Roma kota yang cantik dan cukup percaya diri, sehingga dikeluarkan aturan “pajak turis” disini. Oh Mon Dieu, Turis dipajakin?
Ya begitulah, katanya peraturan baru… mungkin karena dampak dari krisis yang hampir membuat negara ini bangkrut (how come?) Hotel di Roma mengenakan pajak ini 2 Euro sehari, ditagih sebelum kita meninggalkan hotel. Lumayan kan, sehari kena 25.000. Tapi katanya nggak semua kota menerapkan pajak turis ini, pun jumlahnya bervariasi.
Hari ini kami harus bergabung dengan peserta tour lainnya, dapat hotel diujung kulon, Hotel Aldobrandeschi namanya, sesuai dengan nama jalannya. Untuk kesini harus naik bus, karena tidak dilalui Metro. Yang unik dari bus di Roma ini, sopirnya seperti nggak perduli kita bayar/tidak. Didalamnya ada alat scan untuk tiket, tapi tidak disediakan kotak koin. Jadi kalau kita nggak punya tiketpun turun ya turun aja, nggak perlu khawatir bakal dikejar-kejar sama kenek kayak kalau kita lupa bayar ongkos bus di Jakarta, hehehe… Cuma ya gitu, jam kerja di negara-negara eropa ini sangat ketat. Sempat di ‘telantarkan’ sekitar 30 menit waktu sopir istirahat, tapi ya sudahlah, justru lebih bagus begitu kan, ketimbang sarana bus publik disini, ugal-ugalan. Pengalaman naik angkutan umum di negara orang, apalagi sambil geret-geret koper super berat, lucuk kan? :-P
Hari terakhir di Roma ini diisi dengan (kembali) mengunjungi Vatikan dan Colosseum. Karena saya sudah pernah ke Vatikan dua hari yang lalu, jadi saya putuskan untuk mengunjungi stadion Olimpico aja.
Roma pernah menjadi penyelenggara olimpiade dunia tahun 1960. Tapi sebenarnya stadion ini sudah dibangun sejak 1926, dan sewaktu penyelenggaraan olimpiade Roma, direnovasi dan diganti namanya menjadi Stadion Olimpico. Seakrang menjadi markas AS Roma. Namun tidak seperti stadion di Barcelona atau Madrid, dimana dijadikan objek wisata dan jualan souvenir, disini stadion tidak bisa dimasuki umum.
Sehabis kabur 2 jam ke stadion, lanjut keperjalanan selanjutnya ke Colosseum dan Trevi fountain (lagi) :-/ disini saya kabur untuk foto-foto didepan Piazza Venesia, Alun-alun dimana dibelakangnya terdapat bangunan megah bekas kedutaan besar Venesia. Yup, dulu sebelum ada penyatuan Italia, Venesia pernah menjadi negara sendiri.
Yang saya geleng-geleng, ibu-ibu ini lebih memilih belanja ketimbang masuk dalam Basilika St.Petrus. Menurut saya sayang aja, kemungkinan cuma sekali seumur hidup mengunjungi negara ini, dan mereka mengabaikannya. Walaupun mungkin karena mereka bukan Katholik, tapi ini masterpiece peninggalan sejarah Bu, sejarahhh!!! *emosi*
Jalan-jalan di Roma ini diakhiri dengan dilepasnya kita di Spanish Step, yaitu sebuah bukit kecil dimana ada 138 anak tangga disana dengan sebuah bangunan gereja Trinita dei Monti diatasnya. Kenapa dinamakan Spanish Steps? Kenapa ya, ya,ya? Konon tangga yang dibuat dengan dana dari diplomat Perancis Stefano Gueffier ini menghubungkan Kedutaan Spanyol dengan Holy See (Vatikan) dibangun antara tahun 1723 hingga 1725 menghabiskan biaya 20.000 scudi (mata uang Italia saat itu).
Baiklah, baiklan, bukan Spanish Steps dengan air mancur Fontana della Barcaccia itu yang jadi fokus ibu-ibu disini, tapi jalan didepannya, Yap, saudara-saudara… tepat didepannya ada jalan Condotti (Via Condotti) yang sangat terkenal diseantero jagad itu karena dikanan kirinya berisi toko-toko fashion dengan merk ternama dunia. Ada Prada, Gucci, Bvlgari, Louis Vuitton, dan lain-lain yang nyebutnya aja mulut jadi memble. Disinilah surga belanja mereka hehe.. Namun seperti pertokoan lainnya di Eropa, jam 6 sudah tutup. Jadi tidak banyak waktu untuk menimbang-nimbang, kalau suka langsung beli aja ya.. kalau saya mah yang kere ini, cuma bisa liat-liat doang sambil numpang foto sama belanjaan orang, hiks.
No comments:
Post a Comment