Kalau dibilang ada Negara unik didunia, maka Swiss adalah salah satunya. Mengapa oh mengapa? Kalau dilihat dari perangkonya, Swiss menyebut nama Negara mereka sebagai “Helvetia” yang berasal dari bahasa Latin (mungkin) yang jelas, Konfederasi Swiss ini mempunyai 4 bahasa resmi yaitu Jerman, Perancis, Italia dan Romans dan terdiri dari 26 canton (semacam Negara bagian). Jadi mereka bisa disebut sebagai Schweiz, Suisse, Svizzera atau Svizra, dengan Komunitas terbanyak adalah berbahasa Jerman ( 17 canton = 60%), Perancis ( 4 canton = 20%), Italia (1 canton) dan sisanya berbahasa campuran.
Baiklah sekian dulu belajar sejarahnya (-____-“) Setelah menempuh perjalanan berkelok dari Milan, kita akan melewati jalan-jalan pegunungan yang berliku-liku. Pemandangan penuh dengan danau-danau indah, salah satunya ada danau Como yang terkenal itu. Memasuki wilayah Swiss, udara mulai anjlok, dingin banget.. Walaupun Swiss tidak tergabung dengan Uni Eropa, namun tidak perlu punya Visa khusus jika kita sudah mengantongi Visa Schengen. Uang pun mereka masih memakai Franc Swiss, yang rate-nya kira-kira sama dengan Dollar Amerika. Namun kalau kepepet, mereka juga menerima mata uang Euro, tapi rugi jatuhnya karena 1 Euro disamakan dengan 1 Swiss Franc. Tujuan kami adalah kota Luzerne atau Lucerne. Menuju kesana kita akan melewati padang bunga-bunga kuning yang menjadi bahan baku permen Ricola (bahkan kita melalui pabriknya juga), juga rumah-rumah khas Swiss yang berjendela banyak (mungkin biar sinar matahari masuk) jangan heran kalau disatu dinding, rumah Swiss memiliki 12 jendela! Hehe… dan juga karena daerah bergunung-gunung, kita akan melewati terowongan bawah gunung berkali-kali. Yang terpanjang adalah terowongan sejauh 17km, perlu 20 menit untuk melaluinya. Luar biasa ya, mereka bisa membolongi gunung untuk dibuat terowongan sepanjang itu. Denger-denger ini bukan terowongan terpanjang karena masih dibangun terowongan lainnya sepanjang 22km! busyettt :-/
Baiklah, Kota Lucerne (Luzern) adalah ibu kota dari Canton Lucerne dengan penduduk hanya 70an ribu jiwa saja. Jadi kebayang dong gimana tenangnya kota ini. Kota Lucerne mengelilingi danau Lucerne yang indah, dengan puncak-puncak salju abadi disekelilingnya. Untuk ikut tour pesiar di danau itu mesti keluar uang 35 Euro lagi satu orang, karena kita menyewa satu kapal untuk rombongan ini. Kira-kira diajak pelesir sekitar 30 menit saja, kemudian di turunkan di sebuah toko jam. Swiss memang terkenal akan jam tangannya, mulai dari merk ternama seperti Rolex, sampai merk-merk yang asing terdengar. Kalau kamu termasuk yang doyan jam tangan silahkan dibeli karena dijamin harganya lebih murah ketimbang kalau sudah masuk Indonesia, plus diskon toko dan tax refund. Tapi harganya juga fantastis, untuk Rolex misalnya, ada jam yang harganya sampai 1 Miyar rupiah masaaaa…
Perjalanan selanjutnya, mendaki puncak gunung Titlis, bukan mendaki beneran kali, karena ada gondola atau cable car untuk menuju keatasnya. Disini suhu udara sudah bikin menggigil. Titlis sendiri merupakan salah satu puncak pegunungan Apen di Swiss dengan ketinggian 3000 meter lebih. Ada salju abadi dipuncaknya, yang bahkan tidak meleleh sewaktu musim panas. Cuma ya itu, semakin tinggi, udara semakin tipis pula, buat yang nggak biasa, dada menjadi terasa sesak dan kepala menjadi pusing karena kekurangan oksigen. Jadi sementara yang lain ber haha-hihi mainan salju saya memlilih untuk duduk-duduk saja karena kepala sudah mulai pening. Dipuncak gunung titilis sendiri ada area buat yang suka main ski, ada restoran juga dan tentunya toko souvenir. Unutk naik dan turun puncaknya, kita harus menaiki gondola kecil sekali (yang muat 4 – 6 orang) , kemudian naik gondola yang lebih besar lagi yang bisa menampung kira-kira seratus orang, dan gondola besar ini bisa berputar 360 derajat, jadi kita bisa melihat pemandangan secara utuh.
Sekembali dari Mount Titlis ini kita kembali di drop di kota Lucerne untuk melihat semacam monumen kota ini, yaitu patung singa yang sekarat dengan tombak yang masih menancap dibadannya. Kok bisa? Menurut cerita, dulu pada saat revolusi Perancis, prajurit-prajurit Swiss dari kota ini di sewa oleh raja Louis untuk melindungi dari para revolusioner. Akhirnya mereka gugur, dan dibangunlah monumen ini untuk mengenang keberanian para prajurit itu. Selanjutnya adalah acara bebas. Tapi nggak banyak yang bisa dilakukan lagi, karena toko-toko rata-rata tutup jam 6 sore. Mungkin bagi yang suka kasino, bisa melanjutkan malam dengan mencari peruntungan disini, tapi saya sendiri lebih memilih untuk membeli segelas Starbuck dan kentang goreng dari MC.Donalds. Nyam.. BTW, saya ulang tahun di kota ini lho, di Swiss!! jadi Happy B’day to me yaaa… uwuwuwuwu..
Mantap BRO INFO NE,,, MAKACIH👍🏾👍🏿🌹
ReplyDeleteBEAUTIFUL 👍🏿🌹🌹🌹🌹💋
ReplyDelete