggal gesek kartu kredit. Nah gimana kalau sepedanya dibawa kabur? ya tinggal di charge aja harga sepedanya di kartu kredit yang kita gesek itu hehe. Tapi tingkat pencurian sepeda di Belanda lumayan tinggi lho..

Nah, akhirnya sampai di kota kecil Volendam, Dam-nya sendiri berupa tanggul dimana dikiri adalah laut, dikanan rumah-rumah. Kalau dilihat memang tinggi permukaan laut lebih tinggi dari rumah-rumah disebelahnya. Kota ini merupakan tempat turis yang popular. Ada deretan toko souvenir disini, kalau ada duit lebih bolehlah kalian berfoto menggunakan baju tradisional Belanda yang super ribet plus memakai sepatu kayunya yang terkenal itu. Nggak kebayang ya gimana mereka bisa memakai itu, bikin kaki sakit dan licin pulak :-/

Selepas dari Volendam, bisa foto-foto di kincir anginnya trus melanjutkan perjalanan kembali ke Amsterdam, dimana (seperti biasa) kalau ikut tour itu pasti ada disuruh masuk toko-toko “titipan” pemerintah setempat. Dibawalah kita ke ‘Coster Diamond’ dimana sales-sales berlian yang berbahasa Indonesia dengan baik hati menerangkan proses pengasahan berlian sampai menawarkan berlian dengan beraneka ragam harga, mulai dari yang mahal sampai yang harga ‘ekonomis’.

Karena saya nggak berminat untuk membeli berlian, maka beberapa dari kami ‘kabur’ ke Hard Rock Café Amsterdam, yang ternyata letaknya tidak jauh dari Coster Diamond ini. Cuma jalan kaki dikit plus lari-larian sampailah disana, beli-beli kaos HRC dengan kasir yang bisa berbahasa Indonesia patah-patah, wew.. terkenal juga ya bahasa Indonesia disini haha.. Sebenarnya di sekitaran Coster Diamonds itu banyak museum-museum lho, Cuma karena waktu terbatas nggak sempat masuk. Didepannya ada semacam lapangan yang ada kolam panjaaangg banget dengan tulisan besar diujungnya : I am sterdam, wkwkwk ada-ada aja.

Selepas itu kita didrop ke Amsterdam Centraal, itu ada stasiun kereta api sentralnya kali ya, tapi kita bukan naik kereta, tapi ikut tour kanal-kanal di Belanda. Disepanjang jalan Prins Hendrikkade ini ada kapal-kapal pesiar yang akan membawa kita plesiran disepanjang kanal untuk kira-kira 40-45 menit kali ya.
Belanda memang terkenal dengan kanalnya, untuk sarana penahan banjir. Tekhnologi ini sebenarnya sudah dibawa ke Batavia kok, buktinya ada kanal-kanal juga di Jakarta kan, walau skalanya lebih kecil, misalnya yang melintas di Istana jalan Veteran – Pasar baru, Kali sunter dan kanal banjir barat. Di Amsterdam ini ada kanal yang katanya kanal terlebar yang pernah dibuat manusia, kita pasti tau dong dananya dari mana, ya dari VOC ya ndak sik? Plesiran Kanal ini kita akan melewati rumah Anne Frank. Anne Frank adalah seorang gadis keturunan Yahudi yang kisah buku hariannya sangat terkenal. Ceritanya selama 2 tahun dia dan keluarganya bersembunyi di rumah itu, sampai akhirnya mereka dikhianati dan dibawa ke kamp konsentrasi Nazi. Saat itu hanya ayah Anne, Otto Frank yang selamat, dan ketika dia kembali ke Amsterdam, asistennya menemukan buku harian Anne dan menyerahkan kepada Otto. Kemudia Otto mempublikasikan buku tersebut. Sampai saat ini, Buku diary Anne Frank (katanya) menjadi buku kedua terlaris didunia setelah Bible. Anne Frank berusia 13 tahun sewaktu menulis itu. Dia tewas di kamp Nazi pada tahun 1945 kira-kira waktu berusia 15 tahun.

Anyway busway, udah dulu kisah sedih-sedihnya. Nggak jauh dari situ ada Red Light Distric, tau dong itu apaaah… Jam 9 malam saya ketemu temannya teman disitu, mbak Mini dan Mbak Muli yang menikah dengan orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Belanda. Lumayan ada pemandu wisata gratis menyusuri Red Light Distric.. wkwkwkwk… Sepanjang kanal ada ruko-ruko dengan jendela kaca, dan wanita-wanita dan pria-pria itu berpakaian minim menjajakan diri disitu. Legal. Kalau cocok, pintu kacanya dibuka, masuk kedalam trus gordennya ditutup, srekk.. bwawawa. Ada juga museum sex, museum erotis, sex shop, sama pertunjukan-pertunjukan live show gituan. Tapi karena saya anak baik-baik ya cuma lewat aja , sekedar tahu. Nggak boleh foto-foto terlalu dekat ke jendela-jendela itu jadi ya foto dari jauh aja.
Btw, bendera Amsterdam yang ada symbol XXX nya itu ngga ada kaitannya dengan mesum-mesum ya, XXX itu sebenarnya adalah Saint Andew Cross, karena seperti yang kita tahu kebudayaan Eropa, tiap kota ada pelindungnya, kayak Santo-santo gitulah. Cuma kadang citra kota Amsterdam yang mesum itu dikait-kaitkan dengan benderanya ini :-P

Setelah puas muter-muter dan mencicipi kroket Belanda (belinya pakai mesin-masukin koin gitu) akhirnya mampir ke rumah Mbak Muli, naik Trem. Trem disana bayar waktu masuk, ada loket penjaga didalamnya, jadi kondekturnya nggak seperti disini, keliling-keliling minta ongkos sama penumpang, disitu kondekturnya duduk ada di loket mungil didalamnya. Rumah mbak Muli ada didaerah sekitar Schipol, masih enak suasananya. Muli tinggal di Apartemen yang cuma 2 tingkat (nggak seperti apartemen disini yang berlantai-laintai) tapi harganya fantastis lho, sekitar 2 M, wow.. Akhirnya dirumah mbak Muli ini kita bisa merasakan teh botol sosro setelah 2 minggu nggak ketemu minuman favorit ini. Yawn
Jam 2 pagi barulah balik ke hotel, mana belum sempat berbenah lagi, padahal besok sudah harus cabut ke Belgia. Yippii..

No comments:

Post a Comment